Golput menang Pemilu | Hasil Pemilu 2014

Pemilu Legislatif di Indonesia telah dilaksanakan serentak pada tanggal 9 April 2014. Menurut beberapa portal yang melaksanakan Quick Count, hasilnya kira-kira sebagai berikut:

1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP): 18,90 persen
2. Partai Golongan Karya (Golkar): 14,30 persen
3. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra): 11,80 persen
4. Partai Demokrat: 9,70 persen
5. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB): 9,20 persen
6. Partai Amanat Nasional (PAN): 7,50 persen
7. Partai Nasional Demokrat (NasDem): 6,90 persen
8. Partai Keadilan Sejahtera (PKS): 6,90 persen
9. Partai Persatuan Pembangunan (PPP): 6,70 persen
10. Partai Hanura: 5,40 persen
11. (Tidak memenuhi electoral threshold) Partai Bulan Bintang (PBB): 1,60 persen
12. (Tidak memenuhi electoral threshold) Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI): 1,10 persen

Kali ini saya tidak akan membahas masalah parpol mana yang akan mengajukan calon presiden di pilpres mendatang. Sebagai informasi, partai (atau gabungan partai) hanya bisa mengajukan capres jika memperoleh 20% kursi di DPR atau 25% jumlah suara Nasional.

Saya lebih tertarik membahas mengenai klaim dari beberapa pihak (diantaranya disini atau disini) bahwa ‘pemenang’ pemilu kali ini, dengan jumlah suara ‘terbanyak’ adalah Golput, alias Golongan Putih, alias kelompok pemilih yang berniat untuk tidak memilih.

Golput Menang Pemilu 2014

Jumlah golput dalam pemilu kali ini diperkirakan mencapai 28,7 persen (Sebagai perbandingan jumlah golput di Amerika Serikat juga mencapai angka 30%). Bagi orang awam, angka ini tentu saja lebih besar dari partai politik yang menduduki peringkat teratas dalam pemilu 2014 ini. Dengan jumlah ini, apakah berarti Golput menang Pemilu? Saya rasa tidak. Secara kolektif, memang terlihat bahwa 30% masyarakat Indonesia seperti ‘memilih’ partai golput dalam pemilu kali ini.

Tetapi kalau misalnya kita bertanya kepada orang yang golput: Siapakah yang anda rasa cocok menduduki kursi pimpinan di Indonesia?

Mungkin anda akan menjumpai ratusan atau jutaan nama yang berbeda. Mungkin anda juga akan menemui jawaban seperti: ‘sistem negara yang ga beres’, atau ‘saya disuruh milih buah, padahal saya tidak ingin/alergi makan buah’. Intinya adalah ketidakpuasan terhadap sistem negara Indonesia, tetapi tidak punya kemampuan untuk memberikan solusinya. Mereka menyalurkan aspirasi ini dengan tidak memilih calon-calon pemimpin di pemilu kali ini.

Kalau golput yang karena masalah ‘teknis’ seperti nama tidak terdaftar, atau lokasi yang tidak memungkinkan mungkin ini adalah PR bagi pemimpin bangsa kita di lima tahun ke depan. Tetapi untuk yang meng-klaim bahwa Golput menang Pemilu 2014, mungkin mulai saat ini anda bisa memikirkan bagaimana solusi untuk negara ini, sehingga lima tahun lagi anda bisa mencalonkan diri sebagai pemimpin bangsa yang bisa memperbaiki defisiensi negara kita.

Golput

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *