KORUPSI

Korupsi atau rasuah berasal dari bahasa Latin corruptio yang merupakan kata kerja corrumpere bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Bila menilik pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, Korupsi berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Adapun kemudian terdapat frase baru berupa Korupsi Waktu yang berarti penggunaan waktu dinas (bekerja) untuk urusan pribadi.

Penyempitan kata corruptio – corrumpere kepada masalah uang dan waktu, bisa saja diperlebar lagi sesuai kebutuhan definisi kata kerja ke-kinian. Misalnya, Korupsi Informasi, yaitu penyelewengan atau perubahan informasi dasar menjadi informasi tertentu yang dibutuhkan seseorang atau pihak tertentu. Atau bisa juga Korupsi Kebijakan, yaitu sebuah upaya penyalahgunaan kekuasaan-kewenangan dari seorang pejabat tertentu demi keuntungan dirinya sendiri ataupun pihak lain. Tidak tertutup juga bahwa pelebaran kata corruptio – corrumpere menuju kepada sebuah kata sifat Korup yaitu sifat jelek-busuk dalam hal memanipulasi segala hal yang dapat menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Dan banyak lagi kemungkinan pelebaran makna kata corruptio – corrumpere suatu saat di masa depan yang tidak hanya berhubungan dengan uang.

 

Korupsi ibarat sebuah kanker dalam kehidupan bermasyarakat. Kapanpun bisa dilakukan, akan dilakukan pelakunya dengan gamblang maupun sembunyi-sembunyi. Banyak hal dikatakan menyebabkan penyebaran Korupsi ini bisa begitu massif-terstruktur-dan sistematis. Berikut diantaranya:

  1. Kebutuhan. Saat orang butuh dan tidak ada jalan instan, maka Korupsi menjadi jalan keluar.
  2. Kesempatan. Kapanpun disaat system tidak mendukung sebuah pengawasan, Korupsi dapat juga dilakukan. Karena kesempatan dapat terjadi bila pengawasan berkurang.
  3. Organisasi. Sebuah bentuk Korupsi dapat lebih mudah dilakukan bila dalam sebuah organisasi ataupun system itu sendiri mendukung terjadinya Korupsi. Faktor pertemanan ataupun atasan menyebabkan Korupsi dapat terjadi. Alasan dasarnya adalah, rasa sungkan dan saling melindungi teman atau atasan itu sendiri.
  4. Hukuman. Saat pelaku tahu bahwa hukuman dari Korupsi adalah ringan atau bisa dibuat ringan, maka upaya Korupsi akan semakin kuat dapat dilakukan.
  5. Kebudayaan. Ini adalah faktor yang masih terhubung dengan hal Organisasi diatas. Saat budaya kita sejak kecil diajarkan untuk tidak tahu malu, dan permisif terhadap kejahatan, dan juga mendapat contoh dari lingkungan sekitar, maka akan semakin susah Korupsi ini dihindarkan.

 

Upaya membersihkan Korupsi tidak hanya soal menangkap pelaku Korupsi yang sudah terjadi. Tapi juga mengupayakan sebuah pencegahan Korupsi yang massif-terstruktur-dan sistematis pula. Maka berikut beberapa contoh pecegahan Korupsi berdasarkan lawan dari penyebab Korupsi, sesuai penybab diatas:

  1. Kebutuhan. Bila memang uang menjadi sebuah kebutuhan yang menjurus kepada Korupsi, maka remunerasi atas sebuah jabatan wajib diberikan, sesuai besarnya resiko jabatan tersebut. Semakin tinggi resiko jabatannya, semakin besar pula remunerasi-nya harus dilakukan. Misalnya dalam jabatan Polisi, Hakim, Kepala Satuan Kerja, dll.
  2. Kesempatan. Kelemahan pengawasan sering terjadi menyebabkan Korupsi dapat dilakukan. Mandulnya system pengawasan inspektorat sebuah manajerial, atau lemahnya system cek dan ricek administrasi bisa juga menyebabkan terjadi pembiaran dan berujung kepada Korupsi. Menutup kesempatan Korupsi via system transparan yang dapat dibaca, dilihat, dan dipantau semua stake-holder sebuah bagian kerja dapat menunjukkan di sisi mana sebuah lubang system berujung Korupsi dapat terjadi. Namun diatas itu adalah disiplin dan sumpah jabatan atas sebuah pekerjaan. Bila disiplin dan sumpah jabatan itu dapat dipegang teguh, digabung dengan transparansi, dan pembenahan system administrasi dan system pengawasan, seharusnya akan semakin menutup kesempatan terjadinya Korupsi.
  3. Organisasi. Cara paling cepat dan akurat dalam membersihkan pelaku Korupsi dalam sebuah organisasi adalah dengan menyingkirkan dan menghukum berat pelaku Korupsi. Dengan membersihkan pelaku Korupsi dari sebuah organisasi, maka akan semakin menutup kemungkinan menyebarnya kanker Korupsi ini dalam sebuah organsasi. Semakin tinggi jabatan pelaku Korupsi dalam sebuah organisasi, maka sepatutnya dihukum lebih berat sebagai sebuah contoh.
  4. Hukuman. Dalam sebuah diskusi, Al A’raf dari Imparsial dan Mohammad Mahfud MD sempat berpendapat tentang urgensi Hukuman Mati bagi pelaku Korupsi. Dan bila Korupsi menyebabkan kesengsaraan seperti terorisme, maka seharusnya Hukuman Mati bagi pelaku Korupsi dilaksanakan saja tanpa kecuali, demikian kata Mohammad Mahfud MD. Adapun Al A’raf berpendapat bahwa bila system peradilan di Indonesia masih bisa di intervensi siapapun, maka tidak tertutup kemungkinan orang yang kurang bersalah maupun tidak bersalah, dikorbankan alih-alih aktor utama Korupsi ditangkap ataupun dihukum. Bahwa sudah terkena hukuman berat-pun, misalnya belasan tahun, terhukum Korupsi mendapatkan remisi-remisi yang memperpendek masa hukuman. Seyogya-nya bila serius dan konsisten dalam penegakan hukum, maka hukuman kepada pelaku Korupsi adalah berat, tanpa remisi, tanpa pengampunan. Toh, seperti pendapat Mohammad Mahfud MD, dalam perjalanan mendapatkan hukuman yang berat itu pelaku Korupsi sudah mengalami berbagai system cek dan ricek yang sesuai fakta peradilan transparan bahwa Korupsi itu benar dilakukan pelaku. Dalam kata lain, susah dibayangkan bahwa terjadi apa yang pernah dikatakan seorang terhukum Korupsi: “semua bisa diatur.”
  5. Kebudayaan. Untuk mencegah kanker Korupsi ini menyebar dengan massif-terstruktur-dan sistematis, butuh banyak pihak untuk berkerjasama memberi pengertian, pendidikan, dan contoh bagi generasi muda. Agama, ajaran keluarga, perilaku lingkungan, adalah bentuk dasar pengertian, pendidikan, dan contoh yang harus dilaksanakan dari awal. Misalnya, menghentikan perilaku berbohong orangtua kepada anak dari level paling kecil. Karena dari perilaku begitulah yang cepat dicontoh dan dianut oleh generasi muda. Finalnya, bahwa sekolah bukanlah ujung tombak belajar segala macam hal dari agama, ilmu, dan etika. Tapi sekolah merupakan langkah pertama praktek bersosialisasi generasi muda. Di sekolah dan di fakultas perguruan tinggi, adalah lingkungan untuk menunjukkan bahwa generasi muda mendapat didikan bagus budi pekerti dan etika. Lalu darimana pelajaran dasar budi pekerti-etika didapat? Dari lingkungan keluarga. Itu adalah lingkar pertama budaya menghentikan kejahatan dalam bentuk apapun, termasuk Korupsi, seharusnya dimulai. Sedangkan lingkungan, adalah lingkar kedua. Kita tidak hanya wajib mengajar dan memberi contoh kepada anak dan keluarga sendiri, tetapi juga kepada lingkungan sekitar kita. Dan contoh serta pelajaran ini, harus dimulai dari generasi yang paling muda, anak yang paling kecil. Orangtua tidak bisa melepaskan semua ajaran kepada sekolah saja, dan lingkungan tidak bisa melepaskan ajaran budi pekerti dasar kepada keluarga saja.

 

Kerjasama yang baik, juga merupakan sebuah bentuk gotong royong. Bahwa sebuah masalah besar, tidak hanya dipaksakan untuk diselesaikan satu pihak saja. Bila memang Rakyat Indonesia menganggap Korupsi adalah sebuah kejahatan extra-ordinary, maka sudah saatnya SEKARANG, untuk ber-gotong royong menemukan solusi tepat dari masalah besar itu.

Bila tidak menganggap Korupsi adalah sebuah kejahatan extra-ordinary, maka inilah yang terjadi di Indonesia.

 

“Agamaisasi”

Inul Mie Burung Dara

Ada sebuah kewajiban dan juga keinginan yang umum dari seseorang yang terjun ke dalam Agama; Dakwah. Entah dia beragama Islam, Nasrani, Hindu atau Budha. Dakwah adalah sebuah penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Dalam konteks seruan untuk mempelajari, mengamalkan ajaran agama, mengajak kepada kebaikan dan menjauhi kepada kemungkaran, hampir semua semua agama melakukannya.  Namun, dalam konteks berdakwah yang dimaksud adalah penyiaran agama, seruan untuk memeluk atau lebih sederhananya mencari pengikut baru, saat ini tinggal dua agama saja yang keluar untuk itu; Islam dan Nasrani.

Dua dekade lebih saya tidak lagi mendengar kata Kristenisasi. Sebuah kata yang bagi sebagian pemeluk agama yang saya anut, Islam, seperti sebuah monster yang harus diperangi. Pertama kali saya menemui istilah ini, saat masih kelas 1 SMP, dari Pak Kyai saya dimana setiap sore saya ngaji. Beliau bercerita (dengan sedikit emosi) tentang sebuah desa tetangga yang berjarak terpisah 20-an desa dari kelurahan tempat kami tinggal, desa dimana dulu dia mengajar (beliau seorang guru SD), yang mana akibat gencarnya `Indomiesasi`,`Bajuisasi`, `Uangisasi` dan `Pekerjaanisasi` yang dilakukan oleh para misionaris di desa tersebut, mengakibatkan hampir satu desa masuk Nasrani. Dua atau Tiga tahun sebelumnya, rumah saya memang pernah kedatangan dua orang pemuda misionaris. Kebetulan rumah saya dari `gedek`(bambu yang dianyam) dan hampir rubuh lagi, mungkin itu pula yang membuat mereka berdua memutuskan memasuki rumah saya. Malangnya, mereka diterima oleh Bapak saya, yang seorang mualaf (Kakek saya dari bapak adalah seorang Pendeta). Mereka pun berdiskusi dengan seru, mereka berdua mengeluarkan kitab2nya dari tasnya, sementara Bapak sesekali menuju ke lemari buku dan mengambil Al-Quran. Sebagai seorang anak kecil yang masih SD dan ingusan, tentu sangat tertarik ketika melihat dan mendengar Bapaknya sedang diskusi. Hasilnya seperti apa ? tak perlu saya ceritakan yang jelas berjalan damai tanpa `gontok-gontok`-an.

Kembali kepada cerita Pak Kyai saya yang cerita tadi, saya sempat bertanya kepada beliau, “Lalu apa yang `njenenangan` lakukan selama mengajar di desa tersebut ?”, Beliau tidak menjawab banyak tentang hal yang dilakukannya, hanya mengajar anak SD. Sebenarnya saya masih ingin bertanya lagi yang banyak, tapi tidak ingin mendebat beliau. Apalagi saya juga sadar diri masih kelas 1 SMP, bahkan membaca Arab pun kesusahan (Saat SD sampai SMP, saya terkenal susah membaca huruf di luar huruf latin, istilahnya kalau baca Al-Quran`blekak-blekuk`). Hal yang paling mengganjal yang ingin saya tanyakan salah satunya adalah, kemana saja mereka (para Pak Kyai dan Bu Nyai) selama ini ? Pernahkah mereka mencoba untuk menjemput bola kepada kaum yang mereka sebut abangan ? Sayangnya mereka tidak pernah sekalipun menjemput bola untuk berdakwah kepada kaum abangan ini. Mereka terlalu sibuk dimanja dengan `gelar` yang mereka dapatkan, seolah-olah jika kamu-kamu butuh untuk belajar agama, datangi kami yang pemuka agama ini. Lalu ketika bola-nya (kaum abangan dan juga mereka yang miskin pendidikan agama) direbut oleh kubu lain, lalu marah. Pernahkan berfikir bahwa `Indomiesasi` dan sejenisnya itu juga diajarkan dalam Agama Islam ? Zakat, bukankah diberikan kepada mereka yang fakir miskin ? Masih abangan lagi.

Lalu bagaimana dengan Islamisasi ? Ada fenomena yang menurut saya lucu, ketika orang-orang yang mereka cap abangan yang justru dekat disekitar atau lingkungan mereka haus akan dahaga Islam, justru kita membidik daerah-daerah lain yang notabene mayoritas non-muslim, Papua dan NTT misalnya. Lalu apakah jika mereka sudah mualaf lalu kita tinggalkan untuk jadi abangan lagi ? Kemudian marah lagi ketika mereka dijemput lagi oleh kubu lain.

Di lain pihak, ada kelakuan yang begitu kontra produktif dalam dakwah. Sebagian dari umat Islam, justru mempertontonkan kebodohan dan kebarbaran. Melempar dengan batu dan tahi kuda misalnya, atau melakukan pemaksaan untuk memeluk agama Islam, yang justru dulu dilakukan oleh orang arab jahilliyah kepada Nabi saw dan umatnya. Mengherankan sekali, ketika ingin mencari pengikut, berharap orang lain memeluk agamanya, tapi justru membuat jelek agama yang dianutnya. Dan lebih hebatnya lagi, sebagian pemuka agamanya (atau ngaku-ngaku pemuka agama) justru membela mereka. Lalu mengkampanyekan keadilan via khilafah, sementara terhadap golongannya sendiri tak mampu berbuat adil; hanya yang sudah mati hatinya yang mau percaya.

Tetapi bukankah sudah tertulis di Al-Quran bahwa orang-orang Nasrani dan Yahudi tidak akan pernah rela dengan kita yang muslim sampai kita mengikuti agama mereka ? Tidaklah kamu akan merasa itu adalah kristenisasi , bila imanmu kuat; merchandise, indomie bahkan rumah atau mobil mewah pun tak akan bisa menggores keyakinanmu pada agamamu. Orang-orang disekitarmu butuh kamu jika kamu merasa bisa menguatkan iman mereka. Mulailah untuk mengajarkan kebaikan dan bukan mendukung kemungkaran apalagi menanamkan kebencian dan provokasi.

*Saya mau beli Mie Burung Dara dan Sabun Dove dulu ya… *

save-gaza

Rekam Jejak Yang Adil

There’s No Such Thing As Neutral

Kata kata di atas pernah saya dapat dari senior saya, dan untuk banyak konteks saya yakini kebenarannya. Bagi saya, adalah manusiawi saat manusia tidak netral atau berpihak, yang jadi masalah adalah upaya mewujudkan keberpihakannya tersebut. Kalau kita bicara dalam konteks pemilihan presiden, tahun ini terasa lebih istimewa dibanding 2004 maupun 2009. Karena yang bersaing hanya dua kandidat, maka persaingan antara dua kubu menjadi sangat runcing. Kalau bukan A ya B, kalau anda tidak dukung A berarti anda dukung B, dan seterusnya.

Salah satu bahan yang paling sering dijadikan bahan ribut adalah rekam jejak masing masing calon dan pendukungnya. Bahkan bahan ini jauh lebih sering dibahas dibandingkan dengan visi misi dan rencana mereka. Soal rekam jejak inilah yang menurut saya sering diributkan secara tidak berimbang, penuh standar ganda, dan hanya berujung adu urat leher (atau urat jari :p). Ini semua terjadi karena kita tidak adil dan penuh standar ganda dalam membandingkan rekam jejak kedua kandidat dan pendukungnya. Lewat tulisan ini, saya mencoba mengusulkan cara membandingkan rekam jejak yang adil dan berimbang. Kalau sudi monggo dibaca :).

Pertama tama silahkan buat tabel seperti ambar di bawah ini
image
Nah, silahkan isi tabel tersebut dengan alasan alasan yang menurut anda merupakan hal baik maupun hal buruk dari masing-masing kandidat maupun tokoh atau partai pendukungnya. Misalnya “calon nomor satu berjasa menyelamatkan PT Kiani Kertas” atau “calon nomor dua berjasa merelokasi PKL tanpa konflik” atau “kedua calon dituduh dekat dengan amerika”. Nah, karena saya yakin sebagian besar dari kita bukanlah orang dekat kedua calon, itulah sebabnya kolom ” sumber” dibutuhkan.

Inti “permainannya” adalah, anda harus adil dan fair dalam mengisi tabel ini. Misalnya, kalau anda menerima hal hal untuk dimasukkan ke kandidat nomor satu dari sebuah portal berita resmi seperti detik.com, vivanews.com, okezone.com, jawapos.com, dll maka anda juga harus menerima sumber tersebut untuk kandidat nomor dua.

Kalau anda mengakui informasi tentang kandidat nomor dua dari tim sukses atau berita dari partai pendukungnya (online maupun offline), anda juga harus mau mengakui berita dari tim sukses atau partai pendukung kandidat nomor satu.

Kalau anda mengakui informasi tentang salah satu kandidat dari blog pribadi milik orang atau organisasi atau komunitas, anda juga harus mau mengakui informasi dari blog pribadi milik orang atau organisasi atau komunitas tentang kandidat satunya.

Silahkan tambahkan aturan main sendiri selama itu berlaku untuk kedua kandidat, misalnya berita baru bisa diakui kalau dimuat di tiga portal berita resmi yang berbeda (bukan tulisan yang sama tapi diulang ulang), intinya anda harus berlaku adil dalam menilai, barulah hasil penilaian bisa dibandingkan dengan objektif. Setelah semua poin terkumpul atau dianggap cukup, silahkan bandingkan mana yang lebih memenuhi selera anda :).

Makan waktu dong? Ya iyalah, kalau anda punya cukup waktu luang untuk membagi informasi informasi kandidat kesukaan anda dan berbagi tuduhan kejelekan kandidat lawan anda bahkan memperdebatkannya dan bertindak sebagai pengacara atau jaksa dadakan setiap hari di media sosial maka anda pasti punya cukup waktu untuk melakukan ini semua 🙂

N.B saya tidak netral, saya berpihak, tapi saya tidak cukup iseng untuk menjadikan calon pilihan saya sebagai nabi yang tidak pernah salah 😀

Road Hacks Praktis

Naik kendaraan di jalan, terutama di kota besar itu menyebalkan dan sangat menguji iman (bagi yang beriman). Ada saja hal hal di jalanan yang membuat urat leher kita ereksi tegang dan memicu tindakan yang bervariasi mulai sekadar menekan tombol klakson sampai berbuat kriminal :p. Nah, agar berkendara lebih nyaman, saya punya beberapa tips atau saran untuk lebih mengendurkan tensi, agar kita bisa makan kambing dengan tenang. Tenang saja, saya gak akan bicara peraturan, kalau mau baca peraturan silakan baca sendiri di sini dan atau di sini, saya hanya akan bicara dari sisi kepraktisan dan kenyamanan saja :D.

1. Motor Berhenti di Depan Garis Batas
Kalau kita di lampu merah, sering sekali kan ada motor yang berhenti melebihi garis. Nah saran saya, kalaupun anda mau nekat berhenti melebihi garis, pastikan anda tidak melebihi lampu merah dan anda bisa melihat kalau lampu sudah hijau, kecuali kalau anda ingin menikmati konser klakson di belakang saat lampu sudah hijau. Silakan dilihat dan hitung sendiri, tipe orang ini (berhenti melebihi lampu) 90% bukan lebih cepat tapi malah lebih banyaknya akan ketinggalan kalau lampu sudah hijau :D.

2. Naik ke Trotoar
Sering kita lihat motor yang naik ke trotoar (iya trotoar, bukan pedestrian, pedestrian itu artinya pejalan kaki) kalau jalan sudah mulai macet. Tergoda? Nanti dulu, pastikan sebelum anda naik anda tahu dimana akan turun. Anda akan kerepotan sendiri dan lebih membuang waktu kalau terlanjur naik tapi ternyata tidak menemukan jalan untuk turun, belum lagi kalau ternyata jalan anda diputus oleh lubang saluran yang menganga.

3. Putar Balik atau Parkir
Jalan anda terhadang oleh mobil/truk/bus/bemo yang putar balik atau hendak/keluar parkir? Ingat, jangan mendekat apalagi membunyikan klakson anda dengan alay. Semakin kecil ruang dan semakin banyak gangguan konsentrasi yang anda berikan, semakin lama mobil itu akan selesai putar balik/parkir dan berarti waktu anda akan terbuang semakin lama. Beri dia ruang yang cukup dan anda akan segera bisa melanjutkan perjalanan.

4. Pedestrian Menyeberang Sembarangan
Sama seperti diatas, semakin anda ganggu konsentrasi mereka, semakin lama anda bisa melanjutkan perjalanan. Tapi mereka kan salah karena menyeberang sembarangan? Asal tahu saja, menyeberang “sembarangan” itu diperbolehkan selama tidak ada silang zebra (zebra cross) atau JPO (Jembatan Penyeberangan Orang), kecuali di tempat yang disebutkan sebaliknya (jalan tol misalnya).

5. Ngebut Saat Lampu Hijau/Kuning
Seringkali saat kita lihat lampu lalu lintas masih jauh dan lampu masih hijau kita tergoda untuk menguji speedometer. Saran saya, sebelum lakukan itu, lihat dulu keadaan di belakang dan depan anda apakah ada kendaraan lain yang berpikiran sama? Kalau ada, sebaiknya beri saja dia jalan dan urungkan niat anda. Kita tidak pernah tahu kapan lampu akan tiba tiba berubah menjadi merah dan anda atau kendaraan depan anda akan mengerem mendadak dan merelakan pantat atau muka kendaraan anda (atau sekalian tubuh anda) berkenalan dengan kendaraan lain :p.

6. Lampu Penyeberangan
Alias PCTL (kalau ndak salah singkatannya Pedestrian Crossing Traffic Light, kalau salah saya jangan dibully ya, saya juga malas gugeling soalnya memang bukan singkatan ini topik bahasannya :p). Kalau lampu ini menyala merah dan memang ada orang menyeberang, sebaiknya anda berhenti dan jangan melakukan hal hal yang justru mengganggu konsentrasi penyeberang yang membuat anda akan berhenti lebih lama. Tapi tidak jarang juga tombol PCTL ini dipencet anak atau orang iseng, kalau itu yang terjadi ya anda silahkan putuskan sendiri mau tetap berhenti atau nekat jalan terus. Hanya perlu diingat, kalau kendaraan di depan anda berhenti, ya jangan memaksa menyuruh dia terus, saya ndak bilang peraturan itu WAJIB dipatuhi, tapi kalau melanggar ya ada resikonya, dan tidak perlu memaksa orang lain ambil resiko yang sama :p.

7. Operasi
Tiba tiba ada operasi alias cegatan, siapa sih yang suka? Apalagi saat kita dengan sadar tahu kalau ada yang salah dengan kelengkapan kita. Saran saya, biasa saja, tidak perlu panik dan gelisah. Kalau anda gelisah, bahasa tubuh anda akan menarik perhatian petugas. Kalau anda tenang, ada kemungkinan satu dari sekian banyak kejadian anda justru dilepaskan dan disuruh jalan terus, terutama kalau operasinya memang bukan operasi kelengkapan kendaraan.

***Bonus***
Salah satu poin yang cukup sering saya sebut adalah klakson. Klakson ini memang fenomenal, benda luar biasa yang sering digunakan tidak sebagai mana mestinya. Klakson itu berfungsi untuk memberi isyarat atau peringatan, saat akan memasuki belokan dua arah, saat kendaraan di depan anda tiba tiba berbelok ke arah anda tanpa peringatan, saat pengemudi kendaraan di depan anda merapal aji halimun padahal lampu sudah hijau, dan kegunaan lainnya. Tapi yang perlu diingat, klakson ini digunakan dengan menekan satu, dua, atau beberapa kali sesuai kebutuhan, bukan dengan menekannya terus seperti sedang men-deploy clash of clan :p. Klakson anda juga tidak dilengkapi dengan ilmu ih hoa cap giok level 10 yang bisa dengan cepat membubarkan kemacetan di depan anda.

Saya tidak menakut-nakuti, tapi tidak semua orang selera humornya dalam menanggapi suara klakson yang ditekan terus terusan setinggi anda. Kalau sampai gara gara klakson alay anda si korban yang anda klakson mengalami hal yang tidak diinginkan (penyakitnya kumat karena kaget misalnya), sebaiknya anda berharap berada posisi yang benar, kalau tidak, segera gunakan handphone canggih 17 core itu untuk mencari nomor telepon pengacara yang handal :p

***end of bonus***

Oke, mungkin tujuh itu dulu saja, tujuh tips, tujuh horcrux, tujuh kurcaci, dan sayangnya tidak ada presiden nomor tujuh. Kalau ada tambahan silahkan 🙂

5 Fakta Calon Presiden Republik Indonesia 2014

Capres 2014

Untuk Capres 2014 ini, saya sebelumnya berencana memberikan ulasan capres satu per satu. Tetapi, baru upload visi dan misi saja, teman2 yang doyan kampanye hitam langsung berkomentar ‘kok begini, kok begitu, kok yang satu duluan’

Jadi, saya ubah formatnya sedikit menjadi bentuk tabulasi dan di sederhanakan menjadi 5 Fakta Calon Presiden Republik Indonesia 2014, gosip-gosip miring, dan rekomendasi dari saya mengenai kriteria memilih.

 

Siapa yang harus saya pilih?

Mungkin itulah yang ada dibenak anda dalam pemilihan umum calon presiden Republik Indonesia 2014. Saya tidak akan mengarahkan anda untuk memilih salah satu calon tersebut. Tetapi, saya bisa memberikan rekomendasi apa saja yang harus anda perhatikan dalam menentukan pilihan tersebut:

1. Karakter dasar. Konsensus umum menyebutkan bahwa Prabowo memiliki trait militeristik dari latar belakang militernya, sementara Jokowi ber-image sebagai ‘orang baru’ yang mungkin tidak akan terpengaruh oleh ‘orang-orang lama’. Didalam menilai karakter ini, teman saya mempunyai sudut pandang yang menarik: Orang bilang Prabowo otoriter, saya akan bilang Tegas dan Patriot sejati ..Orang bilang Prabowo akan suka nembak orang, saya akan bilang bahwa pemimpin hebat itu yg tegas pada penjahat dan sayang pada rakyat.

2. Fokus kerja. Hal ini mungkin yang agak susah untuk dimengerti karena setiap individu mempunyai agenda sendiri-sendiri. Sebagai contoh, saya pribadi menginginkan calon presiden yang lebih mengutamakan perbaikan di bidang Kesehatan dan Pendidikan masyarakat. Jadi saya akan mencari tahu dari kedua calon ini manakah yang akan memperhatikan nasib guru dan tenaga medis lebih dari calon yang lain.

3. Subsidi BBM. Jokowi mengatakan akan menghapus subsidi BBM dalam jangka waktu empat tahun, sedangkan prabowo menjanjikan pengurangan subsidi BBM.

4. Bagaimana dengan klaim tidak korupsi? Keduanya mungkin secara individual tidak (/belum/tidak ketahuan) korupsi, tetapi aturan pemilu mengharuskan masing-masing calon untuk diusung oleh partai politik. Jika dilihat dari dukungannya, kedua calon presiden Republik Indonesia 2014 ini didukung oleh partai politik yang anggotanya pernah terlibat korupsi. Kalau kita boleh flashback sedikit ke sebuah partai yang mengatakan tidak pada korupsi? Kenyataannya…

5. 1 Desa 1 M / 1.4 M? Keduanya pernah menjanjikan  bahwa setiap desa di Indonesia akan diberi dana 1 milyar rupiah atau lebih yang katanya untuk kemajuan desa. Untuk yang ini saya kurang yakin kalo dapat berjalan dengan sempuran (lihat penjelasan tentang korupsi diatas). Memang tidak bisa dipungkiri bahwa pembangunan di Indonesia sangat tidak merata, dan desa-desa di Indonesia membutuhkan dana tersebut. Tetapi, bagaimanakah eksekusinya? Jangan sampai ini jadi ladang korupsi baru…

Jika anda ingin membaca cara memilih yang lebih panjang lebar, silahkan anda membaca tulisan Ahmad Firdaus ini tentang kriteria memilih berdasarkan Integritas, Niat, Kemampuan, dan Hasil.

5 Fakta Calon Presiden Republik Indonesia 2014 Calon Presiden Republik Indonesia 2014