Sejarah Geladak Kapal

Salah satu cara para pelaku kolonialis menghancurkan sebuah negara adalah dengan merusak ataupun berusaha menulis ulang sejarah dari negara tersebut. Tidak hanya menulis ulang dengan data yang sesuai dengan kemauan kolonialis itu, tetapi juga berusaha menghapuskan sejarah yang telah tertulis dengan benar berserta data-datanya.

 

Apa tujuannya?

 

Agar generasi muda maupun generasi yang kurang perduli dengan sejarah bangsanya akan semakin apatis terhadap sejarah asli bangsanya dan cenderung menyetujui sejarah yang telah ditulis ulang sesuai kemauan kolonialis tersebut. Asalkan sejarah yang telah ditulis ulang tersebut terkesan menyenangkan, gegap gempita, dan tidak suram, maka ada kemungkinan sejarah yang telah ditulis ulang tersebut akan semakin cepat terekam didalam ingatan.

 

Apa kerugiannya?

 

Maka generasi baru maupun anak bangsa yang masih ada tidak tahu maupun melupakan sejarah asli bangsa tersebut. Di titik tersebut, maka bangsa itu telah mulai kehilangan jati diri dan identitas kebangsaannya. Tidak akan ada lagi yang akan berusaha melestarikan sejarah asli bangsa tersebut. Alih-alihnya, justru melestarikan sejarah yang telah ditulis ulang kolonialis tersebut. Saat itulah sejarah asli yang telah dilestarikan oleh para sejarawan akan musnah pelan-pelan karena terlupakan, tidak dilestarikan, bahkan mungkin akan dimusnahkan. Pemusnahan ini adalah ujung keberhasilan kolonialis itu karena memang suatu saat akan dianggap mengganggu ke-absah-an sejarah yang telah ditulis ulang tersebut. Karya sejarah sejarawan akan mulai terhapus oleh karya fiksi nan indah dari para sastrawan yang dibayar mahal demi pemusnahan identitas ini.

 

Apa yang dimaksud dengan “Sejarah Geladak Kapal”?

 

Sejarah Geladak Kapal adalah sejarah yang ditulis berdasarkan cara pandang seseorang hanya dari 1 buah sudut pandang saja dengan tujuan akan menjadi sebuah penulisan dengan se-subyektif mungkin sesuai keinginan sang penulis. Bahwa sejarah adalah “dua sisi pedang” yang sama tajam dan mempunyai dua cara pandang yang berbeda, akan dirubah menjadi sebuah “pedang dengan satu sisi”. Yaitu, sebuah cara pandang yang hanya tajam di satu sisi dan tumpul di sisi lain, merupakan sebuah bentuk penulisan sejarah yang ter-distrosi. Dan bisa jadi akan menjadi cara kolonialis untuk merusak sejarah asli sebuah bangsa. Bahwa sejarah adalah sebuah tulisan dengan kondisi se-asli mungkin berdasarkan data yang didapat, baik jelek maupun baik, haruslah ditulis se-asli mungkin. Bahwa kita harus menerima sejarah itu dengan ikhlas adalah relatif. Tapi itulah bayangan kejadian masa lalu yang terekam. Menafikkan sejarah itu berarti menafikkan kejadian nyata dari sejarah itu sendiri sekaligus menafikkan identitas kebangsaan-nya sendiri.

 

Apa yang bisa kita lakukan?

 

Cerdas. Mencari tahu. Berpikir dengan logika.

Melestarikan sejarah bangsa adalah kewajiban seluruh rakyat bangsa itu tanpa terkecuali. Mencoba menafikkan sejarah itu, sama artinya tidak berusaha menjalankan kewajiban sebagai rakyat sebuah bangsa.

Posted by N.p. 'apaz' Prasetio on Thursday, 19 June 2014

Jika anda ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai asal muasal definisi ‘Sejarah Geladak Kapal’, silahkan hubungi penulis di halaman facebook ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *