Generasi Penggema Hujan, Sebuah Review

image

Endings are hard. Any chapped-as* monkey with a keyboard can poop out a beginning, but endings are impossible. You try to tie up every loose end, but you never can.
chuck shurley, Supernatural

Membaca buku terakhir dari seri novel biografi ini, quote di ataslah yang rasanya cukup mewakili kesan yang saya dapatkan. Memang mustahil untuk menjawab semua pertanyaan yang muncul akan akhir dari suatu cerita, lebih lebih karena cerita ini sebenarnya belum pernah berakhir dan terus berlangsung sampai sekarang. Kita saat ini hanyalah bagian dari salah satu dari dua kelompok, generasi penggema hujan, atau generasi yang mendengar gema tersebut.

Buku ini menyambung keadaan umat islam di bawah kepemimpinan khalifah Usman bin Affan RA dan ditutup dengan kematian khalifah setelahnya, sang gerbang ilmu pengetahuan, Ali bin Abu Thalib RA. Ketika di buku sebelumnya sudah disinggung tentang munculnya bibit perpecahan, di buku terakhir ini bibit itu semakin terwujud dan nyata. Konflik antara Ali bin Abu Thalib, sang menantu Rasulullah SAW, dengan sang khalifah yang juga menantu Rasulullah SAW semakin runcing. Meskipun demikian, ada dua hal sangat penting dari konflik tersebut yang dapat diambil hikmahnya dari buku ini.

Yang pertama adalah bagaimana dua orang sahabat Rasulullah SAW tetap berkepala dingin dalam berkonflik. Walaupun mereka mempertentangkan hal-hal yang bagi mereka penting, mereka tetap melakukannya dengan cara-cara yang baik, tetap berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah, dan tidak saling mencaci maki dengan kata-kata yang sudah keluar konteks permasalahan. Yang ke-dua adalah, betapa banyakpun Ali tidak menyetujui kebijakan Usman sebagai khalifah, dia tetap mencintainya sebagai sesama Muslim. Ketika rumah sang khalifah diserbu, dia dan kedua anaknya yang memasang badan untuk melindunginya.

Membaca terus buku ini akan membawa kita membuka-buka lembaran sejarah dalam akhir kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Nyaris tidak ada kisah bahagia di sini. Kematian Usman bin Affan, Civil War antara sesama muslim yang pernah sehidup semati bersama Rasulullah SAW, dan kematian demi kematian para sahabat. Dan bagian paling menyakitkan saat membaca buku ini tentunya adalah ketika konflik berdarah harus terjadi di antara para sahabat yang dulu sehidup semati, rasanya kehancuran hati sang khalifah benar-benar bisa ikut kita rasakan. Dan sulit rasanya tidak ikut sedih ketika tiba juga halaman yang menceritakan kematiannya dan wasiat-wasiatnya di penghujung hayat.

Bagaimana dengan tokoh tokoh fiktif yang juga ikut berada dalam buku ini? Terus terang keberadaan mereka dikisahkan dengan begitu menyatu dalam buku ini sehingga saya seringkali bingung antara mana kisah yang memang bagian dari kisah sejarah islam dengan bagian yang fiktif. Supaya tidak bingung, semua dialog yang melibatkan Kashva, Astu, dan Vakshur saya pukul rata saja sebagai kisah fiktif, meskipun tetap tidak mengurangi menariknya kisah ini.

Banyak pula pelajaran yang didapat dari tokoh tokoh persia ini, pelajaran tentang cinta, kesetiaan, dan pengabdian. Bagaimana seorang Vakshur menghabiskan waktu puluhan tahun mencari Kashva. Kesetiaan seorang Astu terhadap Kashva. Dan kegigihan Kashva dalam pencarian kebenaran yang mengantarkannya pada kebahagiaan dan ketenangan batinnya. Setidaknya bagian antara Kashva dan Astu ini telah berhasil ditutup dengan baik oleh penulis, meskipun masih lebih banyak pertanyaan yang tersisa mengenai tokoh-tokoh yang lain seperti Vakshur, Xerses, dan yang lain.

Akhir kata, tetap lima jempol untuk sang penulis yang telah berani menulis kisah sang Nabi akhir zaman dan para penerusnya dengan bahasa yang berbeda. Salut juga untuk keberaniannya melibatkan tokoh-tokoh fiktif di dalam kisah ini meskipun rentan menimbulkan perdebatan. Semoga karya-karya selanjutnya tidak kalah menariknya. ūüėÄ

Sang Pewaris Hujan, Sebuah Review

image

Umar Bin Khattab RA, sosok yang sangat dikenal di kalangan umat islam maupun non muslim di zamannya. Ketika Abu Bakar RA menjadi khalifah, beliau menegurnya karena mencoba membujuk kekerasan pendirian sang khalifah terhadap mereka yang menolak membayar zakat. Ketika dia hendak ditunjuk sebagai khalifah berikutnya, orang-orang mengkhawatirkan sifatnya yang dianggap keras. Namun dia berhasil menepis semua anggapan tersebut, dia memang tetap keras pada mereka yang menindas yang lemah, namun sangat lembut kepada mereka yang lemah. Perjalanan kepemimpinannya sebagai penyandang pertama gelar Amirul Mukminin dapat diikuti di buku seri ketiga karangan Tasaro GK ini, Sang Pewaris Hujan.

Buku ini seperti sebelum-sebelumnya, mengisahkan kisah-kisah yang sudah umum kita dengar dari pelajaran sekolah maupun cerita guru mengaji di TPQ, namun dengan sudut pandang dan bahasa yang menurut saya lebih menarik dan manusiawi. Menggambarkan bahwa in the end, sang penakluk, yang telah meluaskan wilayah Islam demikian luas, tetaplah seorang manusia. Perasaannya tergambar begitu halus, jauh dari sosok yang mungkin dibayangkan dari orang yang memimpin “negara”  yang membentang dari mesir sampai persia.

Ketika dia tanpa pikir panjang membantu persalinan istri seorang rakyatnya bersama istrinya sendiri. Ketika dia menangis kepada Abu Ubaidah bin Jarrah, “curcol” tentang orang-orang yang telah berubah. Ketika dia tidak malu memohon bantuan, padahal dia bisa memerintahkan, kepada para gubernurnya saat Madinah dilanda kemarau panjang. Nyaris tidak tersisa kegarangannya yang sempat membuat takut umat islam maupun orang-orang non muslim terdahulu.

Namun, kisah tentang Umar kali ini yang paling menarik adalah di penghujung hidupnya. Di akhir hayatnya, sekarat di pembaringan, yang ia khawatirkan adalah bagaimana ketika kelak dia dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Bagaimana dia begitu serius menanggapi kesaksian Abdullah bin Abbas RA dan Ali bin Abu Thalib RA tentang kepemimpinannya, bagaimana dia lega ketika mengetahui bukan kaum Anshar atau Muhajirin yang ingin membunuhnya, sungguh pemimpin yang luar biasa.

Seperti buku terdahulu, selain mengisahkan perkembangan kekhalifahan Islam, buku ini kembali mengikuti perjalanan Kashva dan temannya, Elyas. Kekaguman Kashva ketika menyaksikan kesederhanaan sang Khalifah penerus Sang Lelaki Penggenggam Hujan di Yerusalem mengantarkannya ke Madinah. Dari Madinah petualangannya kembali dimulai, mengikuti entah apa yang dipersiapkan nasib baginya.

Astu dan Vakshur juga kembali ambil peran di buku ini. Setelah menyelesaikan perannya sebagai Atusa, sang panglima pasukan immortal, Astu kembali memulai hidupnya dari awal. Menggunakan semua keahlian perang dan berkudanya, dia membuka jasa ekspedisi, usaha yang kemudian akan memberikan banyak pencerahan padanya, usaha yang mempertemukannya dengan Vakshur dan menyalakan cahaya harapan di hatinya pada Kashva.

Bagian paling tidak menyenangkan dari buku ini menurut Saya adalah ending-nya. Tidak seperti dua buku terdahulu yang meskipun jelas ceritanya belum selesai tetapi ditutup dengan tenang, buku ke-tiga ini ditutup dengan sangat menggantung. Baik dari cerita di sisi Kashva cs maupun cerita di sisi kekhalifahan.

Kisah kekhalifahan ditutup dengan suksesi dari Umar bin Khattab RA kepada Usman bin Affan RA yang meninggalkan bibit perselisihan. Bibit-bibit yang cukup berani disorot dan dikupas oleh penulis buku ini, tetapi pembaca harus menunggu buku ke-4 atau menghubungi ulama terdekat untuk bisa mengetahui lanjutannya. Adapun kisah Kashva cs ditutup dengan tidak kalah menggantungnya, sebuah upaya pencarian yang tidak disertai petunjuk yang jelas.

Kesimpulan saya masih tetap, buku ini sangat menarik dan tidak membuat bosan. Hikmah yang bisa diambil tentunya seperti kebanyakan kisah teladan, adalah keteladanan. Bagaimana seorang pemimpin seharusnya memberikan keteladanan, mengajak berjuang bersama alih-alih memaksa orang berjuang untuknya. Dan satu lagi pelajaran penting, bahwa mereka-mereka yang begitu dekat dengan Rasulullah SAW, mereka yang ilmu agamanya tidak perlu diragukan lagi, mereka yang sudah menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Ibu, dan mereka yang jauh dari motif-motif duniawi, ternyata juga bisa berbeda pendapat dalam penafsiran. Meskipun begitu, mereka melakukannya dengan adab yang baik dan niat yang baik, sungguh luar biasa ūüôā

Pray for…

Beberapa tahun terakhir, hashtag #PrayFor menjadi semacam ‘trend’ di social media ketika terjadi sebuah peristiwa besar yang mengerikan. Saya tidak ingat secara pasti kapan hashtag ini mulai digunakan, seingat saya #PrayForJapan adalah salah satu yang muncul duluan. Pada saat itu, kita semua berdo’a atas bencana Tsunami yang melanda kota di Jepang yang juga berimbas pada bahaya reaktor nuklir disana. Seluruh dunia berdo’a untuk mereka…

Dunia Internet mulai mengikuti trend ini dan berlomba-lomba untuk memunculkan berbagai macam ide untuk hashtag ‘Pray For’, termasuk Paris, MH370, Syria, Turkey. Ada juga hashtag yang lumayan aneh, seperti Pray for Kanye bahkan ada yang Pray for penjahat yang sudah di vonis!

Apa yang sebenarnya anda ‘pray for’?

Pray for...

Karena setiap orang mempunyai kepentingan pribadi dimana mereka lebih perhatian dengan pray yang satu dibandingkan dengan pray yang lain, kita mulai mempertanyakan kenapa kok bisa beda? Bukankah kita harus adil terhadap sama?… apalagi jika yang mereka tidak pray lebih besar skalanya dibandingkan dengan yang mereka perhatikan (contohnya Pray for Ankara dibandingkan dengan Paris). Mereka kemudian mulai beradu argumen bahkan sampai ribut di media sosial mengenai ini.

Akhir-akhir ini, pertanyaan macam “Kenapa kok kamu peduli sama yang itu tapi ngga yang ini?” biasa dilontarkan dan kemudian jika jawabannya tidak memuaskan, mereka dengan entengnya mengecap orang lain sebagai hypocrite (atau bahasa kerennya munak).

Kalau menurut saya, hal ini terkait dengan dimana mereka pernah berada… Jauh lebih banyak orang yang pernah berpergian ke New York, London dan Pari jika dibandingkan dengan Ankara…

Sebagai contoh: Sewaktu World Trade Centre di’tabrak’ dua pesawat, saya merasakan derita yang lebih mendalam dibandingkan ketika melihat ledakan di London atau Charlie di Paris. Kenapa? Karena saya pernah berada di lantai 100 gedung tersebut tahun sebelumnya. Saya bisa merasakan bagaimana mengerikannya jika anda terjebak disana tanpa ada jalan keluarnya!

Contoh kedua: Tahun 2015 di Negara Amerika Serikat terdapat lebih banyak kejadian penembakan ‘mass shooting’ dibandingkan jumlah hari dalam setahun… Kasarannya hampir tiap hari ada penembakan seperti itu. Jika Presiden Obama hanya menghadiri beberapa acara mengheningkan cipta saja, apakah itu berarti dia tidak peduli dengan yang lainnya?

Contoh lain disekitar kita yang lebih relevan: Rakyat Indonesia akhir-akhir ini senang sekali ngobrolin tentang pilkada di Jakarta yang baru akan berlangsung tahun depan. Bahkan orang-orang yang tidak mempunyai hak pilih di Jakarta pun ikut komentar masalah kandidat pilihan mereka. Mari kita bandingkan dengan sebuah kota kecil di Jawa Timir yang bernama Madiun. Buat saya pribadi, kalau ada kejadian yang lumayan besar di Madiun, mungkin saya akan ikuti dengan lebih seksama. Kenapa? Karena kota Madiun merupakan salah satu kota yang paling penting buat saya (dibandingkan dengan Ankara atau Paris sekalipun!). Mungkin hanya ada 0.001% penduduk dunia ini yang tahu tentang kota ini. Apakah orang yang komentar tentang pilkada Jakarta akan berkomentar mengenai pilkada Madiun? … kan sama-sama pilkada? dan sama-sama ga punya hak pilih di daerah itu?

‘Media besar’ – Pray for mereka?

‘Media besar’ seringkali menjadi kambing hitam di kasus ini. Banyak orang mencibir ‘media besar’ tersebut karena mereka hanya mendedikasikan jam tayang ‘eksklusif’ hanya untuk segelintir momen-momen penting. Mungkin banyak yang ngga tahu bahwa ‘media besar’ itu juga dijalankan oleh manusia yang punya ikatan batinnya masing-masing. Jadi, jika mereka berbasis di Amerika Serikat, apakah mereka menjadi munafik jika lebih mementingkan untuk menayangkan proses pemilihan presiden Amerika Serikat dibanding kejadian di seberang lautan?

Mungkin ada diantara mereka yang peduli dengan kejadian yang jauh dari tempat mereka bekerja karena mereka pernah tinggal di tempat itu atau mereka punya keluarga yang tinggal disana… tetapi, berita yang mereka tulis pada akhirnya disetir juga oleh keinginan masyarakat umum… termasuk anda… untuk mendapatkan berita yang relevan di daerah tempat mereka beroperasi. Jadi, jika semakin banyak orang yang ingin membaca berita tersebut, mereka tentu akan mendapatkannya!

Realitas yang lumayan menyedihkan tentang apa yang kita doakan

Dari contoh-contoh diatas, apakah itu berarti saya tidak peka terhadap kejadian di belahan dunia lain? Sayangnya, mungkin iya (kecuali anda politisi yang suka peduli terhadap semuanya!)… Kenapa? Karena saya tidak mempunyai ikatan batin yang kuat terhadap mereka… dan kalau dilihat, dunia ini adalah tempat yang SANGAT BESAR jika anda ingin merasakan kesedihan, anda bisa memilih untuk bersedih hati hampir setiap detik dengan membaca berita-berita tersebut.

Pada akhirnya, saya tetap mendoakan keselamatan orang-orang yang tertimpa musibah-musibah yang terjadi di dunia ini dan mengutuk orang yang melakukan perbuatan yang mengerikan itu! Saya juga berdoa supaya semua pihak juga berintrospeksi supaya kejadian yang lebih parah dapat dicegah di kemudian hari.

Tustel – Capturing moments of life –

~ sebuah resensi ~

Penulis : Maria Timmen Surbakti

12527864_1237199136307906_482673275_n

Menangkap setiap kejadian gambaran kehidupan, berlatar belakang potret klasik/vintage. Adat budaya klasik di tengah kehidupan post modern.

Sebuah novel bertema romantika pasangan yang terbentur adat, tradisi, dan sekat strata sosial. Fenomena cerita sebuah kisah roman yang terhalang karena padan aturan adat batak toba antara marga Aruan dan Sitorus yang tak bisa saling menikahi. Begitu mereka tahu kenyataan itu, di situlah dimulai kisah pengembaraan Sang Dokter yang bermarga Aruan. Pengalaman hidupnya mengajarkan apa itu cinta.

Alurnya dapat mengaduk perasaan mereka yang melankolis, menjadi kamus yang cukup komplit untuk mereka yang suka traveling, dan cukup gamblang mengangkat tema masalah pernikahan dalam adat istiadat sebuah suku besar di Indonesia. Ketegangan sebuah perjuangan dan gejolak hati yang akhirnya terpapar dalam setiap potret babnya. Pertemuan fiksi dan science dalam membahas asamara yang menggugah jiwa. Meruak filosofi romantika dan psikologi sejoli yang kasmaran.

Apa yang membuat hidup begitu bergairah ? Cinta tentunya.

Adalah Sulu Aruan, seorang pemuda dari Tanah Batak, seorang dokter lulusan Universitas Gajah Mada. Di akhir masa kuliahnya dia bertemu dengan seorang perempuan bermarga Sitorus, Chrisinta atau biasa dipanggil Sin. Tapi sayang hubungan mereka tak direstui orang tua, karena marga mereka termasuk marga yang dilarang menikah sesuai padan yang ada.

Sulu kemudian memutuskan mengambil dinas PTT di pedalaman Maluku. Lalu tersebutlah kisah pengalamannya mengunjungi banyak daerah dari Sabang sampai Merauke bahkan hingga ke Dili, Timor Leste, melewati perbatasan Motaain, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan yang begitu panjang, semalaman dari kota Yogyakarta ke Ambon dan berlayar menuju pulau Seram. Kisah tentang petualangan eksotis seorang dokter di pedalaman Maluku, termasuk tentang menangani sebuah pasien yang mengidap Schizophrenia, yang dianggap kemasukan setan oleh masyarakat di pedalaman Maluku.

Beberapa cerita cinta juga ditemuinya. Di sana ada salah satu pasiennya, Ratih, perempuan yang masih memendam cintanya pada Kasim. Akan tetapi Kasim dijodohkan dengan Abim yang seorang Pegawai Negeri. Di sana pula dia bertemu dengan Hasan, temannya semasa masih menjadi dokter muda yang akhirnya mengajaknya pindah kerja ke Atambua. Hasan sedang bermasalah dengan perkawinannya. Atas saran darinya, hubungan Hasan dan istrinya membaik kembali. Sementara itu, dirinya sendiri yang tengah patah hati, lalu pergi ke Wina, Austria, untuk mengerjakan penelitian di sana. Dia juga beberapa kali mengajar para pengungsi di refugee camp.

Pengalaman hidupnya mengajarkan apa itu cinta. Kisah pencarian kesejatian sebuah cintanya. Kemudian terbang ke Kupang dan melanjutkan perjalanan ke Atambua sampai ke Dili, Timor Leste melewati perbatasan Motaain, Nusa Tenggara Timur, ke Batak Karo lalu terbang ke Wina, Austria, dan akhirnya kembali ke Jakarta. Dia banyak mengenang kisah cintanya yang terlarang di Wina. Setiap keindahan sejarah Wina benar-benar membuatnya mengenang kisahnya sendiri. Perenungan setiap maksa cinta yang begitu dalam. Meski surat elektronik kepada Sang Kekasih yang tak pernah sekalipun terbalas.

12516110_1237199089641244_1771382826_n

Dari Segi Adat Batak : 

Sitorus dengan Aruan, Hutajulu dan Hutahaen terikat padan (perjanjian) untuk saling menganggap sisada anak dan sisada boru. Karenanya hubungan perkawinan di antara marga-marga ini adalah terlarang atau subang (pantang). Padan yang seperti ini juga mengikat marga-marga lain seperti Silaban dengan Hutabarat, Naibaho dengan Lumbantoruan, Manurung dengan Simamora Demataraja, dll. Seringkali generasi muda yang belum tahu padan tersebut terjerumus cinta `terlarang` yang terhalang tembok padan ini. Hal yang membingungkan bagi mereka mengapa cinta murni dari dua orang yang berbeda marga dan satu rumpun harus dianggap tabu. Adanya novel yang berani mengangkat kisah cinta terlarang ini tentu menarik untuk dicermati.

Unsur Intrinsik 

1. Tema
Tema yang diangkat tentang cinta, persahabatan, dan adat istiadat dalam keluarga.
2. Alur
Jika dilihat dari jalan ceritanya, novel ini menggunakan alur cerita maju mundur.
3. Sudut Pandang
Dalam Novel Tustel ini, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang campuran.
4. Penokohan
Penggambaran tokoh dalam novel ini begitu kreatif dan jelas. Tokoh utama tetap dominan sebagai protagonis.
5. Gaya Bahasa
Kata-kata yang ditulis ringan dan gaya bahasanya sangat menyesuaikan dengan perkembangna masyarakan modern. Terdapat bahasa percakapan sehari-hari beberapa suku di Indonesia. Bahasa mudah dimengerti pembaca.

Kelebihan dan kekurangan Novel 

Kelebihan 
Novel Tustel hadir sebagai novel roman dengan penokohan dari suku Batak. Mengangkat fenomena kekinian. Karya yang memiliki diferensiasi. Gaya penulisan tidak rumit, mudah dimengerti, dan mendalam sesuai tema genre. Kisah cinta dalam sebuah novel yang bertajuk budaya. Budaya erat kaitannya dengan perilaku sosial, hubungan dalam kelompok dan antar kelompok, daya tarik interpersonal, cinta, ketertarikan, dan perkawinan, keputusan, agresi, kesesuaian, ketaatan, kepatuhan, dan kerjasama. Buku yang persuasif untuk memahami berbagai sudut pandang. Kisah perjalanannya sangan menarik. Cerita dengan berbagai latar di Wina dan Indonesia, baik tempat-tempat yang indah dan pedalaman, menambah daya tarik buku ini. Membaca “Tustel” seperti terbawa dalam semua adegan cerita. Rahasia dan mimpi cinta yang terus tumbuh dan bertunas. Keindahan yang dituturkan mampu membayangkan sedang berdiri di suatu sore langit yang sedang bermain hujan. Meski tidak ada pelangi melengkung. Kisah petualangan dan impian, cinta yang liar dan berani. Pada bab terakhir memberi kejutan demi kejutan yang tak disangka. Sebuah kekuatan cerita yang luar biasa.

Di samping cerita ini berdasarkan pengalaman budaya batak, Penulis sendiri bukanlah suku Batak, melainkan suku Karo. Sungguh hasrat penulis untuk menulis dan memahami berbagai budaya di Indonesia sebagai wujud ketertarikannya terhadap fenomena sosial yang ada. Antropologi budaya yang selalu erat dalam kehidupan sosial dan keluarga. Prestasi yang luar biasa untuk usia muda tertarik menulis tema budaya seperti ini.

Cerita ini mengingatkan pada kisah roman yang selalu abadi dikenang, seperti Romeo dan Juliet, sebuah kisah tragedi karya William Shakespeare yang ditulis pada awal karirnya. Tragedi tentang sepasang kekasih muda yang terhalang cintanya karena kedua keluarga mereka saling bermusuhan. Atau The Great Gatsby, sebuah karya F. Scott Fitzgerald tahun 1925. Bercerita tentang kehidupan miliarder Jay Gatsby dan socialita Daisy Buchanan yang dituturkan oleh tetangga Jay dan juga sepupu Daisy, Nick Carraway. Diceritakan pertemuan mereka kembali pada puncak masa Roaring Twenties. Sebelumnya kisah cinta mereka juga terlarang. Atau Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, yang ditulis oleh Buya Hamka. Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian. Kritikus sastra Bakri Siregar menyebut Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sebagai karya terbaik Hamka. Dan masih banyak novel kisah roman yang abadi lainnya.

Ketertarikan penulis mengangkat genre roman novel, menjadi kesan bahwa kisah dalam novel ini akan digemari sepanjang masa. Persoalan roman, puitik, kisah eros, bahasan yang paling aduhai sepanjang zaman, sejak zaman kerajaan hingga kekinian.

Lebih spesisik lagi novel ini kategori roman populer, mengandung puisi naturalis. Deskripsi cerita dengan alur teratur. Bahasanya juga puitis. Kata-kata filosofis yang hanya bisa dipahami secara naratologis.

Beberapa Testimonier : 

Tustel, sebuah kata yg klasik mengartikan alat pengabadi kejadian. Menangkap kejadian /momentum kehidupan dan cerita romansa, analogi yang tepat menjadikannya sebagai judul novel ini. Cerita yang inspiratif, membuka pemikiran tentang sesuatu yang konservatif dan klasik. Di sepanjang zaman budaya mengatur untuk kebaikan bersama. Cinta, intimasi, komitmen tiga hal yang disampaikan dalam buku ini.

  • Frans Padak Demon, Director of¬† VOA Indonesia, Jakarta

Budaya sebagai warisan leluhur yang sangat berharga. Tidak lupa dari semua itu budaya sangat menghargai perdamaian, keluhuran, keindahan, dan cinta. Buku ini menjadi menarik ketika mengangkat kisah budaya suku batak. Inisiatif seorang muda menulis persuasif agar yang membaca mau lebih tertarik tentang seluk beluk budaya dan hakekatnya.

  • Juara R. Ginting, Antropolog, Leiden, Belanda

Mengupas cinta romantis dari perasaan intens dan ketertarikan sepasang kekasih, dalam sebuah konteks erotis dengan harapan masa depan. Buku yang menggugah rasa dan asa. Sangat menarik.

  • Tanta J. Ginting, Aktor, Orange, California

Budaya Batak sebagai bagian dari budaya Timur,pada dasarnya menganut paham kebersamaan. Suatu hal yang tentu saja luhur karena konsep yang seperti itu bersifat kolektif artinya baik permasalahan perorangan anggota keluarga maupun persoalan keluarga sebagai suatu keutuhan adalah masalah bersama. Dengan demikian maka yang bertanggung-jawab menjaga kelestarian sebuah perkawinan adalah seluruh keluarga besar. Keluarga besar berfungsi melindungi sekaligus meyakinkan agar sejauh mungkin tidak ada unsur paksaan atau tekanan apapun yang akan menyakiti siapapun dari antara anggotanya. Pliliha penulis untuk mengambiul alur cerita dengan sentuhan budaya dan latar belakang belakang daerah dari Sabang sampai Merauke tentu memerlukan imajinasi yang kuat dan luas. Penulis berhasil merangkai sejuta keindahan cinta tidak saja dalam wujud romansa melainkan juga dalam pesona alam. Tulisan yang kreatif dan inspiratif. Terus berkarya.

  • Mayjen TNI (Purn) R.K Sembiring Meliala, Jakarta, Indonesia

Seorang pembaca Novel “Tustel”, saking bersemangatnya membuat foto profil dan status di BBM-nya dari salah satu kutipan dari Novel.

12804575_1237199249641228_528452365_n

Kekurangan

Pada bab awal terkesan membosankan, diawali dengan situasi datar dan kurang menantang. Pemilihan kata terutama pada bab depan kurang memberi penekanan untuk bayangan situasi mendalam. Tetapi selanjutnya jika dibaca terus sangat menarik saat mulai masuk persoalan inti. Juga kisah di Maluku yang menggemparkan.

SWOT, AKO, dan RPO

Dulu, waktu kuliah, karena agak kurang kerjaan saya pernah ikut acara yang pesertanya dari bermacam-macam jurusan. Acara itu terus terang sangat panjang dan membosankan. Tapi ada seorang senior cantik yang memberikan kesan lebih dengan paduan jilbab, kacamata, dan dasinya yang bermotif ceria, dia berasal dari jurusan yang sama dengan rektor kampus saya sekarang. Materi inti alias ujung-ujungnya rangkaian acara itu adalah AKO alias Analisis Kondisi Organisasi dan RPO atau Rencana Pengembangan Organisasi. Dan bicara tentang keduanya tidak akan lepas dari yang namanya analisis SWOT (bukan SWT seperti di game game itu :p).

Analisis SWOT (Strenght atau kekuatan, Weakness atau kelemahan, Opportunity atau kesempatan/peluang, Threat atau ancaman). Ibarat olahraga, analisis SWOT ini adalah peregangan atau pemanasan yang membuka jalan ke sekian banyak gerakan inti, salah satunya adalah RPO. Tanpanya hidup terasa hampa kita akan sangat rentan terhadap cedera karena gerakan inti tidak dilakukan dengan persiapan yang cukup. SWOT memang merupakan salah satu pendekatan yang cukup diminati dalam berbagai analisis karena metode dan alur pikirnya yang mudah dipahami. Meskipun begitu perlu diingat bahwa dia bukanlah satu-satunya pilihan karena tentunya juga ada kelemahannya.

Kekuatan adalah faktor yang bisa menjadi nilai lebih dari dalam organisasi, sementara kelemahan adalah kebalikannya. Sebagai contoh, dalam sebuah tim sepakbola, usia pemain yang rata-rata muda bisa dipandang sebagai sebuah kelebihan, namun di saat yang sama bisa menjadi kelemahan. Hal seperti ini tidak boleh terjadi, karena itu kedalaman analisis harus ditingkatkan. Setelah melakukan analisis, baru didapatkan bahwa usia muda tersebut bisa sebetulnya masih bisa diperdalam. Memiliki kelebihan stamina dan kekuatan fisik dapat diletakkan sebagai kekuatan, dan minimnya pengalaman dapat dikategorikan sebagai kelemahan.

Peluang adalah sebuah kekuatan atau nilai lebih dari luar organisasi, sementara ancaman adalah kebalikannya. Jangan keliru meletakkan sebuah kelemahan sebagai ancaman dan sebaliknya, ini juga berlaku pada kekuatan dan peluang. Contoh, rencana penggusuran stadion adalah ancaman karena datang dari luar, namun kondisi pemain yang tidak betah dengan stadion adalah kelemahan karena berasal dari dalam tim. Pun halnya dengan peluang, banyak rookie berbakat untuk direkrut adalah peluang, sedangkan motivasi tim yang tinggi karena sering menang adalah kekuatan.

Dalam melakukan analisis SWOT, sebaiknya dilakukan melalui dua tahap, tahap hipotesa dan sinkronisasi data. Pertama kali melakukan, cobalah bebaskan pikiran sejenak dari segala data data yang ada, berpikirlah dengan idealis layaknya orang yang memutuskan nasib organisasi. Setelah proses ini selesai, baru komparasikan dengan data yang tersedia. Apabila ada analisis yang tidak didukung dengan data, harus diputuskan apakah perlu mencari data atau abaikan/batalkan faktor tersebut dari keseluruhan analisis.

Yang ruwet adalah justru ketika data yang tersedia bertentangan dengan analisis yang dilakukan. Misalnya, dari data yang ada, rata-rata mahasiswa yang mengikuti OSPEK nilai IPK-nya meningkat sementara kita yakin bahwa OSPEK ini adalah kegiatan yang tidak bermanfaat. Kalau sudah begini, kejernihan pikiran dan kesehatan nalar perlu digunakan. Ditelaah kembali melalui dialektika dan curah gagasan, apakah data ini yang perlu diperbarui, data ini memang salah, cara kita membaca datanya salah, atau memang analisis kita yang keliru? Analisis memang sebaiknya didukung data, tapi data juga bukanlah suatu kebenaran mutlak yang harus disembah :D.

Setelah Analisis SWOT selesai, hasilnya dapat diolah dengan sejumlah metode sehingga kemudian akan menjadi sebuah kesimpulan tentang kondisi organisasi kita. Dari hasil AKO tersebut kemudian dapat disusun RPO. Tahap demi tahap dan langkah demi langkah dikembangkan untuk memaksimalkan kekuatan, mengatasi kelemahan, menyambut peluang, dan menghadapi ancaman. Yang paling penting, RPO ini harus segera dibahas untuk diputuskan akan digunakan atau tidak, jangan hanya menjadi penghias lemari arsip dan lambang gengsi semata :D.