Vaksin Palsu Dalam Berita

Vaksin Palsu dalam Berita

Definisi Vaksin

Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari sebagian atau keseluruhan dari suatu mikroorganisme penyebab penyakit yang telah dilemahkan, sehingga tidak menimbulkan penyakit tetapi cukup dapat menimbulkan respon imun dari individu yang menerima vaksin tersebut. Respon imun ini berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit yang berasal dari mikroorgnime yang dijadikan sebagai bahan vaksin, tanpa harus menderita penyakit tersebut terlebih dahulu. Demikian pentingnya peran vaksin dan vaksinasi dalam membantu menjaga kesehatan tubuh kita, sehingga pemerintah bahkan mencanangkan program vaksinasi ini secara khusus, terutama untuk penyakit peyakit yang banyak diderita di indonesia ini, yang dilaksanakan melalui instansi-instansi kesehatan milik pemerintah, seperti misalnya Puskesmas. Keberhasilan vaksinasi atau sering juga disebut imunisasi ini dalam menurunkan angka kesakitan penyakit-penyakit tadi sangat signifikan, sehingga semakin hari, para orang tua pun semakin antusias untuk mengikuti program ini, bahkan ditengah gempuran para aktivis yang menolak menggunakan vaksin denagn berbagai alasan (Antivaks).

Vaksin Palsu

Sayangnya, baru-baru ini prestasi vaksin harus terkontaminasi oleh isu adanya vaksin palsu yang beredar di masyarakat. Tentu ini menimbulkan syok di kalangan orang tua yang anak-anaknya mendapatkan vaksinasi. Isu ini tak pelak menyeret beberapa oknum pelaku pemalsuan vaksin, Rumah Sakit-Rumah Sakit yang menggunakan vaksin ini, dan juga beberapa praktisi kesehatan.

Isu mengenai vaksin palsu ini bermula ketika beredar berita ada seorang bocah yang meninggal pasca mendapatkan imunisasi (meskipun setelah diselidiki lebih lanjut, bocah tersebut meninggal bukan karena imunisasi tetapi karena penyakit lain yang dideritanya). Isu menarik ini kemudian menjadi pemberitaan luas dan beredar dengan cepat serta menarik perhatian pihak yang berwajib. Dari pengembangan kasus tersebut kemudian diketahui ada beberapa orang yang dijadikan sebagai tersangka pelaku pembuat vaksin palsu ini. Setelah itu ditelusur kemana saja vaksin-vaksin palsu ini beredar dan siapa saja penggunanya. Sehingga didapatkan ada sekitar 14 rumah sakit yang masuk dalam jalur distribusi penjualan vaksin buatan si pelaku ini. Kemudian ditetapkanlah beberapa orang lagi sebagai tersangka untuk kasus ini, yang mana beberapa diantaranya adalah dokter, bidan, dan apoteker. Ini yang sekarang sedang panas-panasnya dibicarakan. Banyak pihak mulai menganalisa kasus ini dan mulai menyampaikan bayak teori tentang kasus ini, tak luput membawa juga mengenai siapa yang harus bertanggung jawab terhadap hal ini. Di dalam tulisan ini saya tidak berniat membela siapapun, hanya berusaha menelaah fakta-fakta yang ada.

Isi Vaksin Palsu

Apa sih sebenarnya isi vaksin palsu ini? Kalau diteusur dari berita yang beredar ada beberapa versi vaksin palsu, yaitu vaksin asli yang diencerkan dengan penambahan cairan infus (NaCl 0,9%), ada yang haya berupa cairan infus saja, ada juga yang berupa kombinasi antara cairan infus dengan antibiotik pada kadar rendah. Dilihat dari segi isi vaksin palsu ini, mestinya tidak berbahaya atau tidak berakibat fatal jika disuntikkan kepada bayi atau anak penerima vaksin, kecuali pada varian terakhir yang berisi antibiotik yang memungkinkan ada efek yang agak berbahaya pada bayi atau anak yang alergi terhadap kandungan antibiotik tersebut. Sedangkan jika dilihat dari sisi tujuan pemberian vaksin, tentu saja vaksin ini gagal memenuhi tujuan tersebut. Vaksin palsu ini tidak dapat menimbulkan respon imun dan imunitas atau daya tahan tubuh terhadap penyakit yang seharusnya dapat dilakukan oleh vaksin yang asli. Dari segi inilah vaksin palsu ini bisa dikatakan relatif berbahaya.

 Asli vs Palsu

Membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu hampir mustahil dilakukan hanya dengan pemeriksaan fisik semata, bahkan jika pemeriksanya adalah seorang ahli vaksin. Ini bukan segampang membedakan uang asli dengan uang palsu, cukup dengan 3D alias dilihat, diraba, diterawang. Satu-satuya cara untuk melihat keaslian dari vaksin adalah dengan memeriksa langsung isi botol vaksin tersebut di laboratorium. Ada seorang ahli vaksin yang mengatakan bisa dengan mengecek kode unik dan tanggal kadaluarsa di label atau botol vaksin dengan di kemasan atau box nya, macam memeriksa keaslian parfum mahal. Well, bisa sih… tapi pemalsu yang lebih pintar bisa membuat keduanya sama persis. Jadi, dari sini jelas amat sangat kecil kemungkinan pengguna vaksin dapat membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu dari tampilan luarnya semata.

Lha terus kok bisa vaksin palsu ini beredar?

Ini mesti salah BPOM! Dokter! Rumah Sakit! Kemenkes!… Errrr… tunggu dulu kalau soal itu. Siapa yang salah kita bicarakan nanti. Sekarang yang penting kita bahas dulu adalah bagaimana cara membedakan vaksin asli dengan palsu…

Jadi RS nya salah ini?

soalnya beli vaksin palsu.

Saya kurang paham dengan manajemen pembelian obat dan vaksin di RS, sehingga kurang bisa berkomentar banyak. Tetapi yang jelas, jika RS membeli obat dan vaksin dari distributor resmi atau PBF (Pedagang Besar Farmasi) resmi kemudian ternyata yang diterimanya adalah palsu, maka RS tentu tidak bisa disalahkan. RS justru bisa menyeret distributor dan PBF ini ke jalur hukum karena terbukti menipu dengan memberikan vaksin palsu. Jadi RS nya ngga perlu khawatir, tinggal tunjukkan saja faktur pembelian vaksin tersebut, maka akan jelas masalahnya. Well, kecuali kalau RS nya membeli vaksin di “pasar gelap” ya ngga tahu lagi.

Berarti dokternya yang salah?

Belum tentu. Dokter yang bekerja di RS harusnya menggunakan obat atau vaksin yang disediakan oleh rumah sakit. Dalam hal ternyata vaksin yang akan digunakan tidak tersedia di apotek RS, bisa jadi dokter memberikan resep agar vaksin yang dimaksud dapat dibeli di apotek atau distributor resminya. Kalau itu yang terjadi, maka dokternya tidak bisa disalahkan. Dia sudah melakukan sesuai dengan prosedur. Dokter hanyalah pengguna vaksin juga, sama dengan para orang tua yang anaknya disuntik vaksin. Kecuali, jika oknum dokternya menggunakan vaksin di luar jalur resmi yang beresiko terpapar dengan keberadaan vaksin palsu ini atau memang oknum dokternya sendiri tahu bahwa vaksin tersebut tidak asli tetapi tetap nekat menggunakan vaksin palsu tersebut dengan berbagai alasan. Ini tidak hanya berlaku untuk dokter, tetapi juga konsumen vaksin lainnya seperti bidan.

Berarti salah BPOM ini?

… kan tugasnya dia mengawasi peredaran obat dan makanan, termasuk vaksin.. kok bisa kecolongan ada vaksin palsu yang beredar??????

Belum tentu. Jika vaksin palsu itu beredar di luar jalur resmi otomatis BPOM sendiri akan sangat sulit mendeteksi keberadaan si palsu ini, kecuali secara tidak sengaja ketemu pas waktu sidak, atau ada laporan atau keluhan dari masyarakat sehingga BPOM melakukan pemeriksaan. Gampangnya begini, jika pembuat vaksin ini mengedarkan vaksin palsu varian pertama yang sebenarnya asli hanya diencerin saja, maka vaksin yang lewat BPOM itu adalah vaksin asli.. no registrasinya juga nomor asli. Setelah itu baru diencerkan dan baru diedarkan, wajar kalau BPOM tidak mengetahui hal ini. Atau jika yang terjadi vaksin palsu jenis kedua dan ketiga dimana para pembuat vaksin palsu memproduksi sendiri vaksin palsunya di botol bekas yang mereka kumpulkan lalu dilabeli sendiri dan diberi nomor sendiri yang dibuat identik dengan nomor asli, tanpa melalui pemeriksaan BPOM kemudian disalurkan langsung ke pengguna, ya wajar juga kalau BPOM tidak tahu. Apakah ini berarti BPOM lalai? Saya kira tidak. BPOM saya rasa kerjanya tidak buruk. Lalu kok masih bisa kecolongan? Ya bisa saja. Ya harusnya sidak lah… Ya sidak sih, tapi realistis ngga kalau sidaknya setiap hari? Oleh karena itu peran masyarakat dalam melaporkan kejanggalan macam ini sangat penting. BPOM menjadi lalai jika si palsu palsu ini ternyata memperoleh nomor registrasinya dari BPOM langsung..artinya BPOM dari awal sudah tahu bahwa itu palsu tapi masih diberi nomor registrasi. Oleh karena itu sebenarnya tidak aneh, meski kasus vaksin palsu ini sudah berjalan sekitar 13 tahun dan baru ketahuan belakangan. Kenapa? Karena selama ini pas disidak ya kebetulan ngga ketemu atau tidak ada laporan kecurigaan dari masyarakat atau para pengguna vaksin.

Lha terus kok BPOM minta maaf di koran?

Dalam pandangan saya permintaan maaf ini hanya hal normatif untuk menahan bara saja. Seperti yang telah dijelaskan oleh BPOM sendiri, bahwa kasus ini sudah diketahui sejak lama bukan hanya vaksin palsu, tapi juga vaksin kadaluarsa dan pelakunya juga sudah ditindak, mulai dari peringatan sampai pembekuan ijin. Hanya masih ada yang beredar apalagi di fasilitas fasilitas tidak resmi, ya itu sudah beyond duty nya BPOM. Seperti yang saya sampaikan tadi, sidak tiap hari????

Berarti ini salah kemenkes?

Well, analogi BPOM tadi bisa dipakai disini.

Bagi saya yang jelas salah adalah yang membuat, menjual, dan mengedarkan barang palsu tadi. Sedangkan para pengguna yang memang tidak mengetahui dan tidak memiliki kapasitas dan kompetensi untuk membedakan vaksin palsu dengan yang asli, tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Bahakan kalaupun hanya untuk memuaskan ego semata.

Vaksin Palsu dalam Berita

Pray for…

Beberapa tahun terakhir, hashtag #PrayFor menjadi semacam ‘trend’ di social media ketika terjadi sebuah peristiwa besar yang mengerikan. Saya tidak ingat secara pasti kapan hashtag ini mulai digunakan, seingat saya #PrayForJapan adalah salah satu yang muncul duluan. Pada saat itu, kita semua berdo’a atas bencana Tsunami yang melanda kota di Jepang yang juga berimbas pada bahaya reaktor nuklir disana. Seluruh dunia berdo’a untuk mereka…

Dunia Internet mulai mengikuti trend ini dan berlomba-lomba untuk memunculkan berbagai macam ide untuk hashtag ‘Pray For’, termasuk Paris, MH370, Syria, Turkey. Ada juga hashtag yang lumayan aneh, seperti Pray for Kanye bahkan ada yang Pray for penjahat yang sudah di vonis!

Apa yang sebenarnya anda ‘pray for’?

Pray for...

Karena setiap orang mempunyai kepentingan pribadi dimana mereka lebih perhatian dengan pray yang satu dibandingkan dengan pray yang lain, kita mulai mempertanyakan kenapa kok bisa beda? Bukankah kita harus adil terhadap sama?… apalagi jika yang mereka tidak pray lebih besar skalanya dibandingkan dengan yang mereka perhatikan (contohnya Pray for Ankara dibandingkan dengan Paris). Mereka kemudian mulai beradu argumen bahkan sampai ribut di media sosial mengenai ini.

Akhir-akhir ini, pertanyaan macam “Kenapa kok kamu peduli sama yang itu tapi ngga yang ini?” biasa dilontarkan dan kemudian jika jawabannya tidak memuaskan, mereka dengan entengnya mengecap orang lain sebagai hypocrite (atau bahasa kerennya munak).

Kalau menurut saya, hal ini terkait dengan dimana mereka pernah berada… Jauh lebih banyak orang yang pernah berpergian ke New York, London dan Pari jika dibandingkan dengan Ankara…

Sebagai contoh: Sewaktu World Trade Centre di’tabrak’ dua pesawat, saya merasakan derita yang lebih mendalam dibandingkan ketika melihat ledakan di London atau Charlie di Paris. Kenapa? Karena saya pernah berada di lantai 100 gedung tersebut tahun sebelumnya. Saya bisa merasakan bagaimana mengerikannya jika anda terjebak disana tanpa ada jalan keluarnya!

Contoh kedua: Tahun 2015 di Negara Amerika Serikat terdapat lebih banyak kejadian penembakan ‘mass shooting’ dibandingkan jumlah hari dalam setahun… Kasarannya hampir tiap hari ada penembakan seperti itu. Jika Presiden Obama hanya menghadiri beberapa acara mengheningkan cipta saja, apakah itu berarti dia tidak peduli dengan yang lainnya?

Contoh lain disekitar kita yang lebih relevan: Rakyat Indonesia akhir-akhir ini senang sekali ngobrolin tentang pilkada di Jakarta yang baru akan berlangsung tahun depan. Bahkan orang-orang yang tidak mempunyai hak pilih di Jakarta pun ikut komentar masalah kandidat pilihan mereka. Mari kita bandingkan dengan sebuah kota kecil di Jawa Timir yang bernama Madiun. Buat saya pribadi, kalau ada kejadian yang lumayan besar di Madiun, mungkin saya akan ikuti dengan lebih seksama. Kenapa? Karena kota Madiun merupakan salah satu kota yang paling penting buat saya (dibandingkan dengan Ankara atau Paris sekalipun!). Mungkin hanya ada 0.001% penduduk dunia ini yang tahu tentang kota ini. Apakah orang yang komentar tentang pilkada Jakarta akan berkomentar mengenai pilkada Madiun? … kan sama-sama pilkada? dan sama-sama ga punya hak pilih di daerah itu?

‘Media besar’ – Pray for mereka?

‘Media besar’ seringkali menjadi kambing hitam di kasus ini. Banyak orang mencibir ‘media besar’ tersebut karena mereka hanya mendedikasikan jam tayang ‘eksklusif’ hanya untuk segelintir momen-momen penting. Mungkin banyak yang ngga tahu bahwa ‘media besar’ itu juga dijalankan oleh manusia yang punya ikatan batinnya masing-masing. Jadi, jika mereka berbasis di Amerika Serikat, apakah mereka menjadi munafik jika lebih mementingkan untuk menayangkan proses pemilihan presiden Amerika Serikat dibanding kejadian di seberang lautan?

Mungkin ada diantara mereka yang peduli dengan kejadian yang jauh dari tempat mereka bekerja karena mereka pernah tinggal di tempat itu atau mereka punya keluarga yang tinggal disana… tetapi, berita yang mereka tulis pada akhirnya disetir juga oleh keinginan masyarakat umum… termasuk anda… untuk mendapatkan berita yang relevan di daerah tempat mereka beroperasi. Jadi, jika semakin banyak orang yang ingin membaca berita tersebut, mereka tentu akan mendapatkannya!

Realitas yang lumayan menyedihkan tentang apa yang kita doakan

Dari contoh-contoh diatas, apakah itu berarti saya tidak peka terhadap kejadian di belahan dunia lain? Sayangnya, mungkin iya (kecuali anda politisi yang suka peduli terhadap semuanya!)… Kenapa? Karena saya tidak mempunyai ikatan batin yang kuat terhadap mereka… dan kalau dilihat, dunia ini adalah tempat yang SANGAT BESAR jika anda ingin merasakan kesedihan, anda bisa memilih untuk bersedih hati hampir setiap detik dengan membaca berita-berita tersebut.

Pada akhirnya, saya tetap mendoakan keselamatan orang-orang yang tertimpa musibah-musibah yang terjadi di dunia ini dan mengutuk orang yang melakukan perbuatan yang mengerikan itu! Saya juga berdoa supaya semua pihak juga berintrospeksi supaya kejadian yang lebih parah dapat dicegah di kemudian hari.

Para Pengeja Hujan, Sebuah Review

Pengeja_Hujan.jpg
Immortal, nama pasukan legendaris Persia itu pertama kali saya dengar waktu menonton film 300. Sepuluh ribu tentara elit andalan Raja, jumlahnya tidak pernah berkurang, setiap ada yang gugur, penggantinya segera siap. Pasukan yang konon dibentuk di zaman Raja Cyrus dan dikomandani oleh Pantea Arteshbold itu dikenal juga dengan sebutan Athanatoi. Pasukan itulah yang coba dibangkitkan kembali oleh ketiga putri Khosrau Parvis (Puran, Turan, dan Azarmi) dalam buku ini yang merupakan lanjutan dari buku sebelumnya. Yang menjadikan elitnya pasukan ini bukan hanya kemampuan bertempurnya, melainkan iman mereka kepada ajaran Zoroaster yang tinggi. “Tidak ada angkatan bersenjata tanpa moral agama” tegas putri Turan, penengah dari tiga bersaudara itu.

Siapakah sosok pengganti Pantea? Adalah Atusa, seorang arsitek jenius yang misterius. Wajahnya selalu ditutupi cadar namun dibalik keanggunannya berbagai taktik dan keahlian perang dia tempakan kepada para athanatoi. Namun tak seorangpun berkuasa melawan takdir, tidak juga sepuluh ribu pasukan. Tahta persia yang dibangun di atas darah seperti mengulang kembali dan kembali siklus perebutan takhta dengan pertumpahan darah antara bapak, anak, ponakan, ipar, dan seterusnya. Bagaimana akhirnya Atusa bersikap? Siapakah sebenarnya dia? Pembaca yang jeli mungkin sudah akan menduga sebelumnya tapi tetap tidak mengurangi kemenarikan membaca buku ini.

Bagaimana kabar Kashva? Dia tampaknya mulai bisa mengobati kesedihan hatinya karena kehilangan Masya dan Xerses di sungai. Hari-harinya dihabiskan dengan berjalan dan berdiskusi dengan sahabatnya biksu Tashidelek, diikuti oleh Vakshur. Biksu itu memberinya banyak pencerahan tentang sosok penggenggam hujan yang begitu menarik bagi Kashva. Namun dia juga memberi Kashva peringatan bahwa Vakshur menyembunyikan sesuatu darinya.

Setelah dari Tibet, Kashva memutuskan untuk pulang ke Persia. Namun nasib buruk yang bertubi-tubi sudah menantinya di sana. Siksaan demi siksaan, ancaman mematikan dari raksasa kanibal di penjara, maupun gigitan anjing membuatnya memohon kematian pada Ahura Mazda. Tidak disangka juga, keberadaannya di penjara juga memberikan sejumlah harapan. Reuni dengan Masya dan kabar tentang Astu membuatnya masih bisa bertahan sampai akhirnya dia bebas. Namun tampaknya kebebasan tubuhnya masih belum diikuti dengan kebebasan jiwanya, keadaannya membuat sedih Masya dan Vakshur. Bagaimanakah penderitaan Kashva? Apa rahasia yang disembunyikan Vakshur? Siapa sebenarnya biksu Tashidelek? Semuanya tergambar dengan alur yang rapi di buku ini.

Adapun mengenai kisah Rasulullah SAW, buku ini dipenuhi dengan adegan-adegab yang menggetarkan bahkan menguras air mata. Diawali dari kisah penyerbuan Abrahah dengan pasukan gajahnya sebagai balasan atas ulah orang suki Kinanah yang mengotori gerejanya dengan tinja. Berlanjut ke kisah kehidupan masa kecil sang Nabi yang penuh duka cita, sampai meninggalnya sang Kakek dan pengasuhannya berpindah pada pamannya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib.

Melanjutkan dari buku sebelumnya, jilid ke-dua ini menceritakan tentang perjalanan Rasulullah setelah menaklukkan Mekkah. Penaklukan Thaif diceritakan dengan dramatis. Bagaimana akhirnya kaum Anshar yang memprotes pembagian harta rampasan justru akhirnya berlinang air mata ketika mendengar jawaban “Apakah kalian tidak bahagia wahai kaum Anshar? Orang lain membawa domba dan unta, sementara kalian membawa Rasulullah ke rumah kalian?”. Wilayah Islam sungguh telah berkembang pesat dibawah panji panji Rasulullah. Namun kemenangan demi kemenangan justru menimbulkan rasa khawatir di benak sebagian sahabat.

Kekhawatiran itu semakin jelas pasca haji Wada’, kekhawatiran bahwa waktu Nabi Muhammad SAW bersama mereka sudah hampir habis. Dan akhirnya saat paling menyedihkan itu tiba, membacanya saja selalu menyulut haru, entah bagaimana perasaan penulis ketika menuliskan bagian ini. Sungguh meskipun telah diketahui dan dibaca berulang-ulang, cerita saat kematian Rasulullah tetap menggetarkan. Dan seperti yang sudah kita ketahui, penggantinya sebagai khalifah adalah Abdullah bin Abu Quhafa alias Abu Bakar as Shiddiq RA.

Yang membuat buku ini agak berbeda, penulis cukup “berani” menuliskan kisah tentang peristiwa Ghadir Khumm. Bukan itu saja, bahkan serangkaian peristiwa yang mengikuti kematian Rasulullah yang diyakini oleh sebagian orang dan agak tabu dibicarakan juga digambarkan di buku ini. Perbedaan pendapat antara Ali bin Abu Thalib RA dengan Abu Bakar as Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA. Saya hanya berani menyebutnya perbedaan pendapat, menyebutnya sebagai perselisihan entah kenapa rasanya agak kurang pantas :D. Kemudian disinggung juga mengenai perbedaan pendapat antara sang khalifah dengan Fatimah Az Zahra, perselisihan yang ditangisinya sampai akhir hayatnya.

Tergambar dengan jelas di sini hari-hari berat pemerintahan Abu Bakar RA. Menggantikan seorang Nabi, sungguh pekerjaan yang mustahil. Kepemimpinannya banyak dihabiskan dengan memerangi mereka yang murtad maupun nabi-nabi palsu yang bermunculan seperti Musaylimah. Dikisahkan bagaimana dia menepati julukannya sebagai as Shiddiq, bagaimana untuk urusan Aqidah, dia bahkan bisa lebih keras dari Umar RA, bahkan sampai memarahinya karena dianggap terlalu lembut.

Salah satu sikap kerasnya ditunjukkan saat dia bersikeras tetap mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima ekspedisi ke utara melawan tentara Heraklius meskipun banyak yang menentangnya karena dianggap terlalu muda, termasuk Umar. Dia hanya menegaskan “Aku tidak akan menurunkan orang yang sudah diangkat Rasulullah”. Namun di balik ketegasannya mengikuti teladan Rasulullah, dia juga tetap mau mendengar masukan, seperti ketika dia menyetujui anjuran untuk membukukan Al Quran pasca kehilangan ratusan Hafidz di perang Yamama. Meskipun dia mengatakan “ini tidak pernah dicontohkan. Rasulullah”, akhirnya dia pun mengikuti saran Umar, “Demi Allah ini baik”. Sayang kepemimpinannya tidak lama, buku ini ditutup dengan kerasnya pendiriannya untuk menunjuk Umar bin Khattab RA sebagai penerusnya meskipun banyak yang menentang keputusannya.

Membuat sequel adalah sebuah tantangan yang berat. Namun penulis buku ini telah melewatinya dengan baik. Episode ke dua ini tetap tersaji dengan alur cerita yang baik dan tata bahasa yang indah. Penggambaran-penggambaran mengenai ekspresi dan perasaan tokoh di dalamnya sungguh bisa memberikan banyak teladan dan hikmah bagi yang membacanya. Dan sama seperti episode pertama, tebalnya buku ini yang separuh kuintal tidak akan membuat kita bosan membacanya. Bagi yang belum tahu, kisah-kisah di dalamnya bisa menambah wawasan kita tentang agama Islam, dan riwayat yang dipaparkan juga sampai sejauh ini masih tetap sejalan dengan yang umum diajarkan di sekolah-sekolah, hanya bagian “suksesi” seperti saya singgung pada beberapa paragraf di atas yang mungkin tidak diajarkan di sekolah (setidaknya di sekolah saya :D).

Saya pribadi sangat kagum dengan teladan teladan yang diberikan oleh Abu Bakar RA (selain Rasulullah tentunya) di buku ini. Pidatonya saat pertama kali “menjabat” yang tanpa malu-malu meminta untuk terus diingatkan ketika menyimpang menggambarkan kerendahan hati papan atas. Pesannya kepada Aisyah sang Ibu kaum Mukmin sebelum meninggal untuk memeriksa kekayaannya untuk memastikan tidak ada hak orang lain yang dimakannya menggambarkan betapa amanahnya beliau. Belum lagi soal kesederhanaan hidupnya, sungguh membacanya serasa mimpi masuk ke dunia lain :D.

Selamat membaca 😀