Raja Tega

Masih tersisa kenangan hampa
akan arak-arakan manusia
yang sedemikian hingar bingar
memenuhi jalan aspal datar

Emosi yang mengumpul
jadikan logika menjadi tumpul
abaikan perjanjian kebersamaan
karena yang ada hanya kata lawan

Menang kah mereka?
atau jadi domba piara saja?
untuk jadi tumbal pemimpin
yang jumawa duduk di kursi pengantin

Entah nanti bagaimana
nasib domba-domba yang masih tersisa
dibiarkan mati terjerembab lumpur
atau dijagal raja tega dan dikubur

Generasi Baru

Jejak langkah kaki penguasa yang tersisa
menghamburkan semua rasa jumawa
akan bayang-bayang senja
kesejahteraan rakyat jelata

Akankah semua tetap seperti ini
sedihnya cerita sebuah negeri
yang sekarang masih kita tinggali
sebagai tempat merebahkan diri

Yakin yang tersisa tak cukup jawabnya
nafas yang tersisa mungkin sia-sia
tapi tak ada yang terjadi tanpa makna
karena kitalah yang akan mengubahnya

Akan semua janji yang pernah terucap
untuk semua harap yang masih didekap
ijinkanlah kami tuk tak lagi meratap
karena esok kami akan datang berderap

#NKRI Harga Mati!

Negeri ini dibangun di atas darah dan air mata… Pun tak semua yang tinggal memperjuangkannya… Apalagi kita yang hanya tinggal menikmati kemerdekaan saja… Mencari pembenaran atas semua sikap egois dan hedonisme semata…

Ketika lapang menghambur-hamburkan… Ketika sempit mengutuk dan meradang… Ya, harus diakui sikap-sikap kerdil semacam itu masih ada dalam pribadi kita... Untuk kemudian baiknya kita evaluasi dan perbaiki dalam hening jiwa…

Remah-remah kenangan dan masa lalu atas fatamorgana kebesaran bangsa… Sebetulnya hal itu nyata adanya… Bahwa pada suatu ketika… Negeri ini pernah menjadi pusat dunia…

Ini adalah impian, tanggung jawab, dan hak kita untuk memperjuangkannya… Jangan terlena oleh segala tipu daya bahwa kita tak mampu mengubah nasib kita… Revolusi harus dimulai dengan akal, hati dan tangan kita ini… Sebarkan kebaikan dan semangat juang sampai maut menghampiri…

Esok Sebelas Maret

Esok sudah sebelas maret dua ribu empat belas
seakan semua noda sejarah itu kembali lagi membekas
darah yang tertumpah dan belum sempat terbilas
kembalikan imaji atas jiwa-jiwa yang diadili tanpa batas

Sebentar lagi sembilan april dua ribu empat belas
waktu untuk memilih wakil kita yang tegas
yang mau dengarkan suara hati kita yang bernas
yang sudah terlalu lama terkungkung dan tertindas

Oh, kemudian sekian bulan lagi juli dua ribu empat belas
saat dimana kita akan memilih pemimpin bangsa yang cerdas
yang mampu membuat bangsa ini bangkit terentas
dan kembalikan lagi semangat hidup tuk tetap bernafas

Kemudian setelah itu kita tinggalkan dua ribu empat belas
hidup dengan segala konsekuensi pilihan yang bebas
menapaki empat lima tahun ke depan dalam lugas
dan berdoa semoga semua pilihan dapat dijalani tuntas

Sejenak Terhenti

bg-thumb-100

Nafasku yang memburu
sejenak terhenti ketika kudengar suara itu
suara yang kembalikan kesadaranku
dimana ku sudah demikian terjebak dalam lorong waktu

Akankah kesadaran ini nyata
akankah menjadi sesuatu yang bertahan selamanya?
ataukah hanya sementara
dimana waktu semakin habis adanya?

Fatamorgana keadilan
rakyat dan pegawai kecil yang tercampakkan
ternista ketika melakukan tugas dan kewajiban
dilindas kesombongan dan kebiadaban

Adakah kita mendengar mereka?
teriakan-teriakan sunyi tanpa kata
yang terwakili oleh wajah-wajah tanpa daya
yang tak kuasa melawan perintah atasan-atasannya

Sendu pun mulai menyelimuti negeri
yang nafasnya sudah mulai habis dan terhenti
dan ketika lonceng mulai berbunyi tandakan revolusi
dimanakah kita harus berpijak dan memposisikan diri?