Generasi Penggema Hujan, Sebuah Review

image

Endings are hard. Any chapped-as* monkey with a keyboard can poop out a beginning, but endings are impossible. You try to tie up every loose end, but you never can.
chuck shurley, Supernatural

Membaca buku terakhir dari seri novel biografi ini, quote di ataslah yang rasanya cukup mewakili kesan yang saya dapatkan. Memang mustahil untuk menjawab semua pertanyaan yang muncul akan akhir dari suatu cerita, lebih lebih karena cerita ini sebenarnya belum pernah berakhir dan terus berlangsung sampai sekarang. Kita saat ini hanyalah bagian dari salah satu dari dua kelompok, generasi penggema hujan, atau generasi yang mendengar gema tersebut.

Buku ini menyambung keadaan umat islam di bawah kepemimpinan khalifah Usman bin Affan RA dan ditutup dengan kematian khalifah setelahnya, sang gerbang ilmu pengetahuan, Ali bin Abu Thalib RA. Ketika di buku sebelumnya sudah disinggung tentang munculnya bibit perpecahan, di buku terakhir ini bibit itu semakin terwujud dan nyata. Konflik antara Ali bin Abu Thalib, sang menantu Rasulullah SAW, dengan sang khalifah yang juga menantu Rasulullah SAW semakin runcing. Meskipun demikian, ada dua hal sangat penting dari konflik tersebut yang dapat diambil hikmahnya dari buku ini.

Yang pertama adalah bagaimana dua orang sahabat Rasulullah SAW tetap berkepala dingin dalam berkonflik. Walaupun mereka mempertentangkan hal-hal yang bagi mereka penting, mereka tetap melakukannya dengan cara-cara yang baik, tetap berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah, dan tidak saling mencaci maki dengan kata-kata yang sudah keluar konteks permasalahan. Yang ke-dua adalah, betapa banyakpun Ali tidak menyetujui kebijakan Usman sebagai khalifah, dia tetap mencintainya sebagai sesama Muslim. Ketika rumah sang khalifah diserbu, dia dan kedua anaknya yang memasang badan untuk melindunginya.

Membaca terus buku ini akan membawa kita membuka-buka lembaran sejarah dalam akhir kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Nyaris tidak ada kisah bahagia di sini. Kematian Usman bin Affan, Civil War antara sesama muslim yang pernah sehidup semati bersama Rasulullah SAW, dan kematian demi kematian para sahabat. Dan bagian paling menyakitkan saat membaca buku ini tentunya adalah ketika konflik berdarah harus terjadi di antara para sahabat yang dulu sehidup semati, rasanya kehancuran hati sang khalifah benar-benar bisa ikut kita rasakan. Dan sulit rasanya tidak ikut sedih ketika tiba juga halaman yang menceritakan kematiannya dan wasiat-wasiatnya di penghujung hayat.

Bagaimana dengan tokoh tokoh fiktif yang juga ikut berada dalam buku ini? Terus terang keberadaan mereka dikisahkan dengan begitu menyatu dalam buku ini sehingga saya seringkali bingung antara mana kisah yang memang bagian dari kisah sejarah islam dengan bagian yang fiktif. Supaya tidak bingung, semua dialog yang melibatkan Kashva, Astu, dan Vakshur saya pukul rata saja sebagai kisah fiktif, meskipun tetap tidak mengurangi menariknya kisah ini.

Banyak pula pelajaran yang didapat dari tokoh tokoh persia ini, pelajaran tentang cinta, kesetiaan, dan pengabdian. Bagaimana seorang Vakshur menghabiskan waktu puluhan tahun mencari Kashva. Kesetiaan seorang Astu terhadap Kashva. Dan kegigihan Kashva dalam pencarian kebenaran yang mengantarkannya pada kebahagiaan dan ketenangan batinnya. Setidaknya bagian antara Kashva dan Astu ini telah berhasil ditutup dengan baik oleh penulis, meskipun masih lebih banyak pertanyaan yang tersisa mengenai tokoh-tokoh yang lain seperti Vakshur, Xerses, dan yang lain.

Akhir kata, tetap lima jempol untuk sang penulis yang telah berani menulis kisah sang Nabi akhir zaman dan para penerusnya dengan bahasa yang berbeda. Salut juga untuk keberaniannya melibatkan tokoh-tokoh fiktif di dalam kisah ini meskipun rentan menimbulkan perdebatan. Semoga karya-karya selanjutnya tidak kalah menariknya. 😀

Sang Pewaris Hujan, Sebuah Review

image

Umar Bin Khattab RA, sosok yang sangat dikenal di kalangan umat islam maupun non muslim di zamannya. Ketika Abu Bakar RA menjadi khalifah, beliau menegurnya karena mencoba membujuk kekerasan pendirian sang khalifah terhadap mereka yang menolak membayar zakat. Ketika dia hendak ditunjuk sebagai khalifah berikutnya, orang-orang mengkhawatirkan sifatnya yang dianggap keras. Namun dia berhasil menepis semua anggapan tersebut, dia memang tetap keras pada mereka yang menindas yang lemah, namun sangat lembut kepada mereka yang lemah. Perjalanan kepemimpinannya sebagai penyandang pertama gelar Amirul Mukminin dapat diikuti di buku seri ketiga karangan Tasaro GK ini, Sang Pewaris Hujan.

Buku ini seperti sebelum-sebelumnya, mengisahkan kisah-kisah yang sudah umum kita dengar dari pelajaran sekolah maupun cerita guru mengaji di TPQ, namun dengan sudut pandang dan bahasa yang menurut saya lebih menarik dan manusiawi. Menggambarkan bahwa in the end, sang penakluk, yang telah meluaskan wilayah Islam demikian luas, tetaplah seorang manusia. Perasaannya tergambar begitu halus, jauh dari sosok yang mungkin dibayangkan dari orang yang memimpin “negara”  yang membentang dari mesir sampai persia.

Ketika dia tanpa pikir panjang membantu persalinan istri seorang rakyatnya bersama istrinya sendiri. Ketika dia menangis kepada Abu Ubaidah bin Jarrah, “curcol” tentang orang-orang yang telah berubah. Ketika dia tidak malu memohon bantuan, padahal dia bisa memerintahkan, kepada para gubernurnya saat Madinah dilanda kemarau panjang. Nyaris tidak tersisa kegarangannya yang sempat membuat takut umat islam maupun orang-orang non muslim terdahulu.

Namun, kisah tentang Umar kali ini yang paling menarik adalah di penghujung hidupnya. Di akhir hayatnya, sekarat di pembaringan, yang ia khawatirkan adalah bagaimana ketika kelak dia dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Bagaimana dia begitu serius menanggapi kesaksian Abdullah bin Abbas RA dan Ali bin Abu Thalib RA tentang kepemimpinannya, bagaimana dia lega ketika mengetahui bukan kaum Anshar atau Muhajirin yang ingin membunuhnya, sungguh pemimpin yang luar biasa.

Seperti buku terdahulu, selain mengisahkan perkembangan kekhalifahan Islam, buku ini kembali mengikuti perjalanan Kashva dan temannya, Elyas. Kekaguman Kashva ketika menyaksikan kesederhanaan sang Khalifah penerus Sang Lelaki Penggenggam Hujan di Yerusalem mengantarkannya ke Madinah. Dari Madinah petualangannya kembali dimulai, mengikuti entah apa yang dipersiapkan nasib baginya.

Astu dan Vakshur juga kembali ambil peran di buku ini. Setelah menyelesaikan perannya sebagai Atusa, sang panglima pasukan immortal, Astu kembali memulai hidupnya dari awal. Menggunakan semua keahlian perang dan berkudanya, dia membuka jasa ekspedisi, usaha yang kemudian akan memberikan banyak pencerahan padanya, usaha yang mempertemukannya dengan Vakshur dan menyalakan cahaya harapan di hatinya pada Kashva.

Bagian paling tidak menyenangkan dari buku ini menurut Saya adalah ending-nya. Tidak seperti dua buku terdahulu yang meskipun jelas ceritanya belum selesai tetapi ditutup dengan tenang, buku ke-tiga ini ditutup dengan sangat menggantung. Baik dari cerita di sisi Kashva cs maupun cerita di sisi kekhalifahan.

Kisah kekhalifahan ditutup dengan suksesi dari Umar bin Khattab RA kepada Usman bin Affan RA yang meninggalkan bibit perselisihan. Bibit-bibit yang cukup berani disorot dan dikupas oleh penulis buku ini, tetapi pembaca harus menunggu buku ke-4 atau menghubungi ulama terdekat untuk bisa mengetahui lanjutannya. Adapun kisah Kashva cs ditutup dengan tidak kalah menggantungnya, sebuah upaya pencarian yang tidak disertai petunjuk yang jelas.

Kesimpulan saya masih tetap, buku ini sangat menarik dan tidak membuat bosan. Hikmah yang bisa diambil tentunya seperti kebanyakan kisah teladan, adalah keteladanan. Bagaimana seorang pemimpin seharusnya memberikan keteladanan, mengajak berjuang bersama alih-alih memaksa orang berjuang untuknya. Dan satu lagi pelajaran penting, bahwa mereka-mereka yang begitu dekat dengan Rasulullah SAW, mereka yang ilmu agamanya tidak perlu diragukan lagi, mereka yang sudah menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Ibu, dan mereka yang jauh dari motif-motif duniawi, ternyata juga bisa berbeda pendapat dalam penafsiran. Meskipun begitu, mereka melakukannya dengan adab yang baik dan niat yang baik, sungguh luar biasa 🙂

Pray for…

Beberapa tahun terakhir, hashtag #PrayFor menjadi semacam ‘trend’ di social media ketika terjadi sebuah peristiwa besar yang mengerikan. Saya tidak ingat secara pasti kapan hashtag ini mulai digunakan, seingat saya #PrayForJapan adalah salah satu yang muncul duluan. Pada saat itu, kita semua berdo’a atas bencana Tsunami yang melanda kota di Jepang yang juga berimbas pada bahaya reaktor nuklir disana. Seluruh dunia berdo’a untuk mereka…

Dunia Internet mulai mengikuti trend ini dan berlomba-lomba untuk memunculkan berbagai macam ide untuk hashtag ‘Pray For’, termasuk Paris, MH370, Syria, Turkey. Ada juga hashtag yang lumayan aneh, seperti Pray for Kanye bahkan ada yang Pray for penjahat yang sudah di vonis!

Apa yang sebenarnya anda ‘pray for’?

Pray for...

Karena setiap orang mempunyai kepentingan pribadi dimana mereka lebih perhatian dengan pray yang satu dibandingkan dengan pray yang lain, kita mulai mempertanyakan kenapa kok bisa beda? Bukankah kita harus adil terhadap sama?… apalagi jika yang mereka tidak pray lebih besar skalanya dibandingkan dengan yang mereka perhatikan (contohnya Pray for Ankara dibandingkan dengan Paris). Mereka kemudian mulai beradu argumen bahkan sampai ribut di media sosial mengenai ini.

Akhir-akhir ini, pertanyaan macam “Kenapa kok kamu peduli sama yang itu tapi ngga yang ini?” biasa dilontarkan dan kemudian jika jawabannya tidak memuaskan, mereka dengan entengnya mengecap orang lain sebagai hypocrite (atau bahasa kerennya munak).

Kalau menurut saya, hal ini terkait dengan dimana mereka pernah berada… Jauh lebih banyak orang yang pernah berpergian ke New York, London dan Pari jika dibandingkan dengan Ankara…

Sebagai contoh: Sewaktu World Trade Centre di’tabrak’ dua pesawat, saya merasakan derita yang lebih mendalam dibandingkan ketika melihat ledakan di London atau Charlie di Paris. Kenapa? Karena saya pernah berada di lantai 100 gedung tersebut tahun sebelumnya. Saya bisa merasakan bagaimana mengerikannya jika anda terjebak disana tanpa ada jalan keluarnya!

Contoh kedua: Tahun 2015 di Negara Amerika Serikat terdapat lebih banyak kejadian penembakan ‘mass shooting’ dibandingkan jumlah hari dalam setahun… Kasarannya hampir tiap hari ada penembakan seperti itu. Jika Presiden Obama hanya menghadiri beberapa acara mengheningkan cipta saja, apakah itu berarti dia tidak peduli dengan yang lainnya?

Contoh lain disekitar kita yang lebih relevan: Rakyat Indonesia akhir-akhir ini senang sekali ngobrolin tentang pilkada di Jakarta yang baru akan berlangsung tahun depan. Bahkan orang-orang yang tidak mempunyai hak pilih di Jakarta pun ikut komentar masalah kandidat pilihan mereka. Mari kita bandingkan dengan sebuah kota kecil di Jawa Timir yang bernama Madiun. Buat saya pribadi, kalau ada kejadian yang lumayan besar di Madiun, mungkin saya akan ikuti dengan lebih seksama. Kenapa? Karena kota Madiun merupakan salah satu kota yang paling penting buat saya (dibandingkan dengan Ankara atau Paris sekalipun!). Mungkin hanya ada 0.001% penduduk dunia ini yang tahu tentang kota ini. Apakah orang yang komentar tentang pilkada Jakarta akan berkomentar mengenai pilkada Madiun? … kan sama-sama pilkada? dan sama-sama ga punya hak pilih di daerah itu?

‘Media besar’ – Pray for mereka?

‘Media besar’ seringkali menjadi kambing hitam di kasus ini. Banyak orang mencibir ‘media besar’ tersebut karena mereka hanya mendedikasikan jam tayang ‘eksklusif’ hanya untuk segelintir momen-momen penting. Mungkin banyak yang ngga tahu bahwa ‘media besar’ itu juga dijalankan oleh manusia yang punya ikatan batinnya masing-masing. Jadi, jika mereka berbasis di Amerika Serikat, apakah mereka menjadi munafik jika lebih mementingkan untuk menayangkan proses pemilihan presiden Amerika Serikat dibanding kejadian di seberang lautan?

Mungkin ada diantara mereka yang peduli dengan kejadian yang jauh dari tempat mereka bekerja karena mereka pernah tinggal di tempat itu atau mereka punya keluarga yang tinggal disana… tetapi, berita yang mereka tulis pada akhirnya disetir juga oleh keinginan masyarakat umum… termasuk anda… untuk mendapatkan berita yang relevan di daerah tempat mereka beroperasi. Jadi, jika semakin banyak orang yang ingin membaca berita tersebut, mereka tentu akan mendapatkannya!

Realitas yang lumayan menyedihkan tentang apa yang kita doakan

Dari contoh-contoh diatas, apakah itu berarti saya tidak peka terhadap kejadian di belahan dunia lain? Sayangnya, mungkin iya (kecuali anda politisi yang suka peduli terhadap semuanya!)… Kenapa? Karena saya tidak mempunyai ikatan batin yang kuat terhadap mereka… dan kalau dilihat, dunia ini adalah tempat yang SANGAT BESAR jika anda ingin merasakan kesedihan, anda bisa memilih untuk bersedih hati hampir setiap detik dengan membaca berita-berita tersebut.

Pada akhirnya, saya tetap mendoakan keselamatan orang-orang yang tertimpa musibah-musibah yang terjadi di dunia ini dan mengutuk orang yang melakukan perbuatan yang mengerikan itu! Saya juga berdoa supaya semua pihak juga berintrospeksi supaya kejadian yang lebih parah dapat dicegah di kemudian hari.

Para Pengeja Hujan, Sebuah Review

Pengeja_Hujan.jpg
Immortal, nama pasukan legendaris Persia itu pertama kali saya dengar waktu menonton film 300. Sepuluh ribu tentara elit andalan Raja, jumlahnya tidak pernah berkurang, setiap ada yang gugur, penggantinya segera siap. Pasukan yang konon dibentuk di zaman Raja Cyrus dan dikomandani oleh Pantea Arteshbold itu dikenal juga dengan sebutan Athanatoi. Pasukan itulah yang coba dibangkitkan kembali oleh ketiga putri Khosrau Parvis (Puran, Turan, dan Azarmi) dalam buku ini yang merupakan lanjutan dari buku sebelumnya. Yang menjadikan elitnya pasukan ini bukan hanya kemampuan bertempurnya, melainkan iman mereka kepada ajaran Zoroaster yang tinggi. “Tidak ada angkatan bersenjata tanpa moral agama” tegas putri Turan, penengah dari tiga bersaudara itu.

Siapakah sosok pengganti Pantea? Adalah Atusa, seorang arsitek jenius yang misterius. Wajahnya selalu ditutupi cadar namun dibalik keanggunannya berbagai taktik dan keahlian perang dia tempakan kepada para athanatoi. Namun tak seorangpun berkuasa melawan takdir, tidak juga sepuluh ribu pasukan. Tahta persia yang dibangun di atas darah seperti mengulang kembali dan kembali siklus perebutan takhta dengan pertumpahan darah antara bapak, anak, ponakan, ipar, dan seterusnya. Bagaimana akhirnya Atusa bersikap? Siapakah sebenarnya dia? Pembaca yang jeli mungkin sudah akan menduga sebelumnya tapi tetap tidak mengurangi kemenarikan membaca buku ini.

Bagaimana kabar Kashva? Dia tampaknya mulai bisa mengobati kesedihan hatinya karena kehilangan Masya dan Xerses di sungai. Hari-harinya dihabiskan dengan berjalan dan berdiskusi dengan sahabatnya biksu Tashidelek, diikuti oleh Vakshur. Biksu itu memberinya banyak pencerahan tentang sosok penggenggam hujan yang begitu menarik bagi Kashva. Namun dia juga memberi Kashva peringatan bahwa Vakshur menyembunyikan sesuatu darinya.

Setelah dari Tibet, Kashva memutuskan untuk pulang ke Persia. Namun nasib buruk yang bertubi-tubi sudah menantinya di sana. Siksaan demi siksaan, ancaman mematikan dari raksasa kanibal di penjara, maupun gigitan anjing membuatnya memohon kematian pada Ahura Mazda. Tidak disangka juga, keberadaannya di penjara juga memberikan sejumlah harapan. Reuni dengan Masya dan kabar tentang Astu membuatnya masih bisa bertahan sampai akhirnya dia bebas. Namun tampaknya kebebasan tubuhnya masih belum diikuti dengan kebebasan jiwanya, keadaannya membuat sedih Masya dan Vakshur. Bagaimanakah penderitaan Kashva? Apa rahasia yang disembunyikan Vakshur? Siapa sebenarnya biksu Tashidelek? Semuanya tergambar dengan alur yang rapi di buku ini.

Adapun mengenai kisah Rasulullah SAW, buku ini dipenuhi dengan adegan-adegab yang menggetarkan bahkan menguras air mata. Diawali dari kisah penyerbuan Abrahah dengan pasukan gajahnya sebagai balasan atas ulah orang suki Kinanah yang mengotori gerejanya dengan tinja. Berlanjut ke kisah kehidupan masa kecil sang Nabi yang penuh duka cita, sampai meninggalnya sang Kakek dan pengasuhannya berpindah pada pamannya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib.

Melanjutkan dari buku sebelumnya, jilid ke-dua ini menceritakan tentang perjalanan Rasulullah setelah menaklukkan Mekkah. Penaklukan Thaif diceritakan dengan dramatis. Bagaimana akhirnya kaum Anshar yang memprotes pembagian harta rampasan justru akhirnya berlinang air mata ketika mendengar jawaban “Apakah kalian tidak bahagia wahai kaum Anshar? Orang lain membawa domba dan unta, sementara kalian membawa Rasulullah ke rumah kalian?”. Wilayah Islam sungguh telah berkembang pesat dibawah panji panji Rasulullah. Namun kemenangan demi kemenangan justru menimbulkan rasa khawatir di benak sebagian sahabat.

Kekhawatiran itu semakin jelas pasca haji Wada’, kekhawatiran bahwa waktu Nabi Muhammad SAW bersama mereka sudah hampir habis. Dan akhirnya saat paling menyedihkan itu tiba, membacanya saja selalu menyulut haru, entah bagaimana perasaan penulis ketika menuliskan bagian ini. Sungguh meskipun telah diketahui dan dibaca berulang-ulang, cerita saat kematian Rasulullah tetap menggetarkan. Dan seperti yang sudah kita ketahui, penggantinya sebagai khalifah adalah Abdullah bin Abu Quhafa alias Abu Bakar as Shiddiq RA.

Yang membuat buku ini agak berbeda, penulis cukup “berani” menuliskan kisah tentang peristiwa Ghadir Khumm. Bukan itu saja, bahkan serangkaian peristiwa yang mengikuti kematian Rasulullah yang diyakini oleh sebagian orang dan agak tabu dibicarakan juga digambarkan di buku ini. Perbedaan pendapat antara Ali bin Abu Thalib RA dengan Abu Bakar as Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA. Saya hanya berani menyebutnya perbedaan pendapat, menyebutnya sebagai perselisihan entah kenapa rasanya agak kurang pantas :D. Kemudian disinggung juga mengenai perbedaan pendapat antara sang khalifah dengan Fatimah Az Zahra, perselisihan yang ditangisinya sampai akhir hayatnya.

Tergambar dengan jelas di sini hari-hari berat pemerintahan Abu Bakar RA. Menggantikan seorang Nabi, sungguh pekerjaan yang mustahil. Kepemimpinannya banyak dihabiskan dengan memerangi mereka yang murtad maupun nabi-nabi palsu yang bermunculan seperti Musaylimah. Dikisahkan bagaimana dia menepati julukannya sebagai as Shiddiq, bagaimana untuk urusan Aqidah, dia bahkan bisa lebih keras dari Umar RA, bahkan sampai memarahinya karena dianggap terlalu lembut.

Salah satu sikap kerasnya ditunjukkan saat dia bersikeras tetap mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima ekspedisi ke utara melawan tentara Heraklius meskipun banyak yang menentangnya karena dianggap terlalu muda, termasuk Umar. Dia hanya menegaskan “Aku tidak akan menurunkan orang yang sudah diangkat Rasulullah”. Namun di balik ketegasannya mengikuti teladan Rasulullah, dia juga tetap mau mendengar masukan, seperti ketika dia menyetujui anjuran untuk membukukan Al Quran pasca kehilangan ratusan Hafidz di perang Yamama. Meskipun dia mengatakan “ini tidak pernah dicontohkan. Rasulullah”, akhirnya dia pun mengikuti saran Umar, “Demi Allah ini baik”. Sayang kepemimpinannya tidak lama, buku ini ditutup dengan kerasnya pendiriannya untuk menunjuk Umar bin Khattab RA sebagai penerusnya meskipun banyak yang menentang keputusannya.

Membuat sequel adalah sebuah tantangan yang berat. Namun penulis buku ini telah melewatinya dengan baik. Episode ke dua ini tetap tersaji dengan alur cerita yang baik dan tata bahasa yang indah. Penggambaran-penggambaran mengenai ekspresi dan perasaan tokoh di dalamnya sungguh bisa memberikan banyak teladan dan hikmah bagi yang membacanya. Dan sama seperti episode pertama, tebalnya buku ini yang separuh kuintal tidak akan membuat kita bosan membacanya. Bagi yang belum tahu, kisah-kisah di dalamnya bisa menambah wawasan kita tentang agama Islam, dan riwayat yang dipaparkan juga sampai sejauh ini masih tetap sejalan dengan yang umum diajarkan di sekolah-sekolah, hanya bagian “suksesi” seperti saya singgung pada beberapa paragraf di atas yang mungkin tidak diajarkan di sekolah (setidaknya di sekolah saya :D).

Saya pribadi sangat kagum dengan teladan teladan yang diberikan oleh Abu Bakar RA (selain Rasulullah tentunya) di buku ini. Pidatonya saat pertama kali “menjabat” yang tanpa malu-malu meminta untuk terus diingatkan ketika menyimpang menggambarkan kerendahan hati papan atas. Pesannya kepada Aisyah sang Ibu kaum Mukmin sebelum meninggal untuk memeriksa kekayaannya untuk memastikan tidak ada hak orang lain yang dimakannya menggambarkan betapa amanahnya beliau. Belum lagi soal kesederhanaan hidupnya, sungguh membacanya serasa mimpi masuk ke dunia lain :D.

Selamat membaca 😀

Lelaki Penggenggam Hujan, Sebuah Review

image
Lelaki Penggenggam Hujan

Ada begitu banyak Sirah Nabi Muhammad SAW yang bisa kita baca, pun halnya tidak kurang-kurang dongeng tentang beliau yang kita dengar dari guru agama di sekolah, khatib sholat jumat maupun Ustadz-ustadz di pengajian. Namun membaca buku yang merupakan bagian pertama dari sebuah trilogi ini tetap tidak mengurangi kenikmatannya. Buku karangan Tasaro GK (nama pena tentunya, siapa nama aslinya bisa ditanya sendiri ke paman Google) ini tetap menawarkan sebuah cara lain dalam penyajiannya yang memasukkan unsur sastra dan melibatkan tokoh fiktif di dalamnya.

Membaca buku setebal lebih dari 250 halaman ini tidak membuat bosan. Penulis menyajikannya dalam dua setting secara bergantian. Yang pertama adalah kisah perjalanan Rasulullah SAW, dan yang kedua adalah cerita pencarian Kashva, seorang pendeta di kuil Sistan, seorang penganut Zoroaster yang harus menjadi buronan Khosrou Parvis (raja Persia) karena mengungkapkan ramalan Zarathustra tentang kemunculan sang Nabi dari tanah Arab.

Cerita tentang perjalanan sang Nabi akhir zaman tetap disajikan dengan alur yang sesuai dengan apa yang umumnya dipahami oleh umat muslim. Penulis tentunya tidak mengambil resiko untuk mengutak-atik bagian ini hanya demi mencari kontroversi murahan. Namun yang menjadi nilai lebih adalah tata bahasa dalam penyajiannya. Dia selalu menggunakan kata-kata pujian yang berbeda sesuai konteks cerita setiap kali menyebut sang kekasih Allah SWT tersebut. Cerita juga digambarkan dengan bahasa yang lebih menyentuh dan bernilai, misalnya bisa dilihat dalam potongan adegan perang Uhud di bawah ini.

image

Pilihan katanya dapat membuat hati yang masih belum mati untuk bergetar. Pembaca dapat lebih menghayati dan seolah-olah ikut menyaksikan adegan demi adegan di dalamnya.

Kisah pencarian Kashva juga tidak kalah menarik. Meskipun dinyatakan sebagai tokoh fiktif, namun pergulatan batin, diskusi-diskusi dan dialog yang dia lakukan dalam menyikapi kemunculan sang Uswatun Hasanah cukup menarik untuk diikuti. Dalam pencariannya, Kashva akan dihadapkan pada begitu banyak kenyataan keras yang selama ini tidan akrab dengannya karena dia tinggal di menara gading. Seiring dengan perkembangan alur, karakternya juga semakin berkembang.

Sebagai Penganut Zoroaster, dia tidak cukup picik dan tetap terbuka mendiskusikan tentang kebenaran kabar munculnya Nabi dari tanah Arab ini dengan teman-temannya yang beragama Kristen, Budha, Hindu, maupun sesama penganut Zoroaster baik melalui surat maupun dialog langsung. Dia terus melakukan pencariannya tentang kebenaran Rasulullah yang disebutnya sebagai “Lelaki Penggenggam Hujan”, sebuah julukan yang tidak umum, asal muasal julukan tersebut dapat dibaca dalam buku ini.

Dan apalah arti sebuah novel tanpa bumbu percintaan di dalamnya? Yang satu ini pun begitu. Meskipun tidak menye-menye, namun pemikiran-pemikiran dan kisah tentang Cinta Kashva dan Astu di dalam buku ini sangat menarik untuk disimak. Dialog-dialog antara keduanya, kilas-kilas balik, dan pengungkapan kebenaran di balik tabir prahara cinta mereka cukup menyentuh. Meskipun demikian, sampai akhir buku ini masih tetap pembaca belum akan dimanjakan dengan kesimpulan. Saya tidak tahu apakah memang dicukupkan sampai di sini atau memang akan dilanjutkan di seri berikutnya karena saya sendiri belum membaca lanjutannya 😀

Akhir kata, menurut saya buku ini sangat menarik, saya sama sekali tidak menyesal membacanya. Bahasanya meskipun nyastra tetapi sangat ringan dan mudah dipahami. Meskipun sarat unsur filsafat, tidak sampai membuat kepala penat. Dan soal apakah bumbu fiksi ini akan berpengaruh terhadap riwayat Rasulullah SAW, jangan khawatir, penulis cukup kalau tidak boleh dikatakan sangat mahir mengatur alur cerita sehingga (setidaknya sampai episode pertama ini) tidak ada persinggungan di antara bagian yang fiktif dengan yang tidak.

Selamat membaca 😀
N.B kalau ada yang punya episode kedua dan ketiganya, pinjami saya ya 😀