Vaksin Palsu Dalam Berita

Vaksin Palsu dalam Berita

Definisi Vaksin

Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari sebagian atau keseluruhan dari suatu mikroorganisme penyebab penyakit yang telah dilemahkan, sehingga tidak menimbulkan penyakit tetapi cukup dapat menimbulkan respon imun dari individu yang menerima vaksin tersebut. Respon imun ini berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit yang berasal dari mikroorgnime yang dijadikan sebagai bahan vaksin, tanpa harus menderita penyakit tersebut terlebih dahulu. Demikian pentingnya peran vaksin dan vaksinasi dalam membantu menjaga kesehatan tubuh kita, sehingga pemerintah bahkan mencanangkan program vaksinasi ini secara khusus, terutama untuk penyakit peyakit yang banyak diderita di indonesia ini, yang dilaksanakan melalui instansi-instansi kesehatan milik pemerintah, seperti misalnya Puskesmas. Keberhasilan vaksinasi atau sering juga disebut imunisasi ini dalam menurunkan angka kesakitan penyakit-penyakit tadi sangat signifikan, sehingga semakin hari, para orang tua pun semakin antusias untuk mengikuti program ini, bahkan ditengah gempuran para aktivis yang menolak menggunakan vaksin denagn berbagai alasan (Antivaks).

Vaksin Palsu

Sayangnya, baru-baru ini prestasi vaksin harus terkontaminasi oleh isu adanya vaksin palsu yang beredar di masyarakat. Tentu ini menimbulkan syok di kalangan orang tua yang anak-anaknya mendapatkan vaksinasi. Isu ini tak pelak menyeret beberapa oknum pelaku pemalsuan vaksin, Rumah Sakit-Rumah Sakit yang menggunakan vaksin ini, dan juga beberapa praktisi kesehatan.

Isu mengenai vaksin palsu ini bermula ketika beredar berita ada seorang bocah yang meninggal pasca mendapatkan imunisasi (meskipun setelah diselidiki lebih lanjut, bocah tersebut meninggal bukan karena imunisasi tetapi karena penyakit lain yang dideritanya). Isu menarik ini kemudian menjadi pemberitaan luas dan beredar dengan cepat serta menarik perhatian pihak yang berwajib. Dari pengembangan kasus tersebut kemudian diketahui ada beberapa orang yang dijadikan sebagai tersangka pelaku pembuat vaksin palsu ini. Setelah itu ditelusur kemana saja vaksin-vaksin palsu ini beredar dan siapa saja penggunanya. Sehingga didapatkan ada sekitar 14 rumah sakit yang masuk dalam jalur distribusi penjualan vaksin buatan si pelaku ini. Kemudian ditetapkanlah beberapa orang lagi sebagai tersangka untuk kasus ini, yang mana beberapa diantaranya adalah dokter, bidan, dan apoteker. Ini yang sekarang sedang panas-panasnya dibicarakan. Banyak pihak mulai menganalisa kasus ini dan mulai menyampaikan bayak teori tentang kasus ini, tak luput membawa juga mengenai siapa yang harus bertanggung jawab terhadap hal ini. Di dalam tulisan ini saya tidak berniat membela siapapun, hanya berusaha menelaah fakta-fakta yang ada.

Isi Vaksin Palsu

Apa sih sebenarnya isi vaksin palsu ini? Kalau diteusur dari berita yang beredar ada beberapa versi vaksin palsu, yaitu vaksin asli yang diencerkan dengan penambahan cairan infus (NaCl 0,9%), ada yang haya berupa cairan infus saja, ada juga yang berupa kombinasi antara cairan infus dengan antibiotik pada kadar rendah. Dilihat dari segi isi vaksin palsu ini, mestinya tidak berbahaya atau tidak berakibat fatal jika disuntikkan kepada bayi atau anak penerima vaksin, kecuali pada varian terakhir yang berisi antibiotik yang memungkinkan ada efek yang agak berbahaya pada bayi atau anak yang alergi terhadap kandungan antibiotik tersebut. Sedangkan jika dilihat dari sisi tujuan pemberian vaksin, tentu saja vaksin ini gagal memenuhi tujuan tersebut. Vaksin palsu ini tidak dapat menimbulkan respon imun dan imunitas atau daya tahan tubuh terhadap penyakit yang seharusnya dapat dilakukan oleh vaksin yang asli. Dari segi inilah vaksin palsu ini bisa dikatakan relatif berbahaya.

 Asli vs Palsu

Membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu hampir mustahil dilakukan hanya dengan pemeriksaan fisik semata, bahkan jika pemeriksanya adalah seorang ahli vaksin. Ini bukan segampang membedakan uang asli dengan uang palsu, cukup dengan 3D alias dilihat, diraba, diterawang. Satu-satuya cara untuk melihat keaslian dari vaksin adalah dengan memeriksa langsung isi botol vaksin tersebut di laboratorium. Ada seorang ahli vaksin yang mengatakan bisa dengan mengecek kode unik dan tanggal kadaluarsa di label atau botol vaksin dengan di kemasan atau box nya, macam memeriksa keaslian parfum mahal. Well, bisa sih… tapi pemalsu yang lebih pintar bisa membuat keduanya sama persis. Jadi, dari sini jelas amat sangat kecil kemungkinan pengguna vaksin dapat membedakan vaksin asli dengan vaksin palsu dari tampilan luarnya semata.

Lha terus kok bisa vaksin palsu ini beredar?

Ini mesti salah BPOM! Dokter! Rumah Sakit! Kemenkes!… Errrr… tunggu dulu kalau soal itu. Siapa yang salah kita bicarakan nanti. Sekarang yang penting kita bahas dulu adalah bagaimana cara membedakan vaksin asli dengan palsu…

Jadi RS nya salah ini?

soalnya beli vaksin palsu.

Saya kurang paham dengan manajemen pembelian obat dan vaksin di RS, sehingga kurang bisa berkomentar banyak. Tetapi yang jelas, jika RS membeli obat dan vaksin dari distributor resmi atau PBF (Pedagang Besar Farmasi) resmi kemudian ternyata yang diterimanya adalah palsu, maka RS tentu tidak bisa disalahkan. RS justru bisa menyeret distributor dan PBF ini ke jalur hukum karena terbukti menipu dengan memberikan vaksin palsu. Jadi RS nya ngga perlu khawatir, tinggal tunjukkan saja faktur pembelian vaksin tersebut, maka akan jelas masalahnya. Well, kecuali kalau RS nya membeli vaksin di “pasar gelap” ya ngga tahu lagi.

Berarti dokternya yang salah?

Belum tentu. Dokter yang bekerja di RS harusnya menggunakan obat atau vaksin yang disediakan oleh rumah sakit. Dalam hal ternyata vaksin yang akan digunakan tidak tersedia di apotek RS, bisa jadi dokter memberikan resep agar vaksin yang dimaksud dapat dibeli di apotek atau distributor resminya. Kalau itu yang terjadi, maka dokternya tidak bisa disalahkan. Dia sudah melakukan sesuai dengan prosedur. Dokter hanyalah pengguna vaksin juga, sama dengan para orang tua yang anaknya disuntik vaksin. Kecuali, jika oknum dokternya menggunakan vaksin di luar jalur resmi yang beresiko terpapar dengan keberadaan vaksin palsu ini atau memang oknum dokternya sendiri tahu bahwa vaksin tersebut tidak asli tetapi tetap nekat menggunakan vaksin palsu tersebut dengan berbagai alasan. Ini tidak hanya berlaku untuk dokter, tetapi juga konsumen vaksin lainnya seperti bidan.

Berarti salah BPOM ini?

… kan tugasnya dia mengawasi peredaran obat dan makanan, termasuk vaksin.. kok bisa kecolongan ada vaksin palsu yang beredar??????

Belum tentu. Jika vaksin palsu itu beredar di luar jalur resmi otomatis BPOM sendiri akan sangat sulit mendeteksi keberadaan si palsu ini, kecuali secara tidak sengaja ketemu pas waktu sidak, atau ada laporan atau keluhan dari masyarakat sehingga BPOM melakukan pemeriksaan. Gampangnya begini, jika pembuat vaksin ini mengedarkan vaksin palsu varian pertama yang sebenarnya asli hanya diencerin saja, maka vaksin yang lewat BPOM itu adalah vaksin asli.. no registrasinya juga nomor asli. Setelah itu baru diencerkan dan baru diedarkan, wajar kalau BPOM tidak mengetahui hal ini. Atau jika yang terjadi vaksin palsu jenis kedua dan ketiga dimana para pembuat vaksin palsu memproduksi sendiri vaksin palsunya di botol bekas yang mereka kumpulkan lalu dilabeli sendiri dan diberi nomor sendiri yang dibuat identik dengan nomor asli, tanpa melalui pemeriksaan BPOM kemudian disalurkan langsung ke pengguna, ya wajar juga kalau BPOM tidak tahu. Apakah ini berarti BPOM lalai? Saya kira tidak. BPOM saya rasa kerjanya tidak buruk. Lalu kok masih bisa kecolongan? Ya bisa saja. Ya harusnya sidak lah… Ya sidak sih, tapi realistis ngga kalau sidaknya setiap hari? Oleh karena itu peran masyarakat dalam melaporkan kejanggalan macam ini sangat penting. BPOM menjadi lalai jika si palsu palsu ini ternyata memperoleh nomor registrasinya dari BPOM langsung..artinya BPOM dari awal sudah tahu bahwa itu palsu tapi masih diberi nomor registrasi. Oleh karena itu sebenarnya tidak aneh, meski kasus vaksin palsu ini sudah berjalan sekitar 13 tahun dan baru ketahuan belakangan. Kenapa? Karena selama ini pas disidak ya kebetulan ngga ketemu atau tidak ada laporan kecurigaan dari masyarakat atau para pengguna vaksin.

Lha terus kok BPOM minta maaf di koran?

Dalam pandangan saya permintaan maaf ini hanya hal normatif untuk menahan bara saja. Seperti yang telah dijelaskan oleh BPOM sendiri, bahwa kasus ini sudah diketahui sejak lama bukan hanya vaksin palsu, tapi juga vaksin kadaluarsa dan pelakunya juga sudah ditindak, mulai dari peringatan sampai pembekuan ijin. Hanya masih ada yang beredar apalagi di fasilitas fasilitas tidak resmi, ya itu sudah beyond duty nya BPOM. Seperti yang saya sampaikan tadi, sidak tiap hari????

Berarti ini salah kemenkes?

Well, analogi BPOM tadi bisa dipakai disini.

Bagi saya yang jelas salah adalah yang membuat, menjual, dan mengedarkan barang palsu tadi. Sedangkan para pengguna yang memang tidak mengetahui dan tidak memiliki kapasitas dan kompetensi untuk membedakan vaksin palsu dengan yang asli, tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Bahakan kalaupun hanya untuk memuaskan ego semata.

Vaksin Palsu dalam Berita

Pencegahan dan Pertolongan Pertama Pada DBD

DBD

Demam Berdarah Dengue atau yang lebih keren disebut DBD memang sedang mengintai siapa saja, terutama di musim hujan ini. Oleh karena itu, saya tidak bosan mengingatkan untuk kita sekalian menjaga kesehatan diri dan lingkungan agar sebisa mungkin terhindar dari DBD.

Cara mencegah penularan DBD sebenarnya cukup murah dan sederhana. Prinsipnya adalah jangan sampai kita membiarkan perkembangbiakan nyamuk yang menjadi perantara penularan virus dengue (penyebab DBD).
 

Caranya?

Gampang, biasanya disebut dengan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur)

 

  • Kuras bak mandi sering-sering… supaya kalau ada jentik nyamuk yang nebeng disitu, tidak bisa tumbuh dan berkembang menjadi nyamuk.
  • Tutup semua tempat yang jadi penampungan air.. genthong kek.. gelas kek… apa aja, asal dia menampung air, lebih baik ditutup. Kenapa? biar nyamuk ngga bertelur disitu…
  • Kubur barang-barang tak terpakai yang mungkin bisa menjadi tempat air tergenang.. seperti kaleng bekas atau wadah air mineral bekas yang tak terpakai. Kenapa? supaya air ngga nampung disitu, trus bisa dijadiin tempat bertelur dan berkembang biak jentik nyamuk..

 

Kurang?

Tambahin nih..

  • Bereskan baju-baju yang bergelantungan di luar lemari.
  • Kalau perlu, pakai anti nyamuk saat beraktifitas
  • Kalau perlu, pakai obat nyamuk dan kelambu saat tidur.
  • Kerja bareng tetangga kiri kanan bersihin goot dan sauran air

 
Intinya sih Gaes… JAGALAH KEBERSIHAN!
 

Gimana sih gejala DBD?????

 
Secara umum, gejalanya hampir sulit dibedakan dengan gejala penyakit infeksi lainnya… tetapi di musim penghujan ini, jika anda atau anak anda atau keluarga atau sodara bin tetangga yang mengalami:

  • Panas mendadak tinggi >38,5 C. ini diukurnya pake termometer ya gaes… bukan sama tempelan telapak tangan di jidat. Jadi ngga ada salahnya investasi beli termometer… murah meriah.
  • Sakit kepala yang menjadi jadi
  • Seluruh badan terasa sakit semua bin remuk redam
  • Ada gangguan saluran pencernaan, misalnya mual-mual tanpa sebab, atau muntah…
  • Ada tanda-tanda terjadi perdarahan. Misalnya bintik-bintik merah di kulit yang kalo diteken dikit sama benda bening kayak gelas/kaca/penggaris plastik ngga ilang, atau mimisan
  • Tetangga kiri kanan ada yang kena DBD

 
Boleh kita curiga bahwa kita sedang terkena DBD. Ngga usah panik dulu… bisa dilakukan langkah-langkah berikut:

  1. Atasi gejala yang timbul.

Maksudnya, obati gejala-gejala yang dianggap sangat mengganggu, misalnya panas, nyeri badan dan mual muntahnya.. Saran saya, berinvestasilah pada Paracetamol, Antasida, dan Difenhidramin dirumah… murah meriah dan sangat bermanfaat.. Kalau merek dagangnya ya macam-macam… silahkan dicari sendiri.

  1. Beri cairan yang cukup

Minum cairan yang cukup, terutama yang mengandung elektrolit… mau pakai oralit ya boleh, mau pakai minuman elektrolit semacam air kelapa, atau minuman komersial lainnya ya boleh… yang jelas jangan sampai tubuh kekurangan cairan. Ingat, dehidrasi bisa meningkatkan suhu tubuh juga.. plus bikin lemes gaes..
Minum jus jambu boleh????

Boleh aja. Tapi tidak terbatas pada jus jambu ya gaes.. multivitamin pada buah penting buat kita.. jadi disarankan pada kondisi seperti ini konsumsi jus segala buah… buah apa aja boleh.

  1. Tingkatkan daya tahan tubuh

Beri cairan yang cukup, dan sebisa mungkin meski mual atau muntah usahakan nutrisi tetap masuk meski sedikit sedikit tapi sering. perhatikan juga kandungan gizinya. gizi yang cukup akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Boleh diutamakan makanan yang mengandung protein tinggi.
Masih kurang puas? boleh aja ditambah dengan suplemen vitamin atau imunobooster atau imunoregulator misalnya sorry sebut merek Stimuno atau Imboos Force…atau multivitamin lainnya.

  1. Awasi dan Waspadai

Maksudnya, kalo perlu bikin catatan kapan mulai panas, jam berapa saja panasnya muncul, gejala apa saja yang muncul, dan jam berapa saja minum obat.

Sangat disarankan untuk melakukan cek laboratorium terhadap trombosit darah pada hari pertama panas. Kemudian pada hari selanjutnya juga (serial)… baik dilakukan tiap hari atau 2 hari sekali untuk melihat apakah ada tren penurunan trombosit selama terjadi panas.

Perlu diingat pola panas pada DBD. Dan ingatlah bahwa pada hari ke 4/5 adalah masa kritis… jika pada hari ke tiga suhu tubuh mulai menurun disertai dengan badan menjadi lebih lemes, ngga usah banyak pikir, bawa segera ke RS.

Semoga bermanfaat
 
DBD

Apa Itu Kanker Serviks

Apa itu Kanker Serviks?

Apa itu kanker?

Seperti halnya makhluk hidup, sel sebagai bagian dari makhluk hidup juga memiliki fungsi reproduksi. Sel, bereproduksi dengan cara membelah diri, melalui suatu proses yang dikenal dengan proses mitosis. Dimana sel yang dihasillkan sama persis dengan sel induknya. Normalnya, setelah melalui suatu proses mitosis maka sel akan beristirahat terlebih dahulu untuk melakukan fungsinya sebelum mengalami fase reproduksi lagi. Sel juga dapat mengalami penuaan kemudian mati dan digantikan dengan sel yang baru.

Tetapi karena ada gangguan pada proses pembelahan sel, sehingga sel terus menerus mengalami pembelahan tanpa istirahat sama sekali. Sehingga, sel-sel hasil pembelahan ini bergerombol membesar dan mendesak sel atau jaringan disekitarnya, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada sel atau jaringan tersebut. Nah, sel-sel yang pembelahannya berlebih-lebihan ini lah yang disebut dengan sel kanker. Sedangkan gerombolan sel-sel berlebihan yang membentuk massa tersebut, yang normalnya tidak terdapat di dalam tubuh kita, disebut dengan tumor. Gangguan pada proses pembelahan sel ini dapat disebabkan oleh berbagai sebab, antara lain virus, bakteri, zat-zat yang bersifat karsinogen, dan sinar UV.

Sel-sel ini juga tidak mengalami penuaan dan kematian. Akibatnya sel-sel ini terus menumpuk sehingga mengganggu sel-sel lain yang ada disekitarnya. Jika dibiarkan terus menerus maka gangguan tidak sekedar pada sel tetangga, tetapi juga dapat mengganggu jaringan dan organ di tempat yang jauh. Penyakit yang timbul akibat gangguan yang disebabkan oleh sel-sel kanker inilah yang disebut dengan penyakit kanker.

Apa itu serviks?

Serviks adalah bagian dari sistem reproduksi wanita. Serviks terletak di dalam pelvis, merupakan bagian ujung bawah Rahim yang menyempit dan menghubungkan Rahim dengan vagina. Oleh karena itu, serviks disebut juga sebagai leher Rahim.

Pada saat menstruasi , darah akan mengalir dari rahim ke vagina melalui serviks. Selain itu, serviks juga menghasilkan lendir (mukus). Pada saat terjadi hubungan seksual, lendir ini berfungsi untuk membantu sperma bergerak dari vagina melalui serviks menuju rahim. Selama kehamilan, serviks akan tertutup rapat untuk menjaga supaya janin tetap berada di dalam rahim. Serviks baru akan terbuka saat janin akan dilahirkan, supaya janin dapat keluar dari rahim melalui serviks menuju vagina dan dunia luar.

Apa itu Kanker Serviks?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa karena berbagai sebab, dapat terjadi gangguan pembelahan sel, sehingga sel terus menerus mengalami pembelahan, tidak menua, dan tidak mati, sehingga terjadi penumpukan sel-sel. Demikian juga pada daerah serviks, dapat terjadi penumpukan sel-sel yang diawali dari sel-sel yang ada di permukaan serviks. Penumpukan sel-sel ini dapat jinak (bukan penyakit kanker) atau ganas (penyakit kanker). Penumpukan sel-sel yang tidak diinginkan oleh tubuh ini apabila jinak dapat berbentuk polip, kista, atau semacam kutil di daerah genetalia. Sedangkan apabila ganas, maka kemudian akan menjadi penyakit kanker. Perbedaan klasifikasi jinak dan ganas ini terletak pada tingkat agresifitas dari tumpukan sel-sel yang membelah berlebihan ini. Disebut jinak apabila sel-sel yang tumbuh berlebihan ini bersifak local/setempat di daerah dimana dia berasal dan tidak menginvasi jaringan disekitarnya, dan kehadirannya seringkali tidak mengancam nyawa. Sedangkan disebut ganas apabila sel-sel tersebut mampu menginvasi jaringan dan organ disekitarnya atau bahkan dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh kita, dan dapat menyebabkan ancaman terhadap nywa apabila tidak segera diketahui keberadaannya.

Jadi jelas ya, bahwa kanker serviks itu adalah sel-sel (yang seringkali) permukaan serviks yang mengalami pertumbuhan ugal-ugalan, membentuk segerombolan sel yang tidak diinginkan, dimana gerombolan sel-sel ini mampu menginvasi jaringan disekitarnya, dan dapat menyebar ke bagian lain tubuh kita melalui pembuluh getah bening dan pembuluh darah. Pada umumnya, penyebaran sel kanker dari kanker serviks ini dapat mencapat paru-paru, hati (liver), atau tulang. Proses penyebaran sel-sel kanker ini disebut dengan metastasis.

Kenapa sih sel-sel kanker yang menyebar ini bisa berbahaya? Karena sel-sel kanker yang menyebar ke mana-mana ini kemudian dapat menempel pada jaringan lain dan kemudian tumbuh di jaringan tersebut lalu membentuk gerombolan baru yang dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan pada jaringan tersebut.

Apa saja fakor resiko yang dapat menjadi penyebab kanker serviks?

Sampai saat ini, melalui berbagai penelitian dan pengumpulan data, ada beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks.

  1. Human papillomavirus (HPV)

HPV adalah jenis DNA virus yang berasal dari keluarga Papillomavirus yang memiliki kemampuan untuk menginfeksi manusia. HPV memiliki sekitar 170 strain atau tipe (Ghittoni dkk, 2015) yang dinamai dengan angka (Bzhalava dkk, 2013; Chaturvedi dkk, 2010). Tidak semua HPV karsinogenik. Sampai saat ini beberapa tipe yang diketahui karsinogenik adalah type 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 73, dan 82 (Muñoz dkk, 2003). Pada manusia terutama tipe 16 dan 18 adalah penyebab 75% kejadian kanker serviks, dan tipe 31 dan 45 adalah penybab 10% kejadian kanker serviks di seluruh dunia (Dillman dkk, 2009).

Berdasarkan data dari Center for Disease Control and prevention (CDC), setiap tahun terdapat 33.000 kasus kanker baru di area dimana HPV sering ditemukan. Dan 26.800 atau sekitar 81,2% dari kanker tersebut disebabkan oleh HPV. Sedangkan berdasarkan Robbins Basic Pathology edisi 8 dan Holland-Frei cancer medicine. Edisi 8, 90% kasus kanker serviks disebabkan oleh HPV.

Bagaimana kita bisa terinfeksi HPV? Infeksi HPV bisa didapatkan melalui hubungan seksual baik melalui vagina, anal, maupun oral dengan orang yang memiliki virus tersebut. Tetapi pada umumnya lebih sering melaui hubungan seksual melalui vagina maupun anal. Karena tidak setiap infeksi HPV menimbulkan gejala, maka sulit diketahui apakah seseorang memiliki HPV atau tidak. Oleh karena itu orang yang berhubungan seksual secara aktif dapat terkena infeksi HPV ini.

  1. Merokok

Perokok aktif maupun perokok pasif beresiko tinggi terkena berbagai jenis kanker karena banyaknya kandungan zat zat karsinogenik yang terdapat pada rokok dan asap rokok, termasuk terkena kanker serviks.

  1. Kontrasepsi oral

Penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan resiko terjadinya kanker serviks. Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral selama 5-9 tahun beresiko 3x lipat terkena kanker invasive, dan yang menggunakannya lebih dari 10 tahun beresiko 4x lipat dibandingkan dengan yang tidak menggunakan kontrasepsi oral atau yang menggunakan kontrasepsi oral kurang dari 5 tahun (Bethesda, MD: National Cancer Institute, 2015)

  1. Kehamilan berulangkali

Kehamilan berulangkali juga dikaitkan dengan peningkatan resiko terjadinya kanker serviks. Pada wanita-wanita yang terinfeksi HPV, mereka yang hamil penuh (selama Sembilan bulan sampai melahirkan)1-2x beresiko 2-3x lipat lebih tinggi terkena kaner serviks, dan yang hamil penuh 7 kali atau lebih 4x lipat beresiko lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan yang tidak pernah hamil.

  1. Berganti-ganti pasangan seksual

Berganti-ganti pasangan dapat meningkatkan resiko kanker serviks dikaitkan dengan penularan HPV. Semakin banyak pasangan seksual maka resiko terjadinya penularan HPV meningkat, sehingga meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks.

  1. Immunocompromised

Yang dimaksud dengan immunocompromised adalah kondisi dimana seorang individu mengalami penurunan fungsi sistem imun atau daya tahan tubuh, yang dapat diakibatkan oleh karena infeksi HIV atau penyakit metabolik seperti Diabetes Mellitus (kencing manis), misalnya. Karena seperti yang kita ketahui, bahwa eradikasi atau eliminasi virus dari dalam tubuh kita membutuhkan sistem imun yang kuat. Ketidakmampuan tubuh kita memberantas tuntas HPV yang masuk ke dalam tubuh kita akibat lemahnya daya tahan tubuh, akan menyebabkan terjadinya infeksi kronis HPV dan meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks.

Bagaimana gejala-gejala kanker serviks?

Ada beberapa gejala yang dapat muncul pada wanita, dan sering dikaitkan dengan kanker serviks. Oleh karena itu apabila muncul gejala-gejala berikut, alangkah baiknya jika segera memeriksakan diri ke dokter, sehingga dapat diketahui apakah gejala tersebut terkait dengan kanker serviks atau dengan gangguan lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :

  • Perdarahan vagina yang tidak normal. Disebut tidak normal karena perdarahan terjdi di luar dari masa menstruasi, setelah menopause, atau setelah berhubungan seksual.
  • Muncul nyeri selama berhubungan seksual.
  • Keputihan yang tidak normal. Keputihan biasa terjadi pada saat sebelum ataupun sesudah menstruasi, berwarna putih atau bening dan tidak berbau busuk. Jika keputihan kemudian menjadi berbau busuk, berwarna kuning keruh atau kehijauan atau kemerah-merahan, berbuih, dll, maka itu disebut dengan keputihan yang tidak normal.
  • Ada perubahan siklus menstruasi yang tidak diketahui penyebabnya.
  • Ada penurunan berat badan meskipun porsi asupan tetap. Hal ini terjadi karena proses pembelahan sel membutuhkan banyak energi, dan pada penyakit kanker terjadi aktivitas pembelahan sel yang tidak terkendali, sehingga membutuhkan leih banyak lagi energi. Hal ini menyebabkan terjdinya pembongkaran deposit gula/lemak dalam tubuh kita untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut. Gejala ini juga berlaku pada penyakit kanker lainnya.
  • Anemia atau kekurangan sel darah merah akibat perdarahan yang terjadi terus menerus.
  • Nyeri terus menerus pada daerah pangul, kaki, atau pinggang yang tidak diketahui penyebabnya
  • Jika kanker sudah meluas, dapat terjadi pembuntuan ginjal dan ureter (atau saluran kencing bagian atas) sehingga terjadi gangguan buang air kecil. Seberapa berat gangguan yang muncul tergantung pada seberapa besar pembuntuan atau kerusakan ginjal atau ureter yang terjadi.
  • Ketika kanker semakin progresif dan meluas dapat terjadi kebocoran saluran kencing dan saluran buang air besar ke dalam vagina, sehingga air kencing maupun feses ke dalam vagina.

Bagaimana cara mencegah timbulnya kanker serviks?

Beberapa hal berikut dapat membantu mencegah kita dari terkena kanker serviks, yaitu:

  1. Menghindari faktor resiko

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, terdapat beberapa faktor resiko terjadinya kanker serviks, sehingga untuk menurunkan resiko terkena kanker serviks maka faktor resiko tersebut sebaiknya dihindari. Yaitu dengan tidak merokok, tidak berganti-ganti pasangan hubungan seksual, menggunakan kondom saat berhubungan seksual, menjaga kesehatan dengan berolahraga dan asupan yang cukup gizi, mengatur kehamilan, dan tidak menggunakan kontrasepsi oral jangka panjang.

  1. Melakukan skrining berkala

Lakukan tes pap atau pap smear secara berkala untuk mendeteksi dini adanya tanda-tanda abnormalitas pada serviks. Mengenai jadwal pap smear tergantung pada usia dan resiko terjadinya kanker serviks. Lebih baik jadwal ini dikonsultasikan dengan dokter anda.

  1. Vaksin HPV

Salah satu cara mencegah terjadinya infeksi HPV adalah dengan vaksinasi. Ada dua macam vaksin HPV yaitu Gardasil dan Cervarix yang secara klinis mampu menurunkan resiko kanker serviks (93%) dan perineum (62%) (Medeiros dkk, 2009). Efektivitas kedua vaksin tersebut antara 92%-100% untuk melawan HPV 16 dan 18 selama 8 tahun (Bethesda, 2015).

Karena vaksin ini sifatnya mencegah dan melawan infeksi HPV, maka vaksin ini akan efektif jika diberikan sebelum terjadi infeksi HPV, yaitu pada wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual, yang berusia 9-26 tahun.

Kenapa demikian? Karena wanita yang sudah pernah melalukan hubungan seksual meskipun hanya dengan satu orang saja, telah beresiko terinfeksi HPV meskipun belum taua tidak menunjukkan gejala. Jika seseorang telah terinfeksi HPV maka pemberian vaksin HPV akan kurang bermanfaat atau bahkan tidak ada gunanya sama sekali.

  1. Nutrisi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Myung dkk pada tahun 2011, beberapa jenis nutrisi seperti vitamin A, B12, C, E, dan beta-karoten dikaitkan dengan penurunan resiko kejadian kanker serviks.

Apa kanker serviks bisa disembuhkan?

Secara umum, seperti halnya dengan penyakit kanker lainnya, kesembuhan total sulit dijanjikan. Terutama karena pada umumnya individu dengan penyakit kanker baru memeriksakan diri dan terdeteksi menderita kanker setelah kanker sudah pada tahap lanjut. Akan tetapi, jika kanker dapat dideteksi sejak dini atau masih pada tahap awal, maka kanker tersebut dapat “diobati” dan dicegah supaya tidak menjadi semakin ganas atau dihentikan pertumbuhannya. Berikut ini beberapa terapi yang saat ini masih dijadikan modalitas utama terapi kanker serviks. Mengenai terapi yang mana yang akan digunakan, tergantung pada stadium atau tahap kanker itu sendiri.

  1. Operasi

Bisa dilakukan histerektomi, yaitu mengambil seluruh bagian rahim termasuk serviks dan sebagian vagina, dan menghilangkan kelenjar getah bening di daerah pelvis dengan atau tanpa menghilangkan ovarium dan saluran telur (tuba falopii)

  1. Kemoterapi
  2. Radioterapi

Biasanya pada kanker stadium lanjut, modalitas terapi yang digunakan tidak hanya satu jenis saja (operasi/kemoterapi/radioterapi saja),tetapi bisa kombinasi antara operasi-kemoterapi, operasi-radioterapi, tergantung pada kondisi klinis dan hasil dari pemeriksaan penunjang yang dilakukan.

Apa itu Kanker Serviks?

Daftar Pustaka

Bethesda MD.PDQ® Cervical Cancer Prevention. National Institutes of Health, National Cancer Institute. July 2015.

Bzhalava D, Guan P, Franceschi S, Dillner J, Clifford  G. A systematic review of the prevalence of mucosal and cutaneous human papillomavirus types. Virology. 2013.  445 (1–2): 224–31. doi:10.1016/j.virol.2013.07.015PMID 23928291.

Center for Disease Control and prevention . Cervical Cancer Screening Guidelines for Average-Risk Women (PDF). www.cdc.gov

Center for Disease Control and prevention. www.cdc.gov/cancer/cervical

Center for Disease Control and prevention. www.cdc.gov/hpv/whatishpv.html

Cervical Cancer Treatment (PDQ®). NCI. 2014-03-14.

Chaturvedi A, Maura LG. Human Papillomavirus and Head and Neck Cancer. In Andrew F Olshan. Epidemiology, Pathogenesis, and Prevention of Head and Neck Cancer 1st ed. New York: Springer. March 4, 2010. ISBN 978-1-4419-1471-2.

Defining Cancer. National Cancer Institute. 10 June 2014.

Dillman, edited by Robert K. Oldham, Robert O. Principles of cancer biotherapy 5th ed. Dordrecht: Springer. p. 149. ISBN 9789048122899.

Ghittoni R, Accardi R, Chiocca S,Tommasino, M. Role of human papillomaviruses in carcinogenesis. Ecancermedicalscience. 2015. 9 (526),doi:10.3332/ecancer.2015.526PMC 4431404PMID 25987895

Kufe and Donald. Holland-Frei cancer medicine 8th ed. New York: McGraw-Hill Medical. 2009.p. 1299. ISBN 9781607950141.

Kumar V, Abbas AK, Fausto N, Mitchell RN. Robbins Basic Pathology 8th. Saunders Elsevier. 2007.pp. 718–721. ISBN 978-1-4160-2973-1.

Medeiros LR, Rosa DD, da Rosa MI, Bozzetti MC, Zanini RR. Efficacy of Human Papillomavirus Vaccines. International Journal of Gynecological Cancer.2009. 19 (7):1166–76.doi:10.1111/IGC.0b013e3181a3d100PMID 19823051.

Muñoz N, Bosch FX, De Sanjosé S, Herrero R, Castellsagué X, Shah  KV, Snijders PJ, Meijer CJ. International Agency for Research on Cancer Multicenter Cervical Cancer Study Group. Epidemiologic classification of human papillomavirus types associated with cervical cancer. The New England Journal of Medicine. 2003. 348 (6): 518–27, doi:10.1056/NEJMoa021641PMID 12571259.

Myung SK, Ju W, Kim SC, Kim H. Vitamin or antioxidant intake (or serum level) and risk of cervical neoplasm: A meta-analysis. 2011. BJOG 118 (11):1285–91. doi:10.1111/j.1471-0528.2011.03032.xPMID 21749626.

National Cancer Institute. Human Papillomavirus (HPV) Vaccines: Q & A”. Fact Sheets: Risk Factors and Possible Causes. National Cancer Institute (NCI) . 2009.

Stöppler MC. Cervical cancer facts on symptoms, stages, and treatment. http://www.medicinenet.com/cervical_cancer/article.htm#cervical_cancer_fact.

Tarney, CM; Han, J.Postcoital bleeding: a review on etiology, diagnosis, and management. Obstetrics and gynecology international . 2014: 192087. PMID 25045355.

World Cancer Report 2014. World Health Organization. 2014. pp. Chapter 5.12. ISBN 9283204298.

 

 

 

 

Sekilas Pendidikan Kedokteran di Indonesia, Sebuah Kontemplasi

Saya amat sangat sering sekali mendengar hal seperti ini “dokter-dokter di Indonesia itu kualitasnya jauh dibawah dokter-dokter di luar negeri”. Saya tidak tahu pasti luar negeri mana yang dimaksud orang-orang tersebut, tapi saya yakin benar, mereka yang berbicara demikian tidak semuanya memahami betul apa yang mereka katakan. Itu adalah suatu respon negatif terhadap banyaknya kasus yang “dianggap malpraktik” yang semakin marak menghias rupa media. Sehingga kemudian menjadi perbincangan “betapa buruknya kompetensi dokter di Indonesia”. Saya tidak ingin berbicara mengenai persoalan malpraktiknya, yang saya ingin lakukan adalah mengajak kita sekalian untuk sedikit melongok ke dalam dunia pendidikan kedokteran di Indonesia. Supaya kita tahu, lubang apa yang sebenarnya sudah kita hadapi bertahun-tahun tapi tak juga ditimbun supaya tidak memakan korban.

kuliah-kedokteran Untuk memasuki jenjang pendidikan kedokteran, ujian yang diberlakukan adalah ujian umum yang juga diberlakukan untuk jurusan lain. Berbeda dengan negara lain, dimana mereka yang mengambil jurusan kedokteran, minimal mengikuti semacam sekolah persiapan selama 2 tahun atau bahkan di banyak negara maju, mereka harus sudah memiliki gelar sarjana terlebih dahulu. Di Indonesia, lulus SMU bisa langsung tancap gas masuk fakultas kedokteran selama mereka lulus ujian. Apakah itu menjadi masalah? Bisa iya, bisa juga tidak. Meskipun kedewasaan dalam berpikir dan mengambil tindakan tidak terkait sepenuhnya dengan usia, tetapi sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan dokter, saya tahu betul bahwa pendidikan kedokteran butuh kedewasaan mental, tidak sekedar butuh manusia jenius, dan mungkin itulah yang diharapkan sudah bisa diperoleh oleh calon mahasiswa kedokteran di luar negeri melalui sekolah persiapan atau gelar sarjana yang menjadi syarat. Dari awal saja sudah beda ya?

Selama pendidikan menjadi dokter (di Indonesia) otak mahasiswa kedokteran diperas sampai kering untuk menghapalkan semua proses fisiologis dan patologis serta bagaimana menterapinya. Hingga kadang mereka lupa, yang dihadapi adalah manusia, yang tidak sekedar butuh diterapi tetapi diajak bicara. Sehingga tidak usah heran kalau anda menemui sejumlah dokter yang kurang mampu berkomunikasi dengan baik. Memiliki kecenderungan untuk tidak dapat menjelaskan dengan baik, atau marah kalau ditanya-tanya yang pada dasarnya merupakan respon dari rasa frustrasi karena tidak mampu menjelaskan dengan segamblang-gamblangnya dengan bahasa seawam-awamnya terhadap pasien, dan masih banyak lagi. Karena jujur, karena faktor kebiasaan, menjadi tidak mudah menterjemahkan bahasa medis yang “dipaksa” untuk dipakai setiap hari selama bertahun tahun ke dalam bahasa “awam”. Bahkan saya pernah ditegur “kamu itu kalau bicara kayak orang awam saja”,  karena bertanya “kenapa ibu itu kesulitan melahirkan?”. Yaiks!

Belum lagi pendidikan dokter, secara implisit seringkali juga menanamkan kebanggan tersendiri sebagai seorang dokter. Merasa dibutuhkan, merasa “kalau ngga ada gue, loe mau apa?”, merasa lebih tahu, dan merasa lebih lainnya, sehingga seringkali kurang mampu berempati terhadap pasien yang dihadapinya. Jika berempati saja kesulitan bagaimana kemudian bisa menghadapi dan berkomunikasi dengan baik dengan pasien. Tapi sekali lagi, tidak semuanya demikian.

Ditambah lagi dengan stigma masyarakat akan dokter yang serba “lebih” yang terbentuk akibat proyek pencitraan ini tentu kemudian memunculkan ekspektasi yang juga “lebih”. Disinilah kemudian masalah mulai bermunculan. Ekspektasi lebih dicampur dengan sedikit empati dan kurangnya kemampuan berkomunikasi yang baik, akan menghasilkan tudingan malpraktik yang jelas sangat merepotkan.

Maka sejatinya, bukan hanya kemampuan menghapal diluar kepala saja yang harus diajarkan, tetapi juga harus ada kuliah khusus untuk tata cara berkomunikasi dengan baik, karena dalam hubungan pasien-dan dokter itu sangat penting. Sehingga, jika ilmu komunikasi masih menjadi suatu ilmu pengayaan semata, tidak usah heran jika hal semacam tudingan “malpraktik” yang sebenarnya bukan merupakan suatu malpraktik akan menjadi semakin marak, ya salah satunya karena kurang lancar dan baiknya komunikasi antara dokter dan pasiennya.

Disisi lain, pemerasan kemampuan otak ini tidak sejalan dengan program yang ditawarkan. Di banyak fakultas kedokteran negeri (apalagi swasta) jarang sekali ada kasus mahasiswa kedokteran yang di Drop Out alias DO karena dianggap tidak mampu (catat ya, DO, bukan resign/mengundurkan diri). Karena mereka selalu diberi kesempatan untuk mengulang dan mengulang terus sampai mereka dianggap layak untuk diluluskan. Apakah itu salah? Sebenarnya tidak jika prosesnya berjalan dengan jujur.  Hanya saja, banyak proses yang terjadi tidak berjalan dengan jujur, terutama jika itu sudah menyangkut hubungan kekerabatan. Harusnya tidak lulus, diluluskan. Harusnya mengulang, tidak mengulang, dst. Diluar sana gembar gembor no Nepotisme? Disini kami hanya bergeming dan tersenyum simpul. No Nepotisme? Ngomong sama tembok. Faktanya pendidikan kedokteran adalah tempat dimana Nepotisme feodal jaman kolonial masih diberlakukan, sampai saat ini. Itu sudah bukan lagi rahasia perusahaan, tapi rahasia umum. Tidak meluluskan anak rakyat jelata itu perkara sepele, tetapi  dosen mana yang berani tidak meluluskan anak profesor/senior/anak pejabat (misalnya), sedangkan dosen tersebut masih junior? Mungkin dosen nekat sekali yang jumlahnya sangat sedikit di Indonesia tercinta ini.

Bukan sekedar kekerabatan, faktor uang juga berpengaruh. Saat ini, biaya masuk kuliah kedokteran bahkan di fakultas kedokteran negeri sekalipun, naudzubillah mahalnya. Jadi mungkin ada rasa “ah, kasihan sudah bayar mahal masak di DO”. Tetapi yang mungkin menjadi kurang dipertimbangkan adalah, jika seseorang sudah beberapa kali mengulang dan masih juga gagal, apakah benar dia mampu untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya?” yang jelas akan semakin tidak mudah. Apakah justru tidak semakin menjerumuskan personal tersebut ke dalam kegagalan yang tak berujung padahal semestinya bisa jadi dia sudah bisa sukses di bidang lainnya. Bayangkan saja, betapa sangat leluasanya pendidikan kedokteran itu. Jika tidak lulus ujian utama, bisa ikut ujian perbaikan. Jika masih belum lulus ujian perbaikan, masih bisa ikut semester pendek. Masih belum lulus juga, ada program khusus. Kurang longgar apa pendidikan kedokteran kita?

Bukan berarti semua mahasiswa kedokteran itu demikian. Karena faktanya, banyak sekali mahasiswa kedokteran indonesia yang aseli jenius, yang saya berani jamin ngga kalah jeniusnya dengan mereka yang katanya jenius di luar negeri. Tetapi kita harus jujur bahwa sekian persen dari mahasiswa kedokteran, memang tidak sejenius itu. Apakah ini salah mahasiswa kedokteran tersebut? Saya kira tidak. Kenapa? Karena mereka hanya mengikuti semua proses dan program yang disediakan oleh fakultas kedokteran yang mereka masuki. Jika fakultas kedokteran programnya begitu, mahasiswanya mau apa?

Dilema ya? Diluluskan ngga bisa, di DO juga kasihan sudah banyak keluar uang. Tapi ini soal nyawa.

Sepanjang uraian diatas kita baru menowel sedikit dari sisi mahasiswa. Yang tak kalah besar perannya dalam hal ini dalah pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Kenapa nyalahin pemerintah dan masyarakat? Silahkan dilihat dulu uraian saya berikut sebelum anda melakukan penilaian.

Dokter, dengan segala problematikanya, masih dianggap sebagai profesi yang prestisius oleh sebagian besar masyarakat kita. Silahkan dicek sendiri kalau tidak percaya. Sehingga tidak sedikit orang tua akan “mempeng” supaya anaknya bisa menjadi dokter, dengan segala iming-iming kesuksesan dan kemapanannya. Sedangkan jumlah fakultas kedokteran yang ada, daya tampungnya terbatas. Disisi lain, rasio kebutuhan dokter dibandingkan dengan pasien di Indonesia ini memang masih jauh dari ideal. Sehingga diperlukan lebih banyak lagi dokter untuk menuju ke angka ideal tersebut. Akibat tingginya permintaan ini, maka tumbuh suburlah produsen-produsen dokter (fakultas kedokteran (fk)/program studi pendidikan dokter (pspd), red). Sekali lagi ini tidak masalah jika dibarengi dengan kontrol dan pengawasan mutu institusi pendidikan yang baik. Faktanya, banyak sekali PSPD bahkan FK yang kualitasnya dibawah standar. Baik dari segi tenaga pengajar maupun fasilitas yang disediakan. Padahal biaya masuk yang dikeluarkan oleh orang tua mahasiswa tersebut nilainya bisa puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Tetapi anak-anak mereka tidak mendapatkan pendidikan yang selayaknya harus mereka terima jika mereka mengeluarkan uang sebanyak itu. Bahkan ada fakultas kedokteran yang setelah bertahun-tahun tidak juga mengalami perbaikan akreditasi masih juga eksis tanpa sanksi yang jelas dari otoritas yang berwenang. Akibatnya, terdapat perbedaan kompetensi antara mereka yang lulus dari fakultas kedokteran bonafide (akreditasi A) dengan mereka yang lulus dari fakultas kedokteran ala-ala ini. Kian hari kian marak tudingan malpraktik di berbagai media yang kemudian dikaitkan dengan kompetensi seorang dokter. Sehingga muncullah perdebatan, “apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kompetensi lulusan dokter Indonesia?”.

Bukannya introspeksi diri, yang dilakukan hanyalah strategi instan untuk menutupi “ketidakseragaman” kompetensi ini. Bukannya menindak tegas “produsen dokter” yang tidak kompeten, yang disalahkan malah produknya. Dan sekali lagi, produk-produk yang kemudian dianggap belum layak edar itu harus melalui satu proses yang dinamakan dengan ujian kompetensi sebagai salah satu syarat untuk registrasi.

Saya tidak memandang ujian kompetensi ini buruk, tetapi apa gunanya anda menguji kembali produk yang akan diedarkan sementara anda tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki produsennya? Dan itulah yang terjadi. Sementara uji kompetensi terus menerus menjadi perdebatan, para pemegang otoritas lupa, ada produsen-produsen yang mestinya ditindak tegas karena sudah menghasilkan produk-produk yang tidak sesuai dengan standar dan kebutuhan pasar. Kapan itu akan terjadi? Ngga tahu deh, mungkin nunggu lebaran bangkong.

Kurikulum pendidikan kedokteran pun semakin lama semakin dikebiri. Kompetensi-kompetensi yang dulunya adalah kompetensi wajib yang menyertai para dokter begitu lulus, seperti  tindakan penanganan kasus gawat darurat, kini dijadikan barang dagangan. Meski lulus fakultas kedokteran dan anda mampu menangani gawat darurat, anda tidak akan dianggap mampu jika belum memperoleh sertifikat pengakuannya melalui kursus yang lain lagi dengan harga yang tidak murah.

Durasi pendidikan pun semakin lama semakin diperpendek. Jangan-jangan nanti pendidikan kedokteran hanya akan berupa kursus singkat “menjadi dokter dalam 3 bulan”. Banyak mata kuliah yang dulunya diberikan kemudian dipangkas karena dianggap tidak perlu dan hanya akan mempersulit untuk lulus. Itu gila, saudara! Sejatinya ilmu kedokteran adalah penanganan personal secara holistik. Bukan soal ini jempol kiri atau jempol kanan. Coba anda tengok dengan pendidikan kedokteran di negara maju? Masih berani membandingkan? Kalau masih nekat membandingkan sesuatu yang tidak sebanding, berarti anda sama gilanya, saudara.

Mau berbicara soal sistem kesehatan yang semrawut? Tunggu dulu, itu nanti. bagaimana kita akan bicara mengenai suatu sistem dimana hampir seluruh komponennya bermasalah. Kata emak saya, jangan minta masakanmu rasanya enak kalau bahan-bahannya saja sudah mau basi? Paling banter masakanmu meskipun ngga tengik tapi hampir tengik. Lama lama pasti mencret juga kalau terus terusan dikasih makan makanan hampir tengik, hampir basi.

PR besar bagi semua yang terlibat di dalam pendidikan kedokteran, adalah bagaimana bisa institusi pendidikan dokter menghasilkan dokter yang memiliki kompetensi sesuai standar kebutuhan pasar. Jadi, garap dulu itu institusinya sampai beres. Singkirkan atau paling tidak minimalisirlah hal-hal negatif yang mendampingi pendidikan kedokteran selama ini. Senioritas yang kebablasan, hegemoni tak berdasar, nepotisme feodal, dll. Pun Jangan  lagi menambah masalah dengan begitu mudahnya mengeluarkan ijin untuk mendirikan institusi pencetak dokter sehingga menghasilkan institusi abal-abal yang justru akan menyulitkan kedepannya. Jangan menjadikan FK/PSPD menjadi institusi pencetak uang, karena institusi itu adalah pencetak dokter.

Ah, ini hanya sedikit saja menyoroti pendidikan kedokteran di Indonesia yang menurut hemat saya memang layak menjadi salah satu dari kambing hitam tidak berjalannya sistem kesehatan dengan baik. Diluar itu masih banyak sekali permasalahan seperti peraturan yang simpang siur, sanksi yang tidak sesuai, feodalisme internal, dan regulasi yang tidak berjalan, dan masih banyak yang lainnya. Persoalan dokter ini cuma seuprit puncak fenomena gunung es masalah kesehatan yang ada di Indonesia.