Pertanian dan Makanan Manusia Miskin

Bahan pangan Bamboeroentjing.com

Kalau Saja Negara2 Maju yang hanya 1/6 dari penduduk dunia tidak angkuh dengan memberikan “Makanan Manusia Miskin” kepada binatang ternaknya.

Negara2 Maju memiliki 60% dari seluruh bahan makanan di Dunia, tapi mereka memakai 2/3 jumlah tersebut untuk memberi makan binatang ternaknya. Tak terhitung entah itu dalam bentuk Kedelai, Ampas Bungkil atau Tepung Ikan. Yang berakibat pada kemungkinan kelaparan pada Dunia Ketiga.

Di lain pihak, Negara2 Distributor, pada tahun 2012 memiliki 400-an juta ton daging sapi. Yang artinya dari tujuh miliar penduduk dunia, mendapatkan 70-an kg per kepala, atau keperluan untuk hampir setahun (semua angka dalam hitungan kasar). Jumlah yang menurun dari tahun 1974, dimana Negara2 tersebut memiliki 130 juta ton daging sapi, atau 500-an kg untuk setiap manusia, atau keperluan untuk lima tahun.

Kita dapat melipatgandakan contoh2. Satu Kilogram Kedelai yang merupakan “Makanan Manusia Miskin”, memberikan protein kepada seorang anak manusia sebanyak tiga kilogram daging sapi, atau sepuluh liter Susu, atau 60 butir telur. Tetapi dari seluruh hasil Kedelai Dunia hanya 3% dipergunakan untuk makanan manusia. Selebihnya digunakan untuk memberi makan hewan ternak dan membuat benang sintetik.

Sekarang marilah kita melihat teknik teknologi barat dalam pertanian dan pengaruhnya kepada Dunia Ketiga. Jumlah pupuk yang dihasilkan oleh sebuah pabrik di Bangladesh, yang berharga 140 juta dollar, dan menggunakan Petrol yang sangat banyak serta menggunakan 1.000 tenaga kerja. Jumlah pupuk tersebut dapat dihasilkan oleh 26.000 desa, dengan alat2 yang menggunakan bahan methane. Dengan cara tersebut, bukan hanya menghasilkan pupuk, tetapi bahan bakar dan penerangan tanpa petrol. Disamping itu juga akan memberikan pekerjaan kepada lebih dari 100.000 jiwa, dan biaya yang dikeluarkan bukan 140 juta dollar tetapi hanya separuhnya. Ini hanya contoh pembandingan teknologi dengan angka kasar. Siapa yang paling beruntung ?

Prioritas lain dari pertanian adalah irigasi. Kita ambil contoh sistem irigasi pertanian amerika, yang menggunakan 905 liter bensin untuk setiap satu hektar tanah (baik untuk perabukan tanah, pemberantasan hama, dan pengairan). Inikah yang akan kita tiru ? meskipun sudah, namun tidak merata. Bandingkan dengan inovasi yang lain, yaitu memperbaiki saluran air bawah tanah dan membuat “Aquaduct”(yang tentu saja tidak umum bagi sistem pertanian kita, dimana jika sawah2 Mojokerto kekeringan air, padahal pasokan air masih melimpah di Malang). Dan sekali lagi, tanpa petrol.

Susu, Kopi dan Teh, adalah problem yang lain dalam industri pertanian. Petani harusnya dapat mengepak kopi dan/atau teh dan/atau susu di tempat untuk diekspor. Tetapi yang terjadi adalah, mereka menyerahkan hasilnya kepada perusahaan multinasional seperti Nestle, sementara Kopi dan Teh yang bagus dimonopoli oleh sebuah “kartel” perusahaan negara untuk dijual ke Negara Maju, sementara yang jelek dijual kepada manusia miskin.

 

Bahan pangan Bamboeroentjing.com

 

*Tulisan ini Meracau dan Out of Date (pertama kutulis pada 2003, yang diadopsi dari tulisan Rudolf Strahm – “Mengapa Mereka Itu Terlalu Miskin ?”), Serta tidak membahas kelimpungan dan kebijakan tentang Kedelai dan Pertanian pada sebuah Negara yang katanya Subur dan Makmur*

Waspada, Informasi Anda Berharga

INDOSAT:Pelanggan Yth menurut UU ITE 08/2013 mohon mendaftarkan ulang sesuai data KTP anda, agar nomor ini tetap aktif. Ketik: NamaLgkp#Tgl Lahir#Pekerjaan#Kota

Itu SMS yang saya dapat dari nomor +62857xxxx8838.

Saya langsung curiga kalau ini adalah penipuan, karena pengirim memakai nomor GSM tapi mengaku dari Indosat, dan karena Undang Undang Nomor 8 Tahun 2013 itu bukan tentang ITE melainkan tentang Pembentukan Kabupaten Kolaka Timur (eswete gede gede :p ). Sekitar setengah jam yang lalu juga ada telepon yang mengaku dari PT xxx mau konfirmasi data pribadi karena saya memakai kartu kredit, waktu saya tanya kartu kredit apa, si mbak di telfon bilang “kartu semua bank Pak”, eswete gede gede lagi :p.

Persamaannya, kedua duanya sama sama tidak meminta uang atau memberi iming iming hadiah, mereka hanya meminta informasi pribadi. Saya hanya berbagi dan mengingatkan untuk berhati hati, lebih baik waspada daripada menyesal. Meskipun bukan uang, tapi data pribadi anda bisa jadi uang, apalagi kalau sampai digunakan untuk menipu atas nama anda. Selalu waspada dan pastikan situasi terlebih dahuku sebelum memberikan data pribadi.

 

Internet concept

Ga tau ya – emang tradisinya begitu tuh

Kenapa ya? Sudah Tradisi

Sedikit renungan siang tentang ’emang sudah tradisi’ bahasa Jawanya: Yo Wes ngono kuwi…

Ada satu grup ilmuwan yang bereksperimen dengan lima ekor monyet:

1. Kelima monyet tersebut ditempatkan di sebuah kandang. Di tengah kandang tersebut ada sebuah tangga. Di atas tangga tersebut, terdapat beberapa buah pisang.

2. Setiap ada money yang naik tangga tersebut, para ilmuwan menyiram monyet lain dengan air dingin.

3. Setelah beberapa saat, setiap ada monyet yang hendak naik, monyet yang lain menghajar monyet tersebut.

4. Setelah beberapa waktu, tidak ada lagi monyet yang berani naik ke atas tangga tersebut, meskipun hadiah diatas tangga sangat menggiurkan.

5. Para ilmuwan tersebut kemudian menukar satu monyet dengan yang baru. Tentu saja, monyet yang baru ini langsung berinisiatif naik ke atas tangga. Apa yang terjadi? yang lain langsung menghajarnya.

Setelah beberapa kali di hajar, monyet baru ini sadar bahwa dia tidak seharusnya naik ke atas tangga, meskipun dia tidak tahu alasannya.

6. Para ilmuwan kemudian menukar satu lagi monyet dengan yang baru, dan hal yang sama terjadi. Bahkan monyet yang tidak tahu menahu tersebut ikut menghajar monyet yang baru. Hal ini berulang hingga semua monyet sudah ditukar dengan yang baru.

7. Pada akhirnya, di kandang tersebut terdapat lima ekor monyet yang tidak pernah disiram air dingin, tetapi tetap menghajar setiap monyet yang hendak mencoba naik tangga.

 

Jika kita bisa bertanya kepada mereka: Kenapa anda memukuli monyet-monyet itu?

Mungkin mereka akan menjawab: ‘Ga tau ya – emang tradisinya begitu tuh’

Ga tau ya - emang tradisinya begitu tuh

Sumber:Β Stephenson, G. R. (1967). Cultural acquisition of a specific learned response among rhesus monkeys. In: Starek, D., Schneider, R., and Kuhn, H. J. (eds.), Progress in Primatology, Stuttgart: Fischer, pp. 279-288.

 

Slip Biru, Modifikasi Kendaraan, Bekibolang, dll yang salah Kaprah

Saya pernah membaca sebuah topik menarik di suatu forum yang cukup terkenal di Indonesia. Topik tersebut membagi tips untuk menghindari tilang. Wow… melihat judulnya saja saya sudah geleng-geleng, bukannya menghindari tilang ya cukup dengan tidak melanggar aturan ya?. Tidak mau berburuk sangka, saya coba lanjutkan membaca isi thread tersebut. Ternyata banyak sekali tips yang disarankan untuk menggertak polisi saat ditilang, mulai dari menggertak menanyakan aturan, mengaku ngaku sebagai mahasiswa fakultas hukum/pengacara (jadi ingat kasus “anak kapolri” πŸ˜› ), berdebat tanpa ujung mengenai definisi “siang hari” (untuk yang tidak menyalakan lampu motor siang hari), sampai ngotot minta slip Biru. Dalam hati saya geli juga membacanya, saya tidak mungkir bahwa dalam kenyataannya hal hal ini mungkin memang efektif untuk menggertak oknum polisi yang memang tidak berniat menilang melainkan hanya ingin mencari “uang damai”. Tapi kalau seandainya, kebetulan polisi yang dihadapi justru polisi yang lurus (seperti bapak ini misalnya) dan mengerti aturan, hehe bisa berabe akibatnya, bisa bisa jadi seperti kasus si “anak kapolri” yang menerobos jalur Trans J πŸ˜› . Pernyataan saya bukan tanpa alasan, tapi sebelum kita lanjutkan, ada baiknya coba diunduh dulu UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan. Sudah? Nah dari aturan segitu banyak, tidak ada salahnya coba anda simak beberapa catatan saya ini, siapa tahu berguna saat anda beruntung bertemu polisi yang lurus πŸ˜€ .

1. Slip Biru
Tidak hanya di forum, di media sosial pun banyak yang menshare secara berantai untuk ngotot minta slip biru saat ditilang. Jargon yang dibawa biasanya adalah dua kemungkinan, yang pertama adalah uang masuk negara dan yang kedua adalah kemungkinan oknum polisi yang mencari uang damai urung menilang. Saya tidak mau komentar untuk yang kedua, tapi ada hal yang harus diluruskan untuk masalah pertama.

Baik slip Biru maupun slip Merah, uang denda yang anda bayar sama sama masuk ke negara. Hanya bedanya (ini dengan asumsi kalau slip biru memang masih ada dan berlaku) kalau slip merah anda harus ikut sidang, kalau slip biru anda bisa membayar melalui bank (kalau tidak salah BRI). Enak biru dong, kan gak perlu ikut sidang? Nanti dulu, coba anda lihat pasal 267 yang menyatakan bahwa denda yang harus anda bayar apabila tidak ikut sidang adalah denda maksimal. Kemudian lihat jumlah denda maksimal yang harus anda bayar di beberapa pasal setelahnya (mulai pasal 273) tentang “Ketentuan Pidana”. Kesimpulannya adalah anda menyetor dana maksimal di awal dan tetap harus meluangkan waktu untuk nantinya mengambil uang kembalian dari denda tilang anda setelah sidang.

Silahkan anda putuskan sendiri, kalau saya mending minta slip merah, karena denda yang didapat belum tentu maksimal dan saya cukup datang ke sidang yang prosesnya juga tidak lama (belum ditambah sejumlah “hiburan” di dalamnya). Tapi kalau anda tidak keberatan menyetor sejumlah cukup banyak di awal, ya tidak masalah sih minta slip biru, siapa tahu juga polisinya urung menilang anda.

2. Belok Kiri Boleh Langsung
Alias Bekibolang, selama ini kita sudah terbiasa dengan belok kiri tanpa memperhatikan lampu lalu lintas kecuali ada tulisan yang menyatakan “belok kiri mengikuti lampu”. Dengan berlakunya UU 22 Tahun 2009 ini, yang terjadi adalah sebaliknya. Kalau tidak ada petunjuk “belok kiri boleh langsung”, berarti by default belok kiri harus mengikuti lampu. Tidak percaya? Silahkan baca pasal 112 (terutama ayat 3) . Jadi kalau ada orang alay yang mengklakson tiada henti saat anda berhenti di jalur kiri yang tidak ada petunjuk bekibolang, eluslah dada anda sambil mendoakan dia dapat pencerahan, atau kalau anda bernyali, beritahu saja beliau kalau zaman sudah berubah :p .

3. Kelengkapan Kendaraan
Nah ini yang menarik, tidak jarang kita jumpai kendaraaan yang melakukan modifikasi pada sejumlah kelengkapannya seperti lampu, knalpot, klakson, dll. Andalan mereka saat ditilang adalah selalu berdebat kusir mengenai parameter, misalnya batasan keributan untuk knalpot, batasan terang untuk lampu, dan pembicaraan konyol lainnya. Seperti sudah saya tekankan di awal, mungkin taktik seperti itu bisa membuat anda lolos dari jerat tilang kalau polisi yang menghentikan anda memang oknum yang tidak bermaksud menilang melainkan mencari “uang damai”. Tapi kalau polisi yang menghentikan anda memang berniat menilang, anda berdoa saja denda anda tidak diperberat karena ngeyel tanpa tahu aturan :P. Silahkan buka Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2012, disana sudah tercantum dengan jelas spesifikasi teknis untuk hampir seluruh bagian kendaraan termasuk lampu, knalpot, dan klakson. Sudut sorot lampu, daya terang, decibel maksimal knalpot dan klakson, dan kelengkapan lainnya. Dan sebagai orang yang berpendidikan, anda pasti tahu bahwa parameter-parameter tersebut bisa diukur.

Sebetulnya masih banyak catatan atau hikmah yang bisa diambil, tapi yang umum dan sering terjadi ya tiga diatas. Semoga kita bisa lebih bijak dalam berkendara sehingga bisa lolos dari tilang tanpa perlu melakukan tipuan tipuan murahan apalagi sampai mengaku anak Kapolri :P. Dan sekali lagi saya tegaskan bahwa yang saya catat diatas mungkin memang jarang terjadi, tapi anda kan tidak pernah tahu kapan anda akan bertemu dengan polisi yang “lurus”. Saya masih yakin kalau ada dan bahkan masih banyak Polisi di Indonesia yang lurus, hanya mungkin jarang diekspos saja oleh media πŸ˜€

Menyegarkan Kembali Pemahaman Internet Kita

Pitik dan Apaz

Saya tidak akan bicara hal teknis seperti sejarah internet, apa itu internet, atau bagaimana cara terhubung ke internet. Saya hanya ingin menyegarkan kembali pemahaman islam internet kita. Internet, atau lebih dikenal sebagai dunia maya, adalah dunia lain yang bisa kita masuki (istilah kerennya diselancari) tanpa mengenal batas usia, wilayah, kelamin, agama, golongan dll. Karena itu ada baiknya kalau kita bisa memperhatikan hal hal berikut.

1. Anonimitas
Ya, di dunia maya kita bisa menyembunyikan identitas, bahkan membuat identitas baru. Laki laki mengaku perempuan, anak-anak berlagak tua, berselancar dari warnet mengaku dari rumah dengan koneksi dedicated 20mbps, dan lain lain. Memang tidak ada yang melarang, khususnya di Indonesia sampai saat ini, anonimitas adalah “daya keren” tersendiri dengan jargon “tidak penting siapa orangnya, yang penting apa yang ditulis/dikatakannya”, makin orang tidak tahu siapa kita, rasanya makin keren dan makin nyaman. Betapa banyak tokoh anonim yang menjadi selebriti di dunia maya, sebagian dari mereka tidak sepenuhnya anonim, mereka menggunakan nama samaran yang memang sudah diketahui orang banyak, seperti Mark Twain si penulis Tom Sawyer yang identitas aslinya juga diketahui banyak orang.

Dunia maya memang berbeda dengan dunia nyata, jadi selama anda bisa menjaga untuk tidak menyinggung pihak pihak lain, silahkan beranonim ria. Tapi bila anda beranonim ria hanya untuk memprovokasi, cabulisme, mengkritik membabi buta, memaksakan doktrin tertentu, melampiaskan stres di dunia nyata dengan memaki maki sembarangan, atau bahkan sengaja menyulut flame war, maka anda hanyalah seorang pengecut. Perlu anda ingat bahwa sepandai pandai tupai melompat, sepandai pandai anda bersembunyi, suatu saat identitas anda akan ketahuan.

2. Bahasa
Khususnya bila anda bergabung dalam suatu ruang publik atau forum di dunia maya. Hormati dan gunakanlah bahasa yang telah disepakati atau bahasa induk dari wadah/forum/komunitas tersebut. Jangan membuat asumsi dari tulisan orang lain berdasarkan bahasa setempat anda, dan sebaliknya jangan umbar bahasa setempat anda sembarangan karena orang lain mungkin tidak mengerti, salah salah malah bisa salah paham.

Saya punya contoh, pernah suatu ketika ada teman saya yang bukan orang surabaya, tiba tiba dia menggunakan sebuah kosakata yang dalam bahasa surabaya artinya bisa menyulut perkelahian, padahal di daerahnya artinya berbeda. Untungnya dia mengucapkan kata kata itu dalam forum antar teman saja, bayangkan bila ada orang lain yang tidak kenal dan tidak tahu kalau dia bukan anak Surabaya. Oleh karena itu, bila anda bergabung dalam forum berbahasa Indonesia, gunakan bahasa Indonesia, sebaliknya dalam mencerna atau mengartikan tulisan orang lain seyogyanya pula kita gunakan bahasa Indonesia. Begitupun dalam forum berbahasa Inggris, Jawa, Bali, Madura, Perancis, dan lain lain, gunakan bahasa yang sesuai.

3. Tulisan
Sebagian besar komunikasi di dunia maya menggunakan tulisan. Walaupun saat ini video chat dan voice chat sudah mulai menapaki tangga popularitas, namun tulisan sejauh ini masih menjadi sarana utama (ini kesimpulan sependek pengamatan, bukan hasil survey apalagi quick count :p ).

Tulisan bisa menguraikan yang tak terkatakan, pun dia bisa mengatakan yang tidak ingin dikatakan. Karena dalam tulisan kita tidak bisa menyertakan mimik maupun intonasi, maka tata bahasa menjadi penting. Hal yang sering dianggap remeh adalah penggunaan Huruf Besar, tanda seru, dan warna merah. Mungkin mereka yang hobi menggunakan tiga hal tersebut maksudnya hanya ingin diperhatikan, tapi bagi sebagian besar orang, penggunaan huruf besar, tanda seru, dan warna merah bisa diartikan sebagai teriakan, bentakan, bahkan ancaman.

Selain itu gaya tulisan juga perlu diperhatikan, jangan menulis di ruang publik dengan gaya yang hanya bisa dipahami orang tertentu. Hal ini bisa menyinggung perasaan mereka yang tidak mengerti. Yang dimaksud gaya bukanlah makna tersirat, melainkan makna tersurat. Misalnya, tidak banyak orang yang tahu kalau “ber217an”, “katax”, dan “bol3hl4h” itu artinya “berdua satu tujuan”, “katanya”, dan “bolehlah”.

4. Topik
Last but not least, topik atau tema atau arti makna dari tulisan anda harus diperhatikan. Jangan menulis topik yang hanya bisa memicu pertikaian tanpa maksud apapun, khususnya SARA, di ruang publik atau komunitas yang tidak sesuai dengan topik anda, saya kira tidak perlu diberi contoh. Kemudian akan muncul pertanyaan, kalau begitu tidak boleh mengkritik dong? Ya tentunya harus dibedakan topik yang hanya bisa memicu pertikaian dengan sebuah kritik.

Sebuah kritik, sepahit apapun, tetap tidak boleh mengandung unsur fitnah, tuduhan terang terangan (kecuali ada bukti), apalagi sekedar maki makian tanpa arah. Anda bisa gunakan cara yang lebih cerdas, dengan sindiran, kiasan, atau mungkin foto yang bisa mewakili maksud anda. Ingat, sekarang sudah ada UU ITE, anda tentunya tidak mau masuk penjara hanya gara gara tulisan pelampiasan stres kan?

Kalau anda menulis di komunitas anda sendiri, ya terserah, itu urusan anda, sama seperti ketika anda mengatakan bahwa agama anda itu agama yang paling benar ketika ceramah di rumah ibadah anda (yang tidak pake loudspeaker), bukan waktu talk show di radio :p. Justru ketika tulisan anda di komunitas yang terbatas kemudian dibaca oleh orang yang tidak berwenang dan kemudian disalahgunakan, anda bisa menuntut balik orang tersebut karena pelanggaran privasi.

Sebenarnya masih ada banyak sih hal lain yang perlu diperhatikan, tapi saya kira sementara secara umum cukup sampai sini saja dulu pemahaman internet kita. Semoga kita bisa lebih bijak dalam berinternet.