Pitik dan Apaz

Pitik dan Apaz

Di sebuah negara bernama Endonestan hiduplah dua orang anak manusia bernama Pitik dan Apaz (bukan nama sebenarnya). Pada suatu hari di SMA mereka, Pitik dan Apaz sedang memperebutkan sebuah permen. Karena satu dan lain hal, Pitik sedikit mendorong Apaz hingga terjatuh.

Datanglah si Combe (Bahasa Surabaya untuk orang yang suka ngadu dan membuka aib) yang, tentu saja, dengan senang hati melaporkan kejadian ini ke guru BP dan kemudian mempostingnya di social media biar eksis (bahasa kerennya jaman sekarang) dan demi ‘5 minutes of fame’ nampang di koran online yang ga jelas. Karena bisa ratusan Bahasa, postingan si Combe tentu saja dibaca oleh jutaan umat manusia di dunia… yang, sudah bisa ditebak, isinya kebanyakan membully si Pitik… dengan bahasa-bahasa ‘indah’ yang tidak bisa diucapkan disini. Padahal mungkin dari semua yang komentar itu cuma sekitar 10% yang tinggal di Endonestan. Yang kenal si Pitik dan Apaz? Mungkin cuma si Combe sang penulis.

Kira-kira secara garis besar begitulah gambaran masyarakat dunia di era Social Media akhir-akhir ini.

Sudah banyak orang yang mencoba menganalisa kenapa kok orang suka menyebarkan berita buruk dan komentar ke orang yang ga dikenal. Jadi kita ga akan mbahas hal berat seperti itu.

Kita juga ga akan membahas bagaimana nasib si Pitik:

  • Apakah dia akan diskors atau dikeluarkan oleh sekolahnya (atas rekomendasi guru BP yang sudah terpengaruh social media)?
  • Depresi?
  • Jadi berandal dan bangga – karena ekspektasi masyarakat dunia?
  • Menyesal dan tobat (tapi tetap dimusuhi se-dunia)?

Pitik dan Apaz versi sebelum social media

Waktu saya duduk di bangku sekolah, belum ada yang namanya social media. Social media itu ya kita main sepakbola di lapangan waktu istirahat, nge-band setelah pulang sekolah, atau cangkruk di kantin kalo pingin bolos kelas (please don’t try this at home!).

Cerita tentang si Pitik dan Apaz ini masih mungkin berakhir di meja guru BP (berkat laporan si Combe). Tetapi, hukuman yang diterapkan guru BP paling ‘cuma’ lari keliling lapangan 10 kali buat Pitik dan 5 kali buat Apaz (karena dia jg ikutan rebutan)…

Kenapa kok rebutan permen?

Contoh iseng 🙂

Pitik dan Apaz

Vaksin Palsu Dalam Berita

Vaksin Palsu dalam Berita

Definisi Vaksin

Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari sebagian atau keseluruhan dari suatu mikroorganisme penyebab penyakit yang telah dilemahkan, sehingga tidak menimbulkan penyakit tetapi cukup dapat menimbulkan respon imun dari individu yang menerima vaksin tersebut. Respon imun ini berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit yang berasal dari mikroorgnime yang dijadikan sebagai bahan vaksin, tanpa harus menderita penyakit tersebut terlebih dahulu. Demikian pentingnya peran vaksin dan vaksinasi dalam membantu menjaga kesehatan tubuh kita, sehingga pemerintah bahkan mencanangkan program vaksinasi ini secara khusus, terutama untuk penyakit peyakit yang banyak diderita di indonesia ini, yang dilaksanakan melalui instansi-instansi kesehatan milik pemerintah, seperti misalnya Puskesmas. Keberhasilan vaksinasi atau sering juga disebut imunisasi ini dalam menurunkan angka kesakitan penyakit-penyakit tadi sangat signifikan, sehingga semakin hari, para orang tua pun semakin antusias untuk mengikuti program ini, bahkan ditengah gempuran para aktivis yang menolak menggunakan vaksin denagn berbagai alasan (Antivaks).

Vaksin Palsu

Sayangnya, baru-baru ini prestasi vaksin harus terkontaminasi oleh isu adanya vaksin palsu yang beredar di masyarakat. Tentu ini menimbulkan syok di kalangan orang tua yang anak-anaknya mendapatkan vaksinasi. Isu ini tak pelak menyeret beberapa oknum pelaku pemalsuan vaksin, Rumah Sakit-Rumah Sakit yang menggunakan vaksin ini, dan juga beberapa praktisi kesehatan.

Isu mengenai vaksin palsu ini bermula ketika beredar berita ada seorang bocah yang meninggal pasca mendapatkan imunisasi (meskipun setelah diselidiki lebih lanjut, bocah tersebut meninggal bukan karena imunisasi tetapi karena penyakit lain yang dideritanya). Isu menarik ini kemudian menjadi pemberitaan luas dan beredar dengan cepat serta menarik perhatian pihak yang berwajib. Dari pengembangan kasus tersebut kemudian diketahui ada beberapa orang yang dijadikan sebagai tersangka pelaku pembuat vaksin palsu ini. Setelah itu ditelusur kemana saja vaksin-vaksin palsu ini beredar dan siapa saja penggunanya. Sehingga didapatkan ada sekitar 14 rumah sakit yang masuk dalam jalur distribusi penjualan vaksin buatan si pelaku ini. Kemudian ditetapkanlah beberapa orang lagi sebagai tersangka untuk kasus ini, yang mana beberapa diantaranya adalah dokter, bidan, dan apoteker. Ini yang sekarang sedang panas-panasnya dibicarakan. Banyak pihak mulai menganalisa kasus ini dan mulai menyampaikan bayak teori tentang kasus ini, tak luput membawa juga mengenai siapa yang harus bertanggung jawab terhadap hal ini. Di dalam tulisan ini saya tidak berniat membela siapapun, hanya berusaha menelaah fakta-fakta yang ada.

Isi Vaksin Palsu

Apa sih sebenarnya isi vaksin palsu ini? Kalau diteusur dari berita yang beredar ada beberapa versi vaksin palsu, yaitu vaksin asli yang diencerkan dengan penambahan cairan infus (NaCl 0,9%), ada yang haya berupa cairan infus saja, ada juga yang berupa kombinasi antara cairan infus dengan antibiotik pada kadar rendah. Dilihat dari segi isi vaksin palsu ini, mestinya tidak berbahaya atau tidak berakibat fatal jika disuntikkan kepada bayi atau anak penerima vaksin, kecuali pada varian terakhir yang berisi antibiotik yang memungkinkan ada efek yang agak berbahaya pada bayi atau anak yang alergi terhadap kandungan antibiotik tersebut. Sedangkan jika dilihat dari sisi tujuan pemberian vaksin, tentu saja vaksin ini gagal memenuhi tujuan tersebut. Vaksin palsu ini tidak dapat menimbulkan respon imun dan imunitas atau daya tahan tubuh terhadap penyakit yang seharusnya dapat dilakukan oleh vaksin yang asli. Dari segi inilah vaksin palsu ini bisa dikatakan relatif berbahaya.

 Asli vs Palsu

Membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu hampir mustahil dilakukan hanya dengan pemeriksaan fisik semata, bahkan jika pemeriksanya adalah seorang ahli vaksin. Ini bukan segampang membedakan uang asli dengan uang palsu, cukup dengan 3D alias dilihat, diraba, diterawang. Satu-satuya cara untuk melihat keaslian dari vaksin adalah dengan memeriksa langsung isi botol vaksin tersebut di laboratorium. Ada seorang ahli vaksin yang mengatakan bisa dengan mengecek kode unik dan tanggal kadaluarsa di label atau botol vaksin dengan di kemasan atau box nya, macam memeriksa keaslian parfum mahal. Well, bisa sih… tapi pemalsu yang lebih pintar bisa membuat keduanya sama persis. Jadi, dari sini jelas amat sangat kecil kemungkinan pengguna vaksin dapat membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu dari tampilan luarnya semata.

Lha terus kok bisa vaksin palsu ini beredar?

Ini mesti salah BPOM! Dokter! Rumah Sakit! Kemenkes!… Errrr… tunggu dulu kalau soal itu. Siapa yang salah kita bicarakan nanti. Sekarang yang penting kita bahas dulu adalah bagaimana cara membedakan vaksin asli dengan palsu…

Jadi RS nya salah ini?

soalnya beli vaksin palsu.

Saya kurang paham dengan manajemen pembelian obat dan vaksin di RS, sehingga kurang bisa berkomentar banyak. Tetapi yang jelas, jika RS membeli obat dan vaksin dari distributor resmi atau PBF (Pedagang Besar Farmasi) resmi kemudian ternyata yang diterimanya adalah palsu, maka RS tentu tidak bisa disalahkan. RS justru bisa menyeret distributor dan PBF ini ke jalur hukum karena terbukti menipu dengan memberikan vaksin palsu. Jadi RS nya ngga perlu khawatir, tinggal tunjukkan saja faktur pembelian vaksin tersebut, maka akan jelas masalahnya. Well, kecuali kalau RS nya membeli vaksin di “pasar gelap” ya ngga tahu lagi.

Berarti dokternya yang salah?

Belum tentu. Dokter yang bekerja di RS harusnya menggunakan obat atau vaksin yang disediakan oleh rumah sakit. Dalam hal ternyata vaksin yang akan digunakan tidak tersedia di apotek RS, bisa jadi dokter memberikan resep agar vaksin yang dimaksud dapat dibeli di apotek atau distributor resminya. Kalau itu yang terjadi, maka dokternya tidak bisa disalahkan. Dia sudah melakukan sesuai dengan prosedur. Dokter hanyalah pengguna vaksin juga, sama dengan para orang tua yang anaknya disuntik vaksin. Kecuali, jika oknum dokternya menggunakan vaksin di luar jalur resmi yang beresiko terpapar dengan keberadaan vaksin palsu ini atau memang oknum dokternya sendiri tahu bahwa vaksin tersebut tidak asli tetapi tetap nekat menggunakan vaksin palsu tersebut dengan berbagai alasan. Ini tidak hanya berlaku untuk dokter, tetapi juga konsumen vaksin lainnya seperti bidan.

Berarti salah BPOM ini?

… kan tugasnya dia mengawasi peredaran obat dan makanan, termasuk vaksin.. kok bisa kecolongan ada vaksin palsu yang beredar??????

Belum tentu. Jika vaksin palsu itu beredar di luar jalur resmi otomatis BPOM sendiri akan sangat sulit mendeteksi keberadaan si palsu ini, kecuali secara tidak sengaja ketemu pas waktu sidak, atau ada laporan atau keluhan dari masyarakat sehingga BPOM melakukan pemeriksaan. Gampangnya begini, jika pembuat vaksin ini mengedarkan vaksin palsu varian pertama yang sebenarnya asli hanya diencerin saja, maka vaksin yang lewat BPOM itu adalah vaksin asli.. no registrasinya juga nomor asli. Setelah itu baru diencerkan dan baru diedarkan, wajar kalau BPOM tidak mengetahui hal ini. Atau jika yang terjadi vaksin palsu jenis kedua dan ketiga dimana para pembuat vaksin palsu memproduksi sendiri vaksin palsunya di botol bekas yang mereka kumpulkan lalu dilabeli sendiri dan diberi nomor sendiri yang dibuat identik dengan nomor asli, tanpa melalui pemeriksaan BPOM kemudian disalurkan langsung ke pengguna, ya wajar juga kalau BPOM tidak tahu. Apakah ini berarti BPOM lalai? Saya kira tidak. BPOM saya rasa kerjanya tidak buruk. Lalu kok masih bisa kecolongan? Ya bisa saja. Ya harusnya sidak lah… Ya sidak sih, tapi realistis ngga kalau sidaknya setiap hari? Oleh karena itu peran masyarakat dalam melaporkan kejanggalan macam ini sangat penting. BPOM menjadi lalai jika si palsu palsu ini ternyata memperoleh nomor registrasinya dari BPOM langsung..artinya BPOM dari awal sudah tahu bahwa itu palsu tapi masih diberi nomor registrasi. Oleh karena itu sebenarnya tidak aneh, meski kasus vaksin palsu ini sudah berjalan sekitar 13 tahun dan baru ketahuan belakangan. Kenapa? Karena selama ini pas disidak ya kebetulan ngga ketemu atau tidak ada laporan kecurigaan dari masyarakat atau para pengguna vaksin.

Lha terus kok BPOM minta maaf di koran?

Dalam pandangan saya permintaan maaf ini hanya hal normatif untuk menahan bara saja. Seperti yang telah dijelaskan oleh BPOM sendiri, bahwa kasus ini sudah diketahui sejak lama bukan hanya vaksin palsu, tapi juga vaksin kadaluarsa dan pelakunya juga sudah ditindak, mulai dari peringatan sampai pembekuan ijin. Hanya masih ada yang beredar apalagi di fasilitas fasilitas tidak resmi, ya itu sudah beyond duty nya BPOM. Seperti yang saya sampaikan tadi, sidak tiap hari????

Berarti ini salah kemenkes?

Well, analogi BPOM tadi bisa dipakai disini.

Bagi saya yang jelas salah adalah yang membuat, menjual, dan mengedarkan barang palsu tadi. Sedangkan para pengguna yang memang tidak mengetahui dan tidak memiliki kapasitas dan kompetensi untuk membedakan vaksin palsu dengan yang asli, tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Bahakan kalaupun hanya untuk memuaskan ego semata.

Vaksin Palsu dalam Berita

Kenapa WNI menjadi target favorit teroris di dunia laut?

Jawabannya adalah karena cuma sial. Kebetulan lewat daerah abu sayyaf ato teroris apapun, bisa di bajak dan disandera tanpa perlawanan berarti, kena deh. Apalagi bila perusahaan yang memperkerjakan WNI bersedia membayar tebusan yang mahal.

Apakah uang adalah tujuan utama teroris?

Tentu saja. Dan pencitraan. Tujuan utama terorisme adalah menyebar teror. Semakin ditakuti, maka semakin bangga. Dan semakin mendapat nama bahwa paham yang dibawa itu teroris adalah paham yang semakin dikenal pula. Ini mungkin adalah masalah pengakuan. Bahwa paham apapun yang dibawa teroris tetap hidup, bergerilya, dan tidak mati. Maka siapapun sanderanya, tidak masalah.

Dalam titik pandangan lain, keberhasilan pencitraan soal terorisme ini sekaligus membuat malu pihak negara dimana aksi teroris itu berlangsung. Keberhasilan aksi teror tidak hanya sekali bahkan berkali-kali, seolah mempertegas ketidakmampuan negara mengatasi terorisme.

Salah satu contoh adalah kegagalan serangan pasukan elit Filipina beberapa waktu lalu. Serangan yang bertujuan membebaskan sandera ini diluar dugaan adalah jebakan. Dimana ternyata beberapa puluh pasukan elit yang menduga bisa masuk dan membebaskan sandera dengan senyap dan membunuh beberapa belas teroris, disambut oleh 1 daerah berisi teroris dan simpatisan teroris. Pernah nonton 13 hours: Secret Soldiers of Benghazi? Atau Alien vs Predator? Ya, separah itu.

Lalu apa yang harus dilakukan Republik Indonesia?

Dalam hal pembebasan sandera, tidak bisa lain daripada diplomasi. Karena setiap aksi militer Republik Indonesia walaupun bersama militer Filipina hanya akan membuka peperangan baru bagi Tentara Nasional Indonesia dengan teroris baru. Dalam hal ini, bilapun konfrontasi militer terjadi, maka sebaiknya Angkatan Bersenjata Filipina saja yang melakukan.

Dalam hal pencegahan pembajakan, patroli bersama dengan negara tetangga adalah solusinya. Terutama di daerah rawan pembajakan. Tapi dengan luas wilayah lautan yang bagai tidak bertepi, maka dibutuhkan personel yang tidak sedikit. Juga dengan pembiayaan yang lebih tidak sedikit lagi. Bila menelusur lebih jauh kepada penyebab pembajakan di laut, faktor ekonomi biasanya menjadi alasan utama. Saat faktor ekonomi tidak mensejahterakan, maka pemodal aksi terorisme ato pembajakan dapat masuk memicu.

Contoh apa yang terjadi di perairan Somalia adalah diduga bermula dari terjadinya ilegal fishing yang menghabiskan sumber daya laut di perairan Somalia. Warga dipesisir pantai yang sangat bergantung kepada sumber daya laut via nelayan, pada akhirnya harus menerima kenyataan untuk jatuh miskin. Ditambah maraknya pembuangan limbah berbahaya di perairan tersebut mengakibatkan semakin tidak ada lagi yang bisa diambil. Di titik nadir kemiskinan itu, datanglah pemodal-pemodal mengajari mereka untuk menjadi perompak laut. Faktor selain ekonomi adalah ideologi. Abu Sayyaf yang beberapa kali merompak kapal dan menyandera awak kapal adalah salah satu golongan dengan dasar agama tertentu yang menuntut otonomi khusus kepada pemerintah negara Filipina. Dalam hal ideologi ini, komunikasi yang konsisten antara pemerintah dan abu sayyaf adalah satu-satunya jalan.

Pada akhirnya, penambahan kualitas dan kuantitas armada perang Indonesia dalam rangka melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan seluruh rakyatnya, menjadi hal krusial lainnya disamping masalah rumit penyelenggaraan negara. Dan perompakan berserta penyanderaan, tidak segampang kita bicara mengerahkan pasukan khusus untuk membebaskan sandera. Karena solusi itu adalah hanya solusi jangka pendek. Masih akan ada perompakan dan penyanderaan lainnya.

p

Stop Victim Blaming

image

Ada orang yang suka memakai perhiasan dalam jumlah banyak sampai terlihat dengan jelas saat dia berjalan. Ketika kemudian ada oknum yang tergoda untuk merampoknya, tidak jarang orang justru mencibir “salahnya sendiri perhiasan dipamer-pamerkan”. Entahlah logika macam apa yang sekarang lagi tren, tapi menyalahkan korban itu jelas absurd, kecuali korban memang secara aktif memprovokasi duluan (misalnya sengaja melemparkan perhiasannya ke muka si perampok duluan, atau mengata-ngatai si perampok karena tidak punya perhiasan sebanyak dia) (itu pula yang membuat kekaguman saya pada Zinedine Zidane tidak pernah surut meski dia melakukan “sundulan” legendarisnya) . Tapi apakah dengan menimpakan segala kesalahan ke si perampok lantas semuanya happy ending?

Sering kita meributkan salah benar sampai hal-hal yang paling kecil sampai melupakan hal lain yang lebih penting. Ketika kasus perampokan mulai marak, banyak pihak menekan pemerintah agar bisa menyediakan rasa aman di jalan, memberikan hukuman setimpal, dan lain lain. Itu memang benar, sama sekali tidak salah. Tapi apabila itu belum bisa dilakukan, apa yang kita sebagai calon korban potensial ini bisa lakukan untuk menurunkan resiko?

Ketika ada yang menghimbau untuk menghindari lewat jalan tertentu di jam tertentu, untuk mempersenjatai diri dengan semprotan merica, bahkan belajar kungfu ke kwai cheng caine, janganlah direaksi dengan berlebihan. Himbauan itu hanya bentuk kepedulian. Kalau anda tidak bawa semprotan merica anda tidak salah, kalau anda tidak belajar kungfu ke Kwai Cheng Caine anda tetap tidak salah, dan bahkan ketika anda melewati jalan sepi yang terkenal banyak perampoknya dengan sederet perhiasan, anda tetap tidak salah. Tapi berada di posisi yang benar itu bukan berarti kita bebas dari resiko.

Anggaplah orang yang merampok itu orang mabuk, tidak bisa diajak bicara, atau you name it segala hal jelek lain. Ketika dia merampok, kalau ada petugas tentu petugas akan membantu anda mencegah perampokan. Pertanyaannya adalah ketika kebetulan tidak ada petugas, apakah kita akan rela begitu saja dirampok? Perlukah kita melakukan antisipasi-antisipasi?

Well, sekali lagi, itu pilihan, dan tidak ada pilihan yang salah. Sama seperti ketika anda berada di jalur yang lurus kemudian dari arah berlawanan ada kendaraan lain yang mabuk melawan arus ke arah anda. Ketika terjadi kecelakaan, tentu anda tidak salah, tapi apakah anda berusaha menghindari kecelakaan itu atau tetap bersikukuh mempertahankan jalur anda karena posisi anda benar adalah pilihan.

Standar batas kebenaran yang worth to die for bagi setiap orang memang berbeda. Karena itu kita tidak bisa menyalahkan orang atas pilihannya, pun begitu jangan salahkan orang ketika dia menghimbau atau memberi saran. Tapi ketika ada yang melakukan victim blaming, saya juga kurang paham isi kepala mereka yang melakukannya :D.

Sumber gambar : di sini

Perpanjangan Paspor Indonesia di Sydney

Perpanjangan Paspor Indonesia

Lima tahun yang lalu saya menulis tentang cara pembuatan paspor di Sydney untuk paspor Indonesia dan Australia di blog gratisan (blogger). Untuk artikel kali ini, saya akan membagi menjadi tiga bagian:
– Perpanjangan Paspor Indonesia
– Mengurus paspor Indonesia untuk anak (tautan menyusul)
– Mengurus paspor Australia untuk anak (tautan menyusul)

Di bagian pertama ini, saya akan menuliskan langkah-langkah yang saya tempuh untuk perpanjangan paspor Indonesia di Sydney. (kenapa Sydney? Karena saya tinggal di Sydney.) Mengurus paspor untuk dewasa relatif lebih mudah persyaratannya dibandingkan dengan mengurus paspor untuk anak.

Berikut langkah-langkah yang saya tempuh dalam pengurusan perpanjangan paspor Indonesia di Sydney:

1. Search di mbah Google dengan kata kunci berikut: perpanjangan paspor Indonesia di Sydney

Hasil search menyebutkan dua situs yang lumayan valid:

2-Kemlu

2. Dari situs Kemlu, saya menemukan tautan yang menjelaskan lumayan lengkap cara pengurusan perpanjangan paspor Indonesia – Silahkan dibaca sendiri dengan seksama.

3-Perpanjangan-Paspor-Biasa-Habis-Masa-Berlaku

Hal penting yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:

  • Formulir permohonan paspor harus diisi dengan lengkap beserta persyaratan-persyaratannya yang lumayan banyak
  • Biaya permohonan A$ 40
  • Prosesnya (katanya) memakan waktu 4 hari kerja.
  • Jam pelayanan… ini yang penting!! … Pengajuan hanya bisa dilakukan dari jam 9.15am – 12.15pm dan pengambilan hanya bisa dilakukan dari jam 2.15pm – 3.30pm

4-formulir-perpanjangan
3. Mengisi formulir perpanjangan paspor dan melampirkan dokumen pelengkap

Ada 2 halaman formulir yang perlu diisi yang kebanyakan hanya data-data standar formulir. Dokumen pelengkap yang diperlukan adalah:

  • Paspor asli RI yang lama
  • Fotokopi akte kelahiran / ijazah / surat nikah / surat baptis berbahasa Indonesia. Jika berbahasa asing, harus diterjemahkan/legalisasi ke dalam Bahasa Indonesia.
  • Fotokopi bukti ijin tinggal / visa
  • Fotokopi SIM / bank statement / rekening listrik / air / telepon / gas
  • Pasfoto 3 x 4 sebanyak 2 lembar (foto 3 bulan terakhir)

5-syarat
4. Jika anda berada di wilayah NSW, anda harus datang sendiri untuk menyerahkan berkas ke KJRI Sydney di 236 – 238 Maroubra Road, Maroubra 2035.

Pengajuan hanya bisa dilakukan dari jam 9.15am – 12.15 pm.

5. Tunggu 4 hari, atau tanggal yang ditentukan ketika anda menyerahkan berkas, dan datang lagi ke KJRI Sydney antara jam 2.15pm – 3.30 pm untuk mengambil paspor baru anda.

Saya datang ke KJRI jam 2.45pm. Di situ sudah ada 2 orang yang menunggu dan tidak ada orang yang melayani di loket. Sampai 3.15pm, ga ada yang melayani di loket sampai ada satu bule yang complain: Katanya jam pengambilan hanya 2.15 – 3.30, tapi kok sampai jam 3.15 masi ga ada yang ngelayani juga?

Perpanjangan Paspor Indonesia

Perpanjangan Paspor Indonesia

Kesimpulan: Dibandingkan dengan 5 tahun yang lalu, proses perpanjangan paspor Indonesia di Sydney sudah jauh lebih lumayan. Situs Konsulat Jenderal sudah terpusat dan dipegang oleh Kementrian Luar Negeri (5 tahun lalu masi pake .org.au). Informasi yang tersaji di situs tersebut juga sudah jauh lebih lengkap. Yang tidak berubah hanya jam pengajuan dan jam pengambilan yang lumayan memberatkan (ditambah dengan ketidaksiapan petugas di loket pada jam tersebut).