Tentang Fakta | Media Framing

Pertama-tama mari lihat gambar dari thinknsmile.com berikut ini:

tentang fakta | media framing
http://thinknsmile.com/framed/

Nah, kenapa saya merujuk gambar itu? Gambar itu saya rasa cukup mewakili kegelisahan saya tentang proses pemanipulasian informasi, khususnya tentang apa yang sering diklaim sebagai “fakta”. Sering kita dengar orang bicara atau menulis “faktanya…….”, “inilah fakta…….”, dan sejenisnya. Padahal apa yang disebut fakta itu sebenarnya mungkin bukan atau bahkan jauh dari fakta yang ada.

Sebelum membahas, pertama kali kita akan bicara definisi. Menurut KBBI, fakta adalah seperti di gambar berikut:

fak·ta n hal (keadaan, peristiwa) yg merupakan kenyataan; sesuatu yg benar-benar ada atau terjadi

Fakta | Media Framing

Nah sudah jelas kan? Sekarang mari kita kembali membahas gambar yang saya kasih pranala di atas tadi.

Di gambar itu, ada dua orang, sebut saja Lefty untuk orang di kiri dan Kani untuk orang di kanan. Kita mulai dari gambar yang muncul dari kamera. Kalau kita lihat gambar dari kamera, maka yang terlihat adalah Lefty memegang sebuah benda runcing yang mengarah ke Kani. Padahal dari gambar yang utuh kita tahu bahwa yang terjadi adalah sebaliknya. Ini menunjukkan pentingnya melihat suatu masalah secara utuh.

Masalah kedua, dari posisi kejadian yang utuh tersebut, kalau kita hanya melihat gambar, fakta apa yang bisa kita simpulkan?. Di ranah inilah lebih banyak kesalahan bisa terjadi, umumnya karena kita mencampur adukkan fakta dengan prasangka. Contoh kesimpulan yang kurang tepat misalnya:

Kani mengejar Lefty Sambil membawa Pisau

kurang tepat karena kita hanya melihat gambar Lefty membelakangi Kani sehingga mengejar adalah kesimpulan yang terburu buru.

Kani mau menusuk Lefty dengan Pisau miliknya

Ini jelas bukan fakta, karena “mau menusuk” ini adalah dugaan atau prasangka. “Pisau miliknya” juga merupakan asumsi yang tidak dijelaskan di gambar.

Kani mau membunuh Lefty karena menyelingkuhi istrinya

Kesimpulan yang penuh dengan berbagai bumbu penyedap, tidak perlu dijelaskan kenapa pernyataan ini jelas bukan fakta.

Intinya, saya hanya mau menyampaikan bahwa fakta itu adalah sebuah kenyataan, yang dilihat dari sisi manapun tidak akan berubah. Adapun hal-hal lain yang didapat dari proses mengumpulkan informasi adalah referensi yang bisa menguatkan kesimpulan. Seperti contoh di gambar pertama, bisa saja skenarionya adalah bahwa justru si Lefty yang berlari membawa pisau kemudian pisaunya jatuh dan mengenai kepala Kani yang sedang tidur sehingga dia marah dan mengejar Lefty dengan pisau milik Lefty.

Dan yang perlu diingat, dugaan itu juga bukan berarti salah, kita memang sepatutnya menduga duga sebelum mengambil kesimpulan. Dugaan juga bisa jadi benar, tapi itu bukan fakta. Yang penting adalah sebelum mengambil kesimpulan kumpulkanlah informasi dulu sebanyak banyaknya dan dari sumber yang bervariasi. Dan yang lebih penting lagi, janganlah serampangan mengatakan sesuatu itu sebagai “fakta” kalau memang bukan. Ingat, tidak semua orang cukup mau repot repot atau mampu mencerna suatu informasi itu fakta atau bukan, jadi janganlah menambah informasi sesat dengan mengatakannya sebagai fakta padahal bukan 🙂

2 Replies to “Tentang Fakta | Media Framing”

  1. Ada sebuah konsep yang namanya Tri Pramana, bisa dilihat di : http://www.babadbali.com/canangsari/pa-tri-pramana.htm.
    Poin-poin nya sbb:
    + Adapun orang yang dikatakan memiliki tiga cara untuk mendapat pengetahuan yang disebut Pratyaksa, Anumana, dan Agama.
    + Pratyaksa namanya (karena) terlihat (dan) terpegang. Anumana sebutannya sebagai melihat asap di tempat jauh, untuk membuktikan kepastian (adanya) api, itulah disebut Anumana.
    + Agama disebut pengetahuan yang diberikan oleh para guru (sarjana), itulah dikatakan Agama. Orang yang memiliki tiga cara untuk mendapat pengetahuan Pratyaksa, Anumana, dan Agama, dinamakan Samyajnana (serba tahu).

    Diterjemahkan :
    + ada poin indria yang membuktikan hal tersebut: melihat langsung, mendengar langsung, dsb.
    + ada sumber referensi yang terpercaya, mem-validasi dan reasoning dari kajian pakar/referensi literatur akademis
    + ada proses pengambilan kesimpulan terstruktur : permasalahan->asumsi->pengujian->kesimpulan.

    Jadi, kebenaran level tertinggi adalah dilandasi dengan acceptance dari 3 checklits point tersebut, sekaligus.
    Jika tidak terlengkapi ke-3 poin tersebut secara utuh, level kebenarannya bukan yang paling qualified.

    1. Wow, konsep validasi yang bagus Mas 🙂
      Kalau saya pribadi, lebih setuju sampai yang ada “langsung”-nya. Kalau dalam konteks mendengar langsung, bagi saya riwayatnya harus jelas, apakah yang bercerita bisa dipercaya, apakah yang bercerita melihat langsung atau tidak, atau apakah yang bercerita pada yang bercerita bisa dipercaya dst.

      Kemudian reasoning dan kajian pakar/literatur juga sebetulnya tidak bisa dijadikan sesuatu yang 100% bisa diterima, tapi bisa saja jadi penguat argumentasi dalam menarik kesimpulan.

      Tapi hehe poin tulisan saya sebetulnya tidak pada metodologi menarik kesimpulan mas, saya hanya ingin menarik garis antara mana yang bisa disebut fakta dan bukan, dan ini sama sekali tidak berhubungan dengan tingkat kebenaran. Karena seperti saya tulis, dugaan pun bisa jadi benar, seperti jawaban pilihan ganda 😀 Jadi orang bebas mempropagandakan apa yang dia yakini sebagai kebenaran, hanya jangan katakan itu fakta kalau memang bukan (atau belum terbukti) 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *