Tustel – Capturing moments of life –

~ sebuah resensi ~

Penulis : Maria Timmen Surbakti

12527864_1237199136307906_482673275_n

Menangkap setiap kejadian gambaran kehidupan, berlatar belakang potret klasik/vintage. Adat budaya klasik di tengah kehidupan post modern.

Sebuah novel bertema romantika pasangan yang terbentur adat, tradisi, dan sekat strata sosial. Fenomena cerita sebuah kisah roman yang terhalang karena padan aturan adat batak toba antara marga Aruan dan Sitorus yang tak bisa saling menikahi. Begitu mereka tahu kenyataan itu, di situlah dimulai kisah pengembaraan Sang Dokter yang bermarga Aruan. Pengalaman hidupnya mengajarkan apa itu cinta.

Alurnya dapat mengaduk perasaan mereka yang melankolis, menjadi kamus yang cukup komplit untuk mereka yang suka traveling, dan cukup gamblang mengangkat tema masalah pernikahan dalam adat istiadat sebuah suku besar di Indonesia. Ketegangan sebuah perjuangan dan gejolak hati yang akhirnya terpapar dalam setiap potret babnya. Pertemuan fiksi dan science dalam membahas asamara yang menggugah jiwa. Meruak filosofi romantika dan psikologi sejoli yang kasmaran.

Apa yang membuat hidup begitu bergairah ? Cinta tentunya.

Adalah Sulu Aruan, seorang pemuda dari Tanah Batak, seorang dokter lulusan Universitas Gajah Mada. Di akhir masa kuliahnya dia bertemu dengan seorang perempuan bermarga Sitorus, Chrisinta atau biasa dipanggil Sin. Tapi sayang hubungan mereka tak direstui orang tua, karena marga mereka termasuk marga yang dilarang menikah sesuai padan yang ada.

Sulu kemudian memutuskan mengambil dinas PTT di pedalaman Maluku. Lalu tersebutlah kisah pengalamannya mengunjungi banyak daerah dari Sabang sampai Merauke bahkan hingga ke Dili, Timor Leste, melewati perbatasan Motaain, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan yang begitu panjang, semalaman dari kota Yogyakarta ke Ambon dan berlayar menuju pulau Seram. Kisah tentang petualangan eksotis seorang dokter di pedalaman Maluku, termasuk tentang menangani sebuah pasien yang mengidap Schizophrenia, yang dianggap kemasukan setan oleh masyarakat di pedalaman Maluku.

Beberapa cerita cinta juga ditemuinya. Di sana ada salah satu pasiennya, Ratih, perempuan yang masih memendam cintanya pada Kasim. Akan tetapi Kasim dijodohkan dengan Abim yang seorang Pegawai Negeri. Di sana pula dia bertemu dengan Hasan, temannya semasa masih menjadi dokter muda yang akhirnya mengajaknya pindah kerja ke Atambua. Hasan sedang bermasalah dengan perkawinannya. Atas saran darinya, hubungan Hasan dan istrinya membaik kembali. Sementara itu, dirinya sendiri yang tengah patah hati, lalu pergi ke Wina, Austria, untuk mengerjakan penelitian di sana. Dia juga beberapa kali mengajar para pengungsi di refugee camp.

Pengalaman hidupnya mengajarkan apa itu cinta. Kisah pencarian kesejatian sebuah cintanya. Kemudian terbang ke Kupang dan melanjutkan perjalanan ke Atambua sampai ke Dili, Timor Leste melewati perbatasan Motaain, Nusa Tenggara Timur, ke Batak Karo lalu terbang ke Wina, Austria, dan akhirnya kembali ke Jakarta. Dia banyak mengenang kisah cintanya yang terlarang di Wina. Setiap keindahan sejarah Wina benar-benar membuatnya mengenang kisahnya sendiri. Perenungan setiap maksa cinta yang begitu dalam. Meski surat elektronik kepada Sang Kekasih yang tak pernah sekalipun terbalas.

12516110_1237199089641244_1771382826_n

Dari Segi Adat Batak : 

Sitorus dengan Aruan, Hutajulu dan Hutahaen terikat padan (perjanjian) untuk saling menganggap sisada anak dan sisada boru. Karenanya hubungan perkawinan di antara marga-marga ini adalah terlarang atau subang (pantang). Padan yang seperti ini juga mengikat marga-marga lain seperti Silaban dengan Hutabarat, Naibaho dengan Lumbantoruan, Manurung dengan Simamora Demataraja, dll. Seringkali generasi muda yang belum tahu padan tersebut terjerumus cinta `terlarang` yang terhalang tembok padan ini. Hal yang membingungkan bagi mereka mengapa cinta murni dari dua orang yang berbeda marga dan satu rumpun harus dianggap tabu. Adanya novel yang berani mengangkat kisah cinta terlarang ini tentu menarik untuk dicermati.

Unsur Intrinsik 

1. Tema
Tema yang diangkat tentang cinta, persahabatan, dan adat istiadat dalam keluarga.
2. Alur
Jika dilihat dari jalan ceritanya, novel ini menggunakan alur cerita maju mundur.
3. Sudut Pandang
Dalam Novel Tustel ini, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang campuran.
4. Penokohan
Penggambaran tokoh dalam novel ini begitu kreatif dan jelas. Tokoh utama tetap dominan sebagai protagonis.
5. Gaya Bahasa
Kata-kata yang ditulis ringan dan gaya bahasanya sangat menyesuaikan dengan perkembangna masyarakan modern. Terdapat bahasa percakapan sehari-hari beberapa suku di Indonesia. Bahasa mudah dimengerti pembaca.

Kelebihan dan kekurangan Novel 

Kelebihan 
Novel Tustel hadir sebagai novel roman dengan penokohan dari suku Batak. Mengangkat fenomena kekinian. Karya yang memiliki diferensiasi. Gaya penulisan tidak rumit, mudah dimengerti, dan mendalam sesuai tema genre. Kisah cinta dalam sebuah novel yang bertajuk budaya. Budaya erat kaitannya dengan perilaku sosial, hubungan dalam kelompok dan antar kelompok, daya tarik interpersonal, cinta, ketertarikan, dan perkawinan, keputusan, agresi, kesesuaian, ketaatan, kepatuhan, dan kerjasama. Buku yang persuasif untuk memahami berbagai sudut pandang. Kisah perjalanannya sangan menarik. Cerita dengan berbagai latar di Wina dan Indonesia, baik tempat-tempat yang indah dan pedalaman, menambah daya tarik buku ini. Membaca “Tustel” seperti terbawa dalam semua adegan cerita. Rahasia dan mimpi cinta yang terus tumbuh dan bertunas. Keindahan yang dituturkan mampu membayangkan sedang berdiri di suatu sore langit yang sedang bermain hujan. Meski tidak ada pelangi melengkung. Kisah petualangan dan impian, cinta yang liar dan berani. Pada bab terakhir memberi kejutan demi kejutan yang tak disangka. Sebuah kekuatan cerita yang luar biasa.

Di samping cerita ini berdasarkan pengalaman budaya batak, Penulis sendiri bukanlah suku Batak, melainkan suku Karo. Sungguh hasrat penulis untuk menulis dan memahami berbagai budaya di Indonesia sebagai wujud ketertarikannya terhadap fenomena sosial yang ada. Antropologi budaya yang selalu erat dalam kehidupan sosial dan keluarga. Prestasi yang luar biasa untuk usia muda tertarik menulis tema budaya seperti ini.

Cerita ini mengingatkan pada kisah roman yang selalu abadi dikenang, seperti Romeo dan Juliet, sebuah kisah tragedi karya William Shakespeare yang ditulis pada awal karirnya. Tragedi tentang sepasang kekasih muda yang terhalang cintanya karena kedua keluarga mereka saling bermusuhan. Atau The Great Gatsby, sebuah karya F. Scott Fitzgerald tahun 1925. Bercerita tentang kehidupan miliarder Jay Gatsby dan socialita Daisy Buchanan yang dituturkan oleh tetangga Jay dan juga sepupu Daisy, Nick Carraway. Diceritakan pertemuan mereka kembali pada puncak masa Roaring Twenties. Sebelumnya kisah cinta mereka juga terlarang. Atau Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, yang ditulis oleh Buya Hamka. Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian. Kritikus sastra Bakri Siregar menyebut Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sebagai karya terbaik Hamka. Dan masih banyak novel kisah roman yang abadi lainnya.

Ketertarikan penulis mengangkat genre roman novel, menjadi kesan bahwa kisah dalam novel ini akan digemari sepanjang masa. Persoalan roman, puitik, kisah eros, bahasan yang paling aduhai sepanjang zaman, sejak zaman kerajaan hingga kekinian.

Lebih spesisik lagi novel ini kategori roman populer, mengandung puisi naturalis. Deskripsi cerita dengan alur teratur. Bahasanya juga puitis. Kata-kata filosofis yang hanya bisa dipahami secara naratologis.

Beberapa Testimonier : 

Tustel, sebuah kata yg klasik mengartikan alat pengabadi kejadian. Menangkap kejadian /momentum kehidupan dan cerita romansa, analogi yang tepat menjadikannya sebagai judul novel ini. Cerita yang inspiratif, membuka pemikiran tentang sesuatu yang konservatif dan klasik. Di sepanjang zaman budaya mengatur untuk kebaikan bersama. Cinta, intimasi, komitmen tiga hal yang disampaikan dalam buku ini.

  • Frans Padak Demon, Director of  VOA Indonesia, Jakarta

Budaya sebagai warisan leluhur yang sangat berharga. Tidak lupa dari semua itu budaya sangat menghargai perdamaian, keluhuran, keindahan, dan cinta. Buku ini menjadi menarik ketika mengangkat kisah budaya suku batak. Inisiatif seorang muda menulis persuasif agar yang membaca mau lebih tertarik tentang seluk beluk budaya dan hakekatnya.

  • Juara R. Ginting, Antropolog, Leiden, Belanda

Mengupas cinta romantis dari perasaan intens dan ketertarikan sepasang kekasih, dalam sebuah konteks erotis dengan harapan masa depan. Buku yang menggugah rasa dan asa. Sangat menarik.

  • Tanta J. Ginting, Aktor, Orange, California

Budaya Batak sebagai bagian dari budaya Timur,pada dasarnya menganut paham kebersamaan. Suatu hal yang tentu saja luhur karena konsep yang seperti itu bersifat kolektif artinya baik permasalahan perorangan anggota keluarga maupun persoalan keluarga sebagai suatu keutuhan adalah masalah bersama. Dengan demikian maka yang bertanggung-jawab menjaga kelestarian sebuah perkawinan adalah seluruh keluarga besar. Keluarga besar berfungsi melindungi sekaligus meyakinkan agar sejauh mungkin tidak ada unsur paksaan atau tekanan apapun yang akan menyakiti siapapun dari antara anggotanya. Pliliha penulis untuk mengambiul alur cerita dengan sentuhan budaya dan latar belakang belakang daerah dari Sabang sampai Merauke tentu memerlukan imajinasi yang kuat dan luas. Penulis berhasil merangkai sejuta keindahan cinta tidak saja dalam wujud romansa melainkan juga dalam pesona alam. Tulisan yang kreatif dan inspiratif. Terus berkarya.

  • Mayjen TNI (Purn) R.K Sembiring Meliala, Jakarta, Indonesia

Seorang pembaca Novel “Tustel”, saking bersemangatnya membuat foto profil dan status di BBM-nya dari salah satu kutipan dari Novel.

12804575_1237199249641228_528452365_n

Kekurangan

Pada bab awal terkesan membosankan, diawali dengan situasi datar dan kurang menantang. Pemilihan kata terutama pada bab depan kurang memberi penekanan untuk bayangan situasi mendalam. Tetapi selanjutnya jika dibaca terus sangat menarik saat mulai masuk persoalan inti. Juga kisah di Maluku yang menggemparkan.

One Reply to “Tustel – Capturing moments of life –”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *