Butuh Sakit Untuk Sehat? – Part 1

Saat itu, adik bungsu pulang dari luar kota. Dan seperti biasa, kami foody frenzy sekeluarga. Kemarinnya kami makan2 di Eat n Eat (es krim duriannya memang haujek soroh), paginya kami makan sop konro dan sop saudara di Aroma Makassar, lalu lanjut malamnya makan nasi kebuli dan krengsengan kambing dari Kampung Arab. Kemudian saat sedang bercanda ngakak2 bersama keluarga, tiba2 saya merasa fly dan susah bernafas. Nyaris saya terjatuh dari kursi karena kehilangan keseimbangan dan mata sedikit berkunang2. Dengan bingung, saya duduk sandaran dinding, berusaha mengatur nafas dengan pelan sambil memejamkan mata. Sedikit membaik, malam itu saya putuskan untuk tidur cepat.

eskrim durian

sop sodara

sop konro

Butuh Sakit Untuk Sehat?

Ah, dan tidur malam itu seperti maalm terpanjang untuk saya agar bisa tidur. Karena untuk sekedar bernafas saja seperti tidak nyaman. Dengan terlentang gagal, saya miring kanan-kiri sampai tertidur entah jam berapa. Esok paginya, saya bangun dengan keadaan yang sama dengan beberapa minggu sebelumnya. Kaki kiri dari pergelangan kebawah sedikit nyeri saat menapak, hilang keseimbangan, dan kepala pusing. Biasanya pusing begitu akan membaik setelah saya mandi pagi dan sarapan. Tapi ini hingga hampir jam 12 siang kepala masih pusing, berat, dan nafas tersengal2. Melakukan kegiatan sedikit saja semisal naik tangga, akan ngos2an. Maka setelah makan siang, saya memutuskan mampir ke bidan tetangga sebelah untuk numpang tensi darah.

Dan betapa terkejutnya saya (juga istri yang menemani, termasuk yang melakukan pengukuran) karena tensi saya adalah 150/110! Karena tensi normal manusia adalah paling tinggi 120/80, dan 150/110 sudah termasuk hipertensi stadium 1. Dirumah, bini langsung membuatkan gesrutan 1 timun (besar), lalu disuruhnya saya habisin. Sore itu juga saya mendatangi praktek dokter umum tetangga. Begitu ditensi sama dokternya, lumayan, tensi turun 135/100. Namun tetap sang dokter menganggap itu hal yang serius. Dugaan sementara, saya mengalami hiperkolesterol dan hipertensi awal. Saya diberi resep glucovanche (untuk menurunkan kadar gula darah) dan Lipitor (untuk menurunkan kadar kolesterol). Dokter (alhamdulillah) belum menemukan kondisi gagal jantung ato serangan jantung pada saya saat itu. Tapi dengan kondisi hiperkolesterol dan hipertensi seperti itu terus menerus,maka ada kemungkinan saya terkena (astaghfirullah) jantung koroner.

kadar-tekanan-darah-rendah

Juga saya diwajibkan merubah pola hidup ugal2an. Harus memulai olahraga (jalan kaki selama 30-60 menit tiap hari ato minimal 150 menit dalam 1 minggu), mengurangi konsumsi gula-karbohidrat-protein hewani (kambing/sapi/ayam/telur)-protein laut (kepiting/cumi/kerang/udang), perbanyak makan sayur dan buah, tidur minimal 6 jam dalam 24 jam, selalu berpikir positif, dan menghindari stress. Dokter menenangkan saya yang saat itu sudah pucat pasi, bahwa saya tidak merokok dan tidak minum2an keras sehingga mempermudah upaya menyehatkan badan. Tapi saya harus serius merubah gaya hidup sebelum terlambat. Menurunkan berat badan jalan awalnya. Memang menurunkan berat badan tidak terlalu berhubungan dengan serangan jantung. Tapi dengan menurunkan berat badan saya yang saat itu 97 kilogram, akan mengurangi resiko serangan jantung. Selain juga mempermudah menormalkan hiperkolesterol dan hipertensi saya.

Bagaimana ceritanya kolesterol berhubungan dengan serangan jantung? Serangan jantung terutama disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Pada penyakit jantung koroner, sejenis lilin yang disebut plak terbentuk di bagian dalam arteri jantung. Plak terbentuk dari kolesterol dan sel-sel lainnya. Jumlah plak meningkat perlahan-lahan dan membuat bagian dalam pembuluh darah menyempit. Sedikit darah dapat mengalir melaluinya dan keping darah dapat menumpuk di depan plak dan membuat penggumpalan. Jika penggumpalan pecah dan tersendat di bagian pembuluh darah yang menyempit, maka serangan jantung terjadi. Kebanyakan penyakit jantung koroner, yang menyebabkan terjadinya serangan jantung dikarenakan perilaku dan gaya hidup. Hal ini termasuk makan makanan tak sehat, tidak banyak bergerak, merokok dan meminum terlalu banyak alkohol. Serangan jantung adalah gawat darurat. Beberapa menit pertama adalah sangat penting untuk keberlangsungan kehidupan penderita. Beberapa kerusakan akibat serangan jantung dapat diperbaiki pada jam pertama saja. Gejala yang utama serangan jantung adalah sakit yang sangat pada dada. Sakit bisa saja terjadi pada bahu, perut, dan rahang. Suatu serangan jantung selalu merusak otot jantung.

Coronary_heart_disease

HeartAttack

Sang Dokter melanjutkan, bahwa serangan jantung memang tidak bisa dengan mudah dikenali hanya dari kadar kolesterol ato rendahnya tensi darah saja. Tapi membutuhkan observasi serius dari tes darah, EKG, sampai dengan treadmill-test, dan lainnya. Maka tahap pertama dari observasi itu adalah, saya diputuskan untuk menjalani tes darah kolesterol lengkap-gula darah-asam urat esok harinya. Malam itu, istri saya menyiapkan 1 butir kentang kukus dengan lauk tumisan sayur sawi penuh bawang putih sebagai makanan. Saya tidak ada masalah dengan makanan itu. Saya justru bermasalah dengan isi kepala saya, bahwa saya mengalami tanda2 parah ke arah serangan jantung. Dan itu terbawa terus setiap saya akan berangkat tidur..

 

Bersambung..

 

Butuh Sakit Untuk Sehat?

One Reply to “Butuh Sakit Untuk Sehat? – Part 1”

  1. Usahakan tidur sekitar 6-8 jam sehari. Jangan sampai kesibukan membuatmu menomorduakan tidur demi produktivitas. Coba atur kembali prioritasmu demi tubuh yang lebih sehat. Ayo jalankan pola hidup yang sehat sebagai investasi untuk masa depanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *