Tustel – Capturing moments of life –

~ sebuah resensi ~

Penulis : Maria Timmen Surbakti

12527864_1237199136307906_482673275_n

Menangkap setiap kejadian gambaran kehidupan, berlatar belakang potret klasik/vintage. Adat budaya klasik di tengah kehidupan post modern.

Sebuah novel bertema romantika pasangan yang terbentur adat, tradisi, dan sekat strata sosial. Fenomena cerita sebuah kisah roman yang terhalang karena padan aturan adat batak toba antara marga Aruan dan Sitorus yang tak bisa saling menikahi. Begitu mereka tahu kenyataan itu, di situlah dimulai kisah pengembaraan Sang Dokter yang bermarga Aruan. Pengalaman hidupnya mengajarkan apa itu cinta.

Alurnya dapat mengaduk perasaan mereka yang melankolis, menjadi kamus yang cukup komplit untuk mereka yang suka traveling, dan cukup gamblang mengangkat tema masalah pernikahan dalam adat istiadat sebuah suku besar di Indonesia. Ketegangan sebuah perjuangan dan gejolak hati yang akhirnya terpapar dalam setiap potret babnya. Pertemuan fiksi dan science dalam membahas asamara yang menggugah jiwa. Meruak filosofi romantika dan psikologi sejoli yang kasmaran.

Apa yang membuat hidup begitu bergairah ? Cinta tentunya.

Adalah Sulu Aruan, seorang pemuda dari Tanah Batak, seorang dokter lulusan Universitas Gajah Mada. Di akhir masa kuliahnya dia bertemu dengan seorang perempuan bermarga Sitorus, Chrisinta atau biasa dipanggil Sin. Tapi sayang hubungan mereka tak direstui orang tua, karena marga mereka termasuk marga yang dilarang menikah sesuai padan yang ada.

Sulu kemudian memutuskan mengambil dinas PTT di pedalaman Maluku. Lalu tersebutlah kisah pengalamannya mengunjungi banyak daerah dari Sabang sampai Merauke bahkan hingga ke Dili, Timor Leste, melewati perbatasan Motaain, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan yang begitu panjang, semalaman dari kota Yogyakarta ke Ambon dan berlayar menuju pulau Seram. Kisah tentang petualangan eksotis seorang dokter di pedalaman Maluku, termasuk tentang menangani sebuah pasien yang mengidap Schizophrenia, yang dianggap kemasukan setan oleh masyarakat di pedalaman Maluku.

Beberapa cerita cinta juga ditemuinya. Di sana ada salah satu pasiennya, Ratih, perempuan yang masih memendam cintanya pada Kasim. Akan tetapi Kasim dijodohkan dengan Abim yang seorang Pegawai Negeri. Di sana pula dia bertemu dengan Hasan, temannya semasa masih menjadi dokter muda yang akhirnya mengajaknya pindah kerja ke Atambua. Hasan sedang bermasalah dengan perkawinannya. Atas saran darinya, hubungan Hasan dan istrinya membaik kembali. Sementara itu, dirinya sendiri yang tengah patah hati, lalu pergi ke Wina, Austria, untuk mengerjakan penelitian di sana. Dia juga beberapa kali mengajar para pengungsi di refugee camp.

Pengalaman hidupnya mengajarkan apa itu cinta. Kisah pencarian kesejatian sebuah cintanya. Kemudian terbang ke Kupang dan melanjutkan perjalanan ke Atambua sampai ke Dili, Timor Leste melewati perbatasan Motaain, Nusa Tenggara Timur, ke Batak Karo lalu terbang ke Wina, Austria, dan akhirnya kembali ke Jakarta. Dia banyak mengenang kisah cintanya yang terlarang di Wina. Setiap keindahan sejarah Wina benar-benar membuatnya mengenang kisahnya sendiri. Perenungan setiap maksa cinta yang begitu dalam. Meski surat elektronik kepada Sang Kekasih yang tak pernah sekalipun terbalas.

12516110_1237199089641244_1771382826_n

Dari Segi Adat Batak : 

Sitorus dengan Aruan, Hutajulu dan Hutahaen terikat padan (perjanjian) untuk saling menganggap sisada anak dan sisada boru. Karenanya hubungan perkawinan di antara marga-marga ini adalah terlarang atau subang (pantang). Padan yang seperti ini juga mengikat marga-marga lain seperti Silaban dengan Hutabarat, Naibaho dengan Lumbantoruan, Manurung dengan Simamora Demataraja, dll. Seringkali generasi muda yang belum tahu padan tersebut terjerumus cinta `terlarang` yang terhalang tembok padan ini. Hal yang membingungkan bagi mereka mengapa cinta murni dari dua orang yang berbeda marga dan satu rumpun harus dianggap tabu. Adanya novel yang berani mengangkat kisah cinta terlarang ini tentu menarik untuk dicermati.

Unsur Intrinsik 

1. Tema
Tema yang diangkat tentang cinta, persahabatan, dan adat istiadat dalam keluarga.
2. Alur
Jika dilihat dari jalan ceritanya, novel ini menggunakan alur cerita maju mundur.
3. Sudut Pandang
Dalam Novel Tustel ini, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang campuran.
4. Penokohan
Penggambaran tokoh dalam novel ini begitu kreatif dan jelas. Tokoh utama tetap dominan sebagai protagonis.
5. Gaya Bahasa
Kata-kata yang ditulis ringan dan gaya bahasanya sangat menyesuaikan dengan perkembangna masyarakan modern. Terdapat bahasa percakapan sehari-hari beberapa suku di Indonesia. Bahasa mudah dimengerti pembaca.

Kelebihan dan kekurangan Novel 

Kelebihan 
Novel Tustel hadir sebagai novel roman dengan penokohan dari suku Batak. Mengangkat fenomena kekinian. Karya yang memiliki diferensiasi. Gaya penulisan tidak rumit, mudah dimengerti, dan mendalam sesuai tema genre. Kisah cinta dalam sebuah novel yang bertajuk budaya. Budaya erat kaitannya dengan perilaku sosial, hubungan dalam kelompok dan antar kelompok, daya tarik interpersonal, cinta, ketertarikan, dan perkawinan, keputusan, agresi, kesesuaian, ketaatan, kepatuhan, dan kerjasama. Buku yang persuasif untuk memahami berbagai sudut pandang. Kisah perjalanannya sangan menarik. Cerita dengan berbagai latar di Wina dan Indonesia, baik tempat-tempat yang indah dan pedalaman, menambah daya tarik buku ini. Membaca “Tustel” seperti terbawa dalam semua adegan cerita. Rahasia dan mimpi cinta yang terus tumbuh dan bertunas. Keindahan yang dituturkan mampu membayangkan sedang berdiri di suatu sore langit yang sedang bermain hujan. Meski tidak ada pelangi melengkung. Kisah petualangan dan impian, cinta yang liar dan berani. Pada bab terakhir memberi kejutan demi kejutan yang tak disangka. Sebuah kekuatan cerita yang luar biasa.

Di samping cerita ini berdasarkan pengalaman budaya batak, Penulis sendiri bukanlah suku Batak, melainkan suku Karo. Sungguh hasrat penulis untuk menulis dan memahami berbagai budaya di Indonesia sebagai wujud ketertarikannya terhadap fenomena sosial yang ada. Antropologi budaya yang selalu erat dalam kehidupan sosial dan keluarga. Prestasi yang luar biasa untuk usia muda tertarik menulis tema budaya seperti ini.

Cerita ini mengingatkan pada kisah roman yang selalu abadi dikenang, seperti Romeo dan Juliet, sebuah kisah tragedi karya William Shakespeare yang ditulis pada awal karirnya. Tragedi tentang sepasang kekasih muda yang terhalang cintanya karena kedua keluarga mereka saling bermusuhan. Atau The Great Gatsby, sebuah karya F. Scott Fitzgerald tahun 1925. Bercerita tentang kehidupan miliarder Jay Gatsby dan socialita Daisy Buchanan yang dituturkan oleh tetangga Jay dan juga sepupu Daisy, Nick Carraway. Diceritakan pertemuan mereka kembali pada puncak masa Roaring Twenties. Sebelumnya kisah cinta mereka juga terlarang. Atau Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, yang ditulis oleh Buya Hamka. Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian. Kritikus sastra Bakri Siregar menyebut Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sebagai karya terbaik Hamka. Dan masih banyak novel kisah roman yang abadi lainnya.

Ketertarikan penulis mengangkat genre roman novel, menjadi kesan bahwa kisah dalam novel ini akan digemari sepanjang masa. Persoalan roman, puitik, kisah eros, bahasan yang paling aduhai sepanjang zaman, sejak zaman kerajaan hingga kekinian.

Lebih spesisik lagi novel ini kategori roman populer, mengandung puisi naturalis. Deskripsi cerita dengan alur teratur. Bahasanya juga puitis. Kata-kata filosofis yang hanya bisa dipahami secara naratologis.

Beberapa Testimonier : 

Tustel, sebuah kata yg klasik mengartikan alat pengabadi kejadian. Menangkap kejadian /momentum kehidupan dan cerita romansa, analogi yang tepat menjadikannya sebagai judul novel ini. Cerita yang inspiratif, membuka pemikiran tentang sesuatu yang konservatif dan klasik. Di sepanjang zaman budaya mengatur untuk kebaikan bersama. Cinta, intimasi, komitmen tiga hal yang disampaikan dalam buku ini.

  • Frans Padak Demon, Director of  VOA Indonesia, Jakarta

Budaya sebagai warisan leluhur yang sangat berharga. Tidak lupa dari semua itu budaya sangat menghargai perdamaian, keluhuran, keindahan, dan cinta. Buku ini menjadi menarik ketika mengangkat kisah budaya suku batak. Inisiatif seorang muda menulis persuasif agar yang membaca mau lebih tertarik tentang seluk beluk budaya dan hakekatnya.

  • Juara R. Ginting, Antropolog, Leiden, Belanda

Mengupas cinta romantis dari perasaan intens dan ketertarikan sepasang kekasih, dalam sebuah konteks erotis dengan harapan masa depan. Buku yang menggugah rasa dan asa. Sangat menarik.

  • Tanta J. Ginting, Aktor, Orange, California

Budaya Batak sebagai bagian dari budaya Timur,pada dasarnya menganut paham kebersamaan. Suatu hal yang tentu saja luhur karena konsep yang seperti itu bersifat kolektif artinya baik permasalahan perorangan anggota keluarga maupun persoalan keluarga sebagai suatu keutuhan adalah masalah bersama. Dengan demikian maka yang bertanggung-jawab menjaga kelestarian sebuah perkawinan adalah seluruh keluarga besar. Keluarga besar berfungsi melindungi sekaligus meyakinkan agar sejauh mungkin tidak ada unsur paksaan atau tekanan apapun yang akan menyakiti siapapun dari antara anggotanya. Pliliha penulis untuk mengambiul alur cerita dengan sentuhan budaya dan latar belakang belakang daerah dari Sabang sampai Merauke tentu memerlukan imajinasi yang kuat dan luas. Penulis berhasil merangkai sejuta keindahan cinta tidak saja dalam wujud romansa melainkan juga dalam pesona alam. Tulisan yang kreatif dan inspiratif. Terus berkarya.

  • Mayjen TNI (Purn) R.K Sembiring Meliala, Jakarta, Indonesia

Seorang pembaca Novel “Tustel”, saking bersemangatnya membuat foto profil dan status di BBM-nya dari salah satu kutipan dari Novel.

12804575_1237199249641228_528452365_n

Kekurangan

Pada bab awal terkesan membosankan, diawali dengan situasi datar dan kurang menantang. Pemilihan kata terutama pada bab depan kurang memberi penekanan untuk bayangan situasi mendalam. Tetapi selanjutnya jika dibaca terus sangat menarik saat mulai masuk persoalan inti. Juga kisah di Maluku yang menggemparkan.

“Agamaisasi”

Inul Mie Burung Dara

Ada sebuah kewajiban dan juga keinginan yang umum dari seseorang yang terjun ke dalam Agama; Dakwah. Entah dia beragama Islam, Nasrani, Hindu atau Budha. Dakwah adalah sebuah penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Dalam konteks seruan untuk mempelajari, mengamalkan ajaran agama, mengajak kepada kebaikan dan menjauhi kepada kemungkaran, hampir semua semua agama melakukannya.  Namun, dalam konteks berdakwah yang dimaksud adalah penyiaran agama, seruan untuk memeluk atau lebih sederhananya mencari pengikut baru, saat ini tinggal dua agama saja yang keluar untuk itu; Islam dan Nasrani.

Dua dekade lebih saya tidak lagi mendengar kata Kristenisasi. Sebuah kata yang bagi sebagian pemeluk agama yang saya anut, Islam, seperti sebuah monster yang harus diperangi. Pertama kali saya menemui istilah ini, saat masih kelas 1 SMP, dari Pak Kyai saya dimana setiap sore saya ngaji. Beliau bercerita (dengan sedikit emosi) tentang sebuah desa tetangga yang berjarak terpisah 20-an desa dari kelurahan tempat kami tinggal, desa dimana dulu dia mengajar (beliau seorang guru SD), yang mana akibat gencarnya `Indomiesasi`,`Bajuisasi`, `Uangisasi` dan `Pekerjaanisasi` yang dilakukan oleh para misionaris di desa tersebut, mengakibatkan hampir satu desa masuk Nasrani. Dua atau Tiga tahun sebelumnya, rumah saya memang pernah kedatangan dua orang pemuda misionaris. Kebetulan rumah saya dari `gedek`(bambu yang dianyam) dan hampir rubuh lagi, mungkin itu pula yang membuat mereka berdua memutuskan memasuki rumah saya. Malangnya, mereka diterima oleh Bapak saya, yang seorang mualaf (Kakek saya dari bapak adalah seorang Pendeta). Mereka pun berdiskusi dengan seru, mereka berdua mengeluarkan kitab2nya dari tasnya, sementara Bapak sesekali menuju ke lemari buku dan mengambil Al-Quran. Sebagai seorang anak kecil yang masih SD dan ingusan, tentu sangat tertarik ketika melihat dan mendengar Bapaknya sedang diskusi. Hasilnya seperti apa ? tak perlu saya ceritakan yang jelas berjalan damai tanpa `gontok-gontok`-an.

Kembali kepada cerita Pak Kyai saya yang cerita tadi, saya sempat bertanya kepada beliau, “Lalu apa yang `njenenangan` lakukan selama mengajar di desa tersebut ?”, Beliau tidak menjawab banyak tentang hal yang dilakukannya, hanya mengajar anak SD. Sebenarnya saya masih ingin bertanya lagi yang banyak, tapi tidak ingin mendebat beliau. Apalagi saya juga sadar diri masih kelas 1 SMP, bahkan membaca Arab pun kesusahan (Saat SD sampai SMP, saya terkenal susah membaca huruf di luar huruf latin, istilahnya kalau baca Al-Quran`blekak-blekuk`). Hal yang paling mengganjal yang ingin saya tanyakan salah satunya adalah, kemana saja mereka (para Pak Kyai dan Bu Nyai) selama ini ? Pernahkah mereka mencoba untuk menjemput bola kepada kaum yang mereka sebut abangan ? Sayangnya mereka tidak pernah sekalipun menjemput bola untuk berdakwah kepada kaum abangan ini. Mereka terlalu sibuk dimanja dengan `gelar` yang mereka dapatkan, seolah-olah jika kamu-kamu butuh untuk belajar agama, datangi kami yang pemuka agama ini. Lalu ketika bola-nya (kaum abangan dan juga mereka yang miskin pendidikan agama) direbut oleh kubu lain, lalu marah. Pernahkan berfikir bahwa `Indomiesasi` dan sejenisnya itu juga diajarkan dalam Agama Islam ? Zakat, bukankah diberikan kepada mereka yang fakir miskin ? Masih abangan lagi.

Lalu bagaimana dengan Islamisasi ? Ada fenomena yang menurut saya lucu, ketika orang-orang yang mereka cap abangan yang justru dekat disekitar atau lingkungan mereka haus akan dahaga Islam, justru kita membidik daerah-daerah lain yang notabene mayoritas non-muslim, Papua dan NTT misalnya. Lalu apakah jika mereka sudah mualaf lalu kita tinggalkan untuk jadi abangan lagi ? Kemudian marah lagi ketika mereka dijemput lagi oleh kubu lain.

Di lain pihak, ada kelakuan yang begitu kontra produktif dalam dakwah. Sebagian dari umat Islam, justru mempertontonkan kebodohan dan kebarbaran. Melempar dengan batu dan tahi kuda misalnya, atau melakukan pemaksaan untuk memeluk agama Islam, yang justru dulu dilakukan oleh orang arab jahilliyah kepada Nabi saw dan umatnya. Mengherankan sekali, ketika ingin mencari pengikut, berharap orang lain memeluk agamanya, tapi justru membuat jelek agama yang dianutnya. Dan lebih hebatnya lagi, sebagian pemuka agamanya (atau ngaku-ngaku pemuka agama) justru membela mereka. Lalu mengkampanyekan keadilan via khilafah, sementara terhadap golongannya sendiri tak mampu berbuat adil; hanya yang sudah mati hatinya yang mau percaya.

Tetapi bukankah sudah tertulis di Al-Quran bahwa orang-orang Nasrani dan Yahudi tidak akan pernah rela dengan kita yang muslim sampai kita mengikuti agama mereka ? Tidaklah kamu akan merasa itu adalah kristenisasi , bila imanmu kuat; merchandise, indomie bahkan rumah atau mobil mewah pun tak akan bisa menggores keyakinanmu pada agamamu. Orang-orang disekitarmu butuh kamu jika kamu merasa bisa menguatkan iman mereka. Mulailah untuk mengajarkan kebaikan dan bukan mendukung kemungkaran apalagi menanamkan kebencian dan provokasi.

*Saya mau beli Mie Burung Dara dan Sabun Dove dulu ya… *

save-gaza

Sensor Paranoisasi Indonesia

Emma Watson di film Noah

Mungkin begitu kata Vicky, mungkin juga Vicky tak tahu maksudnya.
Beberapa kejadian menarik adalah ketika NOAH dilarang untuk tayang di Indonesia :

– yang Islam radikal;
gak sesuai Al-Quran, membahayakan Iman.
– yang Nasrani Radikal;
gak sesuai dengan Bible, membahayakan Iman.
– yang Atheis-Agnostik;
agama benar2 racun, diskriminatif, kalau “Ayat2 Cinta” ada yang berpindah agama ke yang satunya boleh, kalau “Tanda Tanya” gak boleh, bla… bla… bla….

(post2 di atas tidaklah verbatim, hanya merekap inti yang mau disampaikan oleh mereka.)

Pertama, saya hanya ingin mengajak kita berfikir terbuka dan Menempatkan diri kita pada posisi yang semestinya.
Jika anda seorang Muslim, jadilah Muslim yang santun.
Jika anda seorang Kristiani, jadilah Kristiani yang santun.
Jika anda seorang Atheis atau Agnostik, jadilah Atheis atau Agnostik yang santun.
Tanpa perlu mencela dan menanamkan kebencian kepada yang berbeda. Bukankah kita sama2 bangsa Indonesia.

Ada beberapa hal yang harus kita luruskan terlebih dahulu.
Film NOAH disutradarai oleh seorang sutradara yang mungkin Atheis dengan background Kristiani (mungkin dia dulu seorang kristiani atau mungkin dibesarkan di lingkungan kristiani). Di Washington Post-pun dia sudah menjelaskan bahwa NOAH adalah film yang berdasarkan Bible yang sedikit sekali Bible-nya.

Jika kita yang beragama, harusnya kita sadari bahwa dasar pembuatan film itu sudah berbeda dengan yang kita yakini.
bagi yang Muslim, tentu plot cerita dan bertuturnya tidak akan sama dengan yang dituturkan oleh Al-Quran dan Al-Hadist. Demikian halnya bagi yang Nasrani, tentu plot cerita dan bertuturnya tidak akan sama dengan Book of Genesis (Kitab Kejadian dari Perjanjian Lama).
Bukankah jika iman kita akan tetap terjaga meski ada yang memberikan cerita berbeda ?
Sementara buat kita yang Atheis dan Agnostik, tidak perlu juga kan mengolok-olok dengan membandingkan kisah-kisah yang dituturkan oleh masing-masing kitab dengan zoroastrianism ?

Harus kita sadari ada beberapa hal yang ‘salah’ dalam sistem perfilman kita. Salah satunya adalah tidak adanya ketegasan dari pihak bioskop terhadap umur penonton. Contoh, tahun 2006 ketika “The Da Vinci Code” tayang. seingat saya, ketika masuk Indonesia adalah untuk “17 tahun ke atas”. Anehnya, ketika saya bersama teman2 kost, nonton di Galaxy Mall, Surabaya, waktu itu. Banyak diantara penonton membawa anak-anak dan diijinkan untuk masuk. Karena kebetulan di Galaxy Mall, penonton sebagian besar adalah umat Nasrani, maaf, Chinese terutama, sebagian kecil lagi adalah Mahasiswa baik dari ITS atau Unair Kampus C. Yang saya sesalkan adalah anak2 dibawa untuk menonton film ini. Jangankan anak2, yang orang dewasa saja kadang banyak yang gak ngerti maksud film-nya.
Meskipun dalam beberapa adegan, subtitle dihilangkan, dan pemotongan yang panjang ketika Langdon berdiskusi masalah “Council of Nicea”, 325 Masehi (yang akhirnya memaksa saya mencari bajakannya).

Di sisi lain adalah ketidakdewasaan penonton Indonesia (saya tidak ngomongin FPI dan yang sejenisnya yang memang tidak bisa diajak mikir). Tapi tidak perlu munafik, bahwa kita tidak ‘nyaman’ ketika kita melihat tetangga kita berbeda dengan kita. Contoh, ketika Film “Ayat-ayat Cinta” tayang, begitu banyak yang memuji, tapi begitu Film “Tanda Tanya (?)” yang tayang, gejolak dimana2. Itu belum kalau film “CIN(T)A” ditayangkan di bioskop, bisa tambah geger.
Inti utama dari permasalahannya adalah karena adanya perpindahan agama. Padahal, bukankah hal yang wajar saja, ketika seorang anak manusia sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik dan buruk, mau berpindah agama, itu urusan dia. Jika kita tidak mau anak-anak kita berpindah agama, berikan pendidikan agama yang bagus dan kuat sampai dia dewasa. Lalu kenapa kita harus takut ?

Bagi saya sendiri, kalau hanya film dengan tema tukar keyakinan atau menyindir agama, bagi saya ‘tidak terlalu mengkhawatirkan’, hanya saja masyarakat kita yang terlalu reaktif. Justru, film2 yang mengumbar kekerasan atau sex, sementara anak2 diijinkan atau diajak nonton oleh orang tuanya. “The Raid” contohnya atau film2 hantu yang saya bingung ini film horror atau film panas sih ? Atau tayangan2 yang tidak bermutu di televisi; Sinetron2 yang tidak jelas atau acara joget2 yang tidak mendidik. Herannya, semua di jam2 prime, dan tidak ada sensor sama sekali. Paling2 cuman peringatan. Yang bikin saya lebih heran lagi, ketika saya coba sedikit tanya ke penonton rumahan, ternyata yang nonton tidak sedikit, alias banyak dan ratingnya tinggi.

—-
Sekali lagi yang perlu saya sampaikan adalah, kita harusnya bisa bijak dalam memahami sesuatu. Sederhananya, cobalah kita tempatkan diri kita pada orang yang berbeda dengan kita (Meski tidak semua orang mampu menempatkan diri menjadi orang lain). Misal, saya mencoba menempatkan diri kepada kaum radikal, yang ternyata memang susah atau mungkin belum waktunya diajak mikir. Di lain waktu kita coba memposisikan diri kita pada yang beragama lain, ya harus kita pahami, bahwa dalam posisi itu kita tidak tahu banyak tentang yang kita yakini. kadang kita juga memposisikan diri ke seorang Atheis atau Agnostik, yang dalam posisi ini kita bisa mikir, tapi kadang juga emosi yang menuntun kita ke sana bukan lagi logika.

Jadi jika kita kaya, cobalah tempatkan diri kita kepada yang papa. Tapi kalau kita miskin, ya … jadilah miskin yang bermartabat. (jadi sok bijak)

*Ikhwan sok beriman,
Liberalis sok humanis,
Freethinker sok pinter,
Sosialis sok nulis. *

Emma Watson is Ila in NOAH

JOKOWI vs PRABOWO (kah) ?

jokowi-vs-prabowo
(sumber gambar : www.jurnal3.com )

Jawabnya adalah “belum tentu”. UU no 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden pada pasal 9 mensyaratkan bahwa :
“Pasangan  Calon  diusulkan  oleh  Partai  Politik  atau  Gabungan Partai  Politik  peserta  pemilu  yang  memenuhi  persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi  DPR  atau  memperoleh  25%  (dua  puluh  lima  persen) dari suara  sah  nasional  dalam  Pemilu  anggota  DPR,  sebelum pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.”

Mari kita lihat ke belakang, Di tahun 2009 :
– Demokrat memperoleh 20,85 %
– Golkar memperoleh 14,45 %
– PDIP memperoleh 14,03 %
– PKS memperoleh 7,88 %
– PAN memperoleh 6,01 %
– PPP 5,32 %
– PKB 4,94 %
– Gerindra 4,46 %
– Hanura 3,77%
– PBB 1,79% *tidak lolos `parliamentary threshold`, yang artinya tidak berhak mendapat kursi di DPR*

(Sebelumnya, ini hanyalah prediksi ‘buta’, jadi tidak perlu dianggap serius, karena saya juga tidak melakukan Survey seperti halnya Cak Lontong, saya hanya comot sana-sini dengan mengambil rata-rata saja.)
Dengan merosotnya elektabilitas Demokrat (karena berbagai kasus), perkiraan saya PDIP (dan PKB mungkin) akan meraup suara dari Demokrat. PDIP akan lebih besar suaranya dari Demokrat. Akan mudah bagi PDIP untuk meraup suara tahun ini. Popularitas Kader2nya yang berhasil memimpin di daerah akan mengangkat suara (Jokowi, Risma dan Ganjar terutama).
Golkar akan tetap pada posisi stabil 10-15%, yang kemungkinan bisa juga turun karena suara berpindah ke Nasdem.
PKS ? hmm … saya kesulitan memperkirakannya, mungkin akan turun. Begitu banyak ‘kasus’ yang menyertakan PKS. (selain korupsi, juga termasuk black campaign terhadap lawan politik secara terang2an). Pemilih pintar, tidak akan lagi memilih PKS. Namun, harus disadari, seperti halnya Golkar, PDIP dan PPP, PKS punya basis massa yang fanatik. Berilah turun menjadi 5%, karena kemungkinan suara akan berpindah ke PAN.
PKB sedikit unik, Keberadaan Yenni Wahid di Demokrat akan membuat bimbang para Gusdurian, sementara pencalonan Rhoma Irama akan membuat para Fans Bang Haji (terutama di desa2 dan pemilih dengan usia di atas 50 tahun) akan cukup tertarik untuk memilih PKB (entah siapa calegnya).
Hanura ? ya … tetap segitu-gitu sajalah, apalagi Mbak Tutut masih di Golkar. Hary Tanoesoedibjo saya rasa buang-buang uang di sini, mengandalkan ‘kerinduan’ jaman Pak Harto saya rasa tidak akan memberikan hasil yang signifikan.

Jika suara yang dulu diraup oleh Demokrat berpindah ke PDIP dan Gerindra, taruh kata, saya mengambil angka 19-23% untuk PDIP dan 7-8% untuk Gerindra. Maka, untuk mencalonkan Prabowo sebagai Presiden dibutuhkan lebih banyak koalisi dengan partai lain. Sejauh ini, PPP kelihatannya akan bergabung dengan Gerindra.
Namun perlu juga diperhatikan popularitas Prabowo yang berada di kisaran 18-22 % untuk calon presiden. Apakah akan mendongkrak suara Gerindra ? Belum tentu, namun bisa saja.
Jokowi akan lebih mudah memilih calon wakilnya dari mana saja. Sementara Prabowo akan sedikit kesulitan.

Untuk menaklukan popularitas Jokowi, Prabowo harus menang dalam satu putaran. Sayangnya pada pasal 159 ayat 1 tertulis :
“Pasangan Calon terpilih adalah Pasangan Calon yang memperoleh  suara lebih dari 50% (lima  puluh  persen) dari jumlah  suara  dalam  Pemilu  Presiden dan Wakil  Presiden dengan sedikitnya 20% (dua puluh persen)  suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari ½(setengah) jumlah provinsi di Indonesia.”

Satu-satunya cara untuk Prabowo menang satu putaran saat ini adalah bergabung dengan Golkar, atau … mungkin Demokrat. Itupun harus dengan perjuangan yang tidak mudah. Dengan Golkar relatif lebih ‘lancar’, karena Prabowo memulai karir politiknya juga dari Golkar. Apalagi Ical yang saya kira hanya buang-buang uang saja di panggung ini. Semua tergantung bagaimana Prabowo meyakinkan Golkar.
Dengan Demokrat ? mungkin bisa terjadi, mungkin juga tidak. Demokrat hari-hari ini begitu ‘kesulitan’ mencari sosok untuk calon presidennya. Belum lagi tekanan ‘finansial’ dari pihak luar yang mendukung salah satu calon dari kadernya (maaf tidak saya sebutkan siapa).

Menurut saya, yang paling proporsional adalah Jokowi dan Prabowo dalam satu paket. Entah itu Jokowi Presidennya dan Prabowo Wakilnya atau sebaliknya. Ini akan memaksa bendera putih dikibarkan oleh calon lain. Permasalahannya, berada Pihak Megawati dan Prabowo. Prabowo sudah sempat bermain buruk dalam strategi politiknya bersama Megawati. Ada beberapa kemungkinan; Jika Prabowo tidak sakit hati dengan pencalonan Jokowi oleh Mega, serta tidak memaksakan syahwat politiknya untuk menjadi RI-1, apalagi jika dengan niat untuk membangun Indonesia Baru, maka Prabowo akan mau dengan `legowo` menjadi calon wakil dari Jokowi. Kemungkinan lain, Mega sedang bermain `Peluncur` saat ini, yang artinya Mega tetap memberikan Calon Presiden kepada Prabowo seperti perjanjiannya tahun 2009 lalu.

Jokowi dan Prabowo, bisa saja menjadi pasangan yang serasi dalam mengelola bangsa dan negara. Mereka memiliki talenta politik yang begitu menonjol dan tidak dimiliki oleh calon-calon lain. Memiliki komitmen yang kuat untuk membangun kemandirian bangsa, sama-sama mencintai golongan ekonomi lemah.

Bersama-sama ataukah akan sendiri-sendiri ? kita lihat nanti antara tanggal 10 sampai 16 Mei.

*Maaf saya masih Golput, tulisannya jangan dianggap serius, hanya meracau *

Pertanian dan Makanan Manusia Miskin

Bahan pangan Bamboeroentjing.com

Kalau Saja Negara2 Maju yang hanya 1/6 dari penduduk dunia tidak angkuh dengan memberikan “Makanan Manusia Miskin” kepada binatang ternaknya.

Negara2 Maju memiliki 60% dari seluruh bahan makanan di Dunia, tapi mereka memakai 2/3 jumlah tersebut untuk memberi makan binatang ternaknya. Tak terhitung entah itu dalam bentuk Kedelai, Ampas Bungkil atau Tepung Ikan. Yang berakibat pada kemungkinan kelaparan pada Dunia Ketiga.

Di lain pihak, Negara2 Distributor, pada tahun 2012 memiliki 400-an juta ton daging sapi. Yang artinya dari tujuh miliar penduduk dunia, mendapatkan 70-an kg per kepala, atau keperluan untuk hampir setahun (semua angka dalam hitungan kasar). Jumlah yang menurun dari tahun 1974, dimana Negara2 tersebut memiliki 130 juta ton daging sapi, atau 500-an kg untuk setiap manusia, atau keperluan untuk lima tahun.

Kita dapat melipatgandakan contoh2. Satu Kilogram Kedelai yang merupakan “Makanan Manusia Miskin”, memberikan protein kepada seorang anak manusia sebanyak tiga kilogram daging sapi, atau sepuluh liter Susu, atau 60 butir telur. Tetapi dari seluruh hasil Kedelai Dunia hanya 3% dipergunakan untuk makanan manusia. Selebihnya digunakan untuk memberi makan hewan ternak dan membuat benang sintetik.

Sekarang marilah kita melihat teknik teknologi barat dalam pertanian dan pengaruhnya kepada Dunia Ketiga. Jumlah pupuk yang dihasilkan oleh sebuah pabrik di Bangladesh, yang berharga 140 juta dollar, dan menggunakan Petrol yang sangat banyak serta menggunakan 1.000 tenaga kerja. Jumlah pupuk tersebut dapat dihasilkan oleh 26.000 desa, dengan alat2 yang menggunakan bahan methane. Dengan cara tersebut, bukan hanya menghasilkan pupuk, tetapi bahan bakar dan penerangan tanpa petrol. Disamping itu juga akan memberikan pekerjaan kepada lebih dari 100.000 jiwa, dan biaya yang dikeluarkan bukan 140 juta dollar tetapi hanya separuhnya. Ini hanya contoh pembandingan teknologi dengan angka kasar. Siapa yang paling beruntung ?

Prioritas lain dari pertanian adalah irigasi. Kita ambil contoh sistem irigasi pertanian amerika, yang menggunakan 905 liter bensin untuk setiap satu hektar tanah (baik untuk perabukan tanah, pemberantasan hama, dan pengairan). Inikah yang akan kita tiru ? meskipun sudah, namun tidak merata. Bandingkan dengan inovasi yang lain, yaitu memperbaiki saluran air bawah tanah dan membuat “Aquaduct”(yang tentu saja tidak umum bagi sistem pertanian kita, dimana jika sawah2 Mojokerto kekeringan air, padahal pasokan air masih melimpah di Malang). Dan sekali lagi, tanpa petrol.

Susu, Kopi dan Teh, adalah problem yang lain dalam industri pertanian. Petani harusnya dapat mengepak kopi dan/atau teh dan/atau susu di tempat untuk diekspor. Tetapi yang terjadi adalah, mereka menyerahkan hasilnya kepada perusahaan multinasional seperti Nestle, sementara Kopi dan Teh yang bagus dimonopoli oleh sebuah “kartel” perusahaan negara untuk dijual ke Negara Maju, sementara yang jelek dijual kepada manusia miskin.

 

Bahan pangan Bamboeroentjing.com

 

*Tulisan ini Meracau dan Out of Date (pertama kutulis pada 2003, yang diadopsi dari tulisan Rudolf Strahm – “Mengapa Mereka Itu Terlalu Miskin ?”), Serta tidak membahas kelimpungan dan kebijakan tentang Kedelai dan Pertanian pada sebuah Negara yang katanya Subur dan Makmur*