Racism vs Islamophobia

Racism vs Islamophobia

I am sure in the last couple of years you have heard these words interchangeably used to describe someone who has negative views towards Islam or muslims. One side of the argument believed that since Islam was not strictly a race, it was wrong to label a person as such. Whereas, the other believed that islamophobia was some sort of racism.

Let’s take a look at a short background of each word:

Racism

Wikipedia stated that Racism consists of ideologies and practices that seek to justify, or cause, the unequal distribution of privileges or rights among different racial groups.

Despite the absence of the word in the past, racism had a long and bad history. Most people would hate to be associated with the word ‘racist’. Although there are some who probably would proudly say that they are.

Islamophobia

On the other hand, wikipedia stated that Islamophobia (or anti-Muslim sentiment) is the prejudice against, hatred towards, or fear of the religion of Islam or Muslims.

It is believed that recent global events have given way to the rise of this kind of phobia.

Racism vs Islamophobia

I was involved in a pretty enlightening discussion about the topic when someone posted a review that started with ‘It was a sad day when I found out my favourite food was halal’. Obviously, the first few comments were that of shocks and horrors… and all of the reaction you could think of. It also gave way to the views I stated at the beginning of this piece: whether or not Islam is a race. After further exchanges of ‘pleasentries’, it came to a point of no resolution… I’m pretty sure quite often most discussions arrived at that point… and resulted in both parties going their separate ways.

The only people winning in this instance are the hardcore groups from each side… and humanity lost…

My personal take on this issue is that we should stop using the word ‘racism’ to describe people who are afraid of Islam or muslims. I am sure none of us (normal people) would like to be branded as such. Also, some of them might just be some clueless followers who are just afraid with the overabundance of bad information circulating these days.

With that mindset, we can safely say that there is no incurable phobia… every phobia is curable… Islamophobia included. There is, of course, the scientific ways to cure… however, people tend to forget an easier (and cheaper) way to do this: communicate (aka talk!).

After all, the vast majority of muslims are just an average Joe/Jane like you and me. You can talk to them and I can guarantee they won’t blow you up!

Racism vs Islamophobia

Dongeng, Fabel, dan Hoax

Anak saya suka bercerita, dia juga suka mendengar cerita. Kalau giliran istri yang ditodong bercerita, istri saya yang Sholihah itu tidak pernah kehabisan bahan cerita dari kisah-kisah nabi dan rasul maupun sahabat yang dulu sering diceritakan oleh guru ngaji dan para kyai. Kalau giliran saya tiba, saya akan membongkar memori untuk menceritakan kisah kisah ala RA Kosasih, Dongeng Hans Cristian Andersen, Dongeng Perault, Fabel Aesop, dan cerita-cerita lain yang pernah saya baca atau dengar. Setiap mendengarnya bertanya dengan antusias dan kemudian menceritakan kembali kisah yang baru dia dengar itu ke orang lain, rasanya hati ini sejuk sekali 😀

Sesungguhnya saya selalu meyakini shahihnya nasehat bahwa mendongeng kepada anak akan sangat membantu proses perkembangannya. Selain mengajari dan memperkaya perbendaharaan katanya, banyak pula hikmah yang bisa kita ambil dan ajarkan dari sana. Namun sayangnya, kini banyak yang justru menodai nikmatnya mendongeng ini dengan membuka aliran baru bernama aliran Hoax. Daripada mengarang cerita dan mengakuinya sebagai karangan, sebagian orang lebih suka menulis sesuatu seolah-olah itu nyata dan ilmiah padahal bukan alias hoax, perilaku yang menyesatkan.

Lantas apa bedanya hoax dengan dongeng atau fabel? Kan sama-sama hasil rekaan? Memang di dunia ini banyak hal yang kalau dilihat dari permukaan terlihat mirip padahal bagi yang memahami, secara substansi sangat berbeda. Contohnya Rugby dan American Football, softball dengan kasti dan baseball, orang berteman baik dengan orang pacaran, Jurusan Teknik Informatika dengan Sistem Informasi, dan masih banyak lagi. Sama seperti hoax dengan dongeng atau fabel, kalau hanya berpijak pada statusnya sebagai hasil karangan atau setengah karangan memang sama saja, tetapi substansi dan akibat yang ditimbulkan pada penikmat (pendengar atau pembaca) jelas berbeda.

Ini sebenarnya trik komunikasi kuno, bahwa orang umumnya akan lebih fokus pada yang pertama didengar daripada yang belakangan. Ini sebabnya sebagian orang akan lebih mudah bersimpati kepada wanita yang baik meskipun pembohong daripada kepada wanita pembohong meskipun baik. Pernah mengikuti presentasi program atau promosi produk? Biasanya tentu yang dipaparkan di awal-awal adalah kelebihan dan keuntungan, kerugian biasanya tidak disampaikan kalau tidak ditanya, atau disampaikan tapi belakangan dengan nada yang tidak sebersemangat saat menyampaikan kelebihannya. Namun bagi mereka yang mengerti cara berkomunikasi, mereka tentunya tidak akan terjebak trik semacam ini dan tetap berusaha memahami isi sebuah pesan secara menyeluruh.

Dongeng dan Fabel, sedari awal sudah diakui sebagai sebuah hasil rekaan atau karangan. Pengakuan ini membuat penikmatnya lebih bisa fokus menikmati cerita ataupun hikmah di dalamnya. Mereka juga tidak akan menerapkan hikmah yang didapat dengan sembarangan karena tahu bahwa pijakannya adalah sebuah karangan atau impian. Seperti pada dongeng cinderella misalnya, orang akan lebih mudah menerima hikmah pentingnya bersabar dan tentunya tidak akan berharap akan kemunculan ibu peri karena tahu kalau itu hanya dongeng. Seperti halnya orang bermain super mario bros akan tahu kalau memakan bunga tidak akan membuatmu bisa menembakkan bola api :D.

Cerita tersebut akan lain ceritanya kalau labelnya bukan dongeng melainkan “kisah nyata” atau “berdasarkan kisah nyata”. Apalagi kalau penulisannya dibuat seolah olah ilmiah. Misalnya cerita tentang seorang anak yang drop out kuliah kemudian menjadi sukses atau tentang anak sekolah yang sering bolos, tidak ikut les, cuma bermain-main selama di sekolah tetapi lulus ujian masuk PTN ke jurusan yang favorit atau bahkan cerita wanita yang tidak terkena masalah prostat karena kencingnya sambil jongkok :p. Karena dianggap sebagai kisah nyata, orang akan mendengarkan dengan semangat “ini nyata, aku juga bisa”. Pola pikir ini bagus, tapi akan berbahaya kalau kisahnya tidak utuh atau ada bagian yang sengaja dikurangi. Orang awam bisa terjebak untuk lebih menangkap bagian “tidak apa apa drop out, tetap bisa sukses” dan “tidak apa sekolah cuma main-main, tetap bisa lulus ujian masuk PTN” daripada bagian usaha dan kerja kerasnya yang tidak diberi porsi cukup banyak dalam cerita. Atau bahwa si anak sekolah ini rupanya kalau malam hari di rumah selalu belajar tapi sengaja tidak diceritakan :p. Dan lebih berbahayanya lagi kalau seperti awal tulisan ini, objek penikmatnya adalah anak-anak, bayangkan saja akibatnya hehehe :D.

Saya akui, memang banyak hoax yang diawali dengan pengantar “true story” atau sejenisnya yang memang hikmahnya sangat bagus. Tapi menyebarkan kebaikan dengan kebohongan itu………. Ya tetap berbohong namanya. Kenapa sih harus malu-malu mengakui kalau cerita kita itu hanya rekaan saja, toh kalau memang niatnya berbagi kebaikan, InsyaAllah tetap akan tersampaikan meskipun gelarnya bukan “kisah nyata”. Ingatlah bahwa Cerita Khayal yang sukses dengan kisah nyata maupun yang diakui sebagai kisah nyata yang sukses menempati rak best seller yang sama, harganya juga tidak jauh beda, tetapi substansi kejujurannya jelas berbeda :D.

Menempatkan Mindset Pada Tempatnya

Mindset adalah istilah kerennya, ada yang menyebutnya pola pikir, tapi saya lebih suka menyebutnya SINA (Sistem, Nilai, dan Asumsi).  Dia adalah seperangkat alat sholat dibayar tunai jargon, nilai-nilai, satu set sikap jika begini harusnya begitu dan seterusnya. Namun untuk menghormati bahasa langit ala kekinian, biarlah kita tetap menyebutnya mindset, seterusnya akan saya tulis tidak cetak miring karena melelahkan :D. Mindset ini juga memiliki posisi, kalau ditempatkan di tempat yang salah justru akan mengacau permainan. Bayangkan apa yang terjadi kalau dalam permainan bola seorang bek ditaruh di posisi striker dan sebaliknya, itu hanya akan berhasil kalau main winning eleven memakai tim brazil saja (iya, anda, yang hobi pake Roberto Carlos jadi striker :p ).

Mindset ini penting, karena mindset ini akan menentukan sikap kita terhadap maupun dalam melakukan sesuatu. Misalnya:

1. Dalam pertandingan, suporter tuan rumah memiliki mindset “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” sementara tim tamu justru menganut “wajib menjamu tamu”. Bisa ditebak hasilnya, ya bakal ribut. Seandainya kedua mindset itu ditukar posisinya, mungkin mereka akan damai damai saja.

2. Sebagian Anak-anak muda yang kurang menghormati orang tua (bukan orangtua) karena menganut prinsip “orang dilihat kemampuannya, bukan usianya”, sebaliknya justru ada sebagian orang-orang tua yang memperbodoh diri di depan anak-anak muda karena menjunjung tinggi prinsip “orang tua harus dihormati”.

3. Bawahan yang menganut prinsip “pimpinan harus mengayomi bawahan” dengan pimpinan yang memiliki mindset “pimpinan harus dihormati” jelas akan sering berkonflik, padahal hal ini bisa dihindari dengan mudah kalau saja mindset mereka tidak tertukar.

Dari contoh-contoh di atas bisa terlihat pentingnya menata mindset pada tempatnya. Tuan rumah yang ingin memuliakan tamu dengan tamu yang ingin menghormati tuan runah tentunya akan jauh lebih damai daripada tuan rumah yang ingin dihormati dengan tamu yang ingin dimuliakan :D. Sesederhana itu? Iya. Semudah itu? Memang tidak :D.

Untuk bisa meletakkan mindset pada tempatnya, tentu kita harus terlebih dahulu mengetahui posisi kita. Kalau sulit melakukannya sendiri, tidak ada salahnya minta tolong orang lain yang tepat untuk menunjukkan pada kita. Setelah mengetahui posisi, saatnya menyapa mr. Ego, terkadang perlu sebuah leap of faith dan kerendahan hati untuk mau menerima posisi kita sebagaimana adanya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana kalau hanya satu pihak yang mindsetnya tertukar dan kebetulan itu adalah orang yang kita hadapi? Anda sebagai pimpinan merasa sudah mengayomi bawahan tapi mereka masih ngelunjak saja? Atau kasus lain?. Yang pertama perlu dilakukan adalah ulangi paragraf persis di atas dan pastikan semuanya sudah benar dan anda sudah jujur pada diri sendiri.

Kalau itu sudah dilakukan, baru kita bisa mulai mengevaluasi orang lain apakah mindsetnya sudah sesuai dengan posisinya. Tidak ada yang salah, dalam berpikir kita memang bisa bebas, beda lagi kalau bertindak, total freedom only bring total chaos :D. Tapi tentang bagaimana tindakan yang harus diambil, tentunya tidak akan saya bahas di sini, saya hanya ingin menyampaikan penting memiliki mindset yang benar, ini masalah intrapersonal, saya bukan mau membahas masalah interpersonal :D.

Through the Grapevine

Through the grapevine or Chinese Whispers

Saya ingin menulis topik yang mungkin sudah agak lawas, tapi (menurut saya) tetap menarik untuk dipertimbangkan. Apalagi di jaman pemilihan umum partai dan presiden tahun 2014 ini, dimana berita datang dari segala arah dari sumber yang (mungkin) sudah tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi kebenarannya.

 

Arti kata through the grapevine

Jika diterjemahkan secara harfiah – lewat kebun anggur – mungkin agak aneh, karena itu merupakan idiom bahasa Inggris. Menurut the free dictionary, through the grapevine dapat diartikan: to hear news from someone who heard that news from someone else.

Saya mencoba berdiskusi dengan teman-teman di facebook dan mendapatkan beberapa kata yang kurang lebih sama artinya: gosip, rumor, kabar angin, dari mulut ke mulut, dengar-dengar, kasak-kusuk, konon, dan kabar burung.

 

Contoh through the grapevine

Contoh termudah dari through the grapevine adalah permainan bisik berantai. Website ekapgsd menjabarkan tata cara permainan ini sebagai berikut:

“Permainan ini dilakukan dengan cara, setiap siswa harus membisikkan suatu kata (untuk kelas rendah) atau kalimat atau cerita (untuk kelas tinggi) kepada pemain berikutnya. Terus berurut sampai pemain terakhir. Pemain yang terakhir harus mengatakan isi kata atau kalimat/ cerita yang dibisikkan. Permainan ini dapat dilombakan dengan cara berkelompok.”

Mungkin jika ada kesalahpahaman diantara siswa pertama dan terakhir, imbasnya hanyalah kekalahan tim mereka dari tim lain.

Tetapi di dunia nyata, hal tersebut akan berakibat yang mungkin agak fatal. Apalagi jika hal itu menyangkut ideologi, ras dan agama.

Saya ambil contoh menarik tentang berita ‘Polisi Inggris Larang Wanita Berjilbab Keluar Sendirian‘, tentu saja hal ini teramat sangat menarik untuk tidak diperdebatkan oleh orang-orang yang sudah berantipati dengan yang namanya ‘budaya barat’, ‘remason’, ‘wahyudi’, atau apapun. Padahal, berita tersebut sudah merupakan potongan dari berita yang dimuat oleh salah satu akun yang dibuat di blogspot.

Kebetulan saya dapat menemukan artikel asal berita ini dari Daily Mail yang menyebutkan bahwa masyarakat dihimbau untuk tidak keluar sendirian karena baru saja ada mahasiswa Arab yang ditusuk 16 kali ‘karena memakai jilbab’. Jika kita telaah lebih lanjut isinya ada statemen ‘… leading police to believe she may have been targeted for religious reasons’ dan ‘police have warned residents to be aware of their surroundings and not to go out alone in isolated places’.

Dua statemen tersebut diterjemahkan dan di singkat ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Polisi saat ini meyakini, jika kejadian ini ada hubungannya dengan jilbab yang dikenakan’ dan ditambahkan dengan judul yang bombastis tersebut dengan diberi unsur keagamaan.

Bisa anda bayangkan iterasi berikutnya jika ada orang seperti penulis komen dibawah ini akan menceritakan berita tersebut ke lingkungannya?

‘di negara barat muslim di ancam keberadaan identitas nya,di indonesia khusus nya ibu kota jkt malah di jadiin pemimpin dr kaum mereka,si ahok jd ngelunjak tuh mau ngilangin kolom agama di ktp,mau di bawa kmn negara muslim terbesar di dunia ini?mau mau saja di pimpin oleh orang2 yg non muslim,yg muslim bnyak yg lebih berprestasi dan berakidah jgn di liat yg buruk mulu,apa kata dunia klo indonesia 30 thn kemudian presiden nya bernama kwiek chong liong atau martinus?pikir klo milih pemimpin jgn cuma di nilai dia tegas dan memajukan bangsa tp dg menggadaikan identitas kita berpuluh2 kemudian,mereka ini sedang investasi kawan,jgn sampai ntar anak cucu kita di larang berjilbab dg alasan mengganggu dan bisa menimbulkan diskriminasi,jangan sampai’

Through the grapevine or Chinese Whispers

Kiat Sukses Sir Alex Ferguson

Sir Alex Ferguson

 

Jika anda mengikuti perkembangan sepak bola dunia, sosok Alex Ferguson pasti sudah tidak awam lagi. Selama 26 musim, beliau adalah manager Manchester United yang telah mempersembahkan 13 piala Liga Inggris dan 25 piala-piala lain, termasuk diantaranya 2 Piala Champions League (tahun 1999 dan 2008).

Sir Alex Ferguson

Kehebatan beliau teruji ketika rival-rival telah digelontorkan uang ratusan milyar poundsterling dari juragan minyak Timur Tengah dan Rusia. Manchester United tetap saja bercokol di puncak klasemen Liga Inggris. Harvard Business Review baru-baru ini merilis artikel mengenai Kiat Sukses Sir Alex Ferguson yang bertajuk ‘Ferguson’s Formula‘.

 

Mari kita simak rahasia sukses beliau!

1. Mulailah dari Fondasinya

Sir Alex percaya bahwa beliau tidak hanya membangun sebuah tim sepak bola, tetapi membangun klub sepak bola. Oleh karena itu, beliau sangat mementingkan pengembangan bibit-bibit masa depan Manchester United. Hal ini terbukti di sekitar tahun 90an dan 2000 dimana pemain-pemain seperti David Beckham, Ryan Giggs, dan Scholes dihasilkan dari sekolah sepakbola Manchester United!

2. Berani membongkar tim

Berapa banyak manager yang berani menjual pemain terbaiknya di masa keemasaannya? Mungkin hampir tidak ada. Tetapi Ferguson tidak takut menjual pemain-pemain seperti David Beckham, Van Nistelrooj, dan Cristiano Ronaldo yang notabene merupakan ujung tombak tim.

Hal ini bukan bermaksud untuk membongkar keharmonisan tim, tetapi lebih kearah kontribusi pemain-pemain tersebut 3 tahun yang akan datang. Forward-thinking inilah yang menyebabkan Sir Alex Ferguson mampu bersaing dengan tim-tim karbitan yang mulai marak di Liga Inggris.

3. Pasang Standar Tinggi – dan pastikan semua mengikutinya!

Ferguson menjunjung tinggi sifat pantang menyerah dan selalu berusaha melakukan yang terbaik, bahkan hal ini ditekankan melebihi skill teknis yang diajarkannya. Beliau selalu mencari pemain yang merupakan ‘Bad Losers‘ dan pekerja keras. Sifat ini menjalar ke hampir semua pemain yang berada di bawah naungan beliau. Mereka tidak akan terima jika ada pemain lain yang tidak berjuang sekuat tenaga (tidak peduli mereka adalah pemain yang paling terkenal).

4. Jangan Pernah Kehilangan Kontrol

Hampir semua pemain sepak bola Liga Utama Inggris adalah milyarder. Manager harus memastikan bahwa dia tidak dikontrol oleh pemain atau bahkan berani menjual pemain yang mempunyai aura negatif terhadap kepentingan tim. Ferguson berani memecat / menjual kapten tim Roy Keane dan Ruud Van Nistelrooj ketika mereka mulai tidak kooperatif. Hal ini berguna untuk mencegah berkembangnya issue yang lebih besar.

Sir Alex Ferguson

5. Sampaikan Pesan sesuai dengan momen-nya

Sir Alex Ferguson mungkin sangat terkenal dengan ‘Hairdryer treatment‘ nya yang konon membuat pemain sangat takut mendengarnya. Tetapi di sisi lain, beliau juga tidak akan segan memberikan ucapan selamat kepada pemain yang telah berjuang sekuat tenaga. Bahkan beliau sering berbicara dari hati ke hati kepada pemain yang tidak masuk tim inti.

Hal terpenting adalah kita harus mengatakannya pada saat itu juga. Jika ada pemain yang berbuat salah, beliau akan memberikan ‘uneg-uneg’-nya saat itu saja, tetapi tidak akan berkepanjangan.

6. Siap Menang

Anda tentu masih ingat di tahun 1999, Manchester United tertinggal 0 – 1 sampai menit ke 90. Tetapi apa yang terjadi kemudian? di 3 menit ‘Added Time‘, United berhasil memasukkan 2 gol ke jala Bayern Munich.

Ferguson memang terkenal sebagai gambler – tukang mengambil resiko – karena menurut beliau, jika ada pergantian taktik, Manchester United masih mungkin bisa memenangkan pertandingan. Jika masih tetap kalah? Ya Nasib…

7. Observasi

Sir Alex bukan merupakan manager yang micro-manage tim nya, beliau mendelegasikan tugas sehari-hari kepelatihan ke asisten-asistennya. Ini bukan berarti beliau kongkow-kongkow dan ngopi, tetapi beliau mengobservasi kondisi tim nya. Dengan cara ini, beliau bisa mengetahui kondisi psikis pemain-pemainnya: apakah dia lagi down? punya masalah pribadi? kecapean?

8. Tidak pernah berhenti beradaptasi

Mungkin Manchester Unitead tidak (belum) dibacking oleh juragan minyak Timur Tengah atau Rusia, tetapi kemampuan beliau untuk beradaptasi tidak kalah dengan pelatih klub-klub tersebut. Tetapi kalau masalah fasilitas, MU tidak kalah! Mereka punya fasilitas training terbaik di Eropa yang dilengkapi dengan medical facility dan bahkan menyediakan ruangan Vitamin D buat pemainnya karena di Manchester sangat jarang terkena sinar matahari.

Alex-Ferguson-1803070