ISIS itu Lemah – Waleed Aly

ISIS Itu Lemah - Waleed Aly

Waleed Aly mengkritisi politisi dan ulama Australia yang mendengungkan ‘kebencian’ setelah kejadian Paris, dimana kebencian tersebut sebenarnya malah membantu Islamic State.

Pembawa acara The Project ini menggunakan segmen ‘Something we should talk about‘ untuk tidak hanya membangun solidaritas antar sesama, setelah tragedi Paris yang menelan korban 132 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya cedera, tetapi juga untuk menerangkan kondisi sebenarnya dari organisasi militan tersebut – bahwa ISIS itu lemah.

“Ada alasan kenapa ISIL ingin terlihat kuat, kenapa mereka tidak mau memaparkan bahwa daerah yang dikuasai direbut dari musuh yang lemah, bahwa mereka terpojokkan oleh serangan udara atau minggu lalu mereka telah kehilangan daerah yang lumayan besar” kata beliau di The Project.

“ISIL tidak mau anda tahu bahwa mereka akan mudah dihancurkan jika mereka berperang melawan pasukan yang sebenarnya di medan perang.”

“Mereka ingin anda semua takut kepada mereka. Mereka ingin anda marah. Mereka ingin kita semua menjadi bermusuhan dan inilah alasannya:”

Strategi ISIL adalah untuk memecah dunia ini menjadi dua. Hitam dan putih. Kita tahu akan hal ini karena mereka yang bilang ke kita.”

Aly mengutarakan bahwa ISIL ingin membuat Perang Dunia III, dan ingin membuat masyarakat di seluruh dunia ini berperang satu sama lain, dan negara-negara seperti Australia untuk menjelek-jelekkan kaum muslimin.

Aly menjelaskan lebih lanjut bahwa ‘organisasi jahat’ ini yakin bahwa jika mereka dapat membuat kaum muslimin sebagai musuh dari negara ‘Barat’, maka kaum muslimin di Perancis, Inggris, Amerika dan Australia tidak akan mempunyai pilihan lain selain bergabung dengan ISIL.

“Itulah strategi mereka di Iraq,” kata beliau. ” dan mereka sekarang ingin menerapkannya dalam skala global.”

“Terang-terangan mengutarakan tentang hal ini adalah sesuatu kebodohan yang menakjubkan dan kekejaman yang mengerikan.” “Kita semua merasakan kemarahan yang luar biasa saat ini. Saya juga marah terhadap teroris-teroris itu. Saya muak dengan kekerasan dan hati saya hancur untuk keluarga yang ditinggalkan, tetapi, tahu ngga, saya tidak akan dapat dimanipulasi.”

“Kita semua harus bersatu. Saya tahu itu kedengarannya sangat klise, tetapi mengandung kebenaran karena persatuan inilah yang sangat tidak diinginkan oleh ISIL.”

“Jadi, jika anda adalah anggota parlemen, atau mantan anggota parlemen yang mendengungkan kebencian ketika yang kita butuhkan saat ini adalah kasih sayang terhadap sesama – anda sebenarnya membantu ISIL. Jika anda adalah pemuka agama Islam yang memberitahu komunitas anda bahwa mereka tidak layak untuk tinggal disini dan sebaliknya – anda juga membantu ISIL.”

“ISIL bilang gitu ke kita. Jika anda adalah seorang pejuang di facebook atau Twitter yang melemparkan pesan-pesan bernada kebencian, anda juga telah membantu ISIL.”

“Saya yakin saat ini tidak ada satupun dari anda yang mau membantu ISIL” kata Waleed Aly sebagai penutup segmen ini.

Waleed Aly adalah seorang pengacara, dosen di Monash University, penulis, jurnalis, presenter televisi, dan ketua bidang umum di Majelis Islam Victoria. Istri Waleed Aly adalah seorang sociolog dan akademisi muslim yang menjadi mualaf di usia 19 tahun. “ISIS bukan teman muslim, dari sudut pandang manapun, dan jangan sampai kita terjerumus untuk berpikir bahwa hal ini adalah perang antara kaum muslimin dengan kaum yang lain” kata beliau.

ISIS itu Lemah

Artikel ini dimuat di situs berita News.com.au berdasarkan acara televisi TheProject. Video lengkapnya bisa dilihat di sini:

Hiduplah Otonomi Raya

Suatu siang di Cowards School of Wizardry (CSW), Geimonton, si Kepala sekolah merangkap Pemilik merangkap pemimpin besar revolusi pemegang saham tunggal sekolah memanggil Vaijo, wali kelas asrama Dongolon.

“Hei Vaijo, kamu tahu kenapa saya panggil ke sini?”
“tidak tahu Pak”
“nih”, sambil melempar koper ke atas meja.
Vaijo membukanya, ternyata berisi uang yang cukup banyak. “Apa ini Pak?”, tanyanya.
“Kamu bagikan uang itu ke para siswa asrama Dongolon yang rumahnya di sekitar rawa-rawa”, tukas Geimonton sambil melempar daftar nama siswa yang rumahnya di dekat rawa-rawa.
“terus saya harus bilang uang apa ini ke mereka?”, tanya Vaijo semakin bingung. “bilang saja itu uang bantuan tunai hasil saya mencabut subsidi SPP kemarin”, kata Geimonton, “eh tapi sebetulnya saya masih ada sisa banyak loh”, lanjutnya berbisik sambil tersenyum penuh arti.
“Siap pak, akan saya laksanakan”, tukas Vaijo sambil ngeloyor pergi.
Continue reading “Hiduplah Otonomi Raya”