JOKOWI vs PRABOWO (kah) ?

jokowi-vs-prabowo
(sumber gambar : www.jurnal3.com )

Jawabnya adalah “belum tentu”. UU no 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden pada pasal 9 mensyaratkan bahwa :
“Pasangan  Calon  diusulkan  oleh  Partai  Politik  atau  Gabungan Partai  Politik  peserta  pemilu  yang  memenuhi  persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi  DPR  atau  memperoleh  25%  (dua  puluh  lima  persen) dari suara  sah  nasional  dalam  Pemilu  anggota  DPR,  sebelum pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.”

Mari kita lihat ke belakang, Di tahun 2009 :
– Demokrat memperoleh 20,85 %
– Golkar memperoleh 14,45 %
– PDIP memperoleh 14,03 %
– PKS memperoleh 7,88 %
– PAN memperoleh 6,01 %
– PPP 5,32 %
– PKB 4,94 %
– Gerindra 4,46 %
– Hanura 3,77%
– PBB 1,79% *tidak lolos `parliamentary threshold`, yang artinya tidak berhak mendapat kursi di DPR*

(Sebelumnya, ini hanyalah prediksi ‘buta’, jadi tidak perlu dianggap serius, karena saya juga tidak melakukan Survey seperti halnya Cak Lontong, saya hanya comot sana-sini dengan mengambil rata-rata saja.)
Dengan merosotnya elektabilitas Demokrat (karena berbagai kasus), perkiraan saya PDIP (dan PKB mungkin) akan meraup suara dari Demokrat. PDIP akan lebih besar suaranya dari Demokrat. Akan mudah bagi PDIP untuk meraup suara tahun ini. Popularitas Kader2nya yang berhasil memimpin di daerah akan mengangkat suara (Jokowi, Risma dan Ganjar terutama).
Golkar akan tetap pada posisi stabil 10-15%, yang kemungkinan bisa juga turun karena suara berpindah ke Nasdem.
PKS ? hmm … saya kesulitan memperkirakannya, mungkin akan turun. Begitu banyak ‘kasus’ yang menyertakan PKS. (selain korupsi, juga termasuk black campaign terhadap lawan politik secara terang2an). Pemilih pintar, tidak akan lagi memilih PKS. Namun, harus disadari, seperti halnya Golkar, PDIP dan PPP, PKS punya basis massa yang fanatik. Berilah turun menjadi 5%, karena kemungkinan suara akan berpindah ke PAN.
PKB sedikit unik, Keberadaan Yenni Wahid di Demokrat akan membuat bimbang para Gusdurian, sementara pencalonan Rhoma Irama akan membuat para Fans Bang Haji (terutama di desa2 dan pemilih dengan usia di atas 50 tahun) akan cukup tertarik untuk memilih PKB (entah siapa calegnya).
Hanura ? ya … tetap segitu-gitu sajalah, apalagi Mbak Tutut masih di Golkar. Hary Tanoesoedibjo saya rasa buang-buang uang di sini, mengandalkan ‘kerinduan’ jaman Pak Harto saya rasa tidak akan memberikan hasil yang signifikan.

Jika suara yang dulu diraup oleh Demokrat berpindah ke PDIP dan Gerindra, taruh kata, saya mengambil angka 19-23% untuk PDIP dan 7-8% untuk Gerindra. Maka, untuk mencalonkan Prabowo sebagai Presiden dibutuhkan lebih banyak koalisi dengan partai lain. Sejauh ini, PPP kelihatannya akan bergabung dengan Gerindra.
Namun perlu juga diperhatikan popularitas Prabowo yang berada di kisaran 18-22 % untuk calon presiden. Apakah akan mendongkrak suara Gerindra ? Belum tentu, namun bisa saja.
Jokowi akan lebih mudah memilih calon wakilnya dari mana saja. Sementara Prabowo akan sedikit kesulitan.

Untuk menaklukan popularitas Jokowi, Prabowo harus menang dalam satu putaran. Sayangnya pada pasal 159 ayat 1 tertulis :
“Pasangan Calon terpilih adalah Pasangan Calon yang memperoleh  suara lebih dari 50% (lima  puluh  persen) dari jumlah  suara  dalam  Pemilu  Presiden dan Wakil  Presiden dengan sedikitnya 20% (dua puluh persen)  suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari ½(setengah) jumlah provinsi di Indonesia.”

Satu-satunya cara untuk Prabowo menang satu putaran saat ini adalah bergabung dengan Golkar, atau … mungkin Demokrat. Itupun harus dengan perjuangan yang tidak mudah. Dengan Golkar relatif lebih ‘lancar’, karena Prabowo memulai karir politiknya juga dari Golkar. Apalagi Ical yang saya kira hanya buang-buang uang saja di panggung ini. Semua tergantung bagaimana Prabowo meyakinkan Golkar.
Dengan Demokrat ? mungkin bisa terjadi, mungkin juga tidak. Demokrat hari-hari ini begitu ‘kesulitan’ mencari sosok untuk calon presidennya. Belum lagi tekanan ‘finansial’ dari pihak luar yang mendukung salah satu calon dari kadernya (maaf tidak saya sebutkan siapa).

Menurut saya, yang paling proporsional adalah Jokowi dan Prabowo dalam satu paket. Entah itu Jokowi Presidennya dan Prabowo Wakilnya atau sebaliknya. Ini akan memaksa bendera putih dikibarkan oleh calon lain. Permasalahannya, berada Pihak Megawati dan Prabowo. Prabowo sudah sempat bermain buruk dalam strategi politiknya bersama Megawati. Ada beberapa kemungkinan; Jika Prabowo tidak sakit hati dengan pencalonan Jokowi oleh Mega, serta tidak memaksakan syahwat politiknya untuk menjadi RI-1, apalagi jika dengan niat untuk membangun Indonesia Baru, maka Prabowo akan mau dengan `legowo` menjadi calon wakil dari Jokowi. Kemungkinan lain, Mega sedang bermain `Peluncur` saat ini, yang artinya Mega tetap memberikan Calon Presiden kepada Prabowo seperti perjanjiannya tahun 2009 lalu.

Jokowi dan Prabowo, bisa saja menjadi pasangan yang serasi dalam mengelola bangsa dan negara. Mereka memiliki talenta politik yang begitu menonjol dan tidak dimiliki oleh calon-calon lain. Memiliki komitmen yang kuat untuk membangun kemandirian bangsa, sama-sama mencintai golongan ekonomi lemah.

Bersama-sama ataukah akan sendiri-sendiri ? kita lihat nanti antara tanggal 10 sampai 16 Mei.

*Maaf saya masih Golput, tulisannya jangan dianggap serius, hanya meracau *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.