YANG TERSISA..

Generasi saat ini cuma tahu pemberontakan PKI berdasarkan media dan buku sejarah. Bahkan ada yg meragukan bahwa PKI adalah dalang pemberontakan. Dan memang itu adalah sebuah kemungkinan. Yang fakta adalah, kekejaman PKI. Dan kekejaman aksi balasan rakyat.

Paska penculikan jendral2 dan pemberitaan Dewan Jendral di RRI pada pagi hari 1 Oktober 1965,tidak perlu 2 hari bagi Soeharto untuk menguasai keadaan. Namun efek pemberitaan Dewan Jendral adalah, bergeraknya unsur2 PKI di daerah2 untuk memulai penculikan2 dan eksekusi2 terhadap tokoh masyarakat penentang PKI. Kota Madiun, Solo, dan juga Boyolali bergolak.

“ Saat itu saya masih berumur 19 tahun. Karena Bapak adalah Ketua Koperasi Daerah di Boyolali, sebagai anak lelaki sulung, saya selalu disuruh ikut mengantarkan beras ke daerah2 sekitar Boyolali. Dan apa yg saya lihat sejak tanggal 1 Oktober hingga 20 Oktober sudah lebih daripada cukup. Tanpa tedeng aling2, unsur2 PKI itu mengeksekusi korban2 penculikannya di sepanjang jalan besar.”

“ Bahkan tembok seberang rumah kami pun telah bergambar tengkorak besar yg dicoret. Kami sekeluarga telah was2 ketika pertamakali melihat gambar itu. Dan benar, suatu hari, seorang utusan RPKAD mengabarkan bahwa Bapak dan keluarga kami adalah urutan ke-7 wajib eksekusi.”

“ Bila dulu Soeharto memberi huruf A untuk D.N. Aidit, yaitu tangkap hidup atau mati, dan C, entah C1 atau C2, untuk Pramoedya Ananta Toer, yaitu hanya simpatisan, maka Bapak dan keluarga kami adalah huruf A. Mengingat begitu kecilnya wilayah Boyolali dan begitu banyaknya unsur PKI karena Boyolali adalah salah satu basis PKI, maka utusan itu mewajibkan Bapak sekeluarga mengungsi ke suatu gereja yg sudah diamankan RPKAD secara rahasia.”

“ Waktu sangat sempit saat itu. Dan Bapak mendahulukan ibu serta anak2 perempuan-laki2nya yg masih kecil utk diangkut kendaraan. Tersisalah saya, sebagai anak lelaki tertua, Bapak, dan Kang Senen yg merupakan seorang yg telah turun-temurun mengabdi kepada keluarga kami. Untuk menipu gerombolan yg telah bergerak, rumah memang seperti kami kosongkan. Kami hanya mengunci pagar, lalu bersembunyi di pojok belakang kebun, tempat dapur, yg hanya berlindungkan tembok rumah 7 meter di satu sisi dan dinding kayu setinggi 50 senti di sisi yg menghadap gang samping rumah.”

“  Kami memang memegang golok. Tapi kami pucat pasi dan gemetar sepanjang malam. Berumur 19 tahun, bayangan korban2 di pinggir jalan dengan kepala terpisah, dan badan penuh luka tusuk, serta teriakan2 sepanjang malam di gang yg hanya berjarak 15 meter dari tempat kami berlindung, terkadang teriakan minta ampun orang tua juga tangis anak kecil, selalu membuat saya lebih cepat menangis kapanpun saya mengingat. Bahkan saya lebih cepat menangis daripada saat Bapak atau Ibu atau Saudara saya wafat. Ya, mereka memang ‘menjemput’ korban2 tanpa lihat umur.”

“ Saya selalu tertawa bila melihat ada orang sok jagoan. Atau membual ditakuti orang. Atau membual pernah membunuh orang.  Atau bagaimana komentator2 itu berkomentar soal PKI. Apalagi membela PKI. Bila tidak salah, saat kami berhasil lolos malam itu, dan pada tanggal 22 Oktober saat RPKAD berhasil menguasai Boyolali, maka, jangan salahkan kami yg mantan korban-korban itu gantian ‘menjemput’ mereka.

“ Dendam begitu membara ketika mengingat bagaimana mereka memperlakukan teman, saudara, bahkan kenalan kami bagai binatang. Istri saya sendiri pernah menyaksikan bagaimana mereka memaku kepala seorang pemimpin nasionalis setempat menyerupai tanduk lalu mengarak mayat orang dengan paku dikepala itu keliling kota. Sungguh, saya sangat tertawa bila mendengar komentator bicara soal daftar PKI yg dibuat2. Kami bergerak bukan berdasar daftar titipan RPKAD. Tapi karena kami kenal orang yg kami percaya, kami hormati, kami baiki, namun menghabisi korban yg kami dan mereka juga kenal dengan dekat.”

“ Dan untuk membuktikan apakah turut serta dalam ‘menjemput’ PKI2 itu, tanyakan saja tentang piagam dari RPKAD. Sungguh itu adalah bukti nyata, dari seorang yg membual atau mengalami hari2 yg menyeramkan sperti saya.”

 Yang Tersisa …

(penuturan seorang saksi hidup kebiadaban PKI, yg masih gemetar hebat dan bercucuran air mata ketika menceritakan keadaan saat itu.)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *