Slip Biru, Modifikasi Kendaraan, Bekibolang, dll yang salah Kaprah

Saya pernah membaca sebuah topik menarik di suatu forum yang cukup terkenal di Indonesia. Topik tersebut membagi tips untuk menghindari tilang. Wow… melihat judulnya saja saya sudah geleng-geleng, bukannya menghindari tilang ya cukup dengan tidak melanggar aturan ya?. Tidak mau berburuk sangka, saya coba lanjutkan membaca isi thread tersebut. Ternyata banyak sekali tips yang disarankan untuk menggertak polisi saat ditilang, mulai dari menggertak menanyakan aturan, mengaku ngaku sebagai mahasiswa fakultas hukum/pengacara (jadi ingat kasus “anak kapolri” 😛 ), berdebat tanpa ujung mengenai definisi “siang hari” (untuk yang tidak menyalakan lampu motor siang hari), sampai ngotot minta slip Biru. Dalam hati saya geli juga membacanya, saya tidak mungkir bahwa dalam kenyataannya hal hal ini mungkin memang efektif untuk menggertak oknum polisi yang memang tidak berniat menilang melainkan hanya ingin mencari “uang damai”. Tapi kalau seandainya, kebetulan polisi yang dihadapi justru polisi yang lurus (seperti bapak ini misalnya) dan mengerti aturan, hehe bisa berabe akibatnya, bisa bisa jadi seperti kasus si “anak kapolri” yang menerobos jalur Trans J 😛 . Pernyataan saya bukan tanpa alasan, tapi sebelum kita lanjutkan, ada baiknya coba diunduh dulu UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan. Sudah? Nah dari aturan segitu banyak, tidak ada salahnya coba anda simak beberapa catatan saya ini, siapa tahu berguna saat anda beruntung bertemu polisi yang lurus 😀 .

1. Slip Biru
Tidak hanya di forum, di media sosial pun banyak yang menshare secara berantai untuk ngotot minta slip biru saat ditilang. Jargon yang dibawa biasanya adalah dua kemungkinan, yang pertama adalah uang masuk negara dan yang kedua adalah kemungkinan oknum polisi yang mencari uang damai urung menilang. Saya tidak mau komentar untuk yang kedua, tapi ada hal yang harus diluruskan untuk masalah pertama.

Baik slip Biru maupun slip Merah, uang denda yang anda bayar sama sama masuk ke negara. Hanya bedanya (ini dengan asumsi kalau slip biru memang masih ada dan berlaku) kalau slip merah anda harus ikut sidang, kalau slip biru anda bisa membayar melalui bank (kalau tidak salah BRI). Enak biru dong, kan gak perlu ikut sidang? Nanti dulu, coba anda lihat pasal 267 yang menyatakan bahwa denda yang harus anda bayar apabila tidak ikut sidang adalah denda maksimal. Kemudian lihat jumlah denda maksimal yang harus anda bayar di beberapa pasal setelahnya (mulai pasal 273) tentang “Ketentuan Pidana”. Kesimpulannya adalah anda menyetor dana maksimal di awal dan tetap harus meluangkan waktu untuk nantinya mengambil uang kembalian dari denda tilang anda setelah sidang.

Silahkan anda putuskan sendiri, kalau saya mending minta slip merah, karena denda yang didapat belum tentu maksimal dan saya cukup datang ke sidang yang prosesnya juga tidak lama (belum ditambah sejumlah “hiburan” di dalamnya). Tapi kalau anda tidak keberatan menyetor sejumlah cukup banyak di awal, ya tidak masalah sih minta slip biru, siapa tahu juga polisinya urung menilang anda.

2. Belok Kiri Boleh Langsung
Alias Bekibolang, selama ini kita sudah terbiasa dengan belok kiri tanpa memperhatikan lampu lalu lintas kecuali ada tulisan yang menyatakan “belok kiri mengikuti lampu”. Dengan berlakunya UU 22 Tahun 2009 ini, yang terjadi adalah sebaliknya. Kalau tidak ada petunjuk “belok kiri boleh langsung”, berarti by default belok kiri harus mengikuti lampu. Tidak percaya? Silahkan baca pasal 112 (terutama ayat 3) . Jadi kalau ada orang alay yang mengklakson tiada henti saat anda berhenti di jalur kiri yang tidak ada petunjuk bekibolang, eluslah dada anda sambil mendoakan dia dapat pencerahan, atau kalau anda bernyali, beritahu saja beliau kalau zaman sudah berubah :p .

3. Kelengkapan Kendaraan
Nah ini yang menarik, tidak jarang kita jumpai kendaraaan yang melakukan modifikasi pada sejumlah kelengkapannya seperti lampu, knalpot, klakson, dll. Andalan mereka saat ditilang adalah selalu berdebat kusir mengenai parameter, misalnya batasan keributan untuk knalpot, batasan terang untuk lampu, dan pembicaraan konyol lainnya. Seperti sudah saya tekankan di awal, mungkin taktik seperti itu bisa membuat anda lolos dari jerat tilang kalau polisi yang menghentikan anda memang oknum yang tidak bermaksud menilang melainkan mencari “uang damai”. Tapi kalau polisi yang menghentikan anda memang berniat menilang, anda berdoa saja denda anda tidak diperberat karena ngeyel tanpa tahu aturan :P. Silahkan buka Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2012, disana sudah tercantum dengan jelas spesifikasi teknis untuk hampir seluruh bagian kendaraan termasuk lampu, knalpot, dan klakson. Sudut sorot lampu, daya terang, decibel maksimal knalpot dan klakson, dan kelengkapan lainnya. Dan sebagai orang yang berpendidikan, anda pasti tahu bahwa parameter-parameter tersebut bisa diukur.

Sebetulnya masih banyak catatan atau hikmah yang bisa diambil, tapi yang umum dan sering terjadi ya tiga diatas. Semoga kita bisa lebih bijak dalam berkendara sehingga bisa lolos dari tilang tanpa perlu melakukan tipuan tipuan murahan apalagi sampai mengaku anak Kapolri :P. Dan sekali lagi saya tegaskan bahwa yang saya catat diatas mungkin memang jarang terjadi, tapi anda kan tidak pernah tahu kapan anda akan bertemu dengan polisi yang “lurus”. Saya masih yakin kalau ada dan bahkan masih banyak Polisi di Indonesia yang lurus, hanya mungkin jarang diekspos saja oleh media 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.