Pitik dan Apaz

Di sebuah negara bernama Endonestan hiduplah dua orang anak manusia bernama Pitik dan Apaz (bukan nama sebenarnya). Pada suatu hari di SMA mereka, Pitik dan Apaz sedang memperebutkan sebuah permen. Karena satu dan lain hal, Pitik sedikit mendorong Apaz hingga terjatuh.

Datanglah si Combe (Bahasa Surabaya untuk orang yang suka ngadu dan membuka aib) yang, tentu saja, dengan senang hati melaporkan kejadian ini ke guru BP dan kemudian mempostingnya di social media biar eksis (bahasa kerennya jaman sekarang) dan demi ‘5 minutes of fame’ nampang di koran online yang ga jelas. Karena bisa ratusan Bahasa, postingan si Combe tentu saja dibaca oleh jutaan umat manusia di dunia… yang, sudah bisa ditebak, isinya kebanyakan membully si Pitik… dengan bahasa-bahasa ‘indah’ yang tidak bisa diucapkan disini. Padahal mungkin dari semua yang komentar itu cuma sekitar 10% yang tinggal di Endonestan. Yang kenal si Pitik dan Apaz? Mungkin cuma si Combe sang penulis.

Kira-kira secara garis besar begitulah gambaran masyarakat dunia di era Social Media akhir-akhir ini.

Sudah banyak orang yang mencoba menganalisa kenapa kok orang suka menyebarkan berita buruk dan komentar ke orang yang ga dikenal. Jadi kita ga akan mbahas hal berat seperti itu.

Kita juga ga akan membahas bagaimana nasib si Pitik:

  • Apakah dia akan diskors atau dikeluarkan oleh sekolahnya (atas rekomendasi guru BP yang sudah terpengaruh social media)?
  • Depresi?
  • Jadi berandal dan bangga – karena ekspektasi masyarakat dunia?
  • Menyesal dan tobat (tapi tetap dimusuhi se-dunia)?

Pitik dan Apaz versi sebelum social media

Waktu saya duduk di bangku sekolah, belum ada yang namanya social media. Social media itu ya kita main sepakbola di lapangan waktu istirahat, nge-band setelah pulang sekolah, atau cangkruk di kantin kalo pingin bolos kelas (please don’t try this at home!).

Cerita tentang si Pitik dan Apaz ini masih mungkin berakhir di meja guru BP (berkat laporan si Combe). Tetapi, hukuman yang diterapkan guru BP paling ‘cuma’ lari keliling lapangan 10 kali buat Pitik dan 5 kali buat Apaz (karena dia jg ikutan rebutan)…

Kenapa kok rebutan permen?

Contoh iseng 🙂

Pitik dan Apaz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *