Kurangi Debat, Perbanyak Diskusi

Kurangi diskusi, perbanyak debat

“Ketahuilah dan yakinlah bahwa perdebatan yang diadakan dengan tujuan mencari kemenangan, menundukkan lawan, melahirkan kelebihan dan kemuliaan diri, membesarkan mulut di muka orang banyak, ingin kemegahan dan kebebasan serta ingin menarik perhatian orang, adalah sumber segala budi yang tercela pada Allah dan terpuji pada Iblis Musuh Allah”, -Ihya Ulumuddin-

Berdasarkan pengalaman, berdebat, terutama yang tidak didukung iklim yang kondusif, akan menyisakan luka di hati. Berdebat itu memang sekali-sekali perlu, terutama ketika hendak mencegah sebuah keburukan massal atau hendak menggolkan kebaikan massal. Namun seringkali, orang lebih suka terpancing melakukan debat yang sia-sia dan menorehkan luka di hati. Kita jauh lebih perlu memperbanyak diskusi daripada debat, dua terminologi ini saya gunakan untuk memisahkan pemahaman saja, bukan untuk berdebat soal definisi dalam kamus. 😀

Lantas apa bedanya berdebat dengan berdiskusi?


1. Tujuan
Dalam sebuah perdebatan, biasanya kita mencari kemenangan, sedangkan dalam diskusi, tujuannya adalah saling memperkaya cakrawala masing-masing.

2. Mendengarkan lawan bicara
Dalam sebuah perdebatan, karena ingin menang, kita dapat terpancing mendengarkan lawan bicara untuk mencari kelemahan dalam argumentasinya, bahkan kalau perlu kesalahan sepele seperti tata bahasa akan dieksploitasi untuk menyerang. Dalam diskusi, kita mendengarkan lawan bicara untuk memahami dan menyerap substansi argumennya untuk kemudian ditanggapi atau diterima.

3. Data
Dalam sebuah perdebatan, data seolah-olah sudah menjadi kewajiban, tanpa data anda bukanlah apa-apa dan diremehkan. Bahkan ketika anda sudah membawa data segede gaban, pihak lawan juga akan tetap mengorek-ngorek keshahihan data anda (padahal bagi orang yang menggeluti dunia per-data-an, tentunya tahu serba-serbi bagaimana sebuah data dihasilkan dan disimpulkan 😛 ). Dalam diskusi, data akan menjadi sebuah tambahan yang memperkaya argumentasi, namun semua pihak bisa berasumsi dan bersimulasi tanpa perlu takut diserang. Misalnya dalam sebuah diskusi tentang perancangan software, ketika ada yang mengatakan, “bagaimana seandainya ada user yang begini?” alih-alih diserang dengan, “Emangnya mana datanya? ada berapa banyak user yang seperti itu?” akan lebih baik kalau pertanyaan tersebut direspon dan dibahas bersama untuk antisipasi ke depan.

4. Adab
Dalam berdebat, rawan bagi adab untuk dilupakan, suara meninggi, memotong pembicaraan pihak lain, bahkan menekan secara mental melalui pendukung (kalau ada penonton) yang ujung-ujungnya bukan membuat lawan bicara mengeluarkan argumentasi terbaiknya melainkan justru menekan supaya performanya jelek. Dalam diskusi, biasanya dilakukan dengan lebih santai, bicara tetap tegas namun bukan keras, sambil duduk bersama dengan suasana yang baik sehingga argumentasi argumentasi yang dihasilkan juga berbobot.

5. Keterbukaan
Besar kemungkinan, karena dalam berdebat kita ingin memenangkan argumen dan tampil memukau, kita menghindari mengatakan sebuah kebenaran yang beresiko kehilangan simpati publik, dan sebaliknya mengusung sebuah argumen yang meskipun kita sendiri sudah tahu kesalahannya, namun tetap kita gunakan karena ingin memenangkan simpati publik, apalagi di media sosial yang penontonnya begitu banyak dari berbagai kalangan. Sebaliknya dalam berdiskusi, kita tidak perlu khawatir dengan suara mayoritas, kita akan lebih fokus berargumentasi dengan kebenaran yang kita yakini terlepas suara ramai di luaran.

6. End Game
Jika berjalan dengan iklim yang buruk, perdebatan seringkali meninggalkan rasa sakit hati, sementara dalam sebuah diskusi, sebuah kesepakatan untuk tidak sepakat adalah hal yang wajar dan tidak perlu ada sakit hati.

Seperti ditulis di awal, berdebat bukan tidak ada gunanya, sekali-sekali kalau memang dirasa mendesak memang kita terpaksa harus berdebat :D. Dan kalaupun terpaksa, akan lebih baik kalau debat itu dibawa ke arah diskusi sehingga meskipun pada akhirnya ada yang harus kalah, luka yang ditimbulkan menjadi sekecil mungkin.

Entah kenapa, sebagian orang memang lebih suka berdebat daripada berdiskusi. Ketika mereka melempar bola dengan mengeluarkan atau men-share suatu pernyataan atau artikel, mereka menghindari diskusi. Ketika diajak berdiskusi ada saja alasannya yang tidak ada waktu lah, malas menanggapi karena percuma lah, dan sejuta alasan lain. Namun anehnya, ketika ada tanggapan yang bernada menyerang (menyerang dirinya atau lawannya), menanggapinya cepat sekali. Kalau emosi masih belum stabil (sebagian dari kita akan mengalami fase-fase begini) mungkin bisa dimaklumi, namun bagi mereka yang secara usia seharusnya sudah bisa dianggap dewasa, semestinya hal-hal seperti ini bisa dihindari :D.

N.B. ini tulisan refleksi, penulis sendiri pernah hobi berdebat dan melakukan kesalahan-kesalahan di atas, sekarang sudah berusaha mengurangi meski masih sering terpancing 😀

“Diskusi itu adu gagasan, sedangkan debat itu adu keganasan”, -seorang teman yang sudah 20 tahun lebih melalui hidupnya dengan berdebat-

Kurangi diskusi, perbanyak debat

Stop Victim Blaming

image

Ada orang yang suka memakai perhiasan dalam jumlah banyak sampai terlihat dengan jelas saat dia berjalan. Ketika kemudian ada oknum yang tergoda untuk merampoknya, tidak jarang orang justru mencibir “salahnya sendiri perhiasan dipamer-pamerkan”. Entahlah logika macam apa yang sekarang lagi tren, tapi menyalahkan korban itu jelas absurd, kecuali korban memang secara aktif memprovokasi duluan (misalnya sengaja melemparkan perhiasannya ke muka si perampok duluan, atau mengata-ngatai si perampok karena tidak punya perhiasan sebanyak dia) (itu pula yang membuat kekaguman saya pada Zinedine Zidane tidak pernah surut meski dia melakukan “sundulan” legendarisnya) . Tapi apakah dengan menimpakan segala kesalahan ke si perampok lantas semuanya happy ending?

Sering kita meributkan salah benar sampai hal-hal yang paling kecil sampai melupakan hal lain yang lebih penting. Ketika kasus perampokan mulai marak, banyak pihak menekan pemerintah agar bisa menyediakan rasa aman di jalan, memberikan hukuman setimpal, dan lain lain. Itu memang benar, sama sekali tidak salah. Tapi apabila itu belum bisa dilakukan, apa yang kita sebagai calon korban potensial ini bisa lakukan untuk menurunkan resiko?

Ketika ada yang menghimbau untuk menghindari lewat jalan tertentu di jam tertentu, untuk mempersenjatai diri dengan semprotan merica, bahkan belajar kungfu ke kwai cheng caine, janganlah direaksi dengan berlebihan. Himbauan itu hanya bentuk kepedulian. Kalau anda tidak bawa semprotan merica anda tidak salah, kalau anda tidak belajar kungfu ke Kwai Cheng Caine anda tetap tidak salah, dan bahkan ketika anda melewati jalan sepi yang terkenal banyak perampoknya dengan sederet perhiasan, anda tetap tidak salah. Tapi berada di posisi yang benar itu bukan berarti kita bebas dari resiko.

Anggaplah orang yang merampok itu orang mabuk, tidak bisa diajak bicara, atau you name it segala hal jelek lain. Ketika dia merampok, kalau ada petugas tentu petugas akan membantu anda mencegah perampokan. Pertanyaannya adalah ketika kebetulan tidak ada petugas, apakah kita akan rela begitu saja dirampok? Perlukah kita melakukan antisipasi-antisipasi?

Well, sekali lagi, itu pilihan, dan tidak ada pilihan yang salah. Sama seperti ketika anda berada di jalur yang lurus kemudian dari arah berlawanan ada kendaraan lain yang mabuk melawan arus ke arah anda. Ketika terjadi kecelakaan, tentu anda tidak salah, tapi apakah anda berusaha menghindari kecelakaan itu atau tetap bersikukuh mempertahankan jalur anda karena posisi anda benar adalah pilihan.

Standar batas kebenaran yang worth to die for bagi setiap orang memang berbeda. Karena itu kita tidak bisa menyalahkan orang atas pilihannya, pun begitu jangan salahkan orang ketika dia menghimbau atau memberi saran. Tapi ketika ada yang melakukan victim blaming, saya juga kurang paham isi kepala mereka yang melakukannya :D.

Sumber gambar : di sini

Generasi Penggema Hujan, Sebuah Review

image

Endings are hard. Any chapped-as* monkey with a keyboard can poop out a beginning, but endings are impossible. You try to tie up every loose end, but you never can.
chuck shurley, Supernatural

Membaca buku terakhir dari seri novel biografi ini, quote di ataslah yang rasanya cukup mewakili kesan yang saya dapatkan. Memang mustahil untuk menjawab semua pertanyaan yang muncul akan akhir dari suatu cerita, lebih lebih karena cerita ini sebenarnya belum pernah berakhir dan terus berlangsung sampai sekarang. Kita saat ini hanyalah bagian dari salah satu dari dua kelompok, generasi penggema hujan, atau generasi yang mendengar gema tersebut.

Buku ini menyambung keadaan umat islam di bawah kepemimpinan khalifah Usman bin Affan RA dan ditutup dengan kematian khalifah setelahnya, sang gerbang ilmu pengetahuan, Ali bin Abu Thalib RA. Ketika di buku sebelumnya sudah disinggung tentang munculnya bibit perpecahan, di buku terakhir ini bibit itu semakin terwujud dan nyata. Konflik antara Ali bin Abu Thalib, sang menantu Rasulullah SAW, dengan sang khalifah yang juga menantu Rasulullah SAW semakin runcing. Meskipun demikian, ada dua hal sangat penting dari konflik tersebut yang dapat diambil hikmahnya dari buku ini.

Yang pertama adalah bagaimana dua orang sahabat Rasulullah SAW tetap berkepala dingin dalam berkonflik. Walaupun mereka mempertentangkan hal-hal yang bagi mereka penting, mereka tetap melakukannya dengan cara-cara yang baik, tetap berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah, dan tidak saling mencaci maki dengan kata-kata yang sudah keluar konteks permasalahan. Yang ke-dua adalah, betapa banyakpun Ali tidak menyetujui kebijakan Usman sebagai khalifah, dia tetap mencintainya sebagai sesama Muslim. Ketika rumah sang khalifah diserbu, dia dan kedua anaknya yang memasang badan untuk melindunginya.

Membaca terus buku ini akan membawa kita membuka-buka lembaran sejarah dalam akhir kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Nyaris tidak ada kisah bahagia di sini. Kematian Usman bin Affan, Civil War antara sesama muslim yang pernah sehidup semati bersama Rasulullah SAW, dan kematian demi kematian para sahabat. Dan bagian paling menyakitkan saat membaca buku ini tentunya adalah ketika konflik berdarah harus terjadi di antara para sahabat yang dulu sehidup semati, rasanya kehancuran hati sang khalifah benar-benar bisa ikut kita rasakan. Dan sulit rasanya tidak ikut sedih ketika tiba juga halaman yang menceritakan kematiannya dan wasiat-wasiatnya di penghujung hayat.

Bagaimana dengan tokoh tokoh fiktif yang juga ikut berada dalam buku ini? Terus terang keberadaan mereka dikisahkan dengan begitu menyatu dalam buku ini sehingga saya seringkali bingung antara mana kisah yang memang bagian dari kisah sejarah islam dengan bagian yang fiktif. Supaya tidak bingung, semua dialog yang melibatkan Kashva, Astu, dan Vakshur saya pukul rata saja sebagai kisah fiktif, meskipun tetap tidak mengurangi menariknya kisah ini.

Banyak pula pelajaran yang didapat dari tokoh tokoh persia ini, pelajaran tentang cinta, kesetiaan, dan pengabdian. Bagaimana seorang Vakshur menghabiskan waktu puluhan tahun mencari Kashva. Kesetiaan seorang Astu terhadap Kashva. Dan kegigihan Kashva dalam pencarian kebenaran yang mengantarkannya pada kebahagiaan dan ketenangan batinnya. Setidaknya bagian antara Kashva dan Astu ini telah berhasil ditutup dengan baik oleh penulis, meskipun masih lebih banyak pertanyaan yang tersisa mengenai tokoh-tokoh yang lain seperti Vakshur, Xerses, dan yang lain.

Akhir kata, tetap lima jempol untuk sang penulis yang telah berani menulis kisah sang Nabi akhir zaman dan para penerusnya dengan bahasa yang berbeda. Salut juga untuk keberaniannya melibatkan tokoh-tokoh fiktif di dalam kisah ini meskipun rentan menimbulkan perdebatan. Semoga karya-karya selanjutnya tidak kalah menariknya. 😀

Sang Pewaris Hujan, Sebuah Review

image

Umar Bin Khattab RA, sosok yang sangat dikenal di kalangan umat islam maupun non muslim di zamannya. Ketika Abu Bakar RA menjadi khalifah, beliau menegurnya karena mencoba membujuk kekerasan pendirian sang khalifah terhadap mereka yang menolak membayar zakat. Ketika dia hendak ditunjuk sebagai khalifah berikutnya, orang-orang mengkhawatirkan sifatnya yang dianggap keras. Namun dia berhasil menepis semua anggapan tersebut, dia memang tetap keras pada mereka yang menindas yang lemah, namun sangat lembut kepada mereka yang lemah. Perjalanan kepemimpinannya sebagai penyandang pertama gelar Amirul Mukminin dapat diikuti di buku seri ketiga karangan Tasaro GK ini, Sang Pewaris Hujan.

Buku ini seperti sebelum-sebelumnya, mengisahkan kisah-kisah yang sudah umum kita dengar dari pelajaran sekolah maupun cerita guru mengaji di TPQ, namun dengan sudut pandang dan bahasa yang menurut saya lebih menarik dan manusiawi. Menggambarkan bahwa in the end, sang penakluk, yang telah meluaskan wilayah Islam demikian luas, tetaplah seorang manusia. Perasaannya tergambar begitu halus, jauh dari sosok yang mungkin dibayangkan dari orang yang memimpin “negara”  yang membentang dari mesir sampai persia.

Ketika dia tanpa pikir panjang membantu persalinan istri seorang rakyatnya bersama istrinya sendiri. Ketika dia menangis kepada Abu Ubaidah bin Jarrah, “curcol” tentang orang-orang yang telah berubah. Ketika dia tidak malu memohon bantuan, padahal dia bisa memerintahkan, kepada para gubernurnya saat Madinah dilanda kemarau panjang. Nyaris tidak tersisa kegarangannya yang sempat membuat takut umat islam maupun orang-orang non muslim terdahulu.

Namun, kisah tentang Umar kali ini yang paling menarik adalah di penghujung hidupnya. Di akhir hayatnya, sekarat di pembaringan, yang ia khawatirkan adalah bagaimana ketika kelak dia dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Bagaimana dia begitu serius menanggapi kesaksian Abdullah bin Abbas RA dan Ali bin Abu Thalib RA tentang kepemimpinannya, bagaimana dia lega ketika mengetahui bukan kaum Anshar atau Muhajirin yang ingin membunuhnya, sungguh pemimpin yang luar biasa.

Seperti buku terdahulu, selain mengisahkan perkembangan kekhalifahan Islam, buku ini kembali mengikuti perjalanan Kashva dan temannya, Elyas. Kekaguman Kashva ketika menyaksikan kesederhanaan sang Khalifah penerus Sang Lelaki Penggenggam Hujan di Yerusalem mengantarkannya ke Madinah. Dari Madinah petualangannya kembali dimulai, mengikuti entah apa yang dipersiapkan nasib baginya.

Astu dan Vakshur juga kembali ambil peran di buku ini. Setelah menyelesaikan perannya sebagai Atusa, sang panglima pasukan immortal, Astu kembali memulai hidupnya dari awal. Menggunakan semua keahlian perang dan berkudanya, dia membuka jasa ekspedisi, usaha yang kemudian akan memberikan banyak pencerahan padanya, usaha yang mempertemukannya dengan Vakshur dan menyalakan cahaya harapan di hatinya pada Kashva.

Bagian paling tidak menyenangkan dari buku ini menurut Saya adalah ending-nya. Tidak seperti dua buku terdahulu yang meskipun jelas ceritanya belum selesai tetapi ditutup dengan tenang, buku ke-tiga ini ditutup dengan sangat menggantung. Baik dari cerita di sisi Kashva cs maupun cerita di sisi kekhalifahan.

Kisah kekhalifahan ditutup dengan suksesi dari Umar bin Khattab RA kepada Usman bin Affan RA yang meninggalkan bibit perselisihan. Bibit-bibit yang cukup berani disorot dan dikupas oleh penulis buku ini, tetapi pembaca harus menunggu buku ke-4 atau menghubungi ulama terdekat untuk bisa mengetahui lanjutannya. Adapun kisah Kashva cs ditutup dengan tidak kalah menggantungnya, sebuah upaya pencarian yang tidak disertai petunjuk yang jelas.

Kesimpulan saya masih tetap, buku ini sangat menarik dan tidak membuat bosan. Hikmah yang bisa diambil tentunya seperti kebanyakan kisah teladan, adalah keteladanan. Bagaimana seorang pemimpin seharusnya memberikan keteladanan, mengajak berjuang bersama alih-alih memaksa orang berjuang untuknya. Dan satu lagi pelajaran penting, bahwa mereka-mereka yang begitu dekat dengan Rasulullah SAW, mereka yang ilmu agamanya tidak perlu diragukan lagi, mereka yang sudah menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Ibu, dan mereka yang jauh dari motif-motif duniawi, ternyata juga bisa berbeda pendapat dalam penafsiran. Meskipun begitu, mereka melakukannya dengan adab yang baik dan niat yang baik, sungguh luar biasa 🙂

SWOT, AKO, dan RPO

Dulu, waktu kuliah, karena agak kurang kerjaan saya pernah ikut acara yang pesertanya dari bermacam-macam jurusan. Acara itu terus terang sangat panjang dan membosankan. Tapi ada seorang senior cantik yang memberikan kesan lebih dengan paduan jilbab, kacamata, dan dasinya yang bermotif ceria, dia berasal dari jurusan yang sama dengan rektor kampus saya sekarang. Materi inti alias ujung-ujungnya rangkaian acara itu adalah AKO alias Analisis Kondisi Organisasi dan RPO atau Rencana Pengembangan Organisasi. Dan bicara tentang keduanya tidak akan lepas dari yang namanya analisis SWOT (bukan SWT seperti di game game itu :p).

Analisis SWOT (Strenght atau kekuatan, Weakness atau kelemahan, Opportunity atau kesempatan/peluang, Threat atau ancaman). Ibarat olahraga, analisis SWOT ini adalah peregangan atau pemanasan yang membuka jalan ke sekian banyak gerakan inti, salah satunya adalah RPO. Tanpanya hidup terasa hampa kita akan sangat rentan terhadap cedera karena gerakan inti tidak dilakukan dengan persiapan yang cukup. SWOT memang merupakan salah satu pendekatan yang cukup diminati dalam berbagai analisis karena metode dan alur pikirnya yang mudah dipahami. Meskipun begitu perlu diingat bahwa dia bukanlah satu-satunya pilihan karena tentunya juga ada kelemahannya.

Kekuatan adalah faktor yang bisa menjadi nilai lebih dari dalam organisasi, sementara kelemahan adalah kebalikannya. Sebagai contoh, dalam sebuah tim sepakbola, usia pemain yang rata-rata muda bisa dipandang sebagai sebuah kelebihan, namun di saat yang sama bisa menjadi kelemahan. Hal seperti ini tidak boleh terjadi, karena itu kedalaman analisis harus ditingkatkan. Setelah melakukan analisis, baru didapatkan bahwa usia muda tersebut bisa sebetulnya masih bisa diperdalam. Memiliki kelebihan stamina dan kekuatan fisik dapat diletakkan sebagai kekuatan, dan minimnya pengalaman dapat dikategorikan sebagai kelemahan.

Peluang adalah sebuah kekuatan atau nilai lebih dari luar organisasi, sementara ancaman adalah kebalikannya. Jangan keliru meletakkan sebuah kelemahan sebagai ancaman dan sebaliknya, ini juga berlaku pada kekuatan dan peluang. Contoh, rencana penggusuran stadion adalah ancaman karena datang dari luar, namun kondisi pemain yang tidak betah dengan stadion adalah kelemahan karena berasal dari dalam tim. Pun halnya dengan peluang, banyak rookie berbakat untuk direkrut adalah peluang, sedangkan motivasi tim yang tinggi karena sering menang adalah kekuatan.

Dalam melakukan analisis SWOT, sebaiknya dilakukan melalui dua tahap, tahap hipotesa dan sinkronisasi data. Pertama kali melakukan, cobalah bebaskan pikiran sejenak dari segala data data yang ada, berpikirlah dengan idealis layaknya orang yang memutuskan nasib organisasi. Setelah proses ini selesai, baru komparasikan dengan data yang tersedia. Apabila ada analisis yang tidak didukung dengan data, harus diputuskan apakah perlu mencari data atau abaikan/batalkan faktor tersebut dari keseluruhan analisis.

Yang ruwet adalah justru ketika data yang tersedia bertentangan dengan analisis yang dilakukan. Misalnya, dari data yang ada, rata-rata mahasiswa yang mengikuti OSPEK nilai IPK-nya meningkat sementara kita yakin bahwa OSPEK ini adalah kegiatan yang tidak bermanfaat. Kalau sudah begini, kejernihan pikiran dan kesehatan nalar perlu digunakan. Ditelaah kembali melalui dialektika dan curah gagasan, apakah data ini yang perlu diperbarui, data ini memang salah, cara kita membaca datanya salah, atau memang analisis kita yang keliru? Analisis memang sebaiknya didukung data, tapi data juga bukanlah suatu kebenaran mutlak yang harus disembah :D.

Setelah Analisis SWOT selesai, hasilnya dapat diolah dengan sejumlah metode sehingga kemudian akan menjadi sebuah kesimpulan tentang kondisi organisasi kita. Dari hasil AKO tersebut kemudian dapat disusun RPO. Tahap demi tahap dan langkah demi langkah dikembangkan untuk memaksimalkan kekuatan, mengatasi kelemahan, menyambut peluang, dan menghadapi ancaman. Yang paling penting, RPO ini harus segera dibahas untuk diputuskan akan digunakan atau tidak, jangan hanya menjadi penghias lemari arsip dan lambang gengsi semata :D.