Ketika Jam Kerja Pelayan Masyarakat Dipertanyakan

Ketika Jam Kerja Pelayan Masyarakat Dipertanyakan

“Sabtu tidak mau melayani. Padahal, ada warga yang bisanya mengurus (administrasi dsb.,red) hari Sabtu. Mereka (warga), kalau mengurus pas hari biasa, gaji mereka bisa dipotong. Tolong teman-teman memikirkan dan merenungkan itu,” Risma, Walikota Surabaya

Membaca link berita ini benar benar membuat kagum. Masih ada kepala daerah yang mau repot-repot menasehati para pegawainya dengan sudut pandang yang bukan dari menara gading melainkan benar-benar memikirkan dari sudut pandang masyarakat.

Ketika Jam Kerja Pelayan Masyarakat Dipertanyakan

Saya yakin, sebagian besar dari kita yang memang pekerja kantoran umumnya menempuh 5 hari kerja, bahkan mungkin ada yang 6 atau 7 hari kerja. Tentunya waktu luang yang dimiliki untuk mengurus apapun layanan publik mulai sekedar surat keterangan pencari kerja sampai izin usaha hanya pada saat libur alias sabtu dan minggu. Lantas apa yang harus dilakukan jika pada saat libur justru pelayanan tutup? akhirny kita harus izin, dengan resiko seperti yang sudah dikatakan Ibu Walikota yang saya nukil di atas.

Solusi masalah ini sebetulnya banyak. yang pertama tentu saja menambah pegawai untuk membuka loket pelayanan selama 7 hari atau bahkan 24 jam. Bagaimana kalau ternyata untuk opsi tersebut tidak bisa dilakukan karena terkendala anggaran atau sumber daya manusia? kalau hanya menambah 2 atau 4 jam kerja saja mungkin bisa diatasi dengan lembur, tapi kalau sampai menambah jam kerja lebih dari 5 jam setiap harinya, bisa-bisa justru para pegawainya yang akan berbondong-bondong masuk rumah sakit. Oleh karena itu mungkin beberapa alternatif usulan ini bisa dipertimbangkan.

1. Geser jam operasional

Selama ini jam kerja yang jamak digunakan untuk pelayanan adalah jam 7 pagi sampai jam 4 sore, dengan istirahat siang. mungkin akan lebih baik kalau jam operasional ini digeser menjadi mulai jam 1 siang sampai jam 10 malam. Dengan begini mereka yang bekerja bisa mengurus layanan yang dibutuhkan selepas jam kerja tanpa perlu menambah jumlah petugas.

2. Geser hari operasional

Ini mirip dengan nomor satu, tapi yang digeser harinya. Kalau selama ini operasional pelayanan adalah senin sampai jumat ditambah setengah hari pada hari sabtu (kalau ada), digeser saja menjadi rabu sampai minggu ditambah senin setengah hari (kalau ada). dengan demikian tidak ada lagi alasan tidak sempat mengurus pelayanan/perizinan karena bekerja. Namun titik lemah cara ini adalah pada para pegawainya, kalau hari libur mereka justru pada hari selasa dan senin, jadwalnya tidak akan cocok dengan jadwal libur sekolah anak dan istri (kalau punya).

3. Gunakan Teknologi Informasi

Di banyak daerah cara ini sudah digunakan. Dengan menggunakan teknologi informasi, pengurusan layanan maupun perizinan bisa dilakukan kapan saja dan dari mana saja. Namun kelemahan sistem ini adalah pada back officenya, percuma saja kalau orang bisa mendaftar layanan pada jam 11 malam kalau di sisi back office tidak ada petugas yang memprosesnya.

Mungkin otak terbatas saya baru bisa terpikir 3 cara itu sih yang paling masuk akal. Kalau cara itu dilakukan, ditambah peningkatan kualitas petugas yang melayani supaya bisa lebih ramah dan humanis, saya yakin calo dan biro jasa bisa berkurang jumlahnya.

Ketika Jam Kerja Pelayan Masyarakat Dipertanyakan

Pemerintah mata duitan? Coba cek dulu aturan pajak yang bener!

Pemerintah mata duitan

Akhir-akhir ini di dunia maya sedang diributkan mengenai seseorang yang membeli tas dan kemudian dikenakan pajak puluhan juta rupiah oleh petugas bea dan cukai.

Sebenarnya ini pemerintah mata duitan atau kita yang tidak mengerti aturan pajak?

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.010/2017, pemerintah mengatur 10.826 jenis barang dengan tarif bea masuk yang beragam mulai 0% sampai lebih dari 30 persen.

Sebenarnya semua sudah tertuang di Peraturan Menteri Keuangan Nomor 188/PMK.04/2010. Bagi anda yang ingin tahu peraturan lengkapnya kayak gimana, silahkan download PMK 188 di link ini.

Tapi ga mungkin kan kita baca itu semua! Untuk lebih gampangnya, kami bikin list yang lebih mudah dimengerti berikut ini:

Apa saja yang TIDAK kena pajak?

  1. Barang yang dibawa ke luar negeri dan kemudian dimasukkan kembali ke dalam negeri (Pasal 7 ayat 1). Pasal ini buat yang berpergian keluar negeri
  2. Barang pribadi yang akan digunakan selama berada di Indonesia dan akan dibawa kembali pada saat meninggalkan daerah (Pasal 7 ayat 2). Pasal ini buat yang mudik atau liburan ke Indonesia
  3. Barang pribadi sampai dengan batas nilai tertentu (US$250 per penumpang atau US$1,000 per keluarga) (Pasal 7 ayat 3) Untuk awak pesawat nilai tersebut hanya US$50. (Pasal 10 ayat 1)
  4. Diluar point ketiga, barang berikut ini juga bebas bea masuk dan cukai untuk SETIAP penumpang dewasa:
    • 200 batang sigaret
    • 25 batang cerutu
    • 100 gram tembakau
    • 1 liter alcohol (Pasal 9 ayat 1)
  5. Untuk awak pesawat bebas bea masuk dan cukai dibatasi hanya sebanyak:
    • 40 batang sigaret, 10 batang cerutu, 40 gram tembakau. 350ml alcohol (Pasal 11 ayat 1)

Apa saja yang kena pajak?

  1. Barang pribadi dengan nilai diatas US$250 per orang atau US$1,000 per keluarga. (Pasal 8 ayat 1)
  2. Uang melebihi Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
  3. Barang dagangan, barang impor, barang kiriman
    • Barang dagangan adalah barang yang menurut jenis, sifat dan jumlahnya tidak wajar untuk keperluan pribadi, diimpor untuk diperjualbelikan, barang contoh, barang baku atau bahan penolong industry dan/atau barang yang digunakan untuk tujuan selain pemakaian pribadi
    • Barang kiriman adalah barang impor yang dikirim oleh pengirim terentu di luar negeri kepada penerima tertentu di dalam negeri

Apa saja yang dilarang masuk?

  1. Barang bebas bea masuk dan cukai diatas jumlah yang diperbolehkan (contoh: alkohol lebih dari 1 liter)
  2. Barang larangan dan barang yang dibatasi untuk impor

Beberapa masukan:

  • Kalau memang anda kena pajak, jangan lupa untuk minta bukti pembayaran kepada pejabat bea dan cukai.
  • Saat keberangkatan, kita bisa meminta pejabat bea dan cukai untuk mengidentifikasi barang pribadi untuk mempermudah identifikasi barang saat masuk kembali ke daerah.

Pemerintah mata duitan

Kurangi Debat, Perbanyak Diskusi

Kurangi diskusi, perbanyak debat

“Ketahuilah dan yakinlah bahwa perdebatan yang diadakan dengan tujuan mencari kemenangan, menundukkan lawan, melahirkan kelebihan dan kemuliaan diri, membesarkan mulut di muka orang banyak, ingin kemegahan dan kebebasan serta ingin menarik perhatian orang, adalah sumber segala budi yang tercela pada Allah dan terpuji pada Iblis Musuh Allah”, -Ihya Ulumuddin-

Berdasarkan pengalaman, berdebat, terutama yang tidak didukung iklim yang kondusif, akan menyisakan luka di hati. Berdebat itu memang sekali-sekali perlu, terutama ketika hendak mencegah sebuah keburukan massal atau hendak menggolkan kebaikan massal. Namun seringkali, orang lebih suka terpancing melakukan debat yang sia-sia dan menorehkan luka di hati. Kita jauh lebih perlu memperbanyak diskusi daripada debat, dua terminologi ini saya gunakan untuk memisahkan pemahaman saja, bukan untuk berdebat soal definisi dalam kamus. 😀

Lantas apa bedanya berdebat dengan berdiskusi?


1. Tujuan
Dalam sebuah perdebatan, biasanya kita mencari kemenangan, sedangkan dalam diskusi, tujuannya adalah saling memperkaya cakrawala masing-masing.

2. Mendengarkan lawan bicara
Dalam sebuah perdebatan, karena ingin menang, kita dapat terpancing mendengarkan lawan bicara untuk mencari kelemahan dalam argumentasinya, bahkan kalau perlu kesalahan sepele seperti tata bahasa akan dieksploitasi untuk menyerang. Dalam diskusi, kita mendengarkan lawan bicara untuk memahami dan menyerap substansi argumennya untuk kemudian ditanggapi atau diterima.

3. Data
Dalam sebuah perdebatan, data seolah-olah sudah menjadi kewajiban, tanpa data anda bukanlah apa-apa dan diremehkan. Bahkan ketika anda sudah membawa data segede gaban, pihak lawan juga akan tetap mengorek-ngorek keshahihan data anda (padahal bagi orang yang menggeluti dunia per-data-an, tentunya tahu serba-serbi bagaimana sebuah data dihasilkan dan disimpulkan 😛 ). Dalam diskusi, data akan menjadi sebuah tambahan yang memperkaya argumentasi, namun semua pihak bisa berasumsi dan bersimulasi tanpa perlu takut diserang. Misalnya dalam sebuah diskusi tentang perancangan software, ketika ada yang mengatakan, “bagaimana seandainya ada user yang begini?” alih-alih diserang dengan, “Emangnya mana datanya? ada berapa banyak user yang seperti itu?” akan lebih baik kalau pertanyaan tersebut direspon dan dibahas bersama untuk antisipasi ke depan.

4. Adab
Dalam berdebat, rawan bagi adab untuk dilupakan, suara meninggi, memotong pembicaraan pihak lain, bahkan menekan secara mental melalui pendukung (kalau ada penonton) yang ujung-ujungnya bukan membuat lawan bicara mengeluarkan argumentasi terbaiknya melainkan justru menekan supaya performanya jelek. Dalam diskusi, biasanya dilakukan dengan lebih santai, bicara tetap tegas namun bukan keras, sambil duduk bersama dengan suasana yang baik sehingga argumentasi argumentasi yang dihasilkan juga berbobot.

5. Keterbukaan
Besar kemungkinan, karena dalam berdebat kita ingin memenangkan argumen dan tampil memukau, kita menghindari mengatakan sebuah kebenaran yang beresiko kehilangan simpati publik, dan sebaliknya mengusung sebuah argumen yang meskipun kita sendiri sudah tahu kesalahannya, namun tetap kita gunakan karena ingin memenangkan simpati publik, apalagi di media sosial yang penontonnya begitu banyak dari berbagai kalangan. Sebaliknya dalam berdiskusi, kita tidak perlu khawatir dengan suara mayoritas, kita akan lebih fokus berargumentasi dengan kebenaran yang kita yakini terlepas suara ramai di luaran.

6. End Game
Jika berjalan dengan iklim yang buruk, perdebatan seringkali meninggalkan rasa sakit hati, sementara dalam sebuah diskusi, sebuah kesepakatan untuk tidak sepakat adalah hal yang wajar dan tidak perlu ada sakit hati.

Seperti ditulis di awal, berdebat bukan tidak ada gunanya, sekali-sekali kalau memang dirasa mendesak memang kita terpaksa harus berdebat :D. Dan kalaupun terpaksa, akan lebih baik kalau debat itu dibawa ke arah diskusi sehingga meskipun pada akhirnya ada yang harus kalah, luka yang ditimbulkan menjadi sekecil mungkin.

Entah kenapa, sebagian orang memang lebih suka berdebat daripada berdiskusi. Ketika mereka melempar bola dengan mengeluarkan atau men-share suatu pernyataan atau artikel, mereka menghindari diskusi. Ketika diajak berdiskusi ada saja alasannya yang tidak ada waktu lah, malas menanggapi karena percuma lah, dan sejuta alasan lain. Namun anehnya, ketika ada tanggapan yang bernada menyerang (menyerang dirinya atau lawannya), menanggapinya cepat sekali. Kalau emosi masih belum stabil (sebagian dari kita akan mengalami fase-fase begini) mungkin bisa dimaklumi, namun bagi mereka yang secara usia seharusnya sudah bisa dianggap dewasa, semestinya hal-hal seperti ini bisa dihindari :D.

N.B. ini tulisan refleksi, penulis sendiri pernah hobi berdebat dan melakukan kesalahan-kesalahan di atas, sekarang sudah berusaha mengurangi meski masih sering terpancing 😀

“Diskusi itu adu gagasan, sedangkan debat itu adu keganasan”, -seorang teman yang sudah 20 tahun lebih melalui hidupnya dengan berdebat-

Kurangi diskusi, perbanyak debat