Perencanaan Indikator SMART

SMART

Dulu, waktu kuliah, pernah ada senior cantik yang mengajarkan materi tentang penetapan tolok ukur keberhasilan, kalau mengikuti tren kekinian istilahnya indikator. Satu-satunya yang nyantol di kepala selain senyum manis sang senior adalah jargon SMART. Ternyata sampai masuk hutan belantara dunia kerja, SMART ini tetap digunakan. Hampir semua sektor pekerjaan yang sadar pentingnya memiliki sebuah tujuan hidup akan berkutat dengan SMART ini, baik secara formal maupun kultural.

Secara awam, SMART (dibaca seperti ngomong pandai dalam bahasa inggris) adalah akronim dari Specific, Measurable, Attainable/Achievable, Relevant, Time Bound. Konon sekarang ada tambahan Continuously improve sehingga menjadi SMART-C. Tapi biarlah, kita abaikan sementara C di belakang, pembahasan mengenai SMART saja sudah cukup menarik.

SMART

S adalah specific, alias spesifik alias jelas. Misal bagi seorang direktur tim sepakbola, penting untuk menetapkan sebuah indikator yang jelas. “Mencetak tim yang menguasai dunia akhirat” tentu bukan sebuah indikator yang spesifik. Yang spesifik misalnya adalah “mencetak tim sepakbola yang bisa terbang“.

Lanjut ke M, measurable, alias dapat diukur. “Tim sepakbola yang bisa terbang” tentunya akan sulit diukur mengingat “bisa terbang” belum terlalu menjelaskan cara mengukurnya. Agar indikator ini tergolong bisa diukur, ada dua cara yang bisa diambil. Yang pertama adalah mencari indikator lain seperti “mencetak tim yang bisa juara liga tarkam”. Yang kedua adalah menetapkan ukuran ukuran untuk “bisa terbang” seperti “bisa terbang adalah bisa bertahan melayang di udara tanpa alat bantu minimal 1 menit”.

Mulai menarik ketika membahas A, attainablealias bisa dicapai. Apakah “mencetak tim sepakbola yang bisa terbang” ini adalah sesuatu yang masuk akal untuk dicapai? Apakah manusia bisa terbang tanpa alat bantu? Bagaimana caranya? Kalau sekedar jawaban umum untuk pertanyaan itu tidak bisa dijawab, maka sebaiknya lupakan indikator itu :D. Karena tidak bisa dicapai, maka indikator “mencetak tim yang bisa terbang” diganti dengan “Mencetak tim yang bisa menyelam dalam air“, indikator yang sama sama specific, measurable, namun juga attainable.

Berikutnya R adalah relevant alias relevan. Okelah indikator “mencetak tim sepakbola yang bisa menyelam” itu spesifik, bisa diukur, dan bisa dicapai, namun apakah indikator itu relevan? Apakah penting bagi sebuah tim sepakbola untuk bisa menyelam? Apakah sebanding hasilnya bagi tim dibanding usaha dan biaya yang dikeluarkan? Jika tidak, maka saatnya indikator “mencetak tim yang bisa juara liga tarkam” tampil ke depan.

Terakhir T yaitu time bound alias bisa dijabarkan dalam fungsi waktu atau terikat waktu. Pertanyaan seperti “kapan kita bisa juara liga tarkam?” “apa saja yang harus kita lakukan? Bisakah dibuat time schedule-nya?” harus bisa dijawab. Kalau ternyata tim anda adalah tim yang bahkan pemainnya belum genap 11 orang, mungkin sudah saatnya melihat indikator lain yang lebih mudah.

Sederhana kan? Menyusun indikator SMART itu mudah. Teorinya sih begitu, tapi di lapangan ternyata hal ini sulit sekali dilakukan. Kesalahan yang paling umum adalah keliru menerjemahkan bagianAttainable dan kurang memperhatikan time bound. Dua hal ini terkadang tidak diperhatikan sebanyak tiga temannya yang lain :D. Selain itu, salah membaca data juga bisa berakibat fatal.

Perlu menggunakan akal sehat dan logika yang baik untuk bisa menentukan apakah sebuah indikator benar-benar secara logis bisa dicapai ataukah hanya khayalan berbumbu teori. Di sinilah letak pentingnya pengetahuan dan pengalaman di lapangan. Jika tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman, tidak masalah selama ada itikad baik untuk mau berusaha mengetahui dan belajar.

Time bound memang gampang-gampang susah, gampang menyusunnya, susah menepatinya :p. Selain target waktu pencapaian indikator, perlu juga diperhatikan timing dari penentuan indikator itu sendiri. Seperti contoh tim sepakbola di atas, kalau indikator “juara liga tarkam” setelah melalui pembahasan alot dengan anggota tim baru bisa ditetapkan setelah liga tarkam berakhir atau H-7 dari dimulainya kompetisi, ya sudah terlambat 😀

Data memegang peranan yang sangat penting. Di zaman secanggih ini, berbagai teori dan alat untuk memperoleh data sudah bertebaran, memperoleh data bukan lagi hal yang sulit. Yang membedakan orang berakal sehat dan tidak adalah dari caranya membaca data dan kemudian menyimpulkannya. Orang yang berpikiran pendek, ketika disajikan data sensus (bukan sampling) bahwa karyawan yang berangkat naik angkot bisa menghasilkan lebih banyak produk dari yang naik motor, akan langsung menyimpulkan bahwa naik angkot bisa memacu produktivitas :D.

Karena itu, alih-alih mengoleksi data sebanyak mungkin yang membutuhkan effort luar biasa, penting sekali bagi manusia menggunakan akal sehatnya untuk memilih mana data yang benar-benar penting serta relevan dan mana data yang meskipun berguna, tapi tidak sebanding dengan usaha mengumpulkannya.

SMART