Hiduplah Otonomi Raya

Suatu siang di Cowards School of Wizardry (CSW), Geimonton, si Kepala sekolah merangkap Pemilik merangkap pemimpin besar revolusi pemegang saham tunggal sekolah memanggil Vaijo, wali kelas asrama Dongolon.

“Hei Vaijo, kamu tahu kenapa saya panggil ke sini?”
“tidak tahu Pak”
“nih”, sambil melempar koper ke atas meja.
Vaijo membukanya, ternyata berisi uang yang cukup banyak. “Apa ini Pak?”, tanyanya.
“Kamu bagikan uang itu ke para siswa asrama Dongolon yang rumahnya di sekitar rawa-rawa”, tukas Geimonton sambil melempar daftar nama siswa yang rumahnya di dekat rawa-rawa.
“terus saya harus bilang uang apa ini ke mereka?”, tanya Vaijo semakin bingung. “bilang saja itu uang bantuan tunai hasil saya mencabut subsidi SPP kemarin”, kata Geimonton, “eh tapi sebetulnya saya masih ada sisa banyak loh”, lanjutnya berbisik sambil tersenyum penuh arti.
“Siap pak, akan saya laksanakan”, tukas Vaijo sambil ngeloyor pergi.

Tiga hari kemudian, Vaijo kembali dipanggil ke ruang Geimonton.
“Vaijo, kamu tahu kesalahanmu?”
“Apa Pak?”
“Kan saya sudah bilang kalau uang itu harus dibagikan ke siswa yang rumahnya di dekat rawa-rawa, kenapa si Amirantil kamu kasih bagian?”
“maaf Pak, tapi rumahnya kan memang di sekitar rawa-rawa”
“Lancang!!!!! lihat daftar yang saya kasih Vaijooooooo, lihat, Amirantil itu rumahnya bukan di sekitar rawa-rawa, mereka itu keluarga kayaaaaa”
“Maaf sekali lagi Pak, tapi mereka sudah jatuh miskin tahun lalu, sekarang mereka tinggal di dekat rawa-rawa”
“saya gak mau tahu Jo, daftar biodata yang resmi dan dilindungi undang-undang itu ya daftar yang kamu pegang sekarang, kamu jangan bikin daftar sendiri dong, kamu bisa saya laporkan karena korupsi loh”.
“Maaf Pak, kalau begitu biar Bapak sendiri saja yang membagi, saya tidak enak karena bukan hanya Amirantil, ada sekitar 15 siswa lain yang statusnya sudah berubah jadi penghuni sekitar rawa-rawa Pak”, Bantah Vaijo.
“Kamu itu Jooooo, ini kan sudah era otonomi, kamu itu punya otonomi di asramamu, ya harus kamu yang membagi dong”
“kalau otonomi kenapa saya harus menuruti aturan dari Bapak? kenapa saya tidak bisa putuskan sendiri siapa yang berhak menerima bantuan ini?”
“Lho ya gak bisa gitu Jo, walaupun otonomi, tapi kamu kan masih digaji dari uang sekolah para siswa yang masuk ke saya, ya kamu harus tetap menuruti aturan saya”
“Kalau begitu ya tolong biodata siswa milik bapak supaya di-update dong, biar kalau ada apa-apa bukan saya yang dituduh korupsi”
“Kamu ini kok malah mendikte saya, kamu kira update data itu gampang?”
“kan Bapak bisa lakukan melalui para wali kelas?”
“Gila kamu, ya tidak bisa, harus saya sendiri yang melakukan, ini sudah peraturan Jo”
“Lalu gimana dong Pak supaya saya tidak dilabrak oleh para siswa penghuni rawa-rawa ini?”
“Gini saja, kamu bicarakan di forum musyawarah asrama, nanti kamu buat berita acara kalau ternyata ada penghuni rawa rawa baru, lalu kamu kasih mereka bagian juga, dan tetap jangan lupa sampaikan, ini kebijakan saya sebagai kompensasi pencabutan subsidi SPP kemarin agar uang para siswa lebih tepat sasaran”, jelas Geimonton panjang lebar sambil tersenyum merasa bijaksana.
“Trus berita acara itu diapakan Pak? apakah akan digunakan untuk memperbarui data siswa kita?”
“Ya lihat saja nanti Jo, yang penting masalahnya di tingkat asrama selesai, itu kan tanggung jawabmu sebagai wali kelas. Ini era otonomi Jooo, masa kamu paksa saya untuk bertanggung jawab dan update data saya, yang benar saja dong? kan sudah saya jelaskan, untuk saya mengupdate itu ada aturannya Jo”, makin panjang cerocos Geimonton .

Demikianlah akhirnya Vaijo melanjutkan pembagian sesuai arahan Geimonton, tentunya sambil menggerutu. “Otonomi macam apa ini, pantas banyak asrama yang minta memisahkan dari sekolah, pantas banyak yang tidak mau jadi wali kelas. Ah Sudahlah, hiduplah Otonomi Rayaaaaaaaa”, Vaijo mulai bernyanyi sendiri 😀

Hiduplah Otonomi Raya!

One Reply to “Hiduplah Otonomi Raya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *