Culdesac..

Ini agak curcol benernya.

Saat saya masih kerja sebagai HRD Manager di sebuah korporasi mini sekitaran Karawang, masalah terbesar saya adalah mencari pegawai. Tingkat pengangguran di Karawang sebenarnya tidak terlalu tinggi. Tapi tingkat pendidikannya yang cukup memprihatinkan. Lulusan SMU ato akademi pendidikan sesuatu, tapi tidak paham jobdesc (a.k.a. tugas-kewajiban) dari posisi yang mereka lamar.

Misal, apa saja tugas kasir?
Menghitung uang.
Sudah?
Sudah. Jawab mereka.

Apa saja tugas administrasi?
Mencatat dokumen2 perusahaan.
Sudah?
Sudah. Jawab mereka.

Dan ketika mereka bercerita tentang pengalaman kerja mereka di bidang yang sama, ya, itu2 jugak jawaban mereka.
Sehingga, saya sempat berpikir, ketika mereka berkerja dulu, apakah mereka BELAJAR SESUATU? Ato bahkan DIAJARI SESUATU?

Dan ini membawa saya kepada asumsi bahwa, tidak mungkin kita berkerja tanpa tahu jobdesc dan tidak mempelajari apapun. Karena pepatah BELAJAR SAMBIL BERKERJA adalah pepatah universal dan berlaku se-dunia tembus. Jadi, ini adalah masalah SIFAT DAN SIKAP (a.k.a. attitude) bawaan lahir ato bawaan lingkungan.

Karena sebelum di Karawang, saya jugak sempat jadi HRD Manager untuk sebuah radio baru yang sekarang mulai kondang di Bandung. Dan jawaban pelamar tidak se-absurd itu. Well, ada jugak yg absurd sih. 20 dari 34 orang lah. Tapi masih lumayan kan.

So teori saya, pelamar2 yang seperti itu exist tidak lain dan tidak bukan karena pengaruh lingkungannya. TV, RADIO, ORANGTUA, TEMAN, dan lainnya. Dari sesuatu yang mereka sudah terbiasa, lalu menganggap hal itu sebuah kewajaran. Maka, jangan heran ada anggapan bila mau jadi PNS ada “jalan tembus” berharga ratusan juta. Ato gosipnya, ada “imbalan” tertentu bila mau mulus jadi polisi.

Parahnya, di tingkat Dewan Perwakilan Rakyat (pusat ato daerah), anggapan ini masih ada jugak. Bahwa anggapan bila menjadi anggota dewan yang terhormat, akan meraup penghasilan puluhan juta sebulan. Memang, untuk menjadi anggota dewan ada harganya. Ongkos kampanye tidaklah murah. Entah itu membayar ke partai ato kemana, tapi tetap saja banyak ingin sekali menjadi anggota dewan. Sialnya, ongkos ini kabarnya berlipat2 dari “jalan tembus” menjadi PNS belaka. Dan bagaimana mereka mengkonversi ongkos itu setelah berhasil menjadi anggota dewan yang terhormat?

Yang terlupakan dari frase DEWAN PERWAKILAN RAKYAT adalah, mewakili suara rakyat di lapangan. Entah rakyatnya mengeluh jalan desanya rusak parah. Ato raskinnya kerikil semua. Suara rakyat disalurkan via ANGGOTA DEWAN YANG TERHORMAT agar disampaikan kepada pemerintah ato pihak yang berwenang supaya ditemukan solusinya. Karena, sedikit ato banyak, GAJI ANGGOTA DEWAN BERASAL DARI OLAHAN KERINGAT RAKYAT VIA PAJAK. Singkatnya, apalagi klo bukan rakyat MEMPERKERJAKAN anggota dewan yang terhormat?

Lalu, bagaimana dengan fenomena GOLPUT? Simpelnya, bisa jadi rakyat memilih golput karena tidak tahu siapa saja wakil mereka di dewan perwakilan rakyat, ato rakyat beranggapan bahwa tidak ada yang bisa mewakili mereka dengan baik. Masalah kronis ini sebenarnya sangat gampang diatasi.

Tirulah calon perwakilan rakyat seperti di Jepang. Mereka ber-kampanye dari RT ke RT, mengadakan pertemuan dengan rakyat langsung ke pusat masalah dari lingkup terkecil. Bukan malah buang2 uang bikin konser dangdut ato konser musik..

Bila saja calon perwakilan rakyat MAU anjangsana dari lingkup terkecil seperti perkampungan miskin, tidak perlu janji2 madu, cukup datang saja ber-anjangsana dan bertukar pikiran dengan JUJUR, kiranya rakyat akan ingat wajah dan nama calon tersebut. Berapa sih biaya anjangsana? Sudah dikenal rakyat, di ingat rakyat, rakyat tahu pulak wakilnya hendak berbuat apa demi rakyat. Paket hemat kan?

Tentu lain halnya dengan cuma membayar sekian ke partai, lalu duduk manis ikut perintah partai untuk ikut konser musik kemana. Gimana rakyat bisa coblos itu wajah calon klo ketemu-pun belum pernah? Dimana gregetnya?

Tiba2 saya ingat mantan pembantu keluarga kami yang kerja tepat waktu. Datang jam 8 pulang jam 9. Kadang lebih cepat dari itu. Ngepel masih bau amis. Cuci piring masih berminyak. Gosok baju masih ada lipatannya. Tepat 3 bulan, mintak naik gaji pulak. Terakhir keluarga kami berhubugan dengan pembantu itu ketika adik saya, sekaligus ibu saya, kehilangan handphone dalam jangka waktu berbeda menit ketika pembantu itu kerja. Saat ditanya, malah bilang “masih untung saya mau jadi pembantu ibu” dan “ya ini cara saya kerja, saya sudah biasa begini koq” dan “yang lain tidak pernah protes, kenapa ibu protes terus” dan “saya berhenti kerja saja.”..

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *