Pengusaha, Pegawai dan Hutang

*baca fatihah*

*berharap semoga tulisan yang ditulis dengan hati yang halus dan logika yang tidak tumpul, kenanya ke orang lain juga sama*

 

Pengusaha, Pegawai dan Hutang

 

Latar Belakang

Akhir-akhir ini banyak beredar tulisan di media sosial perihal pengusaha-pengusaha yang sukses berusaha tanpa hutang satu sen pun. Yang kemudian biasanya diakhiri dengan ‘tantangan’ supaya kita tidak mudahnya tergiur berhutang.

Memang tujuannya baik, tapi ada baiknya kita telaah lebih lanjut perihal hutang ini dari pengalaman pribadi seorang Djon Snow (bukan nama sebenarnya dan bukan nama karakter Game Of Thrones).

 

Dasar Teori

Dalam logika spiritual yang kita anut, kita percaya bahwa Tuhan tidak menciptakan semua dalam kaidah yang “sama”. Benar-benar sama secara harfiah. Ya kan? Itu lah kenapa orang-orang seperti kita tidak dengan mudah menghakimi orang lain atas kenyataan yang mereka terima/lakukan. Termasuk, keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan semua orang jadi pengusaha, ataupun jadi pegawai/pekerja. Menghakimi bahwa pengusaha lebih mulia daripada pekerja, sama artinya menghakimi takdir Tuhan. Kenapa? Karena jika semua orang jadi pengusaha, dan usahanya menjadi besar, mereka pasti akan butuh pegawai-pegawai untuk membantunya. Di sisi yang lain, orang-orang dengan keterampilan yang tinggi tapi tidak memiliki modal yang cukup untuk menjadi pengusaha, butuh orang-orang yang bisa mengkapitalisasi idenya menjadi sesuatu yang ada harganya, menjadi lapangan kerja buat para pegawai. Simbiosis inilah yang menjaga keseimbangan alam, perputaran  ekonomi. Walau di sisi yang lain, akibat konflik yang terus menerus terjadi secara politik dan sosial, munculah ide kelas pemilik modal (kapitalis) dan kelas pekerja (sosialis). Tapi itu pembahasan kita yang lain.

Berikutnya, coba lihat iklan property deh. Semua property harganya selalu naik tiap Senin (ok, kau bisa bilang ini hanya marketing tricks, tapi itulah faktanya), sedangkan gaji pegawai “hanya” naik setahun sekali, itupun harus ditunjang banyak faktor: revenue perusahaan, belanja modal untuk tahun berjalan, bla bla bla. Jika beruntung, maka gaji bisa naik diatas nilai inflasi, jika tidak ya siap-siap gaji hanya tergerus oleh inflasi saja. Di sisi lain, rumah selain menjadi tempat tinggal, juga bisa menjadi aset investasi terbesar yang dimiliki. Kenapa? Karena luas daratan tidak bertambah, bro! Dan pilihan tanah akan semakin terbatas. Jadi kalau pegawai mau punya rumah tapi belinya cash, tidak pakai hutang, teori matematikanya begini: buat target beli rumah berapa tahun lagi dengan harga berapa juta. Setelah itu hitung berapa tiap bulan harus disisihkan. Setalah beberapa tahun itu, berdoalah semoga saat tiba waktunya masih ada rumah yang dijual sesuai tabungan yang dimiliki. Kalau sudah tidak ada, ya tabung lagi. Berdoa lagi. Semoga masih ada umur dan belum keburu punya tanggungan-tanggungan lain yang lebih besar.

Berikutnya, punya hutang non-konsumtif berbeda dengan hutang konsumtif. Gampangannya begini, kalau hutang konsumtif tidak ada bekasnya, jadi begitu tidak mampu bayar maka tidak ada aset pengganti untuk membayarnya. Mungkin itu yg masuk ke dalam golongan gharim. Sedangkan hutang non-konsumtif berbeda. Ada aset yg menjadi jaminannya. Jadi kalau debitur tidak mampu bayar, aset bisa dijual untuk melunasi hutangnya (bahkan masih ada sisanya). Jadi ya dia tidak termasuk gharim, kan tidak punya hutang lagi.

 

Based on True Story

Marilah kita kembali ke kisah nyata seorang Djon Snow. Hampir satu dekade yang lalu dia hijrah ke Jakarta, modalnya Cuma selembar tiket kereta dan uang 300rb saja. Beruntung punya banyak teman yang baik hati dan mau menampung, kasih kasur, kasih makan, dan lain-lain untuk sementara waktu hingga si Djon bisa dapat gajinya yang pertama, yg “hanya” beberapa juta saja saat itu, dan menghidupi dirinya sendiri. Si Djon tidak punya orang tua yang kaya raya. Saat hijrah ke Jakarta, bekal dari kedua orang tuanya hanya restu dan doa siang-malam yang tidak pernah putus. Mikirin beli rumah di Jakarta? Boro-boro! Selain menghidupi dirinya sendiri, si Djon mash harus menghidupi orang tuanya di dusun sana. Beli rumah adalah pilihan nomor sekian ratus setelah bertahan hidup dan menghidupi kedua orang tuanya.

Singkat cerita, si Djon menikah. Habis itu butuh rumah buat keluarganya. Total penghasilan si Djon dan istrinya saat itu hanya sekitar 15juta. Total pengeluaran rutin tiap bulan sekitar 10 juta, sisa sekitar 5 juta. Harga rumah di saat itu sudah 300 jutaan. Pakai matematika sederhana saja, jika harga rumah naik sekitar 20% per tahun, maka dengan tabungan 5 juta per bulan (dan asumsi bisa naik 15% per tahun), baru bisa beli rumah sekitar 10 atau 11 tahun berikutnya. Silakan dicoba pakai excel.

Si Djon tidak “sesabar” itu menunggu, belum lagi lokasi yang diinginkan juga semakin menipis stock lahannya. Akhirnya dipakailah opsi KPR. Dengan cicilan yang kurang lebih sama dengan tabungan yg dimampu per bulan, bisa dapat rumah. Dan atas kuasa Illahi, tidak sampai 5 tahun si Djon bisa melunasi hutang KPR nya. Kenapa? Gaji Djon dan istrinya meningkat sejalan dengan peningkatan karir mereka, ditambah bonus dari perusahaan, ditambah lagi si Djon dan istrinya tidak tertarik untuk punya hutang konsumtif, bahkan mobil pun dari kantor si Djon saja saat itu (jadi tidak perlu keluar uang untuk membeli).

Setelah rumah pertama selesai, dengan gaji total si Djon dan istrinya yg sudah berkali-kali lipat dari saat mereka pertama kali membeli rumah, mereka berpikir untuk investasi buat anak-anaknya. Instrumennya banyak, mereka punya reksadana saham, logam mulia, saham di perusahaan teman-temannya, tapi tetap yang paling sexy adalah landed house. Harga tanah akan selalu naik, karena luas daratan tidak bertambah. Jadi digunakanlah kembali opsi KPR untuk rumah kedua. Selang itu berjalan, si istri juga tertarik dengan apartment, jadi diambil pula dengan opsi KPA. Mereka menganut asas hanya boleh berhutang untuk hal non-konsumtif, dan rasio cicilan total semua hutang tersebut tidak boleh lebih dari 35% dari total penghasilan mereka. Ini juga ada penjelasannya, tapi lain waktu saja.

Si Djon melakukan itu bukan untuk “wowkeren”, apanya yg wowkeren? Menjamin keamanan finansial untuk keluarga itu bagian dari syariat Islam juga kok. Cara mendapatkannya juga nggak kemaruk. Nggak pakai uang korupsi. Nggak pakai nilep kanan-kiri. Nggak ngoyo pula. Ya setidaknya itu menurut si Djon.

 

Kesimpulan

Dengan tanpa mengurangi rasa keyakinan bahwa Tuhan telah menetapkan rizqi untuk semua makhluk-Nya, manusia tetap harus berupaya sekuat tenaga, sekeras mungkin, semenderita mungkin untuk memenuhi semua kewajibannya sebagai manusia, apapun peranan yang dibebankan kepadanya. Karena hal itulah yang nanti akan dia pertanggujawabkan kepada Tuhannya kelak. Menghakimi orang lain yang memilih pilihan yang berbeda dalam hidup ini, tentu selain tidak bijak juga mengingkari kenyataan bahwa memang Tuhan menciptakan semua itu dengan keseimbangan. Semua manusia ada jalannya. Dan semua jalan, ada manusianya.

 

Pengusaha, Pegawai dan Hutang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *