Para Pengeja Hujan, Sebuah Review

Pengeja_Hujan.jpg
Immortal, nama pasukan legendaris Persia itu pertama kali saya dengar waktu menonton film 300. Sepuluh ribu tentara elit andalan Raja, jumlahnya tidak pernah berkurang, setiap ada yang gugur, penggantinya segera siap. Pasukan yang konon dibentuk di zaman Raja Cyrus dan dikomandani oleh Pantea Arteshbold itu dikenal juga dengan sebutan Athanatoi. Pasukan itulah yang coba dibangkitkan kembali oleh ketiga putri Khosrau Parvis (Puran, Turan, dan Azarmi) dalam buku ini yang merupakan lanjutan dari buku sebelumnya. Yang menjadikan elitnya pasukan ini bukan hanya kemampuan bertempurnya, melainkan iman mereka kepada ajaran Zoroaster yang tinggi. “Tidak ada angkatan bersenjata tanpa moral agama” tegas putri Turan, penengah dari tiga bersaudara itu.

Siapakah sosok pengganti Pantea? Adalah Atusa, seorang arsitek jenius yang misterius. Wajahnya selalu ditutupi cadar namun dibalik keanggunannya berbagai taktik dan keahlian perang dia tempakan kepada para athanatoi. Namun tak seorangpun berkuasa melawan takdir, tidak juga sepuluh ribu pasukan. Tahta persia yang dibangun di atas darah seperti mengulang kembali dan kembali siklus perebutan takhta dengan pertumpahan darah antara bapak, anak, ponakan, ipar, dan seterusnya. Bagaimana akhirnya Atusa bersikap? Siapakah sebenarnya dia? Pembaca yang jeli mungkin sudah akan menduga sebelumnya tapi tetap tidak mengurangi kemenarikan membaca buku ini.

Bagaimana kabar Kashva? Dia tampaknya mulai bisa mengobati kesedihan hatinya karena kehilangan Masya dan Xerses di sungai. Hari-harinya dihabiskan dengan berjalan dan berdiskusi dengan sahabatnya biksu Tashidelek, diikuti oleh Vakshur. Biksu itu memberinya banyak pencerahan tentang sosok penggenggam hujan yang begitu menarik bagi Kashva. Namun dia juga memberi Kashva peringatan bahwa Vakshur menyembunyikan sesuatu darinya.

Setelah dari Tibet, Kashva memutuskan untuk pulang ke Persia. Namun nasib buruk yang bertubi-tubi sudah menantinya di sana. Siksaan demi siksaan, ancaman mematikan dari raksasa kanibal di penjara, maupun gigitan anjing membuatnya memohon kematian pada Ahura Mazda. Tidak disangka juga, keberadaannya di penjara juga memberikan sejumlah harapan. Reuni dengan Masya dan kabar tentang Astu membuatnya masih bisa bertahan sampai akhirnya dia bebas. Namun tampaknya kebebasan tubuhnya masih belum diikuti dengan kebebasan jiwanya, keadaannya membuat sedih Masya dan Vakshur. Bagaimanakah penderitaan Kashva? Apa rahasia yang disembunyikan Vakshur? Siapa sebenarnya biksu Tashidelek? Semuanya tergambar dengan alur yang rapi di buku ini.

Adapun mengenai kisah Rasulullah SAW, buku ini dipenuhi dengan adegan-adegab yang menggetarkan bahkan menguras air mata. Diawali dari kisah penyerbuan Abrahah dengan pasukan gajahnya sebagai balasan atas ulah orang suki Kinanah yang mengotori gerejanya dengan tinja. Berlanjut ke kisah kehidupan masa kecil sang Nabi yang penuh duka cita, sampai meninggalnya sang Kakek dan pengasuhannya berpindah pada pamannya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib.

Melanjutkan dari buku sebelumnya, jilid ke-dua ini menceritakan tentang perjalanan Rasulullah setelah menaklukkan Mekkah. Penaklukan Thaif diceritakan dengan dramatis. Bagaimana akhirnya kaum Anshar yang memprotes pembagian harta rampasan justru akhirnya berlinang air mata ketika mendengar jawaban “Apakah kalian tidak bahagia wahai kaum Anshar? Orang lain membawa domba dan unta, sementara kalian membawa Rasulullah ke rumah kalian?”. Wilayah Islam sungguh telah berkembang pesat dibawah panji panji Rasulullah. Namun kemenangan demi kemenangan justru menimbulkan rasa khawatir di benak sebagian sahabat.

Kekhawatiran itu semakin jelas pasca haji Wada’, kekhawatiran bahwa waktu Nabi Muhammad SAW bersama mereka sudah hampir habis. Dan akhirnya saat paling menyedihkan itu tiba, membacanya saja selalu menyulut haru, entah bagaimana perasaan penulis ketika menuliskan bagian ini. Sungguh meskipun telah diketahui dan dibaca berulang-ulang, cerita saat kematian Rasulullah tetap menggetarkan. Dan seperti yang sudah kita ketahui, penggantinya sebagai khalifah adalah Abdullah bin Abu Quhafa alias Abu Bakar as Shiddiq RA.

Yang membuat buku ini agak berbeda, penulis cukup “berani” menuliskan kisah tentang peristiwa Ghadir Khumm. Bukan itu saja, bahkan serangkaian peristiwa yang mengikuti kematian Rasulullah yang diyakini oleh sebagian orang dan agak tabu dibicarakan juga digambarkan di buku ini. Perbedaan pendapat antara Ali bin Abu Thalib RA dengan Abu Bakar as Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA. Saya hanya berani menyebutnya perbedaan pendapat, menyebutnya sebagai perselisihan entah kenapa rasanya agak kurang pantas :D. Kemudian disinggung juga mengenai perbedaan pendapat antara sang khalifah dengan Fatimah Az Zahra, perselisihan yang ditangisinya sampai akhir hayatnya.

Tergambar dengan jelas di sini hari-hari berat pemerintahan Abu Bakar RA. Menggantikan seorang Nabi, sungguh pekerjaan yang mustahil. Kepemimpinannya banyak dihabiskan dengan memerangi mereka yang murtad maupun nabi-nabi palsu yang bermunculan seperti Musaylimah. Dikisahkan bagaimana dia menepati julukannya sebagai as Shiddiq, bagaimana untuk urusan Aqidah, dia bahkan bisa lebih keras dari Umar RA, bahkan sampai memarahinya karena dianggap terlalu lembut.

Salah satu sikap kerasnya ditunjukkan saat dia bersikeras tetap mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima ekspedisi ke utara melawan tentara Heraklius meskipun banyak yang menentangnya karena dianggap terlalu muda, termasuk Umar. Dia hanya menegaskan “Aku tidak akan menurunkan orang yang sudah diangkat Rasulullah”. Namun di balik ketegasannya mengikuti teladan Rasulullah, dia juga tetap mau mendengar masukan, seperti ketika dia menyetujui anjuran untuk membukukan Al Quran pasca kehilangan ratusan Hafidz di perang Yamama. Meskipun dia mengatakan “ini tidak pernah dicontohkan. Rasulullah”, akhirnya dia pun mengikuti saran Umar, “Demi Allah ini baik”. Sayang kepemimpinannya tidak lama, buku ini ditutup dengan kerasnya pendiriannya untuk menunjuk Umar bin Khattab RA sebagai penerusnya meskipun banyak yang menentang keputusannya.

Membuat sequel adalah sebuah tantangan yang berat. Namun penulis buku ini telah melewatinya dengan baik. Episode ke dua ini tetap tersaji dengan alur cerita yang baik dan tata bahasa yang indah. Penggambaran-penggambaran mengenai ekspresi dan perasaan tokoh di dalamnya sungguh bisa memberikan banyak teladan dan hikmah bagi yang membacanya. Dan sama seperti episode pertama, tebalnya buku ini yang separuh kuintal tidak akan membuat kita bosan membacanya. Bagi yang belum tahu, kisah-kisah di dalamnya bisa menambah wawasan kita tentang agama Islam, dan riwayat yang dipaparkan juga sampai sejauh ini masih tetap sejalan dengan yang umum diajarkan di sekolah-sekolah, hanya bagian “suksesi” seperti saya singgung pada beberapa paragraf di atas yang mungkin tidak diajarkan di sekolah (setidaknya di sekolah saya :D).

Saya pribadi sangat kagum dengan teladan teladan yang diberikan oleh Abu Bakar RA (selain Rasulullah tentunya) di buku ini. Pidatonya saat pertama kali “menjabat” yang tanpa malu-malu meminta untuk terus diingatkan ketika menyimpang menggambarkan kerendahan hati papan atas. Pesannya kepada Aisyah sang Ibu kaum Mukmin sebelum meninggal untuk memeriksa kekayaannya untuk memastikan tidak ada hak orang lain yang dimakannya menggambarkan betapa amanahnya beliau. Belum lagi soal kesederhanaan hidupnya, sungguh membacanya serasa mimpi masuk ke dunia lain :D.

Selamat membaca 😀

Lelaki Penggenggam Hujan, Sebuah Review

image
Lelaki Penggenggam Hujan

Ada begitu banyak Sirah Nabi Muhammad SAW yang bisa kita baca, pun halnya tidak kurang-kurang dongeng tentang beliau yang kita dengar dari guru agama di sekolah, khatib sholat jumat maupun Ustadz-ustadz di pengajian. Namun membaca buku yang merupakan bagian pertama dari sebuah trilogi ini tetap tidak mengurangi kenikmatannya. Buku karangan Tasaro GK (nama pena tentunya, siapa nama aslinya bisa ditanya sendiri ke paman Google) ini tetap menawarkan sebuah cara lain dalam penyajiannya yang memasukkan unsur sastra dan melibatkan tokoh fiktif di dalamnya.

Membaca buku setebal lebih dari 250 halaman ini tidak membuat bosan. Penulis menyajikannya dalam dua setting secara bergantian. Yang pertama adalah kisah perjalanan Rasulullah SAW, dan yang kedua adalah cerita pencarian Kashva, seorang pendeta di kuil Sistan, seorang penganut Zoroaster yang harus menjadi buronan Khosrou Parvis (raja Persia) karena mengungkapkan ramalan Zarathustra tentang kemunculan sang Nabi dari tanah Arab.

Cerita tentang perjalanan sang Nabi akhir zaman tetap disajikan dengan alur yang sesuai dengan apa yang umumnya dipahami oleh umat muslim. Penulis tentunya tidak mengambil resiko untuk mengutak-atik bagian ini hanya demi mencari kontroversi murahan. Namun yang menjadi nilai lebih adalah tata bahasa dalam penyajiannya. Dia selalu menggunakan kata-kata pujian yang berbeda sesuai konteks cerita setiap kali menyebut sang kekasih Allah SWT tersebut. Cerita juga digambarkan dengan bahasa yang lebih menyentuh dan bernilai, misalnya bisa dilihat dalam potongan adegan perang Uhud di bawah ini.

image

Pilihan katanya dapat membuat hati yang masih belum mati untuk bergetar. Pembaca dapat lebih menghayati dan seolah-olah ikut menyaksikan adegan demi adegan di dalamnya.

Kisah pencarian Kashva juga tidak kalah menarik. Meskipun dinyatakan sebagai tokoh fiktif, namun pergulatan batin, diskusi-diskusi dan dialog yang dia lakukan dalam menyikapi kemunculan sang Uswatun Hasanah cukup menarik untuk diikuti. Dalam pencariannya, Kashva akan dihadapkan pada begitu banyak kenyataan keras yang selama ini tidan akrab dengannya karena dia tinggal di menara gading. Seiring dengan perkembangan alur, karakternya juga semakin berkembang.

Sebagai Penganut Zoroaster, dia tidak cukup picik dan tetap terbuka mendiskusikan tentang kebenaran kabar munculnya Nabi dari tanah Arab ini dengan teman-temannya yang beragama Kristen, Budha, Hindu, maupun sesama penganut Zoroaster baik melalui surat maupun dialog langsung. Dia terus melakukan pencariannya tentang kebenaran Rasulullah yang disebutnya sebagai “Lelaki Penggenggam Hujan”, sebuah julukan yang tidak umum, asal muasal julukan tersebut dapat dibaca dalam buku ini.

Dan apalah arti sebuah novel tanpa bumbu percintaan di dalamnya? Yang satu ini pun begitu. Meskipun tidak menye-menye, namun pemikiran-pemikiran dan kisah tentang Cinta Kashva dan Astu di dalam buku ini sangat menarik untuk disimak. Dialog-dialog antara keduanya, kilas-kilas balik, dan pengungkapan kebenaran di balik tabir prahara cinta mereka cukup menyentuh. Meskipun demikian, sampai akhir buku ini masih tetap pembaca belum akan dimanjakan dengan kesimpulan. Saya tidak tahu apakah memang dicukupkan sampai di sini atau memang akan dilanjutkan di seri berikutnya karena saya sendiri belum membaca lanjutannya 😀

Akhir kata, menurut saya buku ini sangat menarik, saya sama sekali tidak menyesal membacanya. Bahasanya meskipun nyastra tetapi sangat ringan dan mudah dipahami. Meskipun sarat unsur filsafat, tidak sampai membuat kepala penat. Dan soal apakah bumbu fiksi ini akan berpengaruh terhadap riwayat Rasulullah SAW, jangan khawatir, penulis cukup kalau tidak boleh dikatakan sangat mahir mengatur alur cerita sehingga (setidaknya sampai episode pertama ini) tidak ada persinggungan di antara bagian yang fiktif dengan yang tidak.

Selamat membaca 😀
N.B kalau ada yang punya episode kedua dan ketiganya, pinjami saya ya 😀