Tustel – Capturing moments of life –

~ sebuah resensi ~

Penulis : Maria Timmen Surbakti

12527864_1237199136307906_482673275_n

Menangkap setiap kejadian gambaran kehidupan, berlatar belakang potret klasik/vintage. Adat budaya klasik di tengah kehidupan post modern.

Sebuah novel bertema romantika pasangan yang terbentur adat, tradisi, dan sekat strata sosial. Fenomena cerita sebuah kisah roman yang terhalang karena padan aturan adat batak toba antara marga Aruan dan Sitorus yang tak bisa saling menikahi. Begitu mereka tahu kenyataan itu, di situlah dimulai kisah pengembaraan Sang Dokter yang bermarga Aruan. Pengalaman hidupnya mengajarkan apa itu cinta.

Alurnya dapat mengaduk perasaan mereka yang melankolis, menjadi kamus yang cukup komplit untuk mereka yang suka traveling, dan cukup gamblang mengangkat tema masalah pernikahan dalam adat istiadat sebuah suku besar di Indonesia. Ketegangan sebuah perjuangan dan gejolak hati yang akhirnya terpapar dalam setiap potret babnya. Pertemuan fiksi dan science dalam membahas asamara yang menggugah jiwa. Meruak filosofi romantika dan psikologi sejoli yang kasmaran.

Apa yang membuat hidup begitu bergairah ? Cinta tentunya.

Adalah Sulu Aruan, seorang pemuda dari Tanah Batak, seorang dokter lulusan Universitas Gajah Mada. Di akhir masa kuliahnya dia bertemu dengan seorang perempuan bermarga Sitorus, Chrisinta atau biasa dipanggil Sin. Tapi sayang hubungan mereka tak direstui orang tua, karena marga mereka termasuk marga yang dilarang menikah sesuai padan yang ada.

Sulu kemudian memutuskan mengambil dinas PTT di pedalaman Maluku. Lalu tersebutlah kisah pengalamannya mengunjungi banyak daerah dari Sabang sampai Merauke bahkan hingga ke Dili, Timor Leste, melewati perbatasan Motaain, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan yang begitu panjang, semalaman dari kota Yogyakarta ke Ambon dan berlayar menuju pulau Seram. Kisah tentang petualangan eksotis seorang dokter di pedalaman Maluku, termasuk tentang menangani sebuah pasien yang mengidap Schizophrenia, yang dianggap kemasukan setan oleh masyarakat di pedalaman Maluku.

Beberapa cerita cinta juga ditemuinya. Di sana ada salah satu pasiennya, Ratih, perempuan yang masih memendam cintanya pada Kasim. Akan tetapi Kasim dijodohkan dengan Abim yang seorang Pegawai Negeri. Di sana pula dia bertemu dengan Hasan, temannya semasa masih menjadi dokter muda yang akhirnya mengajaknya pindah kerja ke Atambua. Hasan sedang bermasalah dengan perkawinannya. Atas saran darinya, hubungan Hasan dan istrinya membaik kembali. Sementara itu, dirinya sendiri yang tengah patah hati, lalu pergi ke Wina, Austria, untuk mengerjakan penelitian di sana. Dia juga beberapa kali mengajar para pengungsi di refugee camp.

Pengalaman hidupnya mengajarkan apa itu cinta. Kisah pencarian kesejatian sebuah cintanya. Kemudian terbang ke Kupang dan melanjutkan perjalanan ke Atambua sampai ke Dili, Timor Leste melewati perbatasan Motaain, Nusa Tenggara Timur, ke Batak Karo lalu terbang ke Wina, Austria, dan akhirnya kembali ke Jakarta. Dia banyak mengenang kisah cintanya yang terlarang di Wina. Setiap keindahan sejarah Wina benar-benar membuatnya mengenang kisahnya sendiri. Perenungan setiap maksa cinta yang begitu dalam. Meski surat elektronik kepada Sang Kekasih yang tak pernah sekalipun terbalas.

12516110_1237199089641244_1771382826_n

Dari Segi Adat Batak : 

Sitorus dengan Aruan, Hutajulu dan Hutahaen terikat padan (perjanjian) untuk saling menganggap sisada anak dan sisada boru. Karenanya hubungan perkawinan di antara marga-marga ini adalah terlarang atau subang (pantang). Padan yang seperti ini juga mengikat marga-marga lain seperti Silaban dengan Hutabarat, Naibaho dengan Lumbantoruan, Manurung dengan Simamora Demataraja, dll. Seringkali generasi muda yang belum tahu padan tersebut terjerumus cinta `terlarang` yang terhalang tembok padan ini. Hal yang membingungkan bagi mereka mengapa cinta murni dari dua orang yang berbeda marga dan satu rumpun harus dianggap tabu. Adanya novel yang berani mengangkat kisah cinta terlarang ini tentu menarik untuk dicermati.

Unsur Intrinsik 

1. Tema
Tema yang diangkat tentang cinta, persahabatan, dan adat istiadat dalam keluarga.
2. Alur
Jika dilihat dari jalan ceritanya, novel ini menggunakan alur cerita maju mundur.
3. Sudut Pandang
Dalam Novel Tustel ini, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang campuran.
4. Penokohan
Penggambaran tokoh dalam novel ini begitu kreatif dan jelas. Tokoh utama tetap dominan sebagai protagonis.
5. Gaya Bahasa
Kata-kata yang ditulis ringan dan gaya bahasanya sangat menyesuaikan dengan perkembangna masyarakan modern. Terdapat bahasa percakapan sehari-hari beberapa suku di Indonesia. Bahasa mudah dimengerti pembaca.

Kelebihan dan kekurangan Novel 

Kelebihan 
Novel Tustel hadir sebagai novel roman dengan penokohan dari suku Batak. Mengangkat fenomena kekinian. Karya yang memiliki diferensiasi. Gaya penulisan tidak rumit, mudah dimengerti, dan mendalam sesuai tema genre. Kisah cinta dalam sebuah novel yang bertajuk budaya. Budaya erat kaitannya dengan perilaku sosial, hubungan dalam kelompok dan antar kelompok, daya tarik interpersonal, cinta, ketertarikan, dan perkawinan, keputusan, agresi, kesesuaian, ketaatan, kepatuhan, dan kerjasama. Buku yang persuasif untuk memahami berbagai sudut pandang. Kisah perjalanannya sangan menarik. Cerita dengan berbagai latar di Wina dan Indonesia, baik tempat-tempat yang indah dan pedalaman, menambah daya tarik buku ini. Membaca “Tustel” seperti terbawa dalam semua adegan cerita. Rahasia dan mimpi cinta yang terus tumbuh dan bertunas. Keindahan yang dituturkan mampu membayangkan sedang berdiri di suatu sore langit yang sedang bermain hujan. Meski tidak ada pelangi melengkung. Kisah petualangan dan impian, cinta yang liar dan berani. Pada bab terakhir memberi kejutan demi kejutan yang tak disangka. Sebuah kekuatan cerita yang luar biasa.

Di samping cerita ini berdasarkan pengalaman budaya batak, Penulis sendiri bukanlah suku Batak, melainkan suku Karo. Sungguh hasrat penulis untuk menulis dan memahami berbagai budaya di Indonesia sebagai wujud ketertarikannya terhadap fenomena sosial yang ada. Antropologi budaya yang selalu erat dalam kehidupan sosial dan keluarga. Prestasi yang luar biasa untuk usia muda tertarik menulis tema budaya seperti ini.

Cerita ini mengingatkan pada kisah roman yang selalu abadi dikenang, seperti Romeo dan Juliet, sebuah kisah tragedi karya William Shakespeare yang ditulis pada awal karirnya. Tragedi tentang sepasang kekasih muda yang terhalang cintanya karena kedua keluarga mereka saling bermusuhan. Atau The Great Gatsby, sebuah karya F. Scott Fitzgerald tahun 1925. Bercerita tentang kehidupan miliarder Jay Gatsby dan socialita Daisy Buchanan yang dituturkan oleh tetangga Jay dan juga sepupu Daisy, Nick Carraway. Diceritakan pertemuan mereka kembali pada puncak masa Roaring Twenties. Sebelumnya kisah cinta mereka juga terlarang. Atau Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, yang ditulis oleh Buya Hamka. Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian. Kritikus sastra Bakri Siregar menyebut Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sebagai karya terbaik Hamka. Dan masih banyak novel kisah roman yang abadi lainnya.

Ketertarikan penulis mengangkat genre roman novel, menjadi kesan bahwa kisah dalam novel ini akan digemari sepanjang masa. Persoalan roman, puitik, kisah eros, bahasan yang paling aduhai sepanjang zaman, sejak zaman kerajaan hingga kekinian.

Lebih spesisik lagi novel ini kategori roman populer, mengandung puisi naturalis. Deskripsi cerita dengan alur teratur. Bahasanya juga puitis. Kata-kata filosofis yang hanya bisa dipahami secara naratologis.

Beberapa Testimonier : 

Tustel, sebuah kata yg klasik mengartikan alat pengabadi kejadian. Menangkap kejadian /momentum kehidupan dan cerita romansa, analogi yang tepat menjadikannya sebagai judul novel ini. Cerita yang inspiratif, membuka pemikiran tentang sesuatu yang konservatif dan klasik. Di sepanjang zaman budaya mengatur untuk kebaikan bersama. Cinta, intimasi, komitmen tiga hal yang disampaikan dalam buku ini.

  • Frans Padak Demon, Director of  VOA Indonesia, Jakarta

Budaya sebagai warisan leluhur yang sangat berharga. Tidak lupa dari semua itu budaya sangat menghargai perdamaian, keluhuran, keindahan, dan cinta. Buku ini menjadi menarik ketika mengangkat kisah budaya suku batak. Inisiatif seorang muda menulis persuasif agar yang membaca mau lebih tertarik tentang seluk beluk budaya dan hakekatnya.

  • Juara R. Ginting, Antropolog, Leiden, Belanda

Mengupas cinta romantis dari perasaan intens dan ketertarikan sepasang kekasih, dalam sebuah konteks erotis dengan harapan masa depan. Buku yang menggugah rasa dan asa. Sangat menarik.

  • Tanta J. Ginting, Aktor, Orange, California

Budaya Batak sebagai bagian dari budaya Timur,pada dasarnya menganut paham kebersamaan. Suatu hal yang tentu saja luhur karena konsep yang seperti itu bersifat kolektif artinya baik permasalahan perorangan anggota keluarga maupun persoalan keluarga sebagai suatu keutuhan adalah masalah bersama. Dengan demikian maka yang bertanggung-jawab menjaga kelestarian sebuah perkawinan adalah seluruh keluarga besar. Keluarga besar berfungsi melindungi sekaligus meyakinkan agar sejauh mungkin tidak ada unsur paksaan atau tekanan apapun yang akan menyakiti siapapun dari antara anggotanya. Pliliha penulis untuk mengambiul alur cerita dengan sentuhan budaya dan latar belakang belakang daerah dari Sabang sampai Merauke tentu memerlukan imajinasi yang kuat dan luas. Penulis berhasil merangkai sejuta keindahan cinta tidak saja dalam wujud romansa melainkan juga dalam pesona alam. Tulisan yang kreatif dan inspiratif. Terus berkarya.

  • Mayjen TNI (Purn) R.K Sembiring Meliala, Jakarta, Indonesia

Seorang pembaca Novel “Tustel”, saking bersemangatnya membuat foto profil dan status di BBM-nya dari salah satu kutipan dari Novel.

12804575_1237199249641228_528452365_n

Kekurangan

Pada bab awal terkesan membosankan, diawali dengan situasi datar dan kurang menantang. Pemilihan kata terutama pada bab depan kurang memberi penekanan untuk bayangan situasi mendalam. Tetapi selanjutnya jika dibaca terus sangat menarik saat mulai masuk persoalan inti. Juga kisah di Maluku yang menggemparkan.

SWOT, AKO, dan RPO

Dulu, waktu kuliah, karena agak kurang kerjaan saya pernah ikut acara yang pesertanya dari bermacam-macam jurusan. Acara itu terus terang sangat panjang dan membosankan. Tapi ada seorang senior cantik yang memberikan kesan lebih dengan paduan jilbab, kacamata, dan dasinya yang bermotif ceria, dia berasal dari jurusan yang sama dengan rektor kampus saya sekarang. Materi inti alias ujung-ujungnya rangkaian acara itu adalah AKO alias Analisis Kondisi Organisasi dan RPO atau Rencana Pengembangan Organisasi. Dan bicara tentang keduanya tidak akan lepas dari yang namanya analisis SWOT (bukan SWT seperti di game game itu :p).

Analisis SWOT (Strenght atau kekuatan, Weakness atau kelemahan, Opportunity atau kesempatan/peluang, Threat atau ancaman). Ibarat olahraga, analisis SWOT ini adalah peregangan atau pemanasan yang membuka jalan ke sekian banyak gerakan inti, salah satunya adalah RPO. Tanpanya hidup terasa hampa kita akan sangat rentan terhadap cedera karena gerakan inti tidak dilakukan dengan persiapan yang cukup. SWOT memang merupakan salah satu pendekatan yang cukup diminati dalam berbagai analisis karena metode dan alur pikirnya yang mudah dipahami. Meskipun begitu perlu diingat bahwa dia bukanlah satu-satunya pilihan karena tentunya juga ada kelemahannya.

Kekuatan adalah faktor yang bisa menjadi nilai lebih dari dalam organisasi, sementara kelemahan adalah kebalikannya. Sebagai contoh, dalam sebuah tim sepakbola, usia pemain yang rata-rata muda bisa dipandang sebagai sebuah kelebihan, namun di saat yang sama bisa menjadi kelemahan. Hal seperti ini tidak boleh terjadi, karena itu kedalaman analisis harus ditingkatkan. Setelah melakukan analisis, baru didapatkan bahwa usia muda tersebut bisa sebetulnya masih bisa diperdalam. Memiliki kelebihan stamina dan kekuatan fisik dapat diletakkan sebagai kekuatan, dan minimnya pengalaman dapat dikategorikan sebagai kelemahan.

Peluang adalah sebuah kekuatan atau nilai lebih dari luar organisasi, sementara ancaman adalah kebalikannya. Jangan keliru meletakkan sebuah kelemahan sebagai ancaman dan sebaliknya, ini juga berlaku pada kekuatan dan peluang. Contoh, rencana penggusuran stadion adalah ancaman karena datang dari luar, namun kondisi pemain yang tidak betah dengan stadion adalah kelemahan karena berasal dari dalam tim. Pun halnya dengan peluang, banyak rookie berbakat untuk direkrut adalah peluang, sedangkan motivasi tim yang tinggi karena sering menang adalah kekuatan.

Dalam melakukan analisis SWOT, sebaiknya dilakukan melalui dua tahap, tahap hipotesa dan sinkronisasi data. Pertama kali melakukan, cobalah bebaskan pikiran sejenak dari segala data data yang ada, berpikirlah dengan idealis layaknya orang yang memutuskan nasib organisasi. Setelah proses ini selesai, baru komparasikan dengan data yang tersedia. Apabila ada analisis yang tidak didukung dengan data, harus diputuskan apakah perlu mencari data atau abaikan/batalkan faktor tersebut dari keseluruhan analisis.

Yang ruwet adalah justru ketika data yang tersedia bertentangan dengan analisis yang dilakukan. Misalnya, dari data yang ada, rata-rata mahasiswa yang mengikuti OSPEK nilai IPK-nya meningkat sementara kita yakin bahwa OSPEK ini adalah kegiatan yang tidak bermanfaat. Kalau sudah begini, kejernihan pikiran dan kesehatan nalar perlu digunakan. Ditelaah kembali melalui dialektika dan curah gagasan, apakah data ini yang perlu diperbarui, data ini memang salah, cara kita membaca datanya salah, atau memang analisis kita yang keliru? Analisis memang sebaiknya didukung data, tapi data juga bukanlah suatu kebenaran mutlak yang harus disembah :D.

Setelah Analisis SWOT selesai, hasilnya dapat diolah dengan sejumlah metode sehingga kemudian akan menjadi sebuah kesimpulan tentang kondisi organisasi kita. Dari hasil AKO tersebut kemudian dapat disusun RPO. Tahap demi tahap dan langkah demi langkah dikembangkan untuk memaksimalkan kekuatan, mengatasi kelemahan, menyambut peluang, dan menghadapi ancaman. Yang paling penting, RPO ini harus segera dibahas untuk diputuskan akan digunakan atau tidak, jangan hanya menjadi penghias lemari arsip dan lambang gengsi semata :D.

Pencegahan dan Pertolongan Pertama Pada DBD

DBD

Demam Berdarah Dengue atau yang lebih keren disebut DBD memang sedang mengintai siapa saja, terutama di musim hujan ini. Oleh karena itu, saya tidak bosan mengingatkan untuk kita sekalian menjaga kesehatan diri dan lingkungan agar sebisa mungkin terhindar dari DBD.

Cara mencegah penularan DBD sebenarnya cukup murah dan sederhana. Prinsipnya adalah jangan sampai kita membiarkan perkembangbiakan nyamuk yang menjadi perantara penularan virus dengue (penyebab DBD).
 

Caranya?

Gampang, biasanya disebut dengan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur)

 

  • Kuras bak mandi sering-sering… supaya kalau ada jentik nyamuk yang nebeng disitu, tidak bisa tumbuh dan berkembang menjadi nyamuk.
  • Tutup semua tempat yang jadi penampungan air.. genthong kek.. gelas kek… apa aja, asal dia menampung air, lebih baik ditutup. Kenapa? biar nyamuk ngga bertelur disitu…
  • Kubur barang-barang tak terpakai yang mungkin bisa menjadi tempat air tergenang.. seperti kaleng bekas atau wadah air mineral bekas yang tak terpakai. Kenapa? supaya air ngga nampung disitu, trus bisa dijadiin tempat bertelur dan berkembang biak jentik nyamuk..

 

Kurang?

Tambahin nih..

  • Bereskan baju-baju yang bergelantungan di luar lemari.
  • Kalau perlu, pakai anti nyamuk saat beraktifitas
  • Kalau perlu, pakai obat nyamuk dan kelambu saat tidur.
  • Kerja bareng tetangga kiri kanan bersihin goot dan sauran air

 
Intinya sih Gaes… JAGALAH KEBERSIHAN!
 

Gimana sih gejala DBD?????

 
Secara umum, gejalanya hampir sulit dibedakan dengan gejala penyakit infeksi lainnya… tetapi di musim penghujan ini, jika anda atau anak anda atau keluarga atau sodara bin tetangga yang mengalami:

  • Panas mendadak tinggi >38,5 C. ini diukurnya pake termometer ya gaes… bukan sama tempelan telapak tangan di jidat. Jadi ngga ada salahnya investasi beli termometer… murah meriah.
  • Sakit kepala yang menjadi jadi
  • Seluruh badan terasa sakit semua bin remuk redam
  • Ada gangguan saluran pencernaan, misalnya mual-mual tanpa sebab, atau muntah…
  • Ada tanda-tanda terjadi perdarahan. Misalnya bintik-bintik merah di kulit yang kalo diteken dikit sama benda bening kayak gelas/kaca/penggaris plastik ngga ilang, atau mimisan
  • Tetangga kiri kanan ada yang kena DBD

 
Boleh kita curiga bahwa kita sedang terkena DBD. Ngga usah panik dulu… bisa dilakukan langkah-langkah berikut:

  1. Atasi gejala yang timbul.

Maksudnya, obati gejala-gejala yang dianggap sangat mengganggu, misalnya panas, nyeri badan dan mual muntahnya.. Saran saya, berinvestasilah pada Paracetamol, Antasida, dan Difenhidramin dirumah… murah meriah dan sangat bermanfaat.. Kalau merek dagangnya ya macam-macam… silahkan dicari sendiri.

  1. Beri cairan yang cukup

Minum cairan yang cukup, terutama yang mengandung elektrolit… mau pakai oralit ya boleh, mau pakai minuman elektrolit semacam air kelapa, atau minuman komersial lainnya ya boleh… yang jelas jangan sampai tubuh kekurangan cairan. Ingat, dehidrasi bisa meningkatkan suhu tubuh juga.. plus bikin lemes gaes..
Minum jus jambu boleh????

Boleh aja. Tapi tidak terbatas pada jus jambu ya gaes.. multivitamin pada buah penting buat kita.. jadi disarankan pada kondisi seperti ini konsumsi jus segala buah… buah apa aja boleh.

  1. Tingkatkan daya tahan tubuh

Beri cairan yang cukup, dan sebisa mungkin meski mual atau muntah usahakan nutrisi tetap masuk meski sedikit sedikit tapi sering. perhatikan juga kandungan gizinya. gizi yang cukup akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Boleh diutamakan makanan yang mengandung protein tinggi.
Masih kurang puas? boleh aja ditambah dengan suplemen vitamin atau imunobooster atau imunoregulator misalnya sorry sebut merek Stimuno atau Imboos Force…atau multivitamin lainnya.

  1. Awasi dan Waspadai

Maksudnya, kalo perlu bikin catatan kapan mulai panas, jam berapa saja panasnya muncul, gejala apa saja yang muncul, dan jam berapa saja minum obat.

Sangat disarankan untuk melakukan cek laboratorium terhadap trombosit darah pada hari pertama panas. Kemudian pada hari selanjutnya juga (serial)… baik dilakukan tiap hari atau 2 hari sekali untuk melihat apakah ada tren penurunan trombosit selama terjadi panas.

Perlu diingat pola panas pada DBD. Dan ingatlah bahwa pada hari ke 4/5 adalah masa kritis… jika pada hari ke tiga suhu tubuh mulai menurun disertai dengan badan menjadi lebih lemes, ngga usah banyak pikir, bawa segera ke RS.

Semoga bermanfaat
 
DBD

Para Pengeja Hujan, Sebuah Review

Pengeja_Hujan.jpg
Immortal, nama pasukan legendaris Persia itu pertama kali saya dengar waktu menonton film 300. Sepuluh ribu tentara elit andalan Raja, jumlahnya tidak pernah berkurang, setiap ada yang gugur, penggantinya segera siap. Pasukan yang konon dibentuk di zaman Raja Cyrus dan dikomandani oleh Pantea Arteshbold itu dikenal juga dengan sebutan Athanatoi. Pasukan itulah yang coba dibangkitkan kembali oleh ketiga putri Khosrau Parvis (Puran, Turan, dan Azarmi) dalam buku ini yang merupakan lanjutan dari buku sebelumnya. Yang menjadikan elitnya pasukan ini bukan hanya kemampuan bertempurnya, melainkan iman mereka kepada ajaran Zoroaster yang tinggi. “Tidak ada angkatan bersenjata tanpa moral agama” tegas putri Turan, penengah dari tiga bersaudara itu.

Siapakah sosok pengganti Pantea? Adalah Atusa, seorang arsitek jenius yang misterius. Wajahnya selalu ditutupi cadar namun dibalik keanggunannya berbagai taktik dan keahlian perang dia tempakan kepada para athanatoi. Namun tak seorangpun berkuasa melawan takdir, tidak juga sepuluh ribu pasukan. Tahta persia yang dibangun di atas darah seperti mengulang kembali dan kembali siklus perebutan takhta dengan pertumpahan darah antara bapak, anak, ponakan, ipar, dan seterusnya. Bagaimana akhirnya Atusa bersikap? Siapakah sebenarnya dia? Pembaca yang jeli mungkin sudah akan menduga sebelumnya tapi tetap tidak mengurangi kemenarikan membaca buku ini.

Bagaimana kabar Kashva? Dia tampaknya mulai bisa mengobati kesedihan hatinya karena kehilangan Masya dan Xerses di sungai. Hari-harinya dihabiskan dengan berjalan dan berdiskusi dengan sahabatnya biksu Tashidelek, diikuti oleh Vakshur. Biksu itu memberinya banyak pencerahan tentang sosok penggenggam hujan yang begitu menarik bagi Kashva. Namun dia juga memberi Kashva peringatan bahwa Vakshur menyembunyikan sesuatu darinya.

Setelah dari Tibet, Kashva memutuskan untuk pulang ke Persia. Namun nasib buruk yang bertubi-tubi sudah menantinya di sana. Siksaan demi siksaan, ancaman mematikan dari raksasa kanibal di penjara, maupun gigitan anjing membuatnya memohon kematian pada Ahura Mazda. Tidak disangka juga, keberadaannya di penjara juga memberikan sejumlah harapan. Reuni dengan Masya dan kabar tentang Astu membuatnya masih bisa bertahan sampai akhirnya dia bebas. Namun tampaknya kebebasan tubuhnya masih belum diikuti dengan kebebasan jiwanya, keadaannya membuat sedih Masya dan Vakshur. Bagaimanakah penderitaan Kashva? Apa rahasia yang disembunyikan Vakshur? Siapa sebenarnya biksu Tashidelek? Semuanya tergambar dengan alur yang rapi di buku ini.

Adapun mengenai kisah Rasulullah SAW, buku ini dipenuhi dengan adegan-adegab yang menggetarkan bahkan menguras air mata. Diawali dari kisah penyerbuan Abrahah dengan pasukan gajahnya sebagai balasan atas ulah orang suki Kinanah yang mengotori gerejanya dengan tinja. Berlanjut ke kisah kehidupan masa kecil sang Nabi yang penuh duka cita, sampai meninggalnya sang Kakek dan pengasuhannya berpindah pada pamannya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib.

Melanjutkan dari buku sebelumnya, jilid ke-dua ini menceritakan tentang perjalanan Rasulullah setelah menaklukkan Mekkah. Penaklukan Thaif diceritakan dengan dramatis. Bagaimana akhirnya kaum Anshar yang memprotes pembagian harta rampasan justru akhirnya berlinang air mata ketika mendengar jawaban “Apakah kalian tidak bahagia wahai kaum Anshar? Orang lain membawa domba dan unta, sementara kalian membawa Rasulullah ke rumah kalian?”. Wilayah Islam sungguh telah berkembang pesat dibawah panji panji Rasulullah. Namun kemenangan demi kemenangan justru menimbulkan rasa khawatir di benak sebagian sahabat.

Kekhawatiran itu semakin jelas pasca haji Wada’, kekhawatiran bahwa waktu Nabi Muhammad SAW bersama mereka sudah hampir habis. Dan akhirnya saat paling menyedihkan itu tiba, membacanya saja selalu menyulut haru, entah bagaimana perasaan penulis ketika menuliskan bagian ini. Sungguh meskipun telah diketahui dan dibaca berulang-ulang, cerita saat kematian Rasulullah tetap menggetarkan. Dan seperti yang sudah kita ketahui, penggantinya sebagai khalifah adalah Abdullah bin Abu Quhafa alias Abu Bakar as Shiddiq RA.

Yang membuat buku ini agak berbeda, penulis cukup “berani” menuliskan kisah tentang peristiwa Ghadir Khumm. Bukan itu saja, bahkan serangkaian peristiwa yang mengikuti kematian Rasulullah yang diyakini oleh sebagian orang dan agak tabu dibicarakan juga digambarkan di buku ini. Perbedaan pendapat antara Ali bin Abu Thalib RA dengan Abu Bakar as Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA. Saya hanya berani menyebutnya perbedaan pendapat, menyebutnya sebagai perselisihan entah kenapa rasanya agak kurang pantas :D. Kemudian disinggung juga mengenai perbedaan pendapat antara sang khalifah dengan Fatimah Az Zahra, perselisihan yang ditangisinya sampai akhir hayatnya.

Tergambar dengan jelas di sini hari-hari berat pemerintahan Abu Bakar RA. Menggantikan seorang Nabi, sungguh pekerjaan yang mustahil. Kepemimpinannya banyak dihabiskan dengan memerangi mereka yang murtad maupun nabi-nabi palsu yang bermunculan seperti Musaylimah. Dikisahkan bagaimana dia menepati julukannya sebagai as Shiddiq, bagaimana untuk urusan Aqidah, dia bahkan bisa lebih keras dari Umar RA, bahkan sampai memarahinya karena dianggap terlalu lembut.

Salah satu sikap kerasnya ditunjukkan saat dia bersikeras tetap mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima ekspedisi ke utara melawan tentara Heraklius meskipun banyak yang menentangnya karena dianggap terlalu muda, termasuk Umar. Dia hanya menegaskan “Aku tidak akan menurunkan orang yang sudah diangkat Rasulullah”. Namun di balik ketegasannya mengikuti teladan Rasulullah, dia juga tetap mau mendengar masukan, seperti ketika dia menyetujui anjuran untuk membukukan Al Quran pasca kehilangan ratusan Hafidz di perang Yamama. Meskipun dia mengatakan “ini tidak pernah dicontohkan. Rasulullah”, akhirnya dia pun mengikuti saran Umar, “Demi Allah ini baik”. Sayang kepemimpinannya tidak lama, buku ini ditutup dengan kerasnya pendiriannya untuk menunjuk Umar bin Khattab RA sebagai penerusnya meskipun banyak yang menentang keputusannya.

Membuat sequel adalah sebuah tantangan yang berat. Namun penulis buku ini telah melewatinya dengan baik. Episode ke dua ini tetap tersaji dengan alur cerita yang baik dan tata bahasa yang indah. Penggambaran-penggambaran mengenai ekspresi dan perasaan tokoh di dalamnya sungguh bisa memberikan banyak teladan dan hikmah bagi yang membacanya. Dan sama seperti episode pertama, tebalnya buku ini yang separuh kuintal tidak akan membuat kita bosan membacanya. Bagi yang belum tahu, kisah-kisah di dalamnya bisa menambah wawasan kita tentang agama Islam, dan riwayat yang dipaparkan juga sampai sejauh ini masih tetap sejalan dengan yang umum diajarkan di sekolah-sekolah, hanya bagian “suksesi” seperti saya singgung pada beberapa paragraf di atas yang mungkin tidak diajarkan di sekolah (setidaknya di sekolah saya :D).

Saya pribadi sangat kagum dengan teladan teladan yang diberikan oleh Abu Bakar RA (selain Rasulullah tentunya) di buku ini. Pidatonya saat pertama kali “menjabat” yang tanpa malu-malu meminta untuk terus diingatkan ketika menyimpang menggambarkan kerendahan hati papan atas. Pesannya kepada Aisyah sang Ibu kaum Mukmin sebelum meninggal untuk memeriksa kekayaannya untuk memastikan tidak ada hak orang lain yang dimakannya menggambarkan betapa amanahnya beliau. Belum lagi soal kesederhanaan hidupnya, sungguh membacanya serasa mimpi masuk ke dunia lain :D.

Selamat membaca 😀

Perencanaan Indikator SMART

SMART

Dulu, waktu kuliah, pernah ada senior cantik yang mengajarkan materi tentang penetapan tolok ukur keberhasilan, kalau mengikuti tren kekinian istilahnya indikator. Satu-satunya yang nyantol di kepala selain senyum manis sang senior adalah jargon SMART. Ternyata sampai masuk hutan belantara dunia kerja, SMART ini tetap digunakan. Hampir semua sektor pekerjaan yang sadar pentingnya memiliki sebuah tujuan hidup akan berkutat dengan SMART ini, baik secara formal maupun kultural.

Secara awam, SMART (dibaca seperti ngomong pandai dalam bahasa inggris) adalah akronim dari Specific, Measurable, Attainable/Achievable, Relevant, Time Bound. Konon sekarang ada tambahan Continuously improve sehingga menjadi SMART-C. Tapi biarlah, kita abaikan sementara C di belakang, pembahasan mengenai SMART saja sudah cukup menarik.

SMART

S adalah specific, alias spesifik alias jelas. Misal bagi seorang direktur tim sepakbola, penting untuk menetapkan sebuah indikator yang jelas. “Mencetak tim yang menguasai dunia akhirat” tentu bukan sebuah indikator yang spesifik. Yang spesifik misalnya adalah “mencetak tim sepakbola yang bisa terbang“.

Lanjut ke M, measurable, alias dapat diukur. “Tim sepakbola yang bisa terbang” tentunya akan sulit diukur mengingat “bisa terbang” belum terlalu menjelaskan cara mengukurnya. Agar indikator ini tergolong bisa diukur, ada dua cara yang bisa diambil. Yang pertama adalah mencari indikator lain seperti “mencetak tim yang bisa juara liga tarkam”. Yang kedua adalah menetapkan ukuran ukuran untuk “bisa terbang” seperti “bisa terbang adalah bisa bertahan melayang di udara tanpa alat bantu minimal 1 menit”.

Mulai menarik ketika membahas A, attainablealias bisa dicapai. Apakah “mencetak tim sepakbola yang bisa terbang” ini adalah sesuatu yang masuk akal untuk dicapai? Apakah manusia bisa terbang tanpa alat bantu? Bagaimana caranya? Kalau sekedar jawaban umum untuk pertanyaan itu tidak bisa dijawab, maka sebaiknya lupakan indikator itu :D. Karena tidak bisa dicapai, maka indikator “mencetak tim yang bisa terbang” diganti dengan “Mencetak tim yang bisa menyelam dalam air“, indikator yang sama sama specific, measurable, namun juga attainable.

Berikutnya R adalah relevant alias relevan. Okelah indikator “mencetak tim sepakbola yang bisa menyelam” itu spesifik, bisa diukur, dan bisa dicapai, namun apakah indikator itu relevan? Apakah penting bagi sebuah tim sepakbola untuk bisa menyelam? Apakah sebanding hasilnya bagi tim dibanding usaha dan biaya yang dikeluarkan? Jika tidak, maka saatnya indikator “mencetak tim yang bisa juara liga tarkam” tampil ke depan.

Terakhir T yaitu time bound alias bisa dijabarkan dalam fungsi waktu atau terikat waktu. Pertanyaan seperti “kapan kita bisa juara liga tarkam?” “apa saja yang harus kita lakukan? Bisakah dibuat time schedule-nya?” harus bisa dijawab. Kalau ternyata tim anda adalah tim yang bahkan pemainnya belum genap 11 orang, mungkin sudah saatnya melihat indikator lain yang lebih mudah.

Sederhana kan? Menyusun indikator SMART itu mudah. Teorinya sih begitu, tapi di lapangan ternyata hal ini sulit sekali dilakukan. Kesalahan yang paling umum adalah keliru menerjemahkan bagianAttainable dan kurang memperhatikan time bound. Dua hal ini terkadang tidak diperhatikan sebanyak tiga temannya yang lain :D. Selain itu, salah membaca data juga bisa berakibat fatal.

Perlu menggunakan akal sehat dan logika yang baik untuk bisa menentukan apakah sebuah indikator benar-benar secara logis bisa dicapai ataukah hanya khayalan berbumbu teori. Di sinilah letak pentingnya pengetahuan dan pengalaman di lapangan. Jika tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman, tidak masalah selama ada itikad baik untuk mau berusaha mengetahui dan belajar.

Time bound memang gampang-gampang susah, gampang menyusunnya, susah menepatinya :p. Selain target waktu pencapaian indikator, perlu juga diperhatikan timing dari penentuan indikator itu sendiri. Seperti contoh tim sepakbola di atas, kalau indikator “juara liga tarkam” setelah melalui pembahasan alot dengan anggota tim baru bisa ditetapkan setelah liga tarkam berakhir atau H-7 dari dimulainya kompetisi, ya sudah terlambat 😀

Data memegang peranan yang sangat penting. Di zaman secanggih ini, berbagai teori dan alat untuk memperoleh data sudah bertebaran, memperoleh data bukan lagi hal yang sulit. Yang membedakan orang berakal sehat dan tidak adalah dari caranya membaca data dan kemudian menyimpulkannya. Orang yang berpikiran pendek, ketika disajikan data sensus (bukan sampling) bahwa karyawan yang berangkat naik angkot bisa menghasilkan lebih banyak produk dari yang naik motor, akan langsung menyimpulkan bahwa naik angkot bisa memacu produktivitas :D.

Karena itu, alih-alih mengoleksi data sebanyak mungkin yang membutuhkan effort luar biasa, penting sekali bagi manusia menggunakan akal sehatnya untuk memilih mana data yang benar-benar penting serta relevan dan mana data yang meskipun berguna, tapi tidak sebanding dengan usaha mengumpulkannya.

SMART