Kondisi Tayangan TV Indonesia

Masih merasa TV aman untuk anak kita? Berikut ini pengalaman saya.

Pagi-pagi menemani anak nonton kartun. Tiba-tiba diselingi iklan jajanan coklat yang menyampaikan pesan:
Nikmat itu adalah punya pacar ganteng, kencan romantis dengan seikat bunga, dan naik mobil mewah.

Eh, ga bahaya kan? Apa salahnya? Well, saudaraku, tidakkah kita sadar bahwa pesan ini mengarahkan pola pikir kita pada materialisme. Saya sengaja tidak membahas tentang pacaran, menutup aurat dan pergi dengan selain mahram.

Malam sekitar jam 7, saya pernah menemani anak-anak nonton film Spy Kid (catat ya film anak nih). Sekali lagi si iklan lewat. Saya lupa produknya apa, yang jelas di situ menampilkan seorang bintang iklan laki-laki gemuk yang sedang naik bis. Entah mengantuk atau bagaimana dia berhalusinasi melihat seorang wanita cantik berpenampilan seksi dalam bis itu. Selebihnya saya malas menjelaskan.

Lho? Apa salahnya? Hmmm lagi-lagi, pesannya nikmat itu identik dg wanita cantik dan seksi yang bisa ‘dicicipi’ sesukanya. Dan jelas dari bahasa tubuh laki-laki dan perempuan itu menunjukkan aksi ‘menggoda’ dan ‘tergoda’. Menurut saya ini sudah sangat tidak pantas.

Suatu ketika saya pernah secara ‘kebetulan’ saja, mengikuti rapat dengan orang-orang dari pusat. Ternyata diskusi merembet ke dampak internet dan TV terhadap generasi muda. Tiba-tiba bapak di sebelah saya berbicara pelan kepada saya, “Saya sudah pernah bu menyampaikan agar 5% tayangan TV diberi muatan edukasi”, sambil ternsenyum penuh kemenangan.

Saya: tersenyum masam (hellooo Sir, you spoke so proudly about 5% education content, but what about the other 95%???).

Jika kita asumsikan yang 5% ini disetujui dan dilaksanakan, artinya tayangan TV yang aman dari 24 jam itu adalah 5% nya saja.
Silakan dihitung, hasilnya 72 menit saja atau 1 jam 12 menit.
Yah kira-kira anak-anak kita dan kita sendiri hanya bisa nonton TV selama itu maksimal dalam 1 hari, dengan catatan waktu dan jenis tayangan juga dipilih lho ya.

#SaveOurGeneration!

 

Tulisan ini dapat dilihat di laman nya Diah Wulandari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.