Vaksin Palsu Dalam Berita

Vaksin Palsu dalam Berita

Definisi Vaksin

Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari sebagian atau keseluruhan dari suatu mikroorganisme penyebab penyakit yang telah dilemahkan, sehingga tidak menimbulkan penyakit tetapi cukup dapat menimbulkan respon imun dari individu yang menerima vaksin tersebut. Respon imun ini berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit yang berasal dari mikroorgnime yang dijadikan sebagai bahan vaksin, tanpa harus menderita penyakit tersebut terlebih dahulu. Demikian pentingnya peran vaksin dan vaksinasi dalam membantu menjaga kesehatan tubuh kita, sehingga pemerintah bahkan mencanangkan program vaksinasi ini secara khusus, terutama untuk penyakit peyakit yang banyak diderita di indonesia ini, yang dilaksanakan melalui instansi-instansi kesehatan milik pemerintah, seperti misalnya Puskesmas. Keberhasilan vaksinasi atau sering juga disebut imunisasi ini dalam menurunkan angka kesakitan penyakit-penyakit tadi sangat signifikan, sehingga semakin hari, para orang tua pun semakin antusias untuk mengikuti program ini, bahkan ditengah gempuran para aktivis yang menolak menggunakan vaksin denagn berbagai alasan (Antivaks).

Vaksin Palsu

Sayangnya, baru-baru ini prestasi vaksin harus terkontaminasi oleh isu adanya vaksin palsu yang beredar di masyarakat. Tentu ini menimbulkan syok di kalangan orang tua yang anak-anaknya mendapatkan vaksinasi. Isu ini tak pelak menyeret beberapa oknum pelaku pemalsuan vaksin, Rumah Sakit-Rumah Sakit yang menggunakan vaksin ini, dan juga beberapa praktisi kesehatan.

Isu mengenai vaksin palsu ini bermula ketika beredar berita ada seorang bocah yang meninggal pasca mendapatkan imunisasi (meskipun setelah diselidiki lebih lanjut, bocah tersebut meninggal bukan karena imunisasi tetapi karena penyakit lain yang dideritanya). Isu menarik ini kemudian menjadi pemberitaan luas dan beredar dengan cepat serta menarik perhatian pihak yang berwajib. Dari pengembangan kasus tersebut kemudian diketahui ada beberapa orang yang dijadikan sebagai tersangka pelaku pembuat vaksin palsu ini. Setelah itu ditelusur kemana saja vaksin-vaksin palsu ini beredar dan siapa saja penggunanya. Sehingga didapatkan ada sekitar 14 rumah sakit yang masuk dalam jalur distribusi penjualan vaksin buatan si pelaku ini. Kemudian ditetapkanlah beberapa orang lagi sebagai tersangka untuk kasus ini, yang mana beberapa diantaranya adalah dokter, bidan, dan apoteker. Ini yang sekarang sedang panas-panasnya dibicarakan. Banyak pihak mulai menganalisa kasus ini dan mulai menyampaikan bayak teori tentang kasus ini, tak luput membawa juga mengenai siapa yang harus bertanggung jawab terhadap hal ini. Di dalam tulisan ini saya tidak berniat membela siapapun, hanya berusaha menelaah fakta-fakta yang ada.

Isi Vaksin Palsu

Apa sih sebenarnya isi vaksin palsu ini? Kalau diteusur dari berita yang beredar ada beberapa versi vaksin palsu, yaitu vaksin asli yang diencerkan dengan penambahan cairan infus (NaCl 0,9%), ada yang haya berupa cairan infus saja, ada juga yang berupa kombinasi antara cairan infus dengan antibiotik pada kadar rendah. Dilihat dari segi isi vaksin palsu ini, mestinya tidak berbahaya atau tidak berakibat fatal jika disuntikkan kepada bayi atau anak penerima vaksin, kecuali pada varian terakhir yang berisi antibiotik yang memungkinkan ada efek yang agak berbahaya pada bayi atau anak yang alergi terhadap kandungan antibiotik tersebut. Sedangkan jika dilihat dari sisi tujuan pemberian vaksin, tentu saja vaksin ini gagal memenuhi tujuan tersebut. Vaksin palsu ini tidak dapat menimbulkan respon imun dan imunitas atau daya tahan tubuh terhadap penyakit yang seharusnya dapat dilakukan oleh vaksin yang asli. Dari segi inilah vaksin palsu ini bisa dikatakan relatif berbahaya.

 Asli vs Palsu

Membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu hampir mustahil dilakukan hanya dengan pemeriksaan fisik semata, bahkan jika pemeriksanya adalah seorang ahli vaksin. Ini bukan segampang membedakan uang asli dengan uang palsu, cukup dengan 3D alias dilihat, diraba, diterawang. Satu-satuya cara untuk melihat keaslian dari vaksin adalah dengan memeriksa langsung isi botol vaksin tersebut di laboratorium. Ada seorang ahli vaksin yang mengatakan bisa dengan mengecek kode unik dan tanggal kadaluarsa di label atau botol vaksin dengan di kemasan atau box nya, macam memeriksa keaslian parfum mahal. Well, bisa sih… tapi pemalsu yang lebih pintar bisa membuat keduanya sama persis. Jadi, dari sini jelas amat sangat kecil kemungkinan pengguna vaksin dapat membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu dari tampilan luarnya semata.

Lha terus kok bisa vaksin palsu ini beredar?

Ini mesti salah BPOM! Dokter! Rumah Sakit! Kemenkes!… Errrr… tunggu dulu kalau soal itu. Siapa yang salah kita bicarakan nanti. Sekarang yang penting kita bahas dulu adalah bagaimana cara membedakan vaksin asli dengan palsu…

Jadi RS nya salah ini?

soalnya beli vaksin palsu.

Saya kurang paham dengan manajemen pembelian obat dan vaksin di RS, sehingga kurang bisa berkomentar banyak. Tetapi yang jelas, jika RS membeli obat dan vaksin dari distributor resmi atau PBF (Pedagang Besar Farmasi) resmi kemudian ternyata yang diterimanya adalah palsu, maka RS tentu tidak bisa disalahkan. RS justru bisa menyeret distributor dan PBF ini ke jalur hukum karena terbukti menipu dengan memberikan vaksin palsu. Jadi RS nya ngga perlu khawatir, tinggal tunjukkan saja faktur pembelian vaksin tersebut, maka akan jelas masalahnya. Well, kecuali kalau RS nya membeli vaksin di “pasar gelap” ya ngga tahu lagi.

Berarti dokternya yang salah?

Belum tentu. Dokter yang bekerja di RS harusnya menggunakan obat atau vaksin yang disediakan oleh rumah sakit. Dalam hal ternyata vaksin yang akan digunakan tidak tersedia di apotek RS, bisa jadi dokter memberikan resep agar vaksin yang dimaksud dapat dibeli di apotek atau distributor resminya. Kalau itu yang terjadi, maka dokternya tidak bisa disalahkan. Dia sudah melakukan sesuai dengan prosedur. Dokter hanyalah pengguna vaksin juga, sama dengan para orang tua yang anaknya disuntik vaksin. Kecuali, jika oknum dokternya menggunakan vaksin di luar jalur resmi yang beresiko terpapar dengan keberadaan vaksin palsu ini atau memang oknum dokternya sendiri tahu bahwa vaksin tersebut tidak asli tetapi tetap nekat menggunakan vaksin palsu tersebut dengan berbagai alasan. Ini tidak hanya berlaku untuk dokter, tetapi juga konsumen vaksin lainnya seperti bidan.

Berarti salah BPOM ini?

… kan tugasnya dia mengawasi peredaran obat dan makanan, termasuk vaksin.. kok bisa kecolongan ada vaksin palsu yang beredar??????

Belum tentu. Jika vaksin palsu itu beredar di luar jalur resmi otomatis BPOM sendiri akan sangat sulit mendeteksi keberadaan si palsu ini, kecuali secara tidak sengaja ketemu pas waktu sidak, atau ada laporan atau keluhan dari masyarakat sehingga BPOM melakukan pemeriksaan. Gampangnya begini, jika pembuat vaksin ini mengedarkan vaksin palsu varian pertama yang sebenarnya asli hanya diencerin saja, maka vaksin yang lewat BPOM itu adalah vaksin asli.. no registrasinya juga nomor asli. Setelah itu baru diencerkan dan baru diedarkan, wajar kalau BPOM tidak mengetahui hal ini. Atau jika yang terjadi vaksin palsu jenis kedua dan ketiga dimana para pembuat vaksin palsu memproduksi sendiri vaksin palsunya di botol bekas yang mereka kumpulkan lalu dilabeli sendiri dan diberi nomor sendiri yang dibuat identik dengan nomor asli, tanpa melalui pemeriksaan BPOM kemudian disalurkan langsung ke pengguna, ya wajar juga kalau BPOM tidak tahu. Apakah ini berarti BPOM lalai? Saya kira tidak. BPOM saya rasa kerjanya tidak buruk. Lalu kok masih bisa kecolongan? Ya bisa saja. Ya harusnya sidak lah… Ya sidak sih, tapi realistis ngga kalau sidaknya setiap hari? Oleh karena itu peran masyarakat dalam melaporkan kejanggalan macam ini sangat penting. BPOM menjadi lalai jika si palsu palsu ini ternyata memperoleh nomor registrasinya dari BPOM langsung..artinya BPOM dari awal sudah tahu bahwa itu palsu tapi masih diberi nomor registrasi. Oleh karena itu sebenarnya tidak aneh, meski kasus vaksin palsu ini sudah berjalan sekitar 13 tahun dan baru ketahuan belakangan. Kenapa? Karena selama ini pas disidak ya kebetulan ngga ketemu atau tidak ada laporan kecurigaan dari masyarakat atau para pengguna vaksin.

Lha terus kok BPOM minta maaf di koran?

Dalam pandangan saya permintaan maaf ini hanya hal normatif untuk menahan bara saja. Seperti yang telah dijelaskan oleh BPOM sendiri, bahwa kasus ini sudah diketahui sejak lama bukan hanya vaksin palsu, tapi juga vaksin kadaluarsa dan pelakunya juga sudah ditindak, mulai dari peringatan sampai pembekuan ijin. Hanya masih ada yang beredar apalagi di fasilitas fasilitas tidak resmi, ya itu sudah beyond duty nya BPOM. Seperti yang saya sampaikan tadi, sidak tiap hari????

Berarti ini salah kemenkes?

Well, analogi BPOM tadi bisa dipakai disini.

Bagi saya yang jelas salah adalah yang membuat, menjual, dan mengedarkan barang palsu tadi. Sedangkan para pengguna yang memang tidak mengetahui dan tidak memiliki kapasitas dan kompetensi untuk membedakan vaksin palsu dengan yang asli, tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Bahakan kalaupun hanya untuk memuaskan ego semata.

Vaksin Palsu dalam Berita

Kenapa WNI menjadi target favorit teroris di dunia laut?

Jawabannya adalah karena cuma sial. Kebetulan lewat daerah abu sayyaf ato teroris apapun, bisa di bajak dan disandera tanpa perlawanan berarti, kena deh. Apalagi bila perusahaan yang memperkerjakan WNI bersedia membayar tebusan yang mahal.

Apakah uang adalah tujuan utama teroris?

Tentu saja. Dan pencitraan. Tujuan utama terorisme adalah menyebar teror. Semakin ditakuti, maka semakin bangga. Dan semakin mendapat nama bahwa paham yang dibawa itu teroris adalah paham yang semakin dikenal pula. Ini mungkin adalah masalah pengakuan. Bahwa paham apapun yang dibawa teroris tetap hidup, bergerilya, dan tidak mati. Maka siapapun sanderanya, tidak masalah.

Dalam titik pandangan lain, keberhasilan pencitraan soal terorisme ini sekaligus membuat malu pihak negara dimana aksi teroris itu berlangsung. Keberhasilan aksi teror tidak hanya sekali bahkan berkali-kali, seolah mempertegas ketidakmampuan negara mengatasi terorisme.

Salah satu contoh adalah kegagalan serangan pasukan elit Filipina beberapa waktu lalu. Serangan yang bertujuan membebaskan sandera ini diluar dugaan adalah jebakan. Dimana ternyata beberapa puluh pasukan elit yang menduga bisa masuk dan membebaskan sandera dengan senyap dan membunuh beberapa belas teroris, disambut oleh 1 daerah berisi teroris dan simpatisan teroris. Pernah nonton 13 hours: Secret Soldiers of Benghazi? Atau Alien vs Predator? Ya, separah itu.

Lalu apa yang harus dilakukan Republik Indonesia?

Dalam hal pembebasan sandera, tidak bisa lain daripada diplomasi. Karena setiap aksi militer Republik Indonesia walaupun bersama militer Filipina hanya akan membuka peperangan baru bagi Tentara Nasional Indonesia dengan teroris baru. Dalam hal ini, bilapun konfrontasi militer terjadi, maka sebaiknya Angkatan Bersenjata Filipina saja yang melakukan.

Dalam hal pencegahan pembajakan, patroli bersama dengan negara tetangga adalah solusinya. Terutama di daerah rawan pembajakan. Tapi dengan luas wilayah lautan yang bagai tidak bertepi, maka dibutuhkan personel yang tidak sedikit. Juga dengan pembiayaan yang lebih tidak sedikit lagi. Bila menelusur lebih jauh kepada penyebab pembajakan di laut, faktor ekonomi biasanya menjadi alasan utama. Saat faktor ekonomi tidak mensejahterakan, maka pemodal aksi terorisme ato pembajakan dapat masuk memicu.

Contoh apa yang terjadi di perairan Somalia adalah diduga bermula dari terjadinya ilegal fishing yang menghabiskan sumber daya laut di perairan Somalia. Warga dipesisir pantai yang sangat bergantung kepada sumber daya laut via nelayan, pada akhirnya harus menerima kenyataan untuk jatuh miskin. Ditambah maraknya pembuangan limbah berbahaya di perairan tersebut mengakibatkan semakin tidak ada lagi yang bisa diambil. Di titik nadir kemiskinan itu, datanglah pemodal-pemodal mengajari mereka untuk menjadi perompak laut. Faktor selain ekonomi adalah ideologi. Abu Sayyaf yang beberapa kali merompak kapal dan menyandera awak kapal adalah salah satu golongan dengan dasar agama tertentu yang menuntut otonomi khusus kepada pemerintah negara Filipina. Dalam hal ideologi ini, komunikasi yang konsisten antara pemerintah dan abu sayyaf adalah satu-satunya jalan.

Pada akhirnya, penambahan kualitas dan kuantitas armada perang Indonesia dalam rangka melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan seluruh rakyatnya, menjadi hal krusial lainnya disamping masalah rumit penyelenggaraan negara. Dan perompakan berserta penyanderaan, tidak segampang kita bicara mengerahkan pasukan khusus untuk membebaskan sandera. Karena solusi itu adalah hanya solusi jangka pendek. Masih akan ada perompakan dan penyanderaan lainnya.

p

Stop Victim Blaming

image

Ada orang yang suka memakai perhiasan dalam jumlah banyak sampai terlihat dengan jelas saat dia berjalan. Ketika kemudian ada oknum yang tergoda untuk merampoknya, tidak jarang orang justru mencibir “salahnya sendiri perhiasan dipamer-pamerkan”. Entahlah logika macam apa yang sekarang lagi tren, tapi menyalahkan korban itu jelas absurd, kecuali korban memang secara aktif memprovokasi duluan (misalnya sengaja melemparkan perhiasannya ke muka si perampok duluan, atau mengata-ngatai si perampok karena tidak punya perhiasan sebanyak dia) (itu pula yang membuat kekaguman saya pada Zinedine Zidane tidak pernah surut meski dia melakukan “sundulan” legendarisnya) . Tapi apakah dengan menimpakan segala kesalahan ke si perampok lantas semuanya happy ending?

Sering kita meributkan salah benar sampai hal-hal yang paling kecil sampai melupakan hal lain yang lebih penting. Ketika kasus perampokan mulai marak, banyak pihak menekan pemerintah agar bisa menyediakan rasa aman di jalan, memberikan hukuman setimpal, dan lain lain. Itu memang benar, sama sekali tidak salah. Tapi apabila itu belum bisa dilakukan, apa yang kita sebagai calon korban potensial ini bisa lakukan untuk menurunkan resiko?

Ketika ada yang menghimbau untuk menghindari lewat jalan tertentu di jam tertentu, untuk mempersenjatai diri dengan semprotan merica, bahkan belajar kungfu ke kwai cheng caine, janganlah direaksi dengan berlebihan. Himbauan itu hanya bentuk kepedulian. Kalau anda tidak bawa semprotan merica anda tidak salah, kalau anda tidak belajar kungfu ke Kwai Cheng Caine anda tetap tidak salah, dan bahkan ketika anda melewati jalan sepi yang terkenal banyak perampoknya dengan sederet perhiasan, anda tetap tidak salah. Tapi berada di posisi yang benar itu bukan berarti kita bebas dari resiko.

Anggaplah orang yang merampok itu orang mabuk, tidak bisa diajak bicara, atau you name it segala hal jelek lain. Ketika dia merampok, kalau ada petugas tentu petugas akan membantu anda mencegah perampokan. Pertanyaannya adalah ketika kebetulan tidak ada petugas, apakah kita akan rela begitu saja dirampok? Perlukah kita melakukan antisipasi-antisipasi?

Well, sekali lagi, itu pilihan, dan tidak ada pilihan yang salah. Sama seperti ketika anda berada di jalur yang lurus kemudian dari arah berlawanan ada kendaraan lain yang mabuk melawan arus ke arah anda. Ketika terjadi kecelakaan, tentu anda tidak salah, tapi apakah anda berusaha menghindari kecelakaan itu atau tetap bersikukuh mempertahankan jalur anda karena posisi anda benar adalah pilihan.

Standar batas kebenaran yang worth to die for bagi setiap orang memang berbeda. Karena itu kita tidak bisa menyalahkan orang atas pilihannya, pun begitu jangan salahkan orang ketika dia menghimbau atau memberi saran. Tapi ketika ada yang melakukan victim blaming, saya juga kurang paham isi kepala mereka yang melakukannya :D.

Sumber gambar : di sini

Generasi Penggema Hujan, Sebuah Review

image

Endings are hard. Any chapped-as* monkey with a keyboard can poop out a beginning, but endings are impossible. You try to tie up every loose end, but you never can.
chuck shurley, Supernatural

Membaca buku terakhir dari seri novel biografi ini, quote di ataslah yang rasanya cukup mewakili kesan yang saya dapatkan. Memang mustahil untuk menjawab semua pertanyaan yang muncul akan akhir dari suatu cerita, lebih lebih karena cerita ini sebenarnya belum pernah berakhir dan terus berlangsung sampai sekarang. Kita saat ini hanyalah bagian dari salah satu dari dua kelompok, generasi penggema hujan, atau generasi yang mendengar gema tersebut.

Buku ini menyambung keadaan umat islam di bawah kepemimpinan khalifah Usman bin Affan RA dan ditutup dengan kematian khalifah setelahnya, sang gerbang ilmu pengetahuan, Ali bin Abu Thalib RA. Ketika di buku sebelumnya sudah disinggung tentang munculnya bibit perpecahan, di buku terakhir ini bibit itu semakin terwujud dan nyata. Konflik antara Ali bin Abu Thalib, sang menantu Rasulullah SAW, dengan sang khalifah yang juga menantu Rasulullah SAW semakin runcing. Meskipun demikian, ada dua hal sangat penting dari konflik tersebut yang dapat diambil hikmahnya dari buku ini.

Yang pertama adalah bagaimana dua orang sahabat Rasulullah SAW tetap berkepala dingin dalam berkonflik. Walaupun mereka mempertentangkan hal-hal yang bagi mereka penting, mereka tetap melakukannya dengan cara-cara yang baik, tetap berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah, dan tidak saling mencaci maki dengan kata-kata yang sudah keluar konteks permasalahan. Yang ke-dua adalah, betapa banyakpun Ali tidak menyetujui kebijakan Usman sebagai khalifah, dia tetap mencintainya sebagai sesama Muslim. Ketika rumah sang khalifah diserbu, dia dan kedua anaknya yang memasang badan untuk melindunginya.

Membaca terus buku ini akan membawa kita membuka-buka lembaran sejarah dalam akhir kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Nyaris tidak ada kisah bahagia di sini. Kematian Usman bin Affan, Civil War antara sesama muslim yang pernah sehidup semati bersama Rasulullah SAW, dan kematian demi kematian para sahabat. Dan bagian paling menyakitkan saat membaca buku ini tentunya adalah ketika konflik berdarah harus terjadi di antara para sahabat yang dulu sehidup semati, rasanya kehancuran hati sang khalifah benar-benar bisa ikut kita rasakan. Dan sulit rasanya tidak ikut sedih ketika tiba juga halaman yang menceritakan kematiannya dan wasiat-wasiatnya di penghujung hayat.

Bagaimana dengan tokoh tokoh fiktif yang juga ikut berada dalam buku ini? Terus terang keberadaan mereka dikisahkan dengan begitu menyatu dalam buku ini sehingga saya seringkali bingung antara mana kisah yang memang bagian dari kisah sejarah islam dengan bagian yang fiktif. Supaya tidak bingung, semua dialog yang melibatkan Kashva, Astu, dan Vakshur saya pukul rata saja sebagai kisah fiktif, meskipun tetap tidak mengurangi menariknya kisah ini.

Banyak pula pelajaran yang didapat dari tokoh tokoh persia ini, pelajaran tentang cinta, kesetiaan, dan pengabdian. Bagaimana seorang Vakshur menghabiskan waktu puluhan tahun mencari Kashva. Kesetiaan seorang Astu terhadap Kashva. Dan kegigihan Kashva dalam pencarian kebenaran yang mengantarkannya pada kebahagiaan dan ketenangan batinnya. Setidaknya bagian antara Kashva dan Astu ini telah berhasil ditutup dengan baik oleh penulis, meskipun masih lebih banyak pertanyaan yang tersisa mengenai tokoh-tokoh yang lain seperti Vakshur, Xerses, dan yang lain.

Akhir kata, tetap lima jempol untuk sang penulis yang telah berani menulis kisah sang Nabi akhir zaman dan para penerusnya dengan bahasa yang berbeda. Salut juga untuk keberaniannya melibatkan tokoh-tokoh fiktif di dalam kisah ini meskipun rentan menimbulkan perdebatan. Semoga karya-karya selanjutnya tidak kalah menariknya. 😀

Sang Pewaris Hujan, Sebuah Review

image

Umar Bin Khattab RA, sosok yang sangat dikenal di kalangan umat islam maupun non muslim di zamannya. Ketika Abu Bakar RA menjadi khalifah, beliau menegurnya karena mencoba membujuk kekerasan pendirian sang khalifah terhadap mereka yang menolak membayar zakat. Ketika dia hendak ditunjuk sebagai khalifah berikutnya, orang-orang mengkhawatirkan sifatnya yang dianggap keras. Namun dia berhasil menepis semua anggapan tersebut, dia memang tetap keras pada mereka yang menindas yang lemah, namun sangat lembut kepada mereka yang lemah. Perjalanan kepemimpinannya sebagai penyandang pertama gelar Amirul Mukminin dapat diikuti di buku seri ketiga karangan Tasaro GK ini, Sang Pewaris Hujan.

Buku ini seperti sebelum-sebelumnya, mengisahkan kisah-kisah yang sudah umum kita dengar dari pelajaran sekolah maupun cerita guru mengaji di TPQ, namun dengan sudut pandang dan bahasa yang menurut saya lebih menarik dan manusiawi. Menggambarkan bahwa in the end, sang penakluk, yang telah meluaskan wilayah Islam demikian luas, tetaplah seorang manusia. Perasaannya tergambar begitu halus, jauh dari sosok yang mungkin dibayangkan dari orang yang memimpin “negara”  yang membentang dari mesir sampai persia.

Ketika dia tanpa pikir panjang membantu persalinan istri seorang rakyatnya bersama istrinya sendiri. Ketika dia menangis kepada Abu Ubaidah bin Jarrah, “curcol” tentang orang-orang yang telah berubah. Ketika dia tidak malu memohon bantuan, padahal dia bisa memerintahkan, kepada para gubernurnya saat Madinah dilanda kemarau panjang. Nyaris tidak tersisa kegarangannya yang sempat membuat takut umat islam maupun orang-orang non muslim terdahulu.

Namun, kisah tentang Umar kali ini yang paling menarik adalah di penghujung hidupnya. Di akhir hayatnya, sekarat di pembaringan, yang ia khawatirkan adalah bagaimana ketika kelak dia dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Bagaimana dia begitu serius menanggapi kesaksian Abdullah bin Abbas RA dan Ali bin Abu Thalib RA tentang kepemimpinannya, bagaimana dia lega ketika mengetahui bukan kaum Anshar atau Muhajirin yang ingin membunuhnya, sungguh pemimpin yang luar biasa.

Seperti buku terdahulu, selain mengisahkan perkembangan kekhalifahan Islam, buku ini kembali mengikuti perjalanan Kashva dan temannya, Elyas. Kekaguman Kashva ketika menyaksikan kesederhanaan sang Khalifah penerus Sang Lelaki Penggenggam Hujan di Yerusalem mengantarkannya ke Madinah. Dari Madinah petualangannya kembali dimulai, mengikuti entah apa yang dipersiapkan nasib baginya.

Astu dan Vakshur juga kembali ambil peran di buku ini. Setelah menyelesaikan perannya sebagai Atusa, sang panglima pasukan immortal, Astu kembali memulai hidupnya dari awal. Menggunakan semua keahlian perang dan berkudanya, dia membuka jasa ekspedisi, usaha yang kemudian akan memberikan banyak pencerahan padanya, usaha yang mempertemukannya dengan Vakshur dan menyalakan cahaya harapan di hatinya pada Kashva.

Bagian paling tidak menyenangkan dari buku ini menurut Saya adalah ending-nya. Tidak seperti dua buku terdahulu yang meskipun jelas ceritanya belum selesai tetapi ditutup dengan tenang, buku ke-tiga ini ditutup dengan sangat menggantung. Baik dari cerita di sisi Kashva cs maupun cerita di sisi kekhalifahan.

Kisah kekhalifahan ditutup dengan suksesi dari Umar bin Khattab RA kepada Usman bin Affan RA yang meninggalkan bibit perselisihan. Bibit-bibit yang cukup berani disorot dan dikupas oleh penulis buku ini, tetapi pembaca harus menunggu buku ke-4 atau menghubungi ulama terdekat untuk bisa mengetahui lanjutannya. Adapun kisah Kashva cs ditutup dengan tidak kalah menggantungnya, sebuah upaya pencarian yang tidak disertai petunjuk yang jelas.

Kesimpulan saya masih tetap, buku ini sangat menarik dan tidak membuat bosan. Hikmah yang bisa diambil tentunya seperti kebanyakan kisah teladan, adalah keteladanan. Bagaimana seorang pemimpin seharusnya memberikan keteladanan, mengajak berjuang bersama alih-alih memaksa orang berjuang untuknya. Dan satu lagi pelajaran penting, bahwa mereka-mereka yang begitu dekat dengan Rasulullah SAW, mereka yang ilmu agamanya tidak perlu diragukan lagi, mereka yang sudah menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Ibu, dan mereka yang jauh dari motif-motif duniawi, ternyata juga bisa berbeda pendapat dalam penafsiran. Meskipun begitu, mereka melakukannya dengan adab yang baik dan niat yang baik, sungguh luar biasa 🙂