Cara Menurunkan Berat Badan Tanpa Olahraga

Cara Menurunkan Berat Badan Tanpa Olahraga

Latar Belakang – Cara Menurunkan Berat Badan Tanpa Olahraga

Di akhir bulan Januari 2017… Saya baru saja kembali dari liburan 1 bulan di Indonesia, dimana saya mencoba berbagai macam makanan fantastis yang tidak dapat saya temukan di Sydney. Padahal, sebelum berangkat liburan sudah ada pesta-pesta akhir tahun di Sydney.

Sewaktu saya menjalankan rutinitas timbang badan di pagi hari, timbangan saya menunjukkan angka 99,6 kg. Angka itu adalah yang tertinggi selama ini. Sejak saat itu, saya bertekad untuk tidak akan menyentuh berat tiga digit dalam hidup saya.

Saya mulai mencari apa yang dapat saya lakukan dengan nyaman untuk mengurangi berat badan saya … dengan satu syarat: ga pake olahraga. Saya sengaja memilih untuk tidak berolahraga karena hal-hal berikut:

  • Secara pribadi, saya pikir untuk mengubah dua kebiasaan utama (makan lebih sedikit dan berolahraga lebih banyak) adalah sesuatu yang tidak akan bisa saya raih secara sustainable dalam jangka panjang.
  • Sejak saya meninggalkan olah raga Thai Boxing dan pindah ke daerah lain, saya belum menemukan gym lain yang cocok. Maka dari itu, saya tidak akan bisa berolahraga secara rutin.

Jika Anda telah mencoba menurunkan berat badan, Anda akan tahu bahwa ada 1.000.000 cara untuk menurunkan berat badan dengan beragam hasil. Namun selalu ada satu tema yang mendasar: Niat (atau bahasa kerennya Force of Will). Ini yang juga ingin saya tekankan: Keberhasilan Anda dalam mencapai tujuan tergantung pada seberapa banyak Anda berkomitmen terhadapnya.

Stage 1 – Cara Menurunkan Berat Badan Tanpa Olahraga

Setengah 2 Setengah

Stage 1 adalah ketika saya melakukan diet ini tanpa alat bantu (lebih lengkapnya baca di stage 2 dibawah ini), saya cuma pakai timbangan badan sederhana di rumah. Yang saya lakukan pada stage ini adalah dengan makan seperti biasa tetapi porsinya dibagi menjadi dua. Saya menyebutnya setengah 2 setengah karena setengah porsi pertama saya makan di jam makan siang atau malam seperti biasa, tetapi setengah porsi lainnya saya akan makan dua jam setelah itu. Jadi dalam 1 hari, saya akan makan empat kali, tapi porsinya cuma setengah dari yang biasa saya makan.

Tujuan dari cara ini adalah anda akan meninggalkan porsi makan malam yang terakhir karena Anda tidak terlalu lapar dan/atau sudah terlalu malam untuk menghabiskan porsi tersebut.

Saya tidak benar-benar mengukur berapa lama saya melakukan ini, tetapi setelah hampir satu tahun, saya berhasil turun ke 86. Setelah itu, berat badan saya naik turun di sekitaran angka 86 – 90.

Stage 2 – Cara Menurunkan Berat Badan Tanpa Olahraga

Pada bulan Juni 2018, saya baru tahu kalau dua teman baik saya: @emmanuelses dan @missrasjid telah mengalami transformasi yang sangat menakjubkan. Mereka berhasil menurunkan berat badan antara 20 – 40 kg.

Sesuai saran mereka, di stage 2 ini saya menggunakan aplikasi sederhana yang disebut MyFitnessPal. Aplikasi ini merekam semua asupan makanan saya dalam kalori. Aplikasi ini juga membantu mengatur target penurunan berat badan. Dalam hal ini, saya ingin turun dari 86,4 ke 80.

Setelah memasukkan data-data kita, aplikasi ini menyebutkan jika saya ingin menghilangkan 0,5 kg per minggu, saya harus makan 400 kalori lebih sedikit dari Total Pengeluaran Energi Harian (TDEE). Saya rasa 1740 adalah tujuan yang cukup moderat bagi saya.

Cara memasukkan data makanan di aplikasi ini lumayan simple, anda tinggal mencari makanan anda di dalam aplikasi ini, dan akan keluar secara otomatis jumlah kalori makanan tersebut. Karena banyak user yang sudah memakai aplikasi ini, mungkin daftar makanannya akan beragam dengan berbagai macam jumlah kalori.

Dua saran yang bisa saya berikan kepada diri saya pribadi adalah:

  • Jika ragu akan jumlah kalori suatu masakan, selalu gunakan jumlah kalori tertinggi dari daftar makanan di aplikasi tersebut.
  • Minum air putih yang banyak. Buat saya, paling ngga 1,8 liter per hari. Saya punya botol 1,8 liter di kantor untuk kebutuhan saya di hari kerja. Saya juga memiliki botol 500 ml untuk akhir pekan (jadi ga perlu bawa botol air raksasa kemana-mana).

2 minggu terakhir dari stage 2 dan meskipun saya telah makan kurang dari TDEE yang direkomendasikan, berat badan saya tidak bisa turun dari kisaran 82 – 83.

Saya kemudian mengubah target saya. Saya menetapkan target baru di MyFitnessPal menjadi 75 kg dengan penurunan berat badan 0,5 kg per minggu. Untuk mengakomodasi target baru ini, TDEE saya dikurangi menjadi 1640 oleh aplikasi tersebut.

Lumayan juga bisa turun dari 86,4 ke 82 dalam waktu 2 bulan.

Saya kemudian meneruskan cara ini dengan rata-rata TDEE 1640, berat badan saya pada tanggal 5 December 2018 mencapai angka 76,5.

Bonus Stage

Jika anda ingin lebih cepat menurunkan berat badan, memang olah raga menjadi salah satu alat terbaik. Tetapi, anda harus dapat melakukannya secara rutin.

Buat Anda yang menyukai statistik dan grafik, berikut adalah beberapa grafik cepat yang menunjukkan korelasi antara TDEE (asupan kalori) dan kenaikan / penurunan berat badan saya.

Daily Intake difference vs Weight Difference
Daily measurement of Weight vs TDEE

Kesimpulan

Menurunkan berat badan dari 99,6 ke 76,5 tidak terlalu sulit jika Anda dikelilingi oleh orang yang mendukung dan alat yang tepat. Saya juga perlu menekankan satu tema yang mendasar: Niat atau Force of Will. Apa pun yang Anda lakukan, Anda harus berkomitmen penuh.

Artikel ini ditulis pertama kali di blog saya berbahasa Inggris: ardipradana.com.

Vaksin Palsu Dalam Berita

Vaksin Palsu dalam Berita

Definisi Vaksin

Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari sebagian atau keseluruhan dari suatu mikroorganisme penyebab penyakit yang telah dilemahkan, sehingga tidak menimbulkan penyakit tetapi cukup dapat menimbulkan respon imun dari individu yang menerima vaksin tersebut. Respon imun ini berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit yang berasal dari mikroorgnime yang dijadikan sebagai bahan vaksin, tanpa harus menderita penyakit tersebut terlebih dahulu. Demikian pentingnya peran vaksin dan vaksinasi dalam membantu menjaga kesehatan tubuh kita, sehingga pemerintah bahkan mencanangkan program vaksinasi ini secara khusus, terutama untuk penyakit peyakit yang banyak diderita di indonesia ini, yang dilaksanakan melalui instansi-instansi kesehatan milik pemerintah, seperti misalnya Puskesmas. Keberhasilan vaksinasi atau sering juga disebut imunisasi ini dalam menurunkan angka kesakitan penyakit-penyakit tadi sangat signifikan, sehingga semakin hari, para orang tua pun semakin antusias untuk mengikuti program ini, bahkan ditengah gempuran para aktivis yang menolak menggunakan vaksin denagn berbagai alasan (Antivaks).

Vaksin Palsu

Sayangnya, baru-baru ini prestasi vaksin harus terkontaminasi oleh isu adanya vaksin palsu yang beredar di masyarakat. Tentu ini menimbulkan syok di kalangan orang tua yang anak-anaknya mendapatkan vaksinasi. Isu ini tak pelak menyeret beberapa oknum pelaku pemalsuan vaksin, Rumah Sakit-Rumah Sakit yang menggunakan vaksin ini, dan juga beberapa praktisi kesehatan.

Isu mengenai vaksin palsu ini bermula ketika beredar berita ada seorang bocah yang meninggal pasca mendapatkan imunisasi (meskipun setelah diselidiki lebih lanjut, bocah tersebut meninggal bukan karena imunisasi tetapi karena penyakit lain yang dideritanya). Isu menarik ini kemudian menjadi pemberitaan luas dan beredar dengan cepat serta menarik perhatian pihak yang berwajib. Dari pengembangan kasus tersebut kemudian diketahui ada beberapa orang yang dijadikan sebagai tersangka pelaku pembuat vaksin palsu ini. Setelah itu ditelusur kemana saja vaksin-vaksin palsu ini beredar dan siapa saja penggunanya. Sehingga didapatkan ada sekitar 14 rumah sakit yang masuk dalam jalur distribusi penjualan vaksin buatan si pelaku ini. Kemudian ditetapkanlah beberapa orang lagi sebagai tersangka untuk kasus ini, yang mana beberapa diantaranya adalah dokter, bidan, dan apoteker. Ini yang sekarang sedang panas-panasnya dibicarakan. Banyak pihak mulai menganalisa kasus ini dan mulai menyampaikan bayak teori tentang kasus ini, tak luput membawa juga mengenai siapa yang harus bertanggung jawab terhadap hal ini. Di dalam tulisan ini saya tidak berniat membela siapapun, hanya berusaha menelaah fakta-fakta yang ada.

Isi Vaksin Palsu

Apa sih sebenarnya isi vaksin palsu ini? Kalau diteusur dari berita yang beredar ada beberapa versi vaksin palsu, yaitu vaksin asli yang diencerkan dengan penambahan cairan infus (NaCl 0,9%), ada yang haya berupa cairan infus saja, ada juga yang berupa kombinasi antara cairan infus dengan antibiotik pada kadar rendah. Dilihat dari segi isi vaksin palsu ini, mestinya tidak berbahaya atau tidak berakibat fatal jika disuntikkan kepada bayi atau anak penerima vaksin, kecuali pada varian terakhir yang berisi antibiotik yang memungkinkan ada efek yang agak berbahaya pada bayi atau anak yang alergi terhadap kandungan antibiotik tersebut. Sedangkan jika dilihat dari sisi tujuan pemberian vaksin, tentu saja vaksin ini gagal memenuhi tujuan tersebut. Vaksin palsu ini tidak dapat menimbulkan respon imun dan imunitas atau daya tahan tubuh terhadap penyakit yang seharusnya dapat dilakukan oleh vaksin yang asli. Dari segi inilah vaksin palsu ini bisa dikatakan relatif berbahaya.

 Asli vs Palsu

Membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu hampir mustahil dilakukan hanya dengan pemeriksaan fisik semata, bahkan jika pemeriksanya adalah seorang ahli vaksin. Ini bukan segampang membedakan uang asli dengan uang palsu, cukup dengan 3D alias dilihat, diraba, diterawang. Satu-satuya cara untuk melihat keaslian dari vaksin adalah dengan memeriksa langsung isi botol vaksin tersebut di laboratorium. Ada seorang ahli vaksin yang mengatakan bisa dengan mengecek kode unik dan tanggal kadaluarsa di label atau botol vaksin dengan di kemasan atau box nya, macam memeriksa keaslian parfum mahal. Well, bisa sih… tapi pemalsu yang lebih pintar bisa membuat keduanya sama persis. Jadi, dari sini jelas amat sangat kecil kemungkinan pengguna vaksin dapat membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu dari tampilan luarnya semata.

Lha terus kok bisa vaksin palsu ini beredar?

Ini mesti salah BPOM! Dokter! Rumah Sakit! Kemenkes!… Errrr… tunggu dulu kalau soal itu. Siapa yang salah kita bicarakan nanti. Sekarang yang penting kita bahas dulu adalah bagaimana cara membedakan vaksin asli dengan palsu…

Jadi RS nya salah ini?

soalnya beli vaksin palsu.

Saya kurang paham dengan manajemen pembelian obat dan vaksin di RS, sehingga kurang bisa berkomentar banyak. Tetapi yang jelas, jika RS membeli obat dan vaksin dari distributor resmi atau PBF (Pedagang Besar Farmasi) resmi kemudian ternyata yang diterimanya adalah palsu, maka RS tentu tidak bisa disalahkan. RS justru bisa menyeret distributor dan PBF ini ke jalur hukum karena terbukti menipu dengan memberikan vaksin palsu. Jadi RS nya ngga perlu khawatir, tinggal tunjukkan saja faktur pembelian vaksin tersebut, maka akan jelas masalahnya. Well, kecuali kalau RS nya membeli vaksin di “pasar gelap” ya ngga tahu lagi.

Berarti dokternya yang salah?

Belum tentu. Dokter yang bekerja di RS harusnya menggunakan obat atau vaksin yang disediakan oleh rumah sakit. Dalam hal ternyata vaksin yang akan digunakan tidak tersedia di apotek RS, bisa jadi dokter memberikan resep agar vaksin yang dimaksud dapat dibeli di apotek atau distributor resminya. Kalau itu yang terjadi, maka dokternya tidak bisa disalahkan. Dia sudah melakukan sesuai dengan prosedur. Dokter hanyalah pengguna vaksin juga, sama dengan para orang tua yang anaknya disuntik vaksin. Kecuali, jika oknum dokternya menggunakan vaksin di luar jalur resmi yang beresiko terpapar dengan keberadaan vaksin palsu ini atau memang oknum dokternya sendiri tahu bahwa vaksin tersebut tidak asli tetapi tetap nekat menggunakan vaksin palsu tersebut dengan berbagai alasan. Ini tidak hanya berlaku untuk dokter, tetapi juga konsumen vaksin lainnya seperti bidan.

Berarti salah BPOM ini?

… kan tugasnya dia mengawasi peredaran obat dan makanan, termasuk vaksin.. kok bisa kecolongan ada vaksin palsu yang beredar??????

Belum tentu. Jika vaksin palsu itu beredar di luar jalur resmi otomatis BPOM sendiri akan sangat sulit mendeteksi keberadaan si palsu ini, kecuali secara tidak sengaja ketemu pas waktu sidak, atau ada laporan atau keluhan dari masyarakat sehingga BPOM melakukan pemeriksaan. Gampangnya begini, jika pembuat vaksin ini mengedarkan vaksin palsu varian pertama yang sebenarnya asli hanya diencerin saja, maka vaksin yang lewat BPOM itu adalah vaksin asli.. no registrasinya juga nomor asli. Setelah itu baru diencerkan dan baru diedarkan, wajar kalau BPOM tidak mengetahui hal ini. Atau jika yang terjadi vaksin palsu jenis kedua dan ketiga dimana para pembuat vaksin palsu memproduksi sendiri vaksin palsunya di botol bekas yang mereka kumpulkan lalu dilabeli sendiri dan diberi nomor sendiri yang dibuat identik dengan nomor asli, tanpa melalui pemeriksaan BPOM kemudian disalurkan langsung ke pengguna, ya wajar juga kalau BPOM tidak tahu. Apakah ini berarti BPOM lalai? Saya kira tidak. BPOM saya rasa kerjanya tidak buruk. Lalu kok masih bisa kecolongan? Ya bisa saja. Ya harusnya sidak lah… Ya sidak sih, tapi realistis ngga kalau sidaknya setiap hari? Oleh karena itu peran masyarakat dalam melaporkan kejanggalan macam ini sangat penting. BPOM menjadi lalai jika si palsu palsu ini ternyata memperoleh nomor registrasinya dari BPOM langsung..artinya BPOM dari awal sudah tahu bahwa itu palsu tapi masih diberi nomor registrasi. Oleh karena itu sebenarnya tidak aneh, meski kasus vaksin palsu ini sudah berjalan sekitar 13 tahun dan baru ketahuan belakangan. Kenapa? Karena selama ini pas disidak ya kebetulan ngga ketemu atau tidak ada laporan kecurigaan dari masyarakat atau para pengguna vaksin.

Lha terus kok BPOM minta maaf di koran?

Dalam pandangan saya permintaan maaf ini hanya hal normatif untuk menahan bara saja. Seperti yang telah dijelaskan oleh BPOM sendiri, bahwa kasus ini sudah diketahui sejak lama bukan hanya vaksin palsu, tapi juga vaksin kadaluarsa dan pelakunya juga sudah ditindak, mulai dari peringatan sampai pembekuan ijin. Hanya masih ada yang beredar apalagi di fasilitas fasilitas tidak resmi, ya itu sudah beyond duty nya BPOM. Seperti yang saya sampaikan tadi, sidak tiap hari????

Berarti ini salah kemenkes?

Well, analogi BPOM tadi bisa dipakai disini.

Bagi saya yang jelas salah adalah yang membuat, menjual, dan mengedarkan barang palsu tadi. Sedangkan para pengguna yang memang tidak mengetahui dan tidak memiliki kapasitas dan kompetensi untuk membedakan vaksin palsu dengan yang asli, tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Bahakan kalaupun hanya untuk memuaskan ego semata.

Vaksin Palsu dalam Berita

Pray for…

Beberapa tahun terakhir, hashtag #PrayFor menjadi semacam ‘trend’ di social media ketika terjadi sebuah peristiwa besar yang mengerikan. Saya tidak ingat secara pasti kapan hashtag ini mulai digunakan, seingat saya #PrayForJapan adalah salah satu yang muncul duluan. Pada saat itu, kita semua berdo’a atas bencana Tsunami yang melanda kota di Jepang yang juga berimbas pada bahaya reaktor nuklir disana. Seluruh dunia berdo’a untuk mereka…

Dunia Internet mulai mengikuti trend ini dan berlomba-lomba untuk memunculkan berbagai macam ide untuk hashtag ‘Pray For’, termasuk Paris, MH370, Syria, Turkey. Ada juga hashtag yang lumayan aneh, seperti Pray for Kanye bahkan ada yang Pray for penjahat yang sudah di vonis!

Apa yang sebenarnya anda ‘pray for’?

Pray for...

Karena setiap orang mempunyai kepentingan pribadi dimana mereka lebih perhatian dengan pray yang satu dibandingkan dengan pray yang lain, kita mulai mempertanyakan kenapa kok bisa beda? Bukankah kita harus adil terhadap sama?… apalagi jika yang mereka tidak pray lebih besar skalanya dibandingkan dengan yang mereka perhatikan (contohnya Pray for Ankara dibandingkan dengan Paris). Mereka kemudian mulai beradu argumen bahkan sampai ribut di media sosial mengenai ini.

Akhir-akhir ini, pertanyaan macam “Kenapa kok kamu peduli sama yang itu tapi ngga yang ini?” biasa dilontarkan dan kemudian jika jawabannya tidak memuaskan, mereka dengan entengnya mengecap orang lain sebagai hypocrite (atau bahasa kerennya munak).

Kalau menurut saya, hal ini terkait dengan dimana mereka pernah berada… Jauh lebih banyak orang yang pernah berpergian ke New York, London dan Pari jika dibandingkan dengan Ankara…

Sebagai contoh: Sewaktu World Trade Centre di’tabrak’ dua pesawat, saya merasakan derita yang lebih mendalam dibandingkan ketika melihat ledakan di London atau Charlie di Paris. Kenapa? Karena saya pernah berada di lantai 100 gedung tersebut tahun sebelumnya. Saya bisa merasakan bagaimana mengerikannya jika anda terjebak disana tanpa ada jalan keluarnya!

Contoh kedua: Tahun 2015 di Negara Amerika Serikat terdapat lebih banyak kejadian penembakan ‘mass shooting’ dibandingkan jumlah hari dalam setahun… Kasarannya hampir tiap hari ada penembakan seperti itu. Jika Presiden Obama hanya menghadiri beberapa acara mengheningkan cipta saja, apakah itu berarti dia tidak peduli dengan yang lainnya?

Contoh lain disekitar kita yang lebih relevan: Rakyat Indonesia akhir-akhir ini senang sekali ngobrolin tentang pilkada di Jakarta yang baru akan berlangsung tahun depan. Bahkan orang-orang yang tidak mempunyai hak pilih di Jakarta pun ikut komentar masalah kandidat pilihan mereka. Mari kita bandingkan dengan sebuah kota kecil di Jawa Timir yang bernama Madiun. Buat saya pribadi, kalau ada kejadian yang lumayan besar di Madiun, mungkin saya akan ikuti dengan lebih seksama. Kenapa? Karena kota Madiun merupakan salah satu kota yang paling penting buat saya (dibandingkan dengan Ankara atau Paris sekalipun!). Mungkin hanya ada 0.001% penduduk dunia ini yang tahu tentang kota ini. Apakah orang yang komentar tentang pilkada Jakarta akan berkomentar mengenai pilkada Madiun? … kan sama-sama pilkada? dan sama-sama ga punya hak pilih di daerah itu?

‘Media besar’ – Pray for mereka?

‘Media besar’ seringkali menjadi kambing hitam di kasus ini. Banyak orang mencibir ‘media besar’ tersebut karena mereka hanya mendedikasikan jam tayang ‘eksklusif’ hanya untuk segelintir momen-momen penting. Mungkin banyak yang ngga tahu bahwa ‘media besar’ itu juga dijalankan oleh manusia yang punya ikatan batinnya masing-masing. Jadi, jika mereka berbasis di Amerika Serikat, apakah mereka menjadi munafik jika lebih mementingkan untuk menayangkan proses pemilihan presiden Amerika Serikat dibanding kejadian di seberang lautan?

Mungkin ada diantara mereka yang peduli dengan kejadian yang jauh dari tempat mereka bekerja karena mereka pernah tinggal di tempat itu atau mereka punya keluarga yang tinggal disana… tetapi, berita yang mereka tulis pada akhirnya disetir juga oleh keinginan masyarakat umum… termasuk anda… untuk mendapatkan berita yang relevan di daerah tempat mereka beroperasi. Jadi, jika semakin banyak orang yang ingin membaca berita tersebut, mereka tentu akan mendapatkannya!

Realitas yang lumayan menyedihkan tentang apa yang kita doakan

Dari contoh-contoh diatas, apakah itu berarti saya tidak peka terhadap kejadian di belahan dunia lain? Sayangnya, mungkin iya (kecuali anda politisi yang suka peduli terhadap semuanya!)… Kenapa? Karena saya tidak mempunyai ikatan batin yang kuat terhadap mereka… dan kalau dilihat, dunia ini adalah tempat yang SANGAT BESAR jika anda ingin merasakan kesedihan, anda bisa memilih untuk bersedih hati hampir setiap detik dengan membaca berita-berita tersebut.

Pada akhirnya, saya tetap mendoakan keselamatan orang-orang yang tertimpa musibah-musibah yang terjadi di dunia ini dan mengutuk orang yang melakukan perbuatan yang mengerikan itu! Saya juga berdoa supaya semua pihak juga berintrospeksi supaya kejadian yang lebih parah dapat dicegah di kemudian hari.

Rio

Rio Haryanto

Rio Haryanto

18 Februari 2016 merupakan hari yang lumayan bersejarah buat bangsa Indonesia. Salah satu putra terbaiknya, Rio Haryanto, berhasil mendapatkan kursi terakhir untuk berlaga di balapan paling prestisius di Dunia: Formula One. Rio akan membalap untuk tim Manor Racing.

Kalau ngomongin karir balap dll, sudah banyak media / blogger yang menulis tentang hal itu… di wikipedia pun juga tersaji lengkap.

Nah… saya disini hanya ingin menyampaikan ungkapan kebahagiaan keluarga besar Rio dari sisi ibunya yang berasal dari Nambangan, Madiun… dan tentu saja cerita-cerita menarik mengenai Rio semasa kecil!

 


 

Rio dan Schummi
Rio dan Michael Schumacher

Rio Championship

 

Keluarga Rio Haryanto

Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu resep sukses Rio adalah dukungan keluarga yang sangat besar! Ibu Rio (atau Tante Indah, menurut saya) selalu dengan setia menemani Rio sejak dulu (terutama  sejak mulai berlaga di luar negeri).

Rio

Ngomong-ngomong tentang luar negeri, berikut cuplikan pesan dan kesan sepupu Rio yang berada di Italia: I remember the first time Rio came to Italy to race at Monza. I thought, this is Rio? The last time I saw him he was a baby just learning to walk! Then, I realized I sounded like a grandpa to say something like that! It’s a huge thing that he’s accomplished to now become the first F1 driver from Indonesia. At the same time, it’s really just the beginning of a new chapter. We hope and pray for his success– not only in winning races, but in everything he does. Go Rio!

Rio dan Dylan
Rio dan Keponakan asal Italia

Akhir-akhir ini, agak kasihan sebenarnya kalau lihat Rio datang ke acara keluarga, seperti nikahan. Kalau sudah ada satu orang yang ngajak foto, biasanya langsung terjadi antrian panjang orang-orang yang pingin foto sama dia… Maklum ga tiap hari kita bisa ketemu atlit beken 🙂

Satu hal yang tidak berubah dari Rio adalah sifatnya yang down to earth dan logat Solo nya yang lumayan kental, meskipun follower di Twitter nya sudah berjumlah ratusan ribu (atau mungkin jutaan saat anda baca tulisan ini)!

Saya pribadi sempat ngobrol ngalor ngidul sama Rio tahun lalu. Saat itu dia sedang masa reses di GP 2 Series dan meluangkan waktu liburnya dengan berkunjung ke Sydney.

Rio in Voulez Vous

Tentu saja dengan kunjungan spesial ini, saya menyempatkan diri untuk mengajak wisata kuliner di Sydney. Sebelum saya memulai wisata kuliner di Sydney bersama Rio, saya harus mengetahui terlebih dahulu diet Rio sebagai Pembalap. Rio mengatakan bahwa di setiap race, dia bisa turun berat badan hingga 1,5 kg! Jadi, sebelum balapan justru harus makan karbohidrat yang banyak!

 

Berikut cerita sepupu Rio Haryanto yang paling dekat tentang masa kecilnya

Rio dan Sepupu

Salut sama Rio sejak sdh bertekad bulat di dunia balapan. Rio yg dl gembul sama dg saya hehe. Mulai SMA dia sdh membiasakan nasi merah.. dan hasilnya skrg bs diliat! Jadi tinggal saya yg msh gembul – Mas Wimbo

Kesan bersama rio yg selalu diingat adalah waktu kecil ketika menjelang idul fitri kami sekeluarga selalu mudik ke Madiun ke rumah kakek-nenek – di Nambangan. Pada malam takbir acara wajib utk kami yaitu main kembang api. Sedangkan acara wajib setelah sholat ied, melihat srimulat di tv yg ketika itu selalu diputar tiap 2 jam. Kini hampir 20 tahun setelah itu Rio menjadi pembalap F1 pertama untuk Indonesia, bocah nambangan yang dulu “bulat” kini menjadi tampan dan bertubuh atletis. Nah yg jadi pertanyaan utk saya, mengapa saya gak setampan rio, padahal gen kami cukup dekat, jadi saya agak menyalahkan gen dari pihak bapak saya hahahaa….. Anyway buat saya , Rio kini sudah mencetak sejarah, buat keluarga maupun buat negara, apapun itu hasilnya di F1 nanti saya sudah bangga !! – Mas Aji

 

Foto-foto Rio Haryanto dan Keluarga Besar

 

Pesan buat Rio dari Keluarga Besar Nambangan yang lain

Maklum, seperti orang Indonesia pada umumnya, keluarga kami juga besar sekali jumlahnya.

Terimakasih Rio.
Untuk semangat dan perjuanganmu untuk Indonesia.
Rintangan dan cobaan tak akan membuatmu jera bahkan membuatmu lebih bijak dan sabar.
Semoga sukses kedepannya dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Kami bangga padamu Rio !!! – Tante Niekke

 

Pas Rio lahir saya nunggu dirumah sakit Kasih Ibu Solo, Alhamdulillah sekarang sudah jadi pembalap F1, sayang pas lahire Nungki aku gak sempat nunggu mungkin kalau tak tunggoni dia jadi pembalap F1 pertàma dari nambangan – Oom Bimo

 

Masih teringat ketika terakhir kali bertemu dengan Rio di resepsi pernikahan adikku 19 desember 2016 di Malang.ketika itu kepastian bisa berlaga di Formula 1 masih tak menentu.dan sekarang (tgl prescon lali aku) kabar baik yang ditunggu akhirnya datang juga.saudaraku Rio Haryanto resmi bergabung dengan Manor Racing F1 Team. Ayo Rio mbalap o sing banter nang F1.kalahno kabeh lawan2mu.sukses dulurku! – Irfandika Pratama

 

Pesan wae nggo rio; Semangat trs & tetap rendah hati. – Budhe Roem

 

Dengan selalu mendapatkan ridho Alloh swt semoga Rio berjuang unutuk negara dan bangsa Indonesia – Pakdhe Birowo

 

Good Luck Rio n Success in Grand Prix Formula 1 series 2016 – Oom Nungky

 

Good luck Rio, harumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional… tetap rendah hati dan rajin beribadahnya… – Mbak Mira

 

Setelah Belasan tahun sepertinya yaaa 😂…tidak pernah berjumpa dengan Rio, akhirnya berjumpa juga dengan saudaraku ini… beserta ibunya yg selalu setia mendampingi. Bangga, salut dan menyenangkan bisa berbincang” dengannya.. Anak yg tutur katanya sopan, low profile, berbicaranya teratur ketawan kalau dia sangat bisa menjaga emosinya.. Pembalap soalnya… 😄. Ngga muda ngga tua semua orang Indonesia dan di berbagai belahan dunia lagi membicarakannya.. (Masuk trending topic di twitter 😀) Prestasinya, kegantengannya.. semuanya deh yaa… Sukses terus buat Rio, safe race, selalu hormat dengan orangtuanya. Selamat untuk Mbak Indah & Mas Sinyo… , banyak orang bilang..
Sukses tidaknya kita sebagai orang tua adalah dinilai dari bagaimana berhasilnya kita mendidik anak” kita di kemudian hari, jadi apa anak” kita kedepannya dan seberapa bahagianya hidup mereka.. n orang tua Rio berhasil membuktikannya . – Tante Sari

 

Rio, bawalah RAGAmu melesat di ajang F1, tetapi tujukanlah JIWAmu tetap pada Tuhan dan Indonesia. #yeha# – Oom Yudi

 

 Rio Haryanto

 

 

Pengusaha, Pegawai dan Hutang

Pengusaha, Pegawai dan Hutang

*baca fatihah*

*berharap semoga tulisan yang ditulis dengan hati yang halus dan logika yang tidak tumpul, kenanya ke orang lain juga sama*

 

Pengusaha, Pegawai dan Hutang

 

Latar Belakang

Akhir-akhir ini banyak beredar tulisan di media sosial perihal pengusaha-pengusaha yang sukses berusaha tanpa hutang satu sen pun. Yang kemudian biasanya diakhiri dengan ‘tantangan’ supaya kita tidak mudahnya tergiur berhutang.

Memang tujuannya baik, tapi ada baiknya kita telaah lebih lanjut perihal hutang ini dari pengalaman pribadi seorang Djon Snow (bukan nama sebenarnya dan bukan nama karakter Game Of Thrones).

 

Dasar Teori

Dalam logika spiritual yang kita anut, kita percaya bahwa Tuhan tidak menciptakan semua dalam kaidah yang “sama”. Benar-benar sama secara harfiah. Ya kan? Itu lah kenapa orang-orang seperti kita tidak dengan mudah menghakimi orang lain atas kenyataan yang mereka terima/lakukan. Termasuk, keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan semua orang jadi pengusaha, ataupun jadi pegawai/pekerja. Menghakimi bahwa pengusaha lebih mulia daripada pekerja, sama artinya menghakimi takdir Tuhan. Kenapa? Karena jika semua orang jadi pengusaha, dan usahanya menjadi besar, mereka pasti akan butuh pegawai-pegawai untuk membantunya. Di sisi yang lain, orang-orang dengan keterampilan yang tinggi tapi tidak memiliki modal yang cukup untuk menjadi pengusaha, butuh orang-orang yang bisa mengkapitalisasi idenya menjadi sesuatu yang ada harganya, menjadi lapangan kerja buat para pegawai. Simbiosis inilah yang menjaga keseimbangan alam, perputaran  ekonomi. Walau di sisi yang lain, akibat konflik yang terus menerus terjadi secara politik dan sosial, munculah ide kelas pemilik modal (kapitalis) dan kelas pekerja (sosialis). Tapi itu pembahasan kita yang lain.

Berikutnya, coba lihat iklan property deh. Semua property harganya selalu naik tiap Senin (ok, kau bisa bilang ini hanya marketing tricks, tapi itulah faktanya), sedangkan gaji pegawai “hanya” naik setahun sekali, itupun harus ditunjang banyak faktor: revenue perusahaan, belanja modal untuk tahun berjalan, bla bla bla. Jika beruntung, maka gaji bisa naik diatas nilai inflasi, jika tidak ya siap-siap gaji hanya tergerus oleh inflasi saja. Di sisi lain, rumah selain menjadi tempat tinggal, juga bisa menjadi aset investasi terbesar yang dimiliki. Kenapa? Karena luas daratan tidak bertambah, bro! Dan pilihan tanah akan semakin terbatas. Jadi kalau pegawai mau punya rumah tapi belinya cash, tidak pakai hutang, teori matematikanya begini: buat target beli rumah berapa tahun lagi dengan harga berapa juta. Setelah itu hitung berapa tiap bulan harus disisihkan. Setalah beberapa tahun itu, berdoalah semoga saat tiba waktunya masih ada rumah yang dijual sesuai tabungan yang dimiliki. Kalau sudah tidak ada, ya tabung lagi. Berdoa lagi. Semoga masih ada umur dan belum keburu punya tanggungan-tanggungan lain yang lebih besar.

Berikutnya, punya hutang non-konsumtif berbeda dengan hutang konsumtif. Gampangannya begini, kalau hutang konsumtif tidak ada bekasnya, jadi begitu tidak mampu bayar maka tidak ada aset pengganti untuk membayarnya. Mungkin itu yg masuk ke dalam golongan gharim. Sedangkan hutang non-konsumtif berbeda. Ada aset yg menjadi jaminannya. Jadi kalau debitur tidak mampu bayar, aset bisa dijual untuk melunasi hutangnya (bahkan masih ada sisanya). Jadi ya dia tidak termasuk gharim, kan tidak punya hutang lagi.

 

Based on True Story

Marilah kita kembali ke kisah nyata seorang Djon Snow. Hampir satu dekade yang lalu dia hijrah ke Jakarta, modalnya Cuma selembar tiket kereta dan uang 300rb saja. Beruntung punya banyak teman yang baik hati dan mau menampung, kasih kasur, kasih makan, dan lain-lain untuk sementara waktu hingga si Djon bisa dapat gajinya yang pertama, yg “hanya” beberapa juta saja saat itu, dan menghidupi dirinya sendiri. Si Djon tidak punya orang tua yang kaya raya. Saat hijrah ke Jakarta, bekal dari kedua orang tuanya hanya restu dan doa siang-malam yang tidak pernah putus. Mikirin beli rumah di Jakarta? Boro-boro! Selain menghidupi dirinya sendiri, si Djon mash harus menghidupi orang tuanya di dusun sana. Beli rumah adalah pilihan nomor sekian ratus setelah bertahan hidup dan menghidupi kedua orang tuanya.

Singkat cerita, si Djon menikah. Habis itu butuh rumah buat keluarganya. Total penghasilan si Djon dan istrinya saat itu hanya sekitar 15juta. Total pengeluaran rutin tiap bulan sekitar 10 juta, sisa sekitar 5 juta. Harga rumah di saat itu sudah 300 jutaan. Pakai matematika sederhana saja, jika harga rumah naik sekitar 20% per tahun, maka dengan tabungan 5 juta per bulan (dan asumsi bisa naik 15% per tahun), baru bisa beli rumah sekitar 10 atau 11 tahun berikutnya. Silakan dicoba pakai excel.

Si Djon tidak “sesabar” itu menunggu, belum lagi lokasi yang diinginkan juga semakin menipis stock lahannya. Akhirnya dipakailah opsi KPR. Dengan cicilan yang kurang lebih sama dengan tabungan yg dimampu per bulan, bisa dapat rumah. Dan atas kuasa Illahi, tidak sampai 5 tahun si Djon bisa melunasi hutang KPR nya. Kenapa? Gaji Djon dan istrinya meningkat sejalan dengan peningkatan karir mereka, ditambah bonus dari perusahaan, ditambah lagi si Djon dan istrinya tidak tertarik untuk punya hutang konsumtif, bahkan mobil pun dari kantor si Djon saja saat itu (jadi tidak perlu keluar uang untuk membeli).

Setelah rumah pertama selesai, dengan gaji total si Djon dan istrinya yg sudah berkali-kali lipat dari saat mereka pertama kali membeli rumah, mereka berpikir untuk investasi buat anak-anaknya. Instrumennya banyak, mereka punya reksadana saham, logam mulia, saham di perusahaan teman-temannya, tapi tetap yang paling sexy adalah landed house. Harga tanah akan selalu naik, karena luas daratan tidak bertambah. Jadi digunakanlah kembali opsi KPR untuk rumah kedua. Selang itu berjalan, si istri juga tertarik dengan apartment, jadi diambil pula dengan opsi KPA. Mereka menganut asas hanya boleh berhutang untuk hal non-konsumtif, dan rasio cicilan total semua hutang tersebut tidak boleh lebih dari 35% dari total penghasilan mereka. Ini juga ada penjelasannya, tapi lain waktu saja.

Si Djon melakukan itu bukan untuk “wowkeren”, apanya yg wowkeren? Menjamin keamanan finansial untuk keluarga itu bagian dari syariat Islam juga kok. Cara mendapatkannya juga nggak kemaruk. Nggak pakai uang korupsi. Nggak pakai nilep kanan-kiri. Nggak ngoyo pula. Ya setidaknya itu menurut si Djon.

 

Kesimpulan

Dengan tanpa mengurangi rasa keyakinan bahwa Tuhan telah menetapkan rizqi untuk semua makhluk-Nya, manusia tetap harus berupaya sekuat tenaga, sekeras mungkin, semenderita mungkin untuk memenuhi semua kewajibannya sebagai manusia, apapun peranan yang dibebankan kepadanya. Karena hal itulah yang nanti akan dia pertanggujawabkan kepada Tuhannya kelak. Menghakimi orang lain yang memilih pilihan yang berbeda dalam hidup ini, tentu selain tidak bijak juga mengingkari kenyataan bahwa memang Tuhan menciptakan semua itu dengan keseimbangan. Semua manusia ada jalannya. Dan semua jalan, ada manusianya.

 

Pengusaha, Pegawai dan Hutang