Vaksin Palsu Dalam Berita

Definisi Vaksin

Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari sebagian atau keseluruhan dari suatu mikroorganisme penyebab penyakit yang telah dilemahkan, sehingga tidak menimbulkan penyakit tetapi cukup dapat menimbulkan respon imun dari individu yang menerima vaksin tersebut. Respon imun ini berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit yang berasal dari mikroorgnime yang dijadikan sebagai bahan vaksin, tanpa harus menderita penyakit tersebut terlebih dahulu. Demikian pentingnya peran vaksin dan vaksinasi dalam membantu menjaga kesehatan tubuh kita, sehingga pemerintah bahkan mencanangkan program vaksinasi ini secara khusus, terutama untuk penyakit peyakit yang banyak diderita di indonesia ini, yang dilaksanakan melalui instansi-instansi kesehatan milik pemerintah, seperti misalnya Puskesmas. Keberhasilan vaksinasi atau sering juga disebut imunisasi ini dalam menurunkan angka kesakitan penyakit-penyakit tadi sangat signifikan, sehingga semakin hari, para orang tua pun semakin antusias untuk mengikuti program ini, bahkan ditengah gempuran para aktivis yang menolak menggunakan vaksin denagn berbagai alasan (Antivaks).

Vaksin Palsu

Sayangnya, baru-baru ini prestasi vaksin harus terkontaminasi oleh isu adanya vaksin palsu yang beredar di masyarakat. Tentu ini menimbulkan syok di kalangan orang tua yang anak-anaknya mendapatkan vaksinasi. Isu ini tak pelak menyeret beberapa oknum pelaku pemalsuan vaksin, Rumah Sakit-Rumah Sakit yang menggunakan vaksin ini, dan juga beberapa praktisi kesehatan.

Isu mengenai vaksin palsu ini bermula ketika beredar berita ada seorang bocah yang meninggal pasca mendapatkan imunisasi (meskipun setelah diselidiki lebih lanjut, bocah tersebut meninggal bukan karena imunisasi tetapi karena penyakit lain yang dideritanya). Isu menarik ini kemudian menjadi pemberitaan luas dan beredar dengan cepat serta menarik perhatian pihak yang berwajib. Dari pengembangan kasus tersebut kemudian diketahui ada beberapa orang yang dijadikan sebagai tersangka pelaku pembuat vaksin palsu ini. Setelah itu ditelusur kemana saja vaksin-vaksin palsu ini beredar dan siapa saja penggunanya. Sehingga didapatkan ada sekitar 14 rumah sakit yang masuk dalam jalur distribusi penjualan vaksin buatan si pelaku ini. Kemudian ditetapkanlah beberapa orang lagi sebagai tersangka untuk kasus ini, yang mana beberapa diantaranya adalah dokter, bidan, dan apoteker. Ini yang sekarang sedang panas-panasnya dibicarakan. Banyak pihak mulai menganalisa kasus ini dan mulai menyampaikan bayak teori tentang kasus ini, tak luput membawa juga mengenai siapa yang harus bertanggung jawab terhadap hal ini. Di dalam tulisan ini saya tidak berniat membela siapapun, hanya berusaha menelaah fakta-fakta yang ada.

Isi Vaksin Palsu

Apa sih sebenarnya isi vaksin palsu ini? Kalau diteusur dari berita yang beredar ada beberapa versi vaksin palsu, yaitu vaksin asli yang diencerkan dengan penambahan cairan infus (NaCl 0,9%), ada yang haya berupa cairan infus saja, ada juga yang berupa kombinasi antara cairan infus dengan antibiotik pada kadar rendah. Dilihat dari segi isi vaksin palsu ini, mestinya tidak berbahaya atau tidak berakibat fatal jika disuntikkan kepada bayi atau anak penerima vaksin, kecuali pada varian terakhir yang berisi antibiotik yang memungkinkan ada efek yang agak berbahaya pada bayi atau anak yang alergi terhadap kandungan antibiotik tersebut. Sedangkan jika dilihat dari sisi tujuan pemberian vaksin, tentu saja vaksin ini gagal memenuhi tujuan tersebut. Vaksin palsu ini tidak dapat menimbulkan respon imun dan imunitas atau daya tahan tubuh terhadap penyakit yang seharusnya dapat dilakukan oleh vaksin yang asli. Dari segi inilah vaksin palsu ini bisa dikatakan relatif berbahaya.

 Asli vs Palsu

Membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu hampir mustahil dilakukan hanya dengan pemeriksaan fisik semata, bahkan jika pemeriksanya adalah seorang ahli vaksin. Ini bukan segampang membedakan uang asli dengan uang palsu, cukup dengan 3D alias dilihat, diraba, diterawang. Satu-satuya cara untuk melihat keaslian dari vaksin adalah dengan memeriksa langsung isi botol vaksin tersebut di laboratorium. Ada seorang ahli vaksin yang mengatakan bisa dengan mengecek kode unik dan tanggal kadaluarsa di label atau botol vaksin dengan di kemasan atau box nya, macam memeriksa keaslian parfum mahal. Well, bisa sih… tapi pemalsu yang lebih pintar bisa membuat keduanya sama persis. Jadi, dari sini jelas amat sangat kecil kemungkinan pengguna vaksin dapat membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu dari tampilan luarnya semata.

Lha terus kok bisa vaksin palsu ini beredar?

Ini mesti salah BPOM! Dokter! Rumah Sakit! Kemenkes!… Errrr… tunggu dulu kalau soal itu. Siapa yang salah kita bicarakan nanti. Sekarang yang penting kita bahas dulu adalah bagaimana cara membedakan vaksin asli dengan palsu…

Jadi RS nya salah ini?

soalnya beli vaksin palsu.

Saya kurang paham dengan manajemen pembelian obat dan vaksin di RS, sehingga kurang bisa berkomentar banyak. Tetapi yang jelas, jika RS membeli obat dan vaksin dari distributor resmi atau PBF (Pedagang Besar Farmasi) resmi kemudian ternyata yang diterimanya adalah palsu, maka RS tentu tidak bisa disalahkan. RS justru bisa menyeret distributor dan PBF ini ke jalur hukum karena terbukti menipu dengan memberikan vaksin palsu. Jadi RS nya ngga perlu khawatir, tinggal tunjukkan saja faktur pembelian vaksin tersebut, maka akan jelas masalahnya. Well, kecuali kalau RS nya membeli vaksin di “pasar gelap” ya ngga tahu lagi.

Berarti dokternya yang salah?

Belum tentu. Dokter yang bekerja di RS harusnya menggunakan obat atau vaksin yang disediakan oleh rumah sakit. Dalam hal ternyata vaksin yang akan digunakan tidak tersedia di apotek RS, bisa jadi dokter memberikan resep agar vaksin yang dimaksud dapat dibeli di apotek atau distributor resminya. Kalau itu yang terjadi, maka dokternya tidak bisa disalahkan. Dia sudah melakukan sesuai dengan prosedur. Dokter hanyalah pengguna vaksin juga, sama dengan para orang tua yang anaknya disuntik vaksin. Kecuali, jika oknum dokternya menggunakan vaksin di luar jalur resmi yang beresiko terpapar dengan keberadaan vaksin palsu ini atau memang oknum dokternya sendiri tahu bahwa vaksin tersebut tidak asli tetapi tetap nekat menggunakan vaksin palsu tersebut dengan berbagai alasan. Ini tidak hanya berlaku untuk dokter, tetapi juga konsumen vaksin lainnya seperti bidan.

Berarti salah BPOM ini?

… kan tugasnya dia mengawasi peredaran obat dan makanan, termasuk vaksin.. kok bisa kecolongan ada vaksin palsu yang beredar??????

Belum tentu. Jika vaksin palsu itu beredar di luar jalur resmi otomatis BPOM sendiri akan sangat sulit mendeteksi keberadaan si palsu ini, kecuali secara tidak sengaja ketemu pas waktu sidak, atau ada laporan atau keluhan dari masyarakat sehingga BPOM melakukan pemeriksaan. Gampangnya begini, jika pembuat vaksin ini mengedarkan vaksin palsu varian pertama yang sebenarnya asli hanya diencerin saja, maka vaksin yang lewat BPOM itu adalah vaksin asli.. no registrasinya juga nomor asli. Setelah itu baru diencerkan dan baru diedarkan, wajar kalau BPOM tidak mengetahui hal ini. Atau jika yang terjadi vaksin palsu jenis kedua dan ketiga dimana para pembuat vaksin palsu memproduksi sendiri vaksin palsunya di botol bekas yang mereka kumpulkan lalu dilabeli sendiri dan diberi nomor sendiri yang dibuat identik dengan nomor asli, tanpa melalui pemeriksaan BPOM kemudian disalurkan langsung ke pengguna, ya wajar juga kalau BPOM tidak tahu. Apakah ini berarti BPOM lalai? Saya kira tidak. BPOM saya rasa kerjanya tidak buruk. Lalu kok masih bisa kecolongan? Ya bisa saja. Ya harusnya sidak lah… Ya sidak sih, tapi realistis ngga kalau sidaknya setiap hari? Oleh karena itu peran masyarakat dalam melaporkan kejanggalan macam ini sangat penting. BPOM menjadi lalai jika si palsu palsu ini ternyata memperoleh nomor registrasinya dari BPOM langsung..artinya BPOM dari awal sudah tahu bahwa itu palsu tapi masih diberi nomor registrasi. Oleh karena itu sebenarnya tidak aneh, meski kasus vaksin palsu ini sudah berjalan sekitar 13 tahun dan baru ketahuan belakangan. Kenapa? Karena selama ini pas disidak ya kebetulan ngga ketemu atau tidak ada laporan kecurigaan dari masyarakat atau para pengguna vaksin.

Lha terus kok BPOM minta maaf di koran?

Dalam pandangan saya permintaan maaf ini hanya hal normatif untuk menahan bara saja. Seperti yang telah dijelaskan oleh BPOM sendiri, bahwa kasus ini sudah diketahui sejak lama bukan hanya vaksin palsu, tapi juga vaksin kadaluarsa dan pelakunya juga sudah ditindak, mulai dari peringatan sampai pembekuan ijin. Hanya masih ada yang beredar apalagi di fasilitas fasilitas tidak resmi, ya itu sudah beyond duty nya BPOM. Seperti yang saya sampaikan tadi, sidak tiap hari????

Berarti ini salah kemenkes?

Well, analogi BPOM tadi bisa dipakai disini.

Bagi saya yang jelas salah adalah yang membuat, menjual, dan mengedarkan barang palsu tadi. Sedangkan para pengguna yang memang tidak mengetahui dan tidak memiliki kapasitas dan kompetensi untuk membedakan vaksin palsu dengan yang asli, tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Bahakan kalaupun hanya untuk memuaskan ego semata.

Vaksin Palsu dalam Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *