Indonesia di Tangan Kita

Saya tergerak menulis artikel ini setelah melihat iklan American Express tentang Small Business (Bisnis Kecil).

Pemikiran pertama saya adalah: Ini iklan aneh sekali… Masak perusahaan multi-nasional kayak gini malah ngiklan’in bisnis kecil? Bukannya biasanya mereka menggembor-gemborkan bahwa produk mereka adalah yang terbaik dan kita wajib memakainya?

Tetapi setelah ditelaah lebih lanjut, pesan yang terkandung didalamnya sangat dalam dan hal ini mungkin sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat kita. Mungkin anda sering mendengar slogan-slogan ‘Cintailah Produk Dalam Negeri’ atau ‘UKM’, dsb… tetapi kemudian slogan-slogan ini (biasanya) diembel-embeli dengan pesan yang njlimet (bahasa Surabaya-nya membingungkan) dan sepertinya terletak di tempat yang sangat jauh dari kita. Hal inilah yang menyebabkanSense of Belonging kita mungkin menjadi sangat rendah, meskipun secara teknis mereka juga rakyat Indonesia.

Berikut saya beri sedikit contoh mengenai perbandingan keberadaan toko kelontong di daerah saya sewaktu saya masih kecil dan sekarang.

Kampung Saya di masa lalu

Saya ingat waktu saya masih kecil dulu, di tempat saya tinggal banyak tersebar toko kelontong yang dikelola tetangga saya sendiri. Belanja menjadi pengalaman yang menyenangkan dimana ibu saya menyuruh saya untuk pergi ke tetangga sebelah untuk beli telur, beras, dll. Jual berasnya pun bukan yang sudah dibungkus dengan rapi, melainkan seperti gambar dibawah ini. Kita bisa merasakan tekstur beras sambil bersenda gurau dengan anak tetangga saya (maklum sekolah juga dekat dengan rumah). Bahkan kadang tetangga saya menyelipkan satu buah permen atau coklat ke dalam kantong plastiknya!

Toko Beras

Menurut ‘ilmu jaman sekarang’, hal-hal yang biasa saya lakukan saat itu sudah mendapatkan beberapa manfaat:

  • Hemat bahan bakar minyak (BBM) – saya tidak perlu (belum boleh ^_^) naik mobil untuk membeli barang-barang tersebut, karena jarak yang lumayan dekat.
  • Bebas polusi – Jalan kaki atau naik sepeda pancal 🙂
  • Meningkatkan kesehatan diri – Jalan kaki (tetapi jangan lupa pakai topi dan sunscreen)?
  • Memajukan UKM – Jika semakin banyak orang belanja ke tetangga saya, maka toko beliau akan semakin maju!
  • Meningkatkan interaksi sosial – Anda tidak perlu Twitter, Facebook, dll… langsung aja ngobrol sama tetangga 🙂

 

Bagaimana dengan sekarang?

Hanya ada satu toko kelontong yang tersisa di daerah saya, dan barangnya sekarang di dominasi oleh rokok… Harap maklum, rokok merupkan omset penjualan terbesar (?) di Indonesia, meskipun banyak riset dan/atau program yang menayangkan bahaya rokok bagi kesehatan kita.

Hal ini terjadi karena banyaknya pusat grosir yang beroperasi di dekat tempat tinggal saya, mulai dari Carrefour, Giant, dll. Bahkan toko lokal yang lumayan terkenal (dan besar) di jaman dulu (Sinar Supermarket) tidak mampu bersaing dengan mereka. Belum lagi ditambah gerai-gerai kecil yang berakhiran ‘mart’ yang juga menjual minuman beralkohol. Kompetisi dibidang retail sekarang sangat ketat!

Konsekuensi dari semua ini, kita juga kehilangan manfaat-manfaat yang tersebut diatas dan harus dikompensasikan dengan hal lain yang tentu saja memakan banyak waktu.

Bagaimana kedepannya?

Toko kelontong ini mungkin cuma salah satu contoh dari sekian banyak Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di daerah kita, dan mungkin agak terlambat untuk ‘diselamatkan’. Saya tidak bisa memungkiri bahwa banyak dari kemajuan teknologi ini yang membantu kehidupan kita (pekerjaan saya saat ini juga belum ada 20 tahun yang lalu). Kita juga mungkin tidak bisa mencegah ‘invasi’ produk asing karena di era globalisasi ini semua serba terhubung (atau bahasa kerennya ‘interconnected’).

Menurut Departemen Koperasi dan Wikipedia, terdapat sekitar 53 juta UKM di Indonesia (dibandingkan dengan usaha besar yang kurang dari 5,000). Jika data ini benar, berarti jumlah UKM di Indonesia itu antara 20-25% jumlah penduduk Indonesia ato 1 dari 4 penduduk. Jika di keluarga besar anda ada 20 orang, berarti kemungkinan besar 4 atau 5 anggota keluarga anda punya usaha kecil.

Indonesia di Tangan Kita?

Kita dapat memulainya dari hal yang terkecil. Social media yang kita pakai untuk berkomunikasi dengan teman dan saudara kita, kita pakai untuk mengamati dan mendata kegiatan mereka. Mungkin ada beberapa (atau banyak) dari mereka yang sedang merintis bisnis kecil, entah itu melalui facebook dan atau jasa online. Daftar sederhana anda ini di masa yang akan datang sangat bermanfaat sekali. Jika suatu waktu anda membutuhkan jasa translate atau travel agent, daripada anda datang ke agen yang masih harus gontok-gontokan buat dapet harga terbaik, teman atau saudara anda mungkin dapat menyediakan tiket yang sama dengan ‘harga teman’. Butuh pulsa? mungkin teman yang lain bisa membantu (dan ga perlu kirim sms hoax ke orang ga dikenal ^_^).

Ijinkan saya untuk mengubah pesan ini sedikit:

Sudahkah anda membeli produk atau menggunakan jasa tetangga atau kerabat dekat anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.